Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 36 - Bebaskan.


__ADS_3

Seluruh pasukan dan para staf Raja berbaris rapi di depan gerbang kastil menyambut kedatangan para pangeran terhormat yang akan mengikuti sayambara kerajaan dan menikahi sang putri. Raja terlihat begitu bahagia duduk di kursinya bersebelahan dengan putrinya yang memakai gaun berwarna putih dan terlihat sangat anggun.


Dua orang pangeran tampan melangkah di atas karpet merah dengan di ikuti oleh para pengawal setianya dan di sambut ramai oleh semua warga kerajaan. Salah satunya adalah pangeran berambut pirang panjang dengan pedang di pinggangnya dan berjalan di sisi kanan, senyuman manis dengan gigi putihnya menarik setiap wanita yang ia lewati.


Di sisi kirinya adalah seorang pria dengan rambut hitam yang lurus menutupi mata kirinya dan sebuah pedang di pinggangnya, tatapan membosankan yang hampir sama dengan Arlo ter-ukir di setiap wajahnya.


“Hei, tersenyumlah pada warga sipil dan hormati para wanita. Apa kau tidak di ajari seperti itu?” Bisik pria pirang memepet pria di sebelahnya dan kembali melambaikan tangan pada orang di sekitarnya.


“Hemp.” Pria itu membuang muka dan hanya terus berjalan.


Sampai mereka di hadapan Yang Mula Raja, menunduk dan memberi salam hormat yang sama. Mereka berdua mengangkat wajahnya dan melirik wanita jutek yang duduk membuang muka.


“Selamat datang para pangeran, selamat datang di negeri impianku. Kerajaan Markcs, di Phalasick Island!!” Sambutan Raja di susul sorak-an para warga yang hadir di sana.


“Baiklah. Putriku yang cantik, biarkan aku kenalkan dua pangeran tampan yang ada di hadapanmu ini. Di sisi kanan adalah pangeran Liberth Michel Endinburg, dari kerajaan barat ‘Endinburg.” Kenalkan Raja menatap bangga.


“Pangeran Michel, Putri.” Pria itu menunduk hormat.


“Dan yang di sisi kiri.. dari kerajaan tenggara’ Kerajaan Lesterndny, Pangeran Alberth Hendric Lasterndny." Lanjut Raja.


“Hendric, Nona ....” menunduk.


“Dan Putriku yang cantik-“


“Tidak perlu Raja, semua orang pasti tau nama Putri cantik di sana, kan?” Potong Michel menatap wanita yang duduk di atasnya.


“Aku tidak tau,” jawab santai Hendric.


“Dasar tidak sopan!”


“Yah-yah. Perkenalakan putriku, Bella Alica Marck. Dan aku Vianden Burnburg Marck”


Suara sorak para pengunjung mengantar masuk kedua pangeran ke dalam kastil dan lenyap di balik pintu. Semua tamu di arahkan ke sisi lain tuangan yang sangat luas, di dalamnya sudah ada meja yang sangat panjang di sediakan untuk jamuan para pangeran yang datang bersama pengawalnya. Para pelayan yang cantik-cantik berdiri menyambut hangat kedatangan mereka.


Hal yang sama terjadi, Michel dengan bangga menggoda pelayan-pelayan itu dan membuat risih Hendric. Dia meliriknya dan melangkah duluan untuk segera duduk di meja makan bersama dengan para pengikutnya.


“Hei-hei, kau rakus sekali," bisik Michel yang baru duduk di sebelah Hendric.


“Hmm..” tidak peduli.


Semua orang telah duduk bersama dalam satu meja dengan Raja yang duduk disalah satu ujungnya. Dengan senyuman, dia berdiri untuk membuka acara jamuan dan mempersilakan semuanya saja makan bersama.


“Hei Tora, apa hanya dua pangeran yang datang? Atau yang lainya masih belum sampai?” Bisik Raja pada sesorang yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


“Maaf Raja, kenyataanya memang begitu. Hanya dua orang pangeran yang membalas pesan kami. Jadi memang hanya dua orang pangeran yang datang,”


“Haduh. Di tambah lagi, mereka memiliki sikap yang sangat berlawanan."


