Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 11 - Hari Sempurna.


__ADS_3

Pagi ini sangat cerah, matahari yang melirik seakan-akan tersenyum kepada dunia dan mengucapkan selamat pagi. Arlo bangun pagi-pagi dan bersiap-siap, ia segera mandi lalu memakai baju formal yang bagus. Baju itu berwarna hitam dengan larit hijau di kera dan bagian pinggangnya. Arlo begitu bersemangat, karena ada sesuatu yang istimewa terjadi hari ini.


“Arlo.. apa kau sudah siap?. Aku akan menunggu di depan..” suara seorang pria dengan kemeja kuno yang rapi berwarna hitam, berdiri di depan penginapan Arlo, berusaha memanggil Arlo untuk segera berangkat ke sesuatu tempat.


“Ya.. sebentar.. aku sedang mengambil sesuatu..”


Setelah beberapa saat pria itu menunggu, Arlo keluar dari penginapan dan terlihat sangat menawan. Dia mengenggam sesuatu di tangannya dan memasukkannya ke dalam sakunya.


“Baiklah paman Ayo segera berangkat“ Sapa Arlo di depan pintu.


“Ayo.. kau ini lama sekali”


...(----------------)...


Di dalam ruangan yang begitu rapi, seorang gadis sedang menyisir rambutnya secara perlahan sambil tersenyum-senyum sendiri didepan cermin. Dia terlihat sangat bahagia dengan apa yang akan terjadi hari in, senyumannya tidak habis di telan waktu.


Dari luar, terdengar seseorang mengetuk pintu dan hendak masuk ke dalam. Seorang gadis kecil membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekati gadis yang sedang menyisir rambut di depan cermin besar.


“Kakak.. biarkan adikmu yang manis ini menyisir rambutmu. Pasti kak Arlo akan terpesona saat kau menampakkan diri nanti..”


“kau ini..”


Gadis kecil itu meraih sisir yang ada di tangan kakaknya lalu mulai menyisir rambut kakaknya dengan parlahan sampai benar-banar terlihat rapi dan mulai di kelabang. Gadis kecil itu terlihat sangat lihai untuk memuat kakaknya menjadi sangat cantik di depan cermin besar itu. Kemudian selesai mengurus rambut yang panjang itu, dia mulai memilihkan baju yang bagus. Sebuah setelan panjang berwarna emas dipilih oleh Eri yang akan di lamar oleh seorang pria tercintanya hari ini.


“Hari ini adalah hari yang sangat indah..”


...(----------------)...


Dua orang pria sedang berjalan melawati ramainya desa kecil itu. Senyuman dan canda-tawa tidak bisa di tahan saat itu, dua orang itu adalah pak Yuri dan mempelai pria yang menawan. Mereka berdua bejalan dengan sedikit tergesa-gesa karena terlihat sedang terlambat setelah melihat jam di tangannya.


“Selamat Arlo,hari ini akan menjadi permulaan untuk kalian berdua bisa bersama selamanya” ujar pria yang berjalan di samping Arlo.


“Tentu saja. Aku juga sangat berterima kasih karena mau menjadi waliku”

__ADS_1


“Pernikahan ini pasti akan terasa berbeda..”


Sampai kedua orang itu di tempat tujuan, mereka sudah di tunggu-tunggu oleh seorang pria tua dan gadis kecil yang berdiri di sebelahnya dengan wajah yang sedikit cemberut. Di depan rumah, Pak Harto sudah menunggu dengan sabar dan di dampingi keponakannya yang manis, Rina di sampingnya.


“Oi Yuri kau lama sekali?, aku sudah menunggumu dari tadi” Sapa Ayah Eri.


“Iya ayah, ayah lama sekali? Aku di paksa berdiri di sini oleh paman tau..” Susul Rina.


“Yah.. maaf-maaf. Itu karena salahku, paman Yuri lama karena menungguku” balas Arlo sambil menggaruk kepalanya.


Karena sudah di persilakan masuk kedalamdan memulai acaranya. Mereka semua masuk dan bersiap-siap. Tiba-tiba paman Eri berhenti di halaman rumah dan menghampiri Arlo. Dia terlihat cemas seperti ada yang tertinggal.


“Hei.. hei.. Arlo, apa kau bawa sesuatu?”


“Aku hanya ba- Apa! Harusnya kita bawa sesuatu seperti makanan kan? Bagaimana ini paman?”


Sesaat setelah mereka berpikir yang cukup merepotkan, tiba-tiba di depan jalan dua orang berdiri menyapa mereka berdua menatap dengan senyuman. Terlihat mereka berdua sedang membawa sesuatu yang berat di tangannya.


“Wah.. semua sudah berkumpul ya?” suara seorang pria bersama seorang gadis di sampingnya depan halaman rumah Pak Harto.


“Mereka siapa Arlo?” Tanya paman Eri sambil menunjuknya.


Arlo menjelaskan sesederhana mungkin dan membuat paman Eri paham dengan apa yang terjadi. Mereka sangat lama di luar karena penjelasan itu. Sesuatu yang di bawa kedua orang itu adalah buah dan beberapa makanan sebagai hadiah dari mempelai pria.


“Bagus sekali kalian membawanya. Aku sendiri malah lupa” mereka tertawa bersama di halaman itu dan terhenti oleh teriakan seorang gadis dari depan pintu. Suaranya sangat besar seperti pria dewasa saja.


