
Seorang pria asing sedang menusuk Arlo dari bekang dengan belati kecil yang bersinar. Terlihat pria itu memakai baju bandit yang menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan mayanya yang begitu suram.
“Heh anak muda aku tidak pernah melupakan pertemuan pertama kita yang menyedihkan itu. Ku pikir kau sudah mati saat ku tinggalkan waktu itu, tapi sekarang kaumasih bisa menusukku dari belakang dan berusaha untuk melumpuhkanku dengan racunmu itu.
Dasar.. sudah ku bilangkan, yang lemah akan tetap lemah sedangkan yang kuat akan memburu dan mengakiri nasib mereka” gertak Arlo kemudian muncul sabit merah di tangan kirinya yang biasa di gunakan olehnya.
Dengan satu hempasan, pada akirnya pria itu tertusuk dengan sadis tepat pada punggungnya. Sedangkan luka Arlo sebelumnya telah pulih sempurna dan mengeluarkan racun dari dadanya. Pria itu sangat terkejut saat melirik di belakannya dan luka yang ia buat tidak menyisakan apapun kcuali racun yang terkandung dalam belatinya keluar lewat dada Arlo.
“Aku ga.. gagal lagi..” senyuman di bibir pria itu mengakiri hidupnya yang menyedihkan.
“Selamat tinggal.. Dara"
Arlo mencabut sabitnya dan meninggalkan jasat musuhnya terbengkalai di sana. Hari yang begitu gelap tidak menghalangi Arlo untuk kembali atau pergi kemanapun.
“Dasar manusia lemah..”
...(----------------)...
Dua orang sedang duduk santai di depan bar penginapan Pak Harto dan berbicara hal ringan biasa. Kemudian Ferdi yang sebelumnya duduk tepat di sebelah Arlo, menatap tajam orang yang ada di sampingnya.
“Jadi kalau boleh tau, apa nona baik-baik saja?. Dia terlihat tidak senang pada anda sejak kemarin. Itu juga salah kami berdua kan?” Ferdi bertanya pada Arlo dengan penuh rasa takut.
“Aku tidak menyalahkan kalian, sebelumnya Nona memang sedikit marah pada ku karena beberapa alasan
Sebentar aku akan pergi menjenguknya, kau jaga bar tua ini ya..”
__ADS_1
Arlo bediri dan berjalan menjauh meninggalkan Ferdi yang sebelumnya duduk di sebelahnya. Ia pergi meninggalkan penginapan menuju rumah Pak Harto, tentu saja untuk menemui Eri dan membujuknya. Sampai di rumah Pak Harto, Eri duduk di bangku teras rumah dan hanya melamunkan sesuatu. Lalu tiba-tiba ia seperti tersadar dan segera berlari masuk kedalam rumah.
Arlo hanya berdiri di depan halaman rumah mengamati apa yang akan dilakukan oleh Eri, karena sepertinya Eri tidak sadar bila sedang di amati oleh seseorang. Setelah beberapa saat di dalam rumah, Eri keluar dan membawa sebuah kotak berwarna hitam lalu meletakannya di atas meja dan mulai membukanya. Tidak terlalu jelas di dalamnya ada apa, tapi setelah beberapa saat Eri memandanginya, ia meneteskan air matanya.
Dari tempat ia berdiri Arlo merasa kawatir dan menyusul Eri di teras itu dan melihat apa yang terjadi.
“Ada masalah nona..” Arlo ikut meneteskan air mata saat melihat isi yang ada dalam kotak itu.
Mungkin bila orang lain yang melihatnya tidak akan tau apapun dan tak akan merasakan apapun. Karena itu memang hanya kenangan Arlo dan Eri berdua. Kenangan itu sudah sangat lama yang masih tergantung pada jiwa Ely dan tersimpan di dalam Eri, ia selalu bermimpi hal yang sama saat tidur dan menanyakannya pada Arlo saat dulu.