Seseorang masuk perlahan kedalam ruangan dan menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Putri yang menawan, perlahan mendekati raja yang duduk di ujung meja dan membisikkan sesuatu.


“Apa! Kau pasti berbohong!” Teriak Raja tiba-tiba.


“Terserah, tapi di kota saat ini sedang kalang kabut. Aku akan pergi duluan," gadis itu berjalan keluar sambil merobek rok gaun indahnya menjadi lebih simpel dan berlari bersama beberapa orang di belakangnya.


“Bella! Semuanya, laporan entah dari mana mengatkan bahwa kota sedang di serang oleh iblis. Jadi aku mohon bantuanya kepada para Pangeran beserta pengikutnya untuk membantu. Saya mohon..”


“Tidak benar seorang Raja memohon. Kami akan langsung beragkat untuk melindungi sang putri." Ujar Michel bergrak bersama dengan seluruh krunya.


...(----------------)...


Eri berteriak sekencang-kencangnya dan tiba-tiba sesuatu menebas makhluk yang menyerangnya, memotongnya menjadi dua. Seekor iblis dengan darah yang bercucuran di mana-mana tergeletak dan terpotong rapi di depan Eri yang terhengah-hengah. Kedua gadis di dekatnya tidak bergerak, menatap Eri yang memegang kuat-kuat pedang di tangannya.


“No-Nona, apa itu benar milikmu?” Kalimat terpatah-patah keluar dari bibir Bela.


Terdengar lagi langkah kaki yang bergerak dalam kelompok mendekati mereka dari kejauhan. Mereka bertiga segera waspada dan memasang kuda-kuda dengan setiap senjata mereka. Saat suaranya sudah dekat, rupanya itu Arlo yang berlari bersama dua orang di belakangnya dan dia langsung menubruk Eri di depannya.


“Nona! Apa kau baik-baik saja!” Gantian Arlo menerjang gadis itu dan duduk tepat di depannya.


“Ohh.. ma-maaf, aku akan sedikit mundur.” Arlo berdiri dan menebah bajunya di depan Eri.


Perlahan Eri juga bangun dan tidak sengaja menatap semua orang yang ada di sekitarnya. Wajah mereka masih terlihat kaku, terkejut dengan yang mereka lihat.


“Ka-kalian jangan menatap seperti itu!” Teriak Eri pada semua yang ada di sana.


“Ehh.." Arlo menoleh pada semuanya yang masih mematung.


“Ma-maaf Nona, hanya saja ... Pedang yang Anda gunakan itu..” jawab ragu-ragu Khira.


“Pedang? Ohh! pedang itu, ahaha.. kalian tau Golden Light ya..?”


“Haa!” Semua semakin terkejut dengan yang di katakan oleh Arlo.


Arlo hanya cekikian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kedua gadis yang ada di dekat Eri langsung mendekat dan menggoyang-goyangkan badan Eri memohon untuk di tunjukkan lagi. Pedang itu adalah pedang yang sama, yang di gunakan Arlo untuk menebas seluruh musuh yang menghadangnya demi mendapatkan buah Keabadian.


“Cepat Nona, keluarkan!” Rengek Bela dengan masih menggoyang-goyangkan tubuh Eri.


“Ahh, iya-iya," Perlahan sesuatu keluar dari telapak tangan Eri.

__ADS_1


Pedang itu melayang sendiri di depan mereka, keluar dari sarungnya dan menancap di tanah. Semua orang mendekat dan memandanginya dari dekat kecuali Khira yang terlihat malu-malu.


Dari mereka berada, sangat jelas sekali mereka mendengar teriakan yang sangat keras dari titik yang jauh di selatan hutan ini yang kemungkinan besar adalah kota di kerajaan ini, meski semua itu hanyalah dugaan.


“Kalian semua dengar! Sepertinya mereka sudah mulai bergerak. Kita juga bergerak untuk melindunginya!”


“Ya!”


