
Angin berhembus melewati pepohonan di sebuah hutan, pohon-pohon itu hanya di penuhi oleh warna senja tanpa ada kesejukan yang dapat di rasakan. Dalam bukit kecil, seorang pria dengan jas hitam panjangnya sedang duduk termenung di bawah pohon sambil menatap langit biru yang dihiasi awan di sekitarnya.
Sesaat kemudian seseorang mendekat dari kejauhan dengan membawa senampan penuh makanan dan segelas minuman di dalamnnya. Pria dengan rambut pirang panjang dan jas putih lingkap dan celana jens panjang, tersenyum hangat kepadanya.
“Saya menunggu lama dan Anda tidak kunjung kembali? sudah waktunya makan, Tuan….”
“Terima kasih, Leo.”
...(----------------)...
Di gelapnya malam sebuah kota kecil, seorang anak laki-laki dengan rambut pirangnya berjalan perlahan melewati setiap rumah-rumah yang ada di sekelilingnya. Sebuah tanduk kecil yang menghiasi kepala, tampak menonjol di antara rambut pendeknya. Hujan di atas kepala membuat membuat nawas terasa sesak karena saking derasnya.
Darah kotor yang menyelimuti tubuhnya perlahan terhapus oleh derasnya air hujan. Menunjukkan sisa-sisa memar yang memenuhi sebagian tubuhnya. Langkah kecilnya terasa begitu berat dengan nafas yang semakin tak beratuan, menoleh kesana-kemari mencari tempat teduh.
Sampai di sebuah rumah kecil yang begitu sepi. Menyeret tubuhnya yang sudah tidak kuat, mendekati tempat itu untuk berteduh. Tubuhnya yang sudah begitu lemah, terbaring di tanah saat itu juga. Mata yang terasa berat mengantar tidur dengan begitu cepatnya. Saat matahari sudah begitu menyilaukan, ia membuka matanya dan melihat sebuah pohon yang melindunginya tidur.
“Aku tidak mati lagi, ya…?” ucapnya dengan kesan kecewa.
Saat ia melirik kedua tangannya, tepat dari belakang sudah ada sesuatu yang melesat dengan begitu kencang ke arahnya. Sontak ia membalik badannya dan menghindar sebisa mungkin. Namun sayangnya, sesuatu itu sudah meledak tepat di depan wajah dan mementalkan dirinya di tanah. Segerombol orang sudah berlari tidak jauh dari tempatnya berada dengan senjata berat di tangan masing-masing.
Dengan meringis penuh rasa sakit di kepalanya, dia berusaha mengangkat tubuhnya dan beranjak untuk melarikan diri. Namun lagi-lagi sesuatu sudah menghadang jalan larinya. Sebuah rantai panjang dengan besi bulat menghantam tepat di samping ia berdiri. Rantai itu memutuskan diri dan membelit kakinya sebelum anak itu sempat untuk bergerak sedikitpun.
Tampak lima orang yang tersembuyi dari balik tudung jubahnya, berdiri melingkar dan mengepung di sekelilingnya.
...(----------------)...
Duduk termenung di bawah pohon, seorang pria melamun dengan menatap langit mendung yang menggantung di atas kepala. Di tepi bukit itu, ia duduk bersandar dengan memasang wajah yang buruk. Tatapan kosong mewakili perasaan buruk yang mengiang di kepala. Tidak lama kemudian, jatuhlah tetes air di hidung dan memecah lamunan di dalam dirinya. Perlahan mulai membasahi jas hitam yang ia kenakan.
Tersadarlah ia, perlahan mengangkat tubuhnya untuk beranjak pergi. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tergoreslah senyuman tipis di bibirnya dan melangkah pergi.
Dalam perjalanan di bawah gerimis, burung berkicau mengiringi angin sejuk yang berhembus, menepis rambutnya yang agak panjang dengan dihiasi tanduk hijau menjulang di dahinya.
“Berapa lama aku harus menungu lagi, Nona Ely?” Gumam lembutnya sambil menoleh kebelakang.
Dalam senyuman yang sama, pria itu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari dalam hutan. Udara bergerak yang menepis tubuhnya, tiba-tiba terasa hangat dan burung-burung mulai terbang tidak beraturan. Terdengar ledakan besar tidak jauh darinya berada, namun pria itu terlihat tidak terlalu peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.
