
Tepat di mana Khira dan Nanda saling berhadapan. Sesaat kemudian, tubuh Khira terangkat ke udara dengan pedang yang sudah menusuk tepat di perutnya. Sampai keduanya tiba-tiba jatuh dan terjungkal, tubuh keduanya sudah terbaring lemas di tanah. Terdengar langkah kaki seorang gadis dengan jubah putih bertudung, perlahan mengintip kedua pria itu dan menghela nafas.
“Sepertinya dia telah terkena kutukan. Sesuai dengan yang di katakan sebelumnya, sekarang pimpinan aku ambil alih,” ucap gadis itu.
“Tapi Sina, apa kita tidak lapor pada Tuan Daniel terlebih dahulu?” sahut yang lain.
“Sepertinya dia terlihat sangat sibuk dengan lawannya, kita tidak punya waktu. Cepat temukan teman-teman pria ini dan selesaikan!” Sina menoleh ke arah Daniel yang bertarung dengan Arlo tidak jauh darinya.
“Baik!”
Belum sempat mereka untuk melangkahkan kakinya, pandangannya sudah teralihkan begitu saja oleh seseorang dari kejauhan. Gadis itu berlari dengan begitu kencang dan menyeret pedang emas di tangannya, sembari memasang wajah kesal. Dia melompat setinggi mungkin di udara ke arah mereka dan membuat kejutan.
“Kalian…!” sebuah benturan yang sangat keras berhasil menghantam langsung tepat di depan wajah Sina.
Dengan tombak besar di tangannya, ia berhasil menahan serangan itu sebelum sempat membentur kepalanya. Tepat di depan wajahnya, seorang gadis yang tidak terlalu asing baginya telah menetap dengan penuh rasa benci. Mata keduanya saling bertemu dan tidak berkedip selama sesaat dengan pandangan yang berlawanan, menggores senyuman tipis di bibir Sina.
“Nona Eri? Gadis yang memukul mundur Tuan Daniel seorang diri, apa aku salah…? Tidak kusangka kita akan bertemu sekarang.” Ucap Sina setelah menghepaskan mundur Eri bersama pedangnya.
Dia membalikkan tombak itu dan lenyap di balik jaubah, menatap Eri dengan senyuman kecil di bibirnya. Sedangkan Eri tidak merubah raut wajahnya yang kesal setelah melirik seorang gadis yang terbaring lemas tidak jauh darinya.
“Hei… berhentilah melamun dan jawab pertanyaan ku!” Sina mengalihkan perhatian.
“Siapa yang akan peduli dengan makhluk menjijikan seperti dirimu!”
"Heh? Makhluk? Bukannya kau sendiri sama denganku. Dengan tanduk dan ekor yang termbunyi dari balik jubah itu, memangnya apa selain iblis...?" Sina membalikkan.
Tanpa banyak bicara lagi, Eri menyerang lagi dengan Golden Sword yang sudah membara di tangannya. Wajahnya sudah jauh berbeda dengan Eri yang biasa, hanya tampak perasaan marah dan kesal yang tergambar dari wajahnya. Di depan sudah ada tiga orang yang menghadang jalannya, mereka sudah bersiap dengan senjatanya masing-masing untuk memberikan serangan balik kepadanya seorang.
__ADS_1
Tepat saat sasaran sudah terpukul, kedua orang di samping Sina balik menyerangnya dari samping dan memaksanya melompat mundur sebagai usaha untuk menghindar. Belum sampai ia menginjakkan kakinya di tanah, tiga orang di belakang Sina sudah melancakan serangan lagi dengan dua anak panah yang melesat diantara tubuh Sina dan langsung mengarah pada Eri.
Dengan terpaksa, ia harus menghadangkan pedangnya dan kehilangan keseimbangan untuk berpijak. Dua anak panah itu terpental bersamaan dengan dirinya yang terusngkur di tanah.
“Lho? Apakah sudah sampai disini?” celetuk, Sina merendahkan.
Sadar-sadar saat ia terbangun, tubuhnya sudah di kelilingi oleh enam orang di sekitarnya, dengan Sina yang berdiri tepat di depannya. Mereka menatap rendah sembari menunggunya untuk bangun.
“Aku tidaklah seberuk itu. mengeroyokmu dan membunuh saat musuhnya lengah, tapi… itu mungkin akan lebih menyenangkan…!” Sina menusukkan tombaknya langsung ke arah Eri yang masih berusaha untuk mengangkat tubuhnya.
Sontak tangannya yang menggenggam pedang itu bergerak sendiri dan berhasil menahan tombak Sina, bahkan mementalaknnya kembali. Eri langsung mengangkat tubuhnya berdiri dan berusahan melepaskan diri dari belenggu di sekitarnya. Dia menghempas pedangnya melingkar, para iblis yang berdiri di sekitar terpaksa melompat mundur untuk menghindar sehingga Eri sendiri dapat membuka jalan.