Ke enam orang itu langsung menelangkupkan tudung jubahnya berlari menuju sumber suara. Oh ya, kelupaan. Sebelumnya mereka semua sampai di sini dengan memakai jubah yang sama persisi dengan yang selalu Arlo pakai dengan tujuan untuk menutupi identitas mereka. Jubah yang hanya setinggi paha dengan tudung dan berwarna hitam dengan larit di pinggirnya.


Selain itu, di antara mereka semua, tidak ada satupun yang terlihat membawa senjata karena senjata di simpan di dalam tubuh dan akan keluar hanya saat di panggil seperti sabit Arlo yang tiba-tiba muncul di tangannya saat akan bertarung.


“Pembagian tugas lagi! Khira! Kau evakuasi para warga sekitar ke tempat yang aman. Kalian berempat cek setiap isi kota dan pastikan sudah benar-benar aman. Jangan sampai terlewat, bisa di pahami?!”


“Ya!”


Khira melesat ke arah tenggara dan menuju sisi kiri kota, Arlo sedirian bertarung di sisi selatan kota. Sedangkan sisanya melesat ke arah barat.


“Saat seperti ini, di mana para kesatria kerajaan?” gumam Arlo.


Saat Khira dalam perjalanan, satu keluarga sedang terpojok di pinggir jalan. Dua orang anak kecil duduk lemas melihat kedua orang tuanya di babat habis oleh kawanan iblis yang ada tepat di depan mereka.


“Lari! Cari tempat yang aman. Saya akan menahannya, Cepat!” Sosok bertudung dengan larit abu-abu di jubahnya melesat, menebas iblis yang ada di depan mereka.


Kedua anak itu lari tunggang langgang meninggalakan Khira bertarung seorang melawan kawanan iblis itu. sebagian memang menjijikan, tapi sebagian juga terlihat mirip dengan manusia. Setelah di rasa selesai, dia langsung pergi meninggalkan titik itu dan melesat ke arah utara. Di sana jelas pertarungan besar terjadi, Putri dengan para Pangeran memimpin para kesatria untuk bertarung di depan kastil kerajaan tidak jauh darinya.


“Mereka hanya melindungi di sini? Apa mereka tidak memastiakan kondisi warganya?" Gumam Khira melanjutkan perjalanannya hendak ke sisi lain.


“Awas! Putri!” Teriakan yang sangat kencang terdengar di telinga Khira dan ia langsung menolehnya. Bola besar nan gelap melayang tepat mengarah pada putri tanpa ia sadari.


Tanpa pikir panjang, Khira langsung melesat di depan putri dan menahannya secara tiba-tiba. Dengan pedangnya, dia berusaha menahan sekuat tenaga selama sesaat. Bola itu meledak dan menekan kedua orang yang ada di depannya hingga melesat cukup jauh.


“Putri!!"


Luka yang mengenai putri jelas tidaklah parah, tapi untuk Khira. Dia tergeletak tidak sadarkan diri di depan Putri, Sebagian jubahnya robek dan tudung yang menutupi kepalnya juga sudah menghilang menampakkan wajah seorang pria dengan sebuah tanduk kecil di dahinya. Putri yang baru sadar langsung menghampiri pria itu dan memastikan siapa yang menolongnnya.


Melihat tanduk berwarna gelap di dahi pria itu, pikirannya sudah kemana-mana mengingat tanduk itu milik iblis, pada akhirnya ia merobek sebagian bajunya untuk membungkus dahi Khira dan menutupi tonjolan di dahinya, entah apa yang gadis itu lakukan. Kedua pangeran yang sejak tadi hanya berteriak-teriak tidak jelas, berlari menghampiri putri dan langsung mengecek kondisinya.


“Kalian berdua buta! Cepat tolong pria ini! Di yang menyelamatkan nyawaku! Cepat!”


“Ba-baik Putri” Pria itu di bawa oleh Hendric dan langsung menuju dalam kastil.


Melesat ke arah utara menuju ke kastil dengan di ikuti putri di belakangnya. Perasaan cemas bercampur takut terlukis di wajahnya dan membuat ia berpikir hal buruk yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2