
Seorang pria berjalan keluar dari balik sebuah pohon dengan cahaya putih yang menyelimutinya. Silaunya cahaya mengantar sampai di sebuah padang rumput hijau luas yang di kelilingi hutan rimbun melingkar. Dari balik jubah hitam bertudungnya, ia berjalan pergi masuk menyusuri sepanjang hutan dan berhenti di suatu tempat.
Dari balik pepohonan yang rimbun, tampak sebuah kerajaan yang ramai dengan kehidupan. Masyarakat dengan senang hatinya bersosialisasi satu sama lain. Namun entah kenapa, itu malah menggores rasa kesal wajah pria itu dari balik tudung yang ia kenakan.
Berjalan menyusuri sepanjang kota dengan kehidupan yang ramai, tampak dari tempatnya berdiri seorang pria yang di kenal sebagai raja sedang duduk di atas kudanya yang gagah dan menyapa para warga di sekitarnya dengan senyuman hangat.
“Raja Yiury!” teriak salah satu di antara para warga di sana dengan mantap sosok pria dengan mahkota tersebut.
Dengan senyuman hangat yang sama, sang raja melambaikan tangan sambil terus melanjutkan perjalanan bersama para pengawal yang mengikuti dari depan-belakang.
Tidak lama setelah langkah sang raja mulai jauh, para pria maupun wanita saling berbisik antar telinga dengan mebicarakan kehidupan kerajaan yang ada. Dari ujung jalan sampai titik pria itu berdiri, semua orang membicarakan hal yang sama.
“Hei, aku dengar raja yang sebelumnya telah tewas beberapa bulan yang lalu bersama putra sulungnya,” celetuk seorang wanita.
“Itu benar, kabar mengatakan bahwa mereka telah terbunuh bersama saat melawan para iblis di perbatasan dan seluruh pasukan yang dibawa telah habis terbunuh,” sahut yang lain.
“Bukannya tidak masalah? Selain itu, raja dan putra sulungnya itu adalah pembawa sial bagi keluarga kerajaan Voltar, kan?”
“Benar, aku dengar dulu raja telah menikahi seorang iblis tanpa sepengetahuan tetua. Selain itu, putra sulungnya juga mendapat tuduhan atas pembunuhan berantai yang terjadi selama sebulan itu, kan? Bahkan dia sempat di beri julukan sebagai Blood Prince.”
Tanpa mengetahui kebenaran apapun, rakyat-rakyat jelata itu tidak habisnya membicarakan keluarga kerajaan. Mendengar semua bisikan-bisikan buruk tersebut, pria berjubah itu tampak sangat kesal dan beranjak pergi dari sana dengan menuju kesesuatu tempat.
Sampailah ia di sebuah pohon besar dengan lima kuncup bunga matahari yang tumbuh mengitarinya. Dengan hanya memandanginya, pria itu berdiri di salah satu sisi pohon tersebut dan membisikkan sesuatu.
“Nona, berapa lama lagi saya harus menunggu? Apakah harus menunggu kerajaan ini menjadi reruntuhan? Saya memakan buah keabadian hanya untuk menunggu kembalinya Anda.” Ucap pria itu sambil berjongkok di samping pohon tersebut.
Selama sesaat, air mata menetes jatuh di salah satu bunga tersebut. Tanpa memperoleh satupun jawaban dari pertanyaannya, pria itu berbalik dan pergi dari sana dengan tangan kosong. Kembali melewati kehidupan kota yang terasa sangat menyebalkan baginya, sampai di sebuah hutan rimbun yang sama, dia berhenti dan menatap terangnya matahari.
“Apa waktu benar-banar akan membayar semua ini?” gumamnya lembut sambil melanjutkan langkah kakinya.
Sampailah ia di sebuah pohon besar di tengah pada rumput dengan di kelilingi hutan rimbun yang melingkar. Dia menggenggam permata merah yang menggantung di lehernya dan seketika cahaya putih bersinar terang keluar dari pohon itu. Cahaya putih itu mengantar sampai di sebuah hutan lebat dengan dedaunan kuning yang tumbuh subur.
