
Seorang putri yang di paksa menikah dan melarikan diri adalah hal biasa dalam cerita-cerita, karena itulah raja merasa sangat cemas kepada putrinya. Arlo yang melihat dan mendengar semua itu dari kejauhan, dia tersenyum dan pamit untuk pergi ke sesuatu tempat. Mereka berempat iya-iya saja karena pertempuran kedua pangeran itu sangatlah seru.
Arlo berjalan kembali menghampiri Khira yang masih berdiri di bawah pohon itu dengan lukannya yang terus semakin parah. Arlo mendekat dan mengetuk kepalanya dengan lembut. Dia memarahi pria yang terlihat lebih tua darinya, dan pria itu malah begitu takut dan memohon maaf pasrah begitu saja.
“Dengar, mungkin di sini tidaklah cukup seperti di tanah kematian. Tapi lukamu bisa di sembuhkan dengan beberapa dedaunan yang ada di sekir sini,” jelas Arlo, dia pikir karena lukannya pria itu terus melamun.
“Lukaku tidak terlalu masalah Tuan, tapi bagaimana dengan pedang itu? apa saya bisa bertarung?” wajahnya tampak sangat konyol.
“Ohh, hanya itu? kita bisa membeli yang di toko, atau bila bisa, kita panggil saja jiwa iblismu itu. dia wanita yang cantik loo,” Arlo berbalik dan melangkah menjauh.
“Oya, saat ini jangan pergi dari sana sampai seseorang mendatangi mu ya? Ini perintah,” lanjut Arlo, dia semakin menjauh.
“Baik, akhh!” pria itu menunduk dan lukannya terbuka lagi, membuatnya meringis kesakitan.
...(----------------)...
Seorang gadis dengan gaun tipis, berjalan menyusuri spanjang tepian kastil yang banyak berjejer pohon rindang. Wajahnya terlihat sangat waspada memandangi sekitar, seakan-akan dia sedang lari dari sesuatu. Dengan wajah terkejut, gadis itu menatap tajam pria yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
“Tuan Arlo? Apa yang kau inginkan? Bila kau memintaku untuk ikut denganmu dan kembali menemui ayahku, jangan harap tidak akan ada pertarungan yang terjadi!” ancam gadis itu, sudah memasang kuda-kuda.
“Tananglah Nona, selain itu apa kau yakin ingin malawanku tanpa senjata?” Arlo tersenyum mencurigakan.
“Aku tidak peduli, mati saja tidak masalah buatku!”
__ADS_1
“Baik-baik, kau sangat serius sebagai seorang wanita. Aku kemari hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Bila kau sedang melarikan diri agar tidak menikah dengan laki-laki, akan ku antar keluar sampai hutan. Tapi bila kau sedang mencari seseorang, aku bisa menunjukan keberadaannya, itu saja asalkan kau tidak terlambat,” kalimat-kalimat Arlo terdengar mencurigakan.
“Aku memang sedang mencari seseorang, tapi bagaimana kau tau?”
“Tidak perlu repot memikirkannya, pria itu ada di tepi danau di dekat aula kastil, pastikan Anda tidak terlambat.” Arlo berbalik dan meinggalkan gadis itu yang berbikir matang-matang.
Sampai pada akhirnya gadis itu berlari ke arah utara untuk pergi menuju aula kastil, menemui pria yang dibicarakan Arlo. Sampai di sana, gadis itu berhenti tiba-tiba dan hanya memandang di kejauhan. Pria yang dia cari-cari sejak tadi, sudah duduk berdua dengan gadis lain yang ceria dan mereka terlihat sangat cocok.
Tanpa sadar, air mata menetes dan membasahi pipinya. Dia mengusap air mata itu dan berusaha tersenyum, meski jelas rasanya tidaklah mungkin. Kemudian dia berbalik dan menampakkan seseorang yang tidak asing lagi-lagi berdiri agak jauh di depannya secara tiba-tiba.
“Mari Nona, Yang Mulai Raja sudah kawatir dengan Anda.” Arlo tersenyum hangat, mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Perlahan gadis itu meraih tangan Arlo dan berjalan berdampingan dengannya. Arlo mengantar gadis itu sampai menemui raja dan di peluk erat-erat putri tercintannya. Lagi-lagi air mata menetes di pipinya, tanpa sadar air mata mengalir deras dan membuat ayahnya kawatir.
“Kenapa?” celetuk raja mengusap air mata di pipi putrinya.
