
Dari balik lebatnya pepohonan hutan, angin bertiup lembut dan menepis rimbunnya dedaunan. Arlo berlari dengan sangat kencang melawan arus angin yang menerjang rambut pendeknya. Pandangannya tertuju tajam ke arah depan seakan ada sesuatu yang begitu penting harus ia dapatkan saat ini juga.
Dia melesat di antara pepohonan lebat di hutan, namun raut kesal bercampur bingung tampak menghiasi wajahnya yang berjalan sesat. Ia menghentikan langkah kakinya dan menatap sekitar. Tiba-tiba sesuatu mulai menyelimuti dari belakang Arlo dan muncul sosok bayangan melayang di sampingnya.
“Sepertinya mereka sudah bergerak cukup jauh, Tuan Arlo.” Bisik sosok wanita cantik dengan gaun merah menyala di samping Arlo berdiri.
“Apa kau bisa melakukan sesuatu, Liya?” sahut Arlo tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
“Tidak ada yang dapat saya lakukan dengan ini, Tuan. Tapi sepertinya anak itu sengaja meningalkan sesuatu di depan. Jarak Anda tidaklah terlalu jauh.” Tutup Liya, lenyap dari balik bayangan Arlo.
Arlo melesat kearah yang di maksud, guna menyusul secepat mungkin keberadaan anak itu berada. Sampai tampak dari kejauhan, sebilah permata biru dengan darah kering yang sebagian menyelimutinya. Sontak ia tersadar oleh bekas hitam pembakaran api di bagian pangkal permata itu, jelas sekali ini merupakan milik Leo, pikirnya. Ia menggaetkan permata tersebut di pinggang dan melanjutkan langkahnya.
Di tengah perjalanannya, burung-burung yang awalnya bertengger tenang di atas dahan pohon tiba-tiba terbang dengan kacau di atas hutan dan terpencar ke mana-mana. Saat itulah sosok pria tersebut menghentikan langkah kakinya dan mengalihkan pandangan.
Jelas terdengar kobaran api yang membara di depan, ia berhenti sesaat dengan mendengar seksama. Tidak lama setelahnya, pohon-pohon di depan mulai terlihat terbakar oleh kobaran api yang besar.
Sontak ia segera menyusul kobaran api tersebut, memastikan kebenarannya. Sampai disana, tampak dua sosok pria yang merupakan bawahan Vion sudah berteriak-teriak kesakitan kian kobaran api yang membakar sekujur tubuhnya.
“Arkk! Ark…!” seru mereka berdua dengan berlari kesana kemari.
Sedangkan Daniel yang masih membopong keberadaan Leo di lengannya, hanya menoleh berat kebelakang. Sedangkan Vion di sampingnya sontak berbalik secepat mungkin dan berusaha memadamkan api itu. Namun usahanya sia-sia karena mereka berdua hanya berlari kesana kemari sehingga membuatnya kerepotan.
“Hei! Kalian! Berhentilah bergerak agar aku bisa memadamkannya, dasar bodoh!” ujarnya dengan nada yang sangat kesal.
“Arkk! Panas! Panas!” mereka tidak dapat mendengar kalimat tuannya karena hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Alhasil keduanya terbakar habis oleh kobaran api tersebut tanpa sisa.
Daniel melirik anak yang sama dalam pelukannya, tampak Leo memalingkan pangangan, berpura-pura tidak mengetahui apapun meski jalas sekali bahwa ia yang melakukan hal itu.
“Kenapa sejak dulu anak kecil itu selalu merepotkan sepertimu!” dengan kesal, Daniel melempar Leo dengan kedua tangannya melayang jauh.
Tepat saat anak kecil itu hampir menghantam salah satu pohon disana, ia sempat di tangkap kembali oleh Arlo dalam pelukannya. Dengan raut wajah yang sangat kesal, Arlo menatap keberadaan Daniel dengan tajam. Namun sesaat kemudian ia mengalihkan padangan pada Leo yang terlihat sangat kelelahan.