“Ini bukanlah neraka, ini tempat tinggal baruku sebagai iblis. Ini adalah Soul Of Dark, sisi gelap dari dunia.”
__ADS_1
Pria itu melanjutkan langkahnya masuk semakin dalam di hutan. Langkah kakinya terhenti karena sesuatu yang terdengar sangat keras bergerak ke arahnya. Benar saja, kobaran api yang sangat besar melesat ke arahnya dan membakar pepohonan yang ia lewati. Sontak pria itu segera menghindar secepat mungkin, namun bagian bawah jubahnya terbakar oleh api tersebut hingga memaksanya untuk melepas jubah tersebut. Tampak sosok pria yang mengenakan jas hitam yang sama itu merupakan Arlo.
Tempatnya berdiri agak tertutup karena beberapa pohon besar di depannya. Dari tempatnya berdiri, seorang pria dengan tawanya yang mengerikan melompat-lompat di antara dahan pohon dengan arah yang berlawanan dari api tersebut. Tidak lama setelahnya, dua sosok pria yang sama yang ia temui saat menyelamatkan anak bernama Leo itu juga mengikuti dari belakang.
“Apa mereka masih berurusan dengan anak kecil seperti itu? sebenarnya siapa anak kecil itu.” Gumamnya dengan memasang wajah yang serius.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengikuti mereka bertiga secara diam-diam dan berusaha untuk menyusul keberadaan anak tersebut, itu saja bila dugaannya benar. Melesat dari dahan-kedahan, sampailah ia di sebuah sungai yang mengalir deras. Tampak dari kejauhan anak itu benar-benar terpojok di sana tanpa ada sedikitpun celah untuk bergerak.
“Sudah, menyerah saja. Dengan begini Tuan Daniel tidak akan marah-marah lagi padaku. Heh… bawa dia!” Ucap pria dengan jubah putih yang berdiri paling depan.
Salah satu pria dengan tudung bajunya, berjalan mendekat dan melesatkan dua buah belati lagi di setiap sisi anak itu. Saat untuk terakhir kalinya pedang itu di tancapkan di depan wajahnya, sebuah sabit melayang dan menghantam pedang itu hingga patah menjadi dua. Tidak berselang lama, sosok pria pemiliknya datang dari balik pepohonan hutan dan berdiri tepat di depan anak itu dengan senyumannya.
“Arlo! Dia datang lagi!” ucap salah satu pria di belakang.
“Apa kau baik-baik saja, Leo?” celetuk Arlo dengan melirik Leo yang berdiri gemetar di belakang.
“Aku baik-baik saja, terima kasih,”
Senyuman lain tergores di bibir pria yang berdiri di titik paling depan, dari pihak lawan. Dia mengambil tiga langkah ke arah Arlo dan menyapanya dengan nada yang sedikit merendahkan.
“Hai, apa kita pernah bertemu. Kemarin saya mendengar cerita tentang Anda, Tuan Arlo. Benar?” ocehnya dengan riang.
Tanpa memberikan respon sedikitpun, Arlo hanya menatapnya datar.
“Seperti yang saya dengar, Anda adalah penduduk baru? Apa yang Anda maksud dengan itu? Apa Anda sendiri bukanlah seorang iblis, layaknya kami?” lanjut pertanyaannya dengan menodongkan sebilah pedang yang ia tarik dari sarung pinggangnya.
“Apa saya harus mengulangi semua yang tertera? Tuan…?” sahut Arlo dengan senyuman merendahkan.
“Vion. Maaf, perkenalkan. Saya Vion Harald, pelayang khusus Ratu Alice dan teman setianya, Daneil. Jadi semua benar? Apa Anda tau? Tidak ada manusia atau makhluk campuran apapun yang akan bertahan hidup di sini lebih dari satu hari. Jadi tidak perlu berbohong, siapa sebenarnya Anda?” tanyanya lagi yang tidak percaya.
Tanpa memberikan jawaban apapun lagi, Arlo berlari ke arah pria itu dengan wajah yang kesal. Tanpa aba-aba, sabitnya sudah melayang tepat di samping pria itu saat jarak antara mereka semakin dekat. Titik di mana keduanya saling berhadapan adalah saat kedua senjata masing-masing saling benturan hingga memercikan api di sekitarnya.