Sampai secercah cahaya begitu cepat menerobos dirinya hingga terpukul jauh kebelakang. Jelas terdengar nafas terengah-engah tepat di sampingnya. Terkapar di belakangnya, seorang anak kecil dengan rambut pirang dan tanduk merah pekat yang bersinar selama sesaat. Pandangan pria itu teralihakan oleh luka bakar dan luka berdarah yang memenuhi seluruh tubuh anak itu.
__ADS_1
Di sisi lain, dua sosok pria sudah berjalan perlahan mendekati mereka dari kejauhan.
“Hei! Bisa menyingkir sebentar, kau bisa mati kalau menghalangi ku!” celetuk salah satu pria yang berjalan di sisi kiri.
Pedang melesat dari tangan pria yang berdiri di sisi kanan bersamaan dengan berakhirnya kalimat temannya. Tanpa ada sedikitpun kesempatan untuk menghidar, pedang itu sudah melayang di depan wajah pria dengan jas hitam itu.
“Awas!”
Dalam kedipan mata, pedang itu nyaris memebelah kepalanya. Karena bola api besar yang dengan mudah menampar dan merubah arah pedang itu. Patahlah menjadi dua dan menancap di samping mereka berdua.
Tanpa bisa berkutik sedikitpun, pria itu hanya menatap dengan kedua matanya yang lebar saat anak itu menghempaskan bola api besar hingga menepis pedang tersebut dan patah menjadi dua di antara mereka berada.
Tidak lama setelahnya, jatuhlah ia tersungkur di tanah tepat di depan pria itu. Tertawalah dengan keras kedua pria asing di depannya dan mereka berdua berjalan semakin dekat.
“Menyedihkan sekali, ya? Kau ini.” Oceh salah satu dari mereka.
“Dengan begini tugas akan mudah untuk selesai.” Sahut yang lain dengan wajah datar.
Menunduk kesal, pria dengan jas hitam itu berdiri dari duduknya dengan membopong anak kecil dalam pelukannya. Tersenyumlah bibir pria itu menatap rendah kedua pria di depannya.
"Apa?!"
“Apa! Kau kesal? Sepertinya kau tidak mengenal kami. Dengar! kami adalah pembunuh bayaran yang terkenal. Memangnya apa yang akan kau lakukan, hah!” oceh pria yang sama sambil menunjuk-nujuk lawan bicarannya.
Dalam diam, pria dengan jas hitam itu melirik lawan bicaranya yang hanya diam di sisi kanan. Sosok yang tersembunyi dari balik tudung baju, wajah yang tersembuyi dalam bayangan itu menatap tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari anak itu. Sedangkan satunya tersenyum lebar penuh percaya diri dengan baju tebalnya yang robek sebagian dan tanduk merah yang menjulang di dahinya.
“Yah, sepertinya benar dengan yang kau katakan. Darah yang menetes di pipimu itu sudah menjelaskan semuanya.”
“Darah!” tanpa sedikitpun sadar, darah sudah menetes di pipi pria berbaju robek tersebut.
Sontak raut wajah keduanya berubah drastis dengan memasang posisi waspada bercampur kesal. Mereka berdua menatap tajam kearah pria itu dengan mengusap darah yang terus mengalir di pipinya.
“Tapi aku rasa, kalian berdualah yang belum mengenalku, kan?” senyuman mencekam kembali menusuk perasaan buruk di pikiran mereka berdua.
“Perkenalkan, Arelo Voltar. Penduduk baru dunia iblis!” lanjutnya dengan nada keras.
Dalam sekedip mata, Arlo sudah berdiri tepat di depan mereka berdua dan hendak menghantam dengan kaki kananya. Terdengar dengan sangat keras, tendangan itu menghantam tepat pada pria yang sama hingga terpukul mundur kebelakang. Tidak sampai disitu, dalam kesempatannya pria bertudung itu berusaha menarik pedang dari balik baju panjangnya dan hendak membabat Arlo.
__ADS_1
Dalam posisi yang sama, ia melompat mundur dan menghindari tebasan yang hendak membelah dirinya. Tanpa Arlo sadari, pria bertudung itu sudah berdiri tepat di belakangnya dan lagi-lagi hendak memenggal kepalanya. Sesuatu di belakang dengan keras menahan tebasan itu hingga pria itu terpental mundur. Sabit merah dengan larit hitam yang menghiasinya, melayang tepat di belakang Arlo berdiri dan jatuh menancap di tanah.
