
Di dalam ruang makan seorang pria dan gadis sedang berbicara hangat sambil memakan sesuatu. Eri yang kembali kedapur mengambil gelas dan membuat minuman untuk berdua, di tunggulah oleh Arlo dengan sabar di meja makan. Setelah beberapa saat di dalam dapur dan membuat minuman, Eri keluar membawa dua gelas teh dan sebuah roti ukuran besar. Duduklah dia di depan Arlo dan memberikan sebagian dari apa yang ia bawa.
“Arlo.. selama ini kau hanya berjalan. Lalu bagaimana dengan keluargamu?”
“Yah.. aku rasa memang sudah waktunya.
Dengar lah!, kerajaan Voltara yang terletak di sisi barat laut pantai Cardil, waktu itu di pimpin oleh ayahku Raja Leordil Bildan Voltar, Namanya buruk sekali. Tapi panggil saja raja Ordil. Sebelumnya Ia adalah pangeran mahkota yang luar biasa. Tapi kata luar biasa itu sirna setelah ia bertemu ibuku”
“Apa maksudnya itu?”
“Kau tau aku punya darah setengah ibliskan..
Saat pertama bertemu dengan ibu, ayah terluka parah dalam pertempuran kecil, pertempuran itu terjadi di dalam hutan dan ia hanya bersama beberapa pasukan saja untuk melakukan patroli. Secara detilnya mereka masuk kedalam hutan dan tidak tau bahwa mereka memasuki wilayah berbahaya yang di larang oleh banyak orang.
Beberapa prajurit yang ikut sudah memperingatkannya, tapi kelihatannya ia tidak peduli karena sifatnya yang keras kepala itu. Pada akhirnya di dalam hutan, mereka semua di serang dan di bantai habis-habisan oleh para iblis dari Darkside yang mendiami wilayah itu.
Selama penyerangan itu, seluruh pasukan tewas di tempat sedangkan ayahku masih sekarat berjuang melarikan diri tapi pada akhirnya karena lukanya yang cukup parah ia jatuh dan sekarat, tapi sebelum itu ia sudah di datangi oleh para pasukan dari wilayah kami dan berusaha membantai iblis jahat itu. Karena ayah yang satu-satunya selamat, ia di bawa dan di rawat di wilayah kami.
Tidak ada yang tau dia berada di mana saat itu. Dan orang-orang berpikir bahwa ia sudah mati di bunuh iblis yang berkeliaran menghisap jiwa makhluk hidup. Di dalam hutan ia di serang pasukan iblis darkness dan seluruh pasukannya di bantai di sana. Sebelum saat kematiannya-“
“Tunggu bagaimana kau tau seluruh kejadian, padahal kau belum di lahirkan?”
__ADS_1
“Tentu saja ayahku yang bercerita..!”
“Hei.. aku hanya bertanya. Kau itu kasar sekali tuan pelanggan!”
“Bukankah kau yang suka memotong-motong orang yang bercerita?”
“Baiklah-baiklah, cepat lanjutkan!”
“Sebelum saat kematiannya datang. Dia bilang, ia melihat sebuah mewar cantik dengan duri yang tajam melesat bersama sesuatu yang mengikutinya. Setelah saat itu dia tidak tau apa yang terjadi. Dia bangun di tempat asing, sebenarnya sebuah kamar dengan tempat tidur yang empuk. Lalu ia melihat seseorang di sana. Dia melihat seorang gadis seusiamu duduk di sebelah kasur empuk itu sambil membaca buku. Tubuhnya molek serba feminim dan-“
“Bisa kita lewati itu?!”
“Baiklah-baik. Dia melihat wanita cantik yang terasa familiar. Dia bertanduk dan dengan ekor kecilnya yang tergantung. Wanita itu menatap ayah yang baru sadar dengan senyuman selamat datang. Ayah segera bangun dan menanyakan semua yang telah terjadi meski ia masih merasa kawatir. Gadis itu menjelaskan bahwa dia terluka parah dan pingsan selama 2 hari di sini.
“Tunggu apa dia akan menikahi iblis?. Bukankah itu di larang dari ras manusia saat dulu?”
“Tidak. Pernikahan dengan iblis kadang juga terjadi dalam masyarakat. Tapi masalahnya bukan itu. Iblis punya sikap egois akan kelebihannya. Ia akan menyerap jiwa makhluk untuk memperpanjang hidupnya”
“Lalu bagaimana dengan gadis itu, em maksudku ibumu?”
“Ayah mengungkapkan seluruh perasaannya pada gadis itu dan melamarnya. Awalnya ditolak, karena rumor yang beredar gadis itu tidak mau dikatakan buruk. Tapi pada akhirnya ia mau menikah dengan ayah. Lalu ay-“
__ADS_1
Arlo tidak menyelesaikan ceritanya karena terdengar seseorang melangkah masuk dan memanggilnya. Dengan jelas itu adalah paman Eri yang datang terburu-buru sehingga nafasnya terhengah-hengah.
“Arlo bisa kau bantu membawa beberapa barang di sana?. Ada warga yang sedang memperbaiki rumahnya” teriak paman Eri dari depan pintu.
“Ya.. paman duluan saja, nanti ku susul!. Baiklah Nona aku akan pergi membantunya, mungkin ceritanya sampai di sini dulu. Sampai jumpa besok nona” Arlo bangun dari tempat duduknya dan melangkah keluar meninggalkan gadis yang duduk di depannya tadi.
“Janjilah besok kau ceritakan. Aku akan menunggu..” teriak Eri. Arlo hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol.
“Dasar.. dia itu sama seperti ibu” gumam Arlo dan semakin menjauh.
Selesai Arlo membantu warga di sana. Hari mulai gelap dan matahari sudah tak terlihat lagi. Arlo segera kembali ke penginapan menghindari masalah yang akan terjadi sebentar lagi. Sampai Arlo di depan penginapan, tidak seperti biasa pak Harto datang ke penginapan saat hari gelap.
Pak Harto yang tersenyum kemudian menarik tangan Arlo dan memberikan sesuatu padanya. Sebuah kotak tua yang berukuran kecil sekarang sudah di dalam genggaman Arlo. Ia bingung dengan yang di lakukan pak Harto dan menanyakannya sejelas mungkin.
“Bukalah dahulu..”
Ia mulai membukanya dan melihat yang sangat bagus sampai membuat matanya tidak berkedip setelah beberapa saat menetapnya. Dia dalamnya sebuah cincin berlian yang sangat indah, berwarna putih dan berkilauan di tengah lingkarnya cincin itu.
ak Harto tersenyum kecil dan menjelaskannya pada Arlo. Itu sebenarnya adalah cincin turun-temurun yang diberikan kepada pak Harto saat ia menikah dengan istri tercintanya oleh ayah mertuanya.
“Itu adalah cincin lamaran, berikan itu pada Eri dan buat aku senang saat melihatnya besok..”
__ADS_1
“Baiklah Ayah, dia pasti sangat senang dengan cincin ini. cincin ini sangat indah..”