“Woi.. buruan masuk! Keburu siang nih!” rupanya si Rina yang terlihat marah di depan pintu.


Mereka segera masuk dan memulai kegiatan lamaran itu. Arlo masuk bersama ketiga temannya dan menyerahkan seluruh bawaannya pada Keluarga Eri.


Saat itu Eri masih belum keluar dan menampakkan diri. Mereka membicarakan beberapa hal termasuk kedua tean asing Arlo dan bercanda di sana sambil menunggu mempelai wanita.


Setelah beberapa saat akhirnya Eri keluar sambil membawa minuman di ikuti adiknya Rina yang membantunya. Benar saja yang di katakan oleh Rina, Arlo yang tidak berkedip melihat Eri berjalan dengan anggun yang seakan menghipnotisnya. Selama beberapa saat Arlo benar-benar tidak berkedip menatap tajam Eri di depannya.

__ADS_1


“Arlo! Arlo! Sadarlah!” bisik paman Eri yang berdiri di dekatnya, kemudia semua orang yang ada di rumah itu tertawa menertawai Arlo yang sedang terpesona itu. Wajah Arlo terlihat memerah dan malu-malu saat menatap Eri yang berdiri di depannya membawa nampan yang berisi minuman.


Adik Eri yang mebuntutinya di belakang langsung menerobos halangan di depannya dan meletakkan nampan yang berisi minuman itu karena telihat kepanasan.Itu semakin membuat semua orang tertawa semakin keras. Sampai akhirnya minuman itu di letakkan di depan mereka semua supaya mudah di jangkau.


Mereka memulai dengan penjelasan tentang seluruh jalannya pernikahan dan sejenisnya. Lalu di susul Arlo menyerahkan atau memasangkan cincin pada jari manis tangan kiri Eri dan di sambut tepuk tangan keluarga kecil itu. Ia sebelumnya terlihat malu-malu karena kejadian sebelumnya di tambah Eri yang terlihat sangat cantik di depannya.


Sesi terakhir adalah jamuan makan-makan bersama. Semua orang terlihat sangat senang dengan apa yang di sediakan disana. Senyuman yang tidak tergantikan, semuanya ada di sana. Hari ini memang yang terbaik bagi Arlo berharap itu tidak akan berakhir.


Hari mulai siang dan acaranya hendak di tutup oleh pak Harto sendiri. Kemudian ia meminta penjelasan Arlo tentang sebuah ritual aneh yang di katakan oleh ibu Arlo.


“Baiklah Arlo. Karena semua kegiatan hari ini selesai kau bisa menjelaskan tentang saran ibumu” celetuk Pak Harto tiba-tiba sambil menatap serius pada Arlo.


“Sebelum itu, saya akan ceritakan sesuatu pada anda. Sekitar 100 tahun yang lalu, seorang wanita meninggal karena di serap oleh iblis tanpa di sadari siapa pun. Dia bernama Ely keturunan keluarga Goldintera sebelah barat. Di adalah kekasihku yang sebenarnya. Aku menyesali akan kematiannya dan merasa dunia tidak adil. Tapi ayah bilang ia akan kembali dan menyuruhku untuk menunggu.


Tapi menunggu adalah hal yang paling aku benci. Karena penyesalan itu aku sudah tidak bisa hidup tenang, aku pikir mati saja lebih baik. Tapi karena buah itu aku tidak bisa bunuh diri. Setiap saat aku ingat aku selalu dengan sengaja menusuk dadaku sendiri agar aku bisa mati tanpa harus merasakan perasaan sedih yang mendalam”


“Karena kesedihanku ibu menyuruhku untuk berjalan mencari sesuatu yang entah aku sendiri tidak tau. Mengelilingi dunia sampai ia mengatakan sebenarnya apa tujuanku. Karena rasa bersalah terus saja tumbuh jadi aku merasa kesulitan untuk berharap bisa tenang dan menjalankan setiap tugas dari ibuku. Karena ia adalah pemimpin yang paling tinggi di wilayah kami.


Arlo berusaha menjelaskan sebisanya pada semua orang yang berkumpul di sana tanpa merahasiakan apapun. Sedangkan kedua pelayan Arlo terlihat sangat serius seperti mendengarkan sebuah dongeng.


“Lalu siapa ayahmu Arlo?” tanya Pak Harto.


“Bahkan sampai anda tidak tau. Apa anda pernah mendengar Raja Ordil dengan rumor bangkit dari kematian setelah hilang tiga bulan?”


“Aku rasa memang pernah mendengarnya. Tapi aku dengar ia sudah mati dengan putranya di dalam suatu tempat. Lalu apa hubungannya, Arlo?”


“Anda tau putranya siapa?”


“Aku tidak tau siapa putranya tapi ia sepertinya bernasib sama denganmu. Aku tau karena orang tuaku bercerita saat aku kecil jadi aku sudah sedikit lupa”


“Bukan nasib yang sama ayah, tapi akulah putranya. Karena 70 tahun yang lalu aku di nyatakan meninggal bersama ayahku oleh wargaku sendiri. Dan hubungannya adalah.. ayahku sekarang masih hidup dan masih berjalan dengan tegap di rumah ibuku”


“jadi begitu, lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Paman Eri.

__ADS_1


“Mungkin tiga hari lagi aku dan Eri akan menemui ibu dan ayah untuk melakukan ritual agar hal yang sama bisa terjadj pada Nona"


__ADS_2