Tepat saat ia masih melayang di udara, Sina membalas serangannya dan menghunuskan tombaknya langsung tepat di depan wajahnya. Karena entah kebetulan aneh apa, jubah Eri tertiup angin dan mendoronya kesamping. Serangan Sina meleset dan tombaknya hanya lewat sebelah telinga Eri begitu saja. Sedangkan tubuhnya terdorong mundur karena serangan Sina yang meleset.
Sadar-sadar mereka sudah saling tindih dengan darah yang mengalir keluar dari ujung pedang Eri. Tepat di atasnya, Sina terbaring lemas tak sadarkan diri dengan pedang yang menembus punggungnya. Dengan tidak merubah raut wajahnya, ia mendorong minggir tubuh lemas Sina dan mencabut pedangnya begitu saja seakan tidak peduli.
Belum sempat ia melancarkan serangn, pandanganya teralihkan oleh sesuatu yang terdengar melesat dari belakang.
“Berhenti main-main denganku, Dasar Darah Campuran!” teriak seseorang dari belakang.
Sebuah tombak besar melayang begitu cepat ke arahnya dari belakang dan berhasil menggores luka dari balik jubahnya. Sontak ia menahan lengan kirinya dan melompat mundur untuk menjaga jarak.
“Kenapa? Kau terkejut? Mungkin bila Tuan Arlo yang menemuiku, dia tidak akan memasang wajah terkejut yang konyol seperti itu.” Ucap Sina dengan menarik kembali tombaknya di tempat.
Eri hanya berdiri dengan meringis kesakitan sembari menahan lengan kirinya dari balik jubah itu dan menatap balik Sina. Sedangkan Sian sendiri sudah berdiri dengan kelima orang di sekitarnya, bersiap untuk menyerang balik.
Mereka melesat dengan cepatnya kearah Eri dan mengelilinginya lagi. Memaksanya untuk terus menghindar dari setiap serangan yang di lancarkan oleh mereka. Tanpa ada yang dapat mengetahui, luka-luka yang tersembunyi dari balik jubahnya perlahan sembuh tanpa bekas dan terus bertarung dengan mereka.
__ADS_1
Sina sendiri merasa heranan dengan lawannya. Meski sudah sejak tadi dia terkena serangan dan begitu seringnya ia meringis kesakitan, tapi Eri masih bangun dan mengangkat kembali pedangnya. Berbeda dengan Arlo, Eri sendiri memiliki kapasitas energi yang jauh lebih kuat darinya. Seberapa lamapun dia bertarung, dia masih bisa mengangkat kembali pedangnya.
Sampai dalam sebuah kesempatan karena Sina terlena, Eri berhasil sekali lagi menggores luka di tubuhnya. Darah keluar dari dalam tubuh gadis itu. Namun seperti yang ia katakan sebelumnya, luka itu tidak akan pernah berpengaruh karena secara terang-ternangan luka-lukanya sembuh seketika setelah tergores.
“Bagaimana? Apa kau belum paham juga… hahaha….” Tawa senangnya.
Kali ini Eri sudah semakin kesal dengan perilaku gadis itu. Dengan membunuh begitu banyak kehidupan di sini, dia seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. Eri berdiam diri selama beberapa saat, secercah cahaya menyala di ujung pedangnya dari kejauhan. Karena terdiam, Sina berusaha untuk menyerang dengan cara pikir kotornya.
“Kita akhiri sekarang!” tombaknya sudah melayang di atas kepala dan hendak menusuk Eri langsung.
Namun sesuatu seakan melindungi dan menahan ujung tombak Sina dia atas awang-awang. Cahaya yang menyala dari ujung pedang itu semakin menyebar dengan sebuah api gelap yang menyelimutinya. Belum sempat ia untuk melompat dan menjaga jarak, api itu sudah di hempas ke arahnya dan berhasil membakar sebagian jubah yang ia kenakan. Dengan terpaksa ia melompat mundur sembari melepas jubah putinya sebelum api itu menyebar.
Sedangkan Eri terlihat sibuk dengan dirinya sendiri dari balik pelindung itu. Membuat lawan-lawannya penasaran bercapur perasaan cemas yang terlukis di wajah mereka.
“Kembalikan dirimu… Nona Ely…” suara lembut seorang pria yang hanya bisa di dengar oleh Eri seorang.
Sampai saat itu juga, Eri menghepas udara dengan api hitam yang menyelimuti pedangnya. Api itu melesat dengan begitu cepat dalam jangkauan yang luas, langsung mengarah pada mereka tanpa terkecuali. Hempasan itu mayang tepat di depan Sina dan ia tidak sempat untuk menghindarinya.
*Reverensi
Bila ada yang lupa atau tidak mengetahui, nama Sina ada tiga orang disini.
Pertama kali muncul di 'Gelombang Pertama, dengan seorang gadis berjubah putih bersama seorang pria dan mereka berusaha mengacau pasar. Saat itu mereka mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Arlo dan bertarung bersamanya. Rpannya Sina punya permata yang melindunginya dari kematian.
Yang kedua muncul sebagai seorang gadis keci yang merupakan keponakan Pak Harto dan juga adik dari Eri.
Terakhir adalah Sina milik Ferdi, yang tentunya sudah tidak asing lagi.
__ADS_1