“Apa kau baik-baik saja?” celetuk Arlo dengan menatap cemas pada anak itu.
“Ak-aku rasa aku akan…” tampak kedua kuntup matanya mulai meredup sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri dalam pelukan Arlo.
“Leo! Leo! Sadarlah, Nak!” Arlo berteriak sembari menggoyang-goyang tubuh kecil Leo dalam pelukannya.
Dari tempatnya berada, Daniel mendekat dan berdiri di samping Vion dan meliriknya. Dari kejauhan terlihat ia membisikkan sesuatu kepada bawahannya itu merubah raut wajah kesal Vion dan tampak ia mengangguk paham.
“Sesuai dengan periantah Anda Tuan.” Ucap Vion sambil melirik keberadaan Leo dari kejauhan.
Sesaat kemudian, ia lenyap dari keberadaannya dengan meinggalkan Daniel seorang di sana.
“Kenapa? Kau mengusir bawahanmu karena kau takut kalau dia akan melihat kekalahanmu?” celetuk Arlo dengan nada merendahkan.
“Terserah dengan apa yang Anda pikirkan. Hanya saja, saya memberikan beberapa tugas lain kepadannya. Anda tidak perlu terlalu kawatir.” Sahut Daniel.
__ADS_1
“Begitu?”
Arlo tidak sedikitpun berkutik dari tempatnya berdiri sambil terus memasang wajah tajam penuh waspada terhadap lawannya. Tidak lama setelahnya, sepertinya Daniel-lah yang memulai pertarungan untuk pertama kalinya.
Tampak sesuatu merambat keluar dari kedua tangannya hingga membuat Arlo merasa jijik dari kejauhan. Perlahan-lahan sesuatu itu berubah menjadi sepasang senjata di kedua tangannya. Dua bilah pedang menghunus di kedua tangannya. Dengan memasang senyuman tipis di bibirnya, ia mengambil langkah demi langkah mendekati Arlo dari kejauhan.
“Jadi, anda yang memulai pertarungannya?” celetuk Arlo dengan tetap menjaga Leo dalam pelukannya.
“Itu bila Anda tidak merasa keberatan. Selain itu, apa boleh saya menanyakan sesuatu?” Daniel tampak tidak serius.
Arlo tampak tidak peduli dengan kalimat yang di katakan oleh Daniel.
“Kenapa Anda repot-repot untuk mengejar seseorang yang asing seperti anak itu? Memangnya apa urusan Anda dengan melakukan hal tersebut? Bagaimana kalau pemiliknya marah seperti ini, hmm?” ucap Daniel dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Jadi kau mengaku sebagai pemiliknya? Sepertinya anak kecil tidaklah pantas untuk diberlakukan seperti itu.” sahut Arlo dengan senyuman di bibirnya.
Tanpa menunggu apapun lagi, Daniel melancarkan serangannya dengan menghunus kedua pedang tersebut ke arah Arlo dan memaksanya untuk terus menghindar sambil membopong keberadaan Leo dalam pelukannya. Kali ini ia tidak berani sedikitpun meninggalkan keberadaan Leo darinya, mengingat ia tidak tau seperti apa musuh yang ia hadapi kali ini.
Dari tempatnya berdiri, tanpa ada sedikitpun waktu selang untuk melegakan nafas, Daniel terus saja melancarkan serangan kepadanya dengan kedua bilah pedangnya. Sampai sesuatu melayang dari belakang Daniel bersamaan saat ia melancarkan serangannya. Dengan lihai pria itu menghindar tanpa menoleh apa yang ada di belakangnya, seakan-akan sudah tau apa yang akan terjadi. Sontak Arlo langsung menarik tubuhnya sebelum sesuatu itu mengenai dirinya.
Sebilah pedang melesat dan menancap di salah satu pohon tepat di samping kanan ia berdiri. Dengan kondisi yang masih tertekan, Daniel menyusulkan pedangnya di sisi lain keberadaan Arlo. Dalam sekejap, keduanya memancarkan cahaya biru terang dan saling terhubungkan satu sama lain.