Senyuman lebar di bibir Vion terkesan puas akan lawan yang ia hadapi. Namun tidak berselang lama, senyuman itu tergantiakan oleh bibirnya yang meringis dengan menggertak giginya saat pedangnya mulai retak karena tidak kuat tindihan dengan sabit Arlo. Dilihat dari manapun, sabit Arlo bukan senjata tupul yang terbuat dari logam atau sejenisnya. Kekuatan mereka sudah berbanding sangat jauh antara satu sama lain.
__ADS_1
“Cih!” gertak Vion saat pedangnya sudah hancur berkeping-keping di depan wajahnya.
Sontak ia langsung mundur dan menjaga jarak antara satu sama lain sebelum sesuatu terjadi di tubuhnya. Tanpa memberikan kesempatan apapun kepada lawan, Arlo melesat dengan sabitnya langsung mengarah pada Vion. Tepat untuk kedua kalinya, mereka saling berhadapan satu sama lain. Namun sesuatu membuat Arlo cukup terkejut dengan sesuatu yang menahan sabitnya.
Sebilah sabit yang sama dengan rona merah terang dan larit hitam yang menyilang, berhasil tepat menghentikan serangannya, bahkan sedikit memeberikannya pukulan mundur.
“Wah, raut wajah yang terlalu berlebihan. Aku rasa ini hanya kebetulan, tidak perlu dipikirkan.” Ucap Vion yang tanpa ragu menebaskan sabitnya balik ke arah Arlo.
“Cih!” Arlo menggertak giginya.
Dikedua pria yang lain, perlahan demi perlahan mereka terus memojokkan keberadaan Leo yang berlumuran darah di tepi sungai. Arus sungai yang begitu deras memaksa dirinya untuk tidak terlalu dekat, namuun hal itulah yang memubatnya semakin terpojok di antara bebatuan besar. Kedua pria itu sudah marik masing-masih senjata bawaannya dan bersiap untuk melawan.
Tanpa mereka sadari, tiba-tiba uap air keluar dari balik bebatuan kerikil yang mereka injak. Kerikil tersebut perlahan semakin bergetar dan membara panas keluar. Tidak lama setelahnya, kobaran api menyembur bersama dengan kerikil tersebut dan menghujani mereka berdua.
“Awas! Dia akan melarikan diri!” teriak salah satu saat Leo hendak memanjat salah satu batu besar di belakangnya.
“Jaga diri kalian baik-baik, dah….” Celetuk anak itu saat ia hendak melompat pergi dari bebatuan.
Saat ia berbalik, sesuatu meniup udara dengan kencang dan berdirilah seorang pria lain dengan tanduk hitam menjulang di antara rambut panjangnya, menatap anak itu dengan senyuman berat. Sontak Leo berdiri di tempat tanpa sedikitpun berkutik saat rambut pendeknya sudah ditarik hingga ia melotot kesakitan. Pria yang berdiri tepat di depannya adalah orang yang sangat ia kenal sejak kemunculan dirinya sendiri.
“Daniel!”
“Mau kemana kau? kemari! Dan jangan melarikan diri lagi, dasar merepotkan!” ucap pria itu dengan menggaet dan menenteng tubuh kecil anak itu.
Dia melesat melewati ketiga pria lainnya di bawah, sampai sesuatu menarik perhatian dirinya. Dia berhenti di atas dahan pohon dengan menatap sosok pria yang sedang dihadapi oleh Vion.
“Vion, mundurlah. Kau bukanlah tandingannya.” Berbaliklah pria itu dari tempat dan menghilang dari balik lebatnya pepohonan.
“Oh, benarkah?” Vion melesat mundur bersama kedua pria lain di sampingnya masuk kedalam hutan dan lenyap begitu saja.
Tanpa bisa melakukan apapun, Arlo hanya terdiam di tempat dengan memasang wajah kesal tempat di mana mereka pergi.
...~ Fakta 70 Tahun yang Lalu ~...
__ADS_1