“Hah! Soul Weapon!” seru pria di depan dengan mengangkat tubuhnya perlahan.
Dalam diam Arlo melirik sebilah pedang yang sama tiba-tiba melayang di sampingnya berada. Dalam sekali hempas, pedang itu terlontar jauh di udara dan menancap balik tepat di depan pemiliknya. Sontak kedua pria itu sudah gemetar kerena kesal di dalam hatinya.
“Maaf banget, ya. Tapi tidak ada yang pulang saat berani berurusan denganku seperti ini.” Gumam Arlo membaringkan anak dalam pelukannya di bawah sebuah pohon.
Dia melangkah mendekati sabitnya dan menariknya perlahan. Bersamaan dengan kedua pria itu yang berdiri berdampingan dengan menahan rasa sakit di tubuhnya. Menatap tajam penuh waspada, keduanya memasang kuda-kuda bersiap. Dalam gerakan cepat, tiba-tiba keduanya terlihat begitu terkejut. Angin berhembus di sekitarnya selama sesaat, lalu Arlo sudah berdiri tepat di belakang mereka berdua.
“Lindungilah leher kalian.” Bisiknya dari belakang.
Keduanya langsung berontak dan beranjak menghindar, posisi mereka berpencar dalam jarak yang cukup jauh. Saat sadar, keduanya tidak lagi melihat keberadaan Arlo. Mereka saling menatap sambil menelan ludah, terutama si pria dengan baju robeknya yang mulai berlumuran darah tanpa tau apa sebenarnya yang terjadi. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan, namun semua sudah terlambat dan nyawa mereka berdua terancam.
“Higo! Kemari dan bantu aku, tujuan kita hanyalah anak itu!” teriaknya, menatap tajam pria bertudung.
“Aku tidak yakin dengan keputusanmu. Apa itu akan baik-baik saja?”
“Kalau gagal, kita bisa menyelamatkan diri!”
“Baiklah, bila itu menjadi keputusanmu.”
Dalam upayanya, tanpa tau sedikitpun keberadaan lawan, pria bernama higo itu menarik sisa dua belati di sakunya. Melemparnya di setiap sisi pohon dimana anak itu terbaring. Kedua belati itu perlahan mengeluarkan cahaya biru terang dan membuat garis antara satu sama lain. Saat ia hendak menancapkan pedang terakhirnya di tanah, sebuah sabit yang sama melesat dengan sangat kencang tepat mengarah padanya.
“Berhenti melakukan hal konyol, dan nikmatilah kematian kalian.” Gumam Arlo dari atas pohon tepat saat sabit itu di lontarkan.
Sontak pria yang lain berusaha menahan sabit itu dengan kapak besarnya, upaya temannya dapat menyelesaikan ritual yang ia buat. Namun sayang, saking kuatnya hempasan sabit itu, keduanya terhantam mundur jauh dengan kapak penahannya yang hancur berkeping-keping. Kemungkinan besar pula, tangan pria itu juga terkena dampaknya.
“Nah, sekarang saatnya mengakhiri ini. Kau tau? Ini rasanya akan sangat sakit.” Ucap Arlo yang sudah berdiri di depan mereka berdua dengan menarik sabitnya yang menancap di tanah.
Kedua pra itu sudah tidak dapat berkutik sedikitpun dalam kondisinya saat ini. Tubuhnya perlahan mati rasa, darah menetes keluar dari mana-mana. Nasip yang sama persis dengan anak itu.
Tinggi-tinggi sabit diangakat di atas kepala oleh Arlo, hendak dihempaskan pada leher keduannya. Namun saat itu juga, terasa angin lembut menepis. Saat sadar keduanya sudah tidak berada ditempat dengan meninggalkan sepucuk surat yang menancap di pohon tempat anak itu terbaring.
Dengan menghela nafas berat, Arlo menepis sabitnya lenyap dari pandangan. Berjalan perlahan mendekati anak itu berada dan meliriknya. Pandanganya teralih oleh selembar kertas yang menancap bersama belati kecil di sana dengan bertuliskan, “Maaf sudah merepotkanmu, Tuan Arlo.”
Setelah membacanya, Arlo hanya tersenyum tipis dan kembali membopong anak itu pergi di pelukannya. Melangkah kembali masuk kedalam hutan dengan di iringi burung yang kembali berkicau dan berhentinya gerimis turun.
__ADS_1
...~ Anak Kecil ~...