Sampai beberapa saat, pertarungan berakhir dengan kemenangan pangeran Hendrick yang berkeriangat hebat. Sedangkan pangeran Michel yang terluka sedikit goresan di pipinya, sebagai tanda kekalahannya. Semua warga kerajaan bersorak-ria dengan berakhirnya pertandingan sengit ini.
“Baiklah para Pangeran, selamat kepada pemenang. Kita istirahat dan setelah hari mulai sore, kalian beridua berkumpul lagi untuk persiapan mencari hadiah pada putriku.” Pertegas raja dan berbalik pergi, dengan senyuman lebar penuh kebanggaan.
Kedua pangeran itu mengangguk lalu pergi untuk istirahat. Sampai secara kebetulan, pangeran Hendric menoleh gadis yang sebelumnya duduk dengan raja. Yang dari kejauhan terlihat menunduk sedih, tapi pria suram seperti dirinya jelas akan berbalik dan melanjutkan langkahnya, tanpa peduli apapun.
Sampai menjelang sore hari, raja kembali memanggil para pangeran dan mengungumkan tantangan selanjutnya. Dengan sejelas-jelasnya pria tua itu mengatakan bahwa mereka harus berangkat kedalam hutan dan harus kembali saat fajar besok untuk mencari hadiah pada sang putri, sebagai tantangan yang selanjutnya.
__ADS_1
Arlo seorang tidak sempat untuk datang dan menonton, meski sebenarnya dia sengaja tidak datang. Karena sekarang ini sedang duduk seorang diri di kursi tepi pantai, memandang matahari yang akan tenggelam dengan cahaya jingga sore hari yang membuat suasana menjadi hangat dan haru, sampai air mata menetes di pipinya.
“Dasar cengeng,” celutuk seorang gadis dengan gaun putih, berjalan mendekati Arlo dengan membawa dua gelas minuman yang mengepul asap di atasnya.
“Tuan Putri! Ini hanya debu!” Arlo menoleh dan segera mengusap ingusnya.
“Dasar, di mana sifat kerenmu tadi, hah! ini…” lanjut gadis itu, mengulurkan salah satu gelas yang ada di tangannya.
“Terima kasih, hah! panas!” teriak Arlo menahan sakit di tangannya.
“Panggil Bella saja, bisa aku minta tolong kepada seorang seorang iblis, atau seorang manusia abadi?” celetuk gadis itu, membuat Arlo menjatuhkan gelas yang ada di tanganya.
Arlo yang terkejut, sampai-sampai melongo dengan kalimat yang baru saja dia dengar. Lalu wajahnya tiba-tiba memerah dan dia berteriak begitu kencangnya. Air panas yang dia jatuhkan, langsung tumpah di kakinya dan membuatnya meringis kesakitan.
Gadis itu tertawa kecil dan perlahan menjelaskan tujuannya pada Arlo. Pembicaraan yang panjang sampai Arlo lupa kalimat yang pertama.
“Begitu… apa yang lain juga sadar dengan diriku yang tua ini?” ucap Arlo dengan wajah kawatir yang terlihat konyol.
“Mungkin satu orang, dilihat dari manapun dia itu seperti hantu yang memiliki tubuh. Kau tau? Pangeran Hendric terlihat pintar, mungkin karena dia selalu membaca buku, kan? Tapi dia tidak tau nama mu Pangeran Arlo,” gadis itu tersenyum menggoda.
“Yah… bagaimanapun, namaku jelas akan masuk sejarah. Mengenai masalahmu itu, memang benar kalau kami berenam adalah seorang iblis. Dan pertanyaanmu mengenai kami yang membunuh saudara sendiri, itu karena mereka akan menghubungkan tanah kehidupan,” pertegas Arlo dengan tatapan yang serius.
“Kami di beri tugas dari dunia iblis sisi selatan, datang untuk menahan gelombang dan energi yang aktif di tanah kehancuran. Bagaimanapun, kami itu tetaplah berbeda.” Lanjut Arlo.
__ADS_1
Gadis itu mengengguk paham dan mengelus perlahan tudung Arlo, lalu membukanya secara sengaja. Rambutnya yang lebat dan agak panjang, di hiasi sepasang tanduk hijau gelap yang ada di dahinya. Membuat mata gadis itu berkaca-kaca, menatap bertapa tampannya pria yang ada di depannya.
“Anu.. Bella, apa aku bisa memohon sesuatu, mungkin sebagai gantinya aku mengatakan hal tadi?” Arlo menatap serius gadis yang ada di sampingnya, dengan memunggungi matahari yang hendak tenggelam di belakangnya.