Arlo berdiri tepat di belakangnya dan menepuk dengan lembut rambut Eri yang di ikat dengan rapi.
“apa kemarin masih belum cukup Nona?”
“Masa depan..?”
Tiba- tiba Arlo mengingat bagaimana Ely mati di tangan Iblis, saat kondisi yang sama persis seperti ini. Pikiran Arlo menjadi kacau dan merasa takut dengan hal yang sama akan terjadi. Perasaan yang sama pada saat itu masih terasa jelas keluar dari diri Eri yang duduk di depan Arlo.
“Nona.. apa besok kita bisa pergi untuk mengunjungi orang tuaku. Selain itu aku juga merasa rindu dengan ibuku setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya”
“Baiklah..”
“Arlo.. apa malam ini, kau bisa menginap di rumah dan menemaniku malam ini”
“Ta tapi apa boleh?. Bagaimana bila ayahmu menolak?”
__ADS_1
“Dia tak akan menolak, dia sedang berdiri disini dan mendengar semuanya, mana mungkin ia menolak”
Arlo menoleh dan terkejut dengan pak Harto yang berada di sampingnnya. Saat itu pak Harto hanya mengangguk setuju dan kemudian masuk kedalam rumah. Eri bangun dari kursinya dan menarik tangan Arlo untuk masuk menuju dalam rumah. Malam itu Arlo tidak kembali ke penginapan dan akan bermalam di rumah pak Harto. Malam ini terasa berbeda, ada perasaan hangat yang tidak di sampaikan secara langsung tapi hanya di jadikan perantara.
Seperti biasa Eri akan memasak maka malam untuk ayahnya dan karena Arlo di sini ia juga harus menambah porsi makanannya. Arlo bersama pak harto yang duduk di ruang tamu dan menunggu makan siap untuk di sajikan. Di sana mereka berdua hanya terdiam sedangkan Pak Harto yang duduk berhadapan dengan Arlo sambil membaca buku tua di tangannya, rasanya itu semakin membosankan dan membuat Arlo tidak tahan. Arlo sudah tidak betah bila hanya duduk dan menunggu makanan yang di masak, ia mendekati Eri dan berencana untuk membantunya.
“Nona ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak Arlo, pergilah dan menunggu seperti ayah, awas!” minyak yang di gunakan oleh Eri meledak karena sedang mengoreng cabai.
“Astaga.. baikalah”
“Cobalah untuk bermain papan dengan ayah, dia pasti mau..”
Setelah itu Arlo berjalan pasrah menghampiri pak Harto. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Harto. Arlo menatapnya sedikit ragu karena jelas pak Harto sedang membaca dengan serius. Kemudian secara perlahan ia menatap serius pria tua didepannya dan mulai menanyakan tujuannya.
“Jadi.. apa anda mau bermain permainan papan yang di katakan oleh Eri tadi dengan saya?”
“Yah.. baiklah ambil papan permainan di sana dan kita akan bermain. Selain itu apa kau tau aturan bermainnya?”
Arlo menganguk dan segera mengambil permainan papan itu. Arlo bermain dengan payah saat melawan pak Harto. Meskipun begitu, mereka terlihat sangat akrab dan kehangatan keluarga begitu terasa. Dengan sabar juga pak Harto mengajari sedikit demi sedikit pada Arlo tentang permainan papan itu sampai makan malam siap di sajikan.
“Ayo.. makan malam siap. Mari makan” Eri membawa dua piring di tangannya yang berisi makannan dan menaruhnya di atas meja makan.
Mereka berdua segera menyusul Eri dan duduk di meja sampai persiapan makan selesai. Selesai memmparsiapkanya Eri mempersilakan makan dan menyiapkan minum untuk tiga orang. Mereka makan dengan sangat tenang sampai makannanya habis tanpa mengatakan apapun saat makan bersama dalam ruang makan itu.
__ADS_1