Tidak lama setelahnya, kembali sosok pria yang sama dengan sabit merah menyala melesat di atas kepala dan menancapkan sabitnya di depan Arlo berada.
“Aku rasa kau meleset,” celetuk Arlo.
“Saya rasa tidak juga.” Sahut Vion yang sudah mencabut kembali sabit miliknya.
...(----------------)...
Di sebuah tempat sempit dengan cahaya yang remang-remang, Arlo tersentak dan tersungkur di tanah. Aroma tidak sedap menyengat hidungnya hingga membuatnya terbatuk-batuk karena aroma tersebut. Ia melirik sekitar dan menyadari sebuah tempat yang ia pijak merupakan tumpukan mayat membusuk dengan bangkai-bangkai tubuh yang telah di mutilasi.
Dalam cekungan dinding-dinding di sampingnya, kepala di pajang dalam kondisi membusuk dan ada juga yang sudah tersisa tulang belulang dalam wujud tengkorak. Perutnya semakin terasa seperti di aduk-aduk saat ia manatap sekitarnya berdiri, bangkai tubuh yang tidak beraturan terkapar di mana-mana dengan wujud yang sudah tidak lumrah.
Sampai tersadarlah ia oleh sesuatu yang menggantung di pinggangnya. Sebilah permata yang berlumuran darah itu mengingatkan dirinya akan sesuatu.
“Aku harus menemukan jalan keluar.” Gumamnya dengan menggenggam kuat-kuat pemata itu dan beranjak pergi dari sana.
Langkah demi langkah mengantarnya melewati sepanjang tumpukan mayat dan tulang-belulang. Sepanjang jalan hanya tampak cahaya remang-remang tanpa ada ujung yang jelas. Sampai sosok wanita yang sama dengan gaun merahnya melayang di samping Arlo berjalan dan mengatakan sesuatu.
“Tuan Arlo, sepertinya Anda hanya berputar-putar saja sejak tadi. Ditambah dengan aroma seperti ini, apa Anda baik-baik saja?” celetuk Liya dengan wajah cemasnya.
“Liya, Kalau kau datang hanya untuk mengatakan hal itu, bukankah percuma aku memanggilmu saat ini?” sahut Arlo tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganya dari tempatnya berjalan.
“Maaf, Tuan. Mengingat Anda tadi sampai disini melalui sebuah portal, mungkin Anda hanya bisa keluar dengan portal.” Jelas wanita itu dengan menganggukkan kepalanya.
“Jadi, apakah kalung ini akan berguna?” Arlo menodongkan permata merah yang menggantung di lehernya.
“Mungkin saja, silakan Anda coba sendiri. Saya permisi sebentar.” Liya lenyap begitu saja setelah kalimatnya selesai.
__ADS_1
“Hoi! tunggu…!” Arlo yang berusaha menahan perginya wanita itu hanya bisa pasrah karena sudah terlambat.
Sama persis seperti yang ia lakukan saat menghubungkannya dengan pohon portal, ia menggenggam permata itu dan cahaya mulai menyorot keluar dari permata tersebut. Namun entah kenapa, setelah menunggu selama beberapa sesaat tidak ada apapun yang terjadi padanya meski ia sudah melakukannya berkali-kali.
Sampai tanpa sengaja permata biru yang menggantung dalam pinggangnya yang malah bereaksi dan mulai menarik perhatian Arlo. Dengan penuh rasa penasaran, ia mulai melepas posisinya dan menggenggam di depan tubuhnya.
Cahayanya lambat laun mulai semakin terang tanpa alasan yang jelas. Tanpa tau apa sebenarnya yang ia sendiri lakukan, ia menancapkan ujung permata tersebut kedalam tanah dan permata tersebut semakin bersinar terang menyelimuti sekitar.
Tiba-tiba suasana mulai terasa berubah, semua tempat dari jangkauan pandangannya mulai tampak samar karena cahaya putih yang memenuhi seluruh tempat.
“Kebetulan sekali aku membawanya.” Celetuk Arlo, tampak senyuman semringah di wajahnya.
Saat sadar, semua tempat sudah kembali menjadi hutan lebat yang sama. Tanpa pikir panjang lagi, Arlo kembali melanjutkan langkahnya. Tepat setelah sadar, Liya berdiri dengan melayang di sampingnya.
“Apa kau memang sengaja?” celetuk Arlo dengan nada kesal sambil memejamkan matanya.
“Tentu saja tidak, Tuan Arlo. Saya sebenarnya sudah mengetahui permata tersebut akan bereaksi dengan sendirinya. Jadi saya mengambil kesempatan lain untuk melacak keberadaan musuh dengan darah yang ditinggalkan dalam permata tersebut, Tuan.” Jelas Liya, sejelas mungkin.
Arlo hanya diam dan menghela nafas, sabitnya di tarik keluar dan menggoreskan ujungnya pada sisa darah yang menempel permata tersebut. Tubuhnya tersentak secara tiba-tiba karena pengaruhnya. Dalam sekejap tadi, ia merasakan kekuatan besar yang mengaung dalam sisa-sisa kehidupan itu.
“Ayo cepat Liya, sepertinya anak itu sudah dalam bahaya!” seru Arlo yang sudah melesat di antara pepohonan.
Sebenarnya darah milik siapa itu tadi, pikir Arlo penuh rasa penasaran.
Tidak lama kemudian, tampak dari ujung hutan adalah sebuah tebing dengan bebatuan yang menggunung di sana sini. Di antara bebatuan tersebut, dua orang pria yang tidak asing dari pandangannya. Tampak pula Leo diikat erat dan terbaring di atas batu dengan pola ukiran khusus di tepiannya.
“Arkk! Ark…!” Leo mengerang keras dengan mengeluarkan cahaya bulat merah terang yang melayang di atas tubuhnya.
“Dengan ini, waktu akan lebih mudah untuk dikuasai. Bagaimana menurutmu, Vion?” celetuk Daniel dengan senyuman tipisnya.
“Apapun yang Anda pikirkan, Tuan. Saya akan selalu merasa setuju. Hanya saja, apakah kedua core tersebut akan cocok antara satu sama lain?” sahut Vion dengan wajah yang begitu penasaran.
“Kita lihat saja nanti, hahaha.” Tawa seru Daniel dengan penuh rasa puas.
“Kau terlihat sangat senang ya, Tuan Daniel.” celetuk seseorang yang berjalan mendekat dari kejauhan.
Dengan wajah yang terasa berat, mereka berdua menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok pria yang sama hingga membuat wajah Vion tampak muak.
“Oh? Kau lagi? Tidak ku sangka kau bisa keluar dari sangkar itu,” celetuk Daniel yang tampak senang dirinya.
“Maksudmu tempat menjijikan itu? aku awalnya juga berpikir demikian.” Sahut Arlo yang sudah menarik sabitnya keluar.
“Ayolah, jangan mengatakannya demikian. Saya merasa sedikit tersinggung kali ini. Tempat itu bagai surga pembuangan hasil percobaanku.”
“Memangnya aku peduli!”
Arlo melesat bersama dengan sabit dan menghunusnya ke arah kedua pria tersebut. Dengan responnya, Vion menahan balik serangan yang mengarah pada tuannya dengan sabit yang sama. Dia menghempas mundur Arlo dan saling tinding dengan kemampuannya masing-masing. Jelas sesuai dengan yang dikatakan oleh Daniel, Vion memang bukanlah tandingan Arlo.
Dengan mudahnya ia dipukul sana sini hingga benar-benar terpojok. Saat sampai akhirnya Arlo hendak membabat tubuh pria itu, sesuatu melayang dalam sekejap dan memotong salah satu lengan Arlo.
__ADS_1
...~ Save The Fire Servant ~...