Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 59 - Ujian Terakhir.


__ADS_3

Arlo berdiri tertatih dengan menahan lengan kanannya yang di penuhi darah, bersama Eri di sampingnya. Perlahan, luka-luka di tubuh mereka berdua mulai pulih hingga sepenuhnya baik-baik saja. Menatap tajam ke arah rimbunnya tanaman dan akar rambat itu, memikirkan cara untuk munyingkirkannya.


Sampai saat yang tepat, Arlo melesat secepat mungkin ke arahnya dengan sabit dan core api yang sudah dalam genggamannya. Menebas dan membakar semua yang ia lewati hingga sampai di ujung jalan. Saat tangannya hampir saja bisa menyentuh permata itu, sejumlah tanaman balik menahan lenganya dan hampir menelan tubuhnya ke dalam sana.


Belum sempat Arlo melompat menjauh, permata itu bersinar kembali dan lalu berkedip lambat. Semakin lama cahayanya semakin terang, disusul sesaat kemudian adalah ledakan yang lebih besar dari pada sebelumnya. Karena hal itu, permatanya semakin terpendam di dalam tanah dan semakin tertutup. Ia terhempas jauh dan menabrak pohon di dalam hutan, hingga pohonnya tumbang ke arahnya.


“Bila terus seperti ini, permata itu akan semakin tenggelam di dalam tanah…” Eri menatap tajam ke arah tebing.


“I-Ini tugas pentingku, selagi aku belum mati… ini pasti akan terselesaikan.”


Arlo mengangkat perlahan tubuhnya yang gemetaran karena luka-luka parah yang sudah memenuhi tubuhnya. Langkahnya yang tertatih, perlahan mulai tegak kembali bersamaan dengan luka yang perlahan pulih. Dia berlari secepat mungkin ke arah permata itu sebelum sepenuhnya tertutup oleh tanaman rambat.


Sampai tubuhnya benar-benar terhempas masuk ke dalam lingkup dari permata itu, tubuhnya mulai terselimuti. Saat yang bersamaan, jari tangannya berhasil meraih dan menyentuhnya, dan saat itu juga, jari beserta tangannya lenyap seketika seakan di telan oleh permata itu. Di susul dari belakang, kali ini tanaman itu benar-benar menelan seluruh tubuhnya hingga sepenuhnya lenyap.


“Arlo…!”


...(----------------)...


Di tepi hutan yang begitu lebatnya, enam orrang berlari secepat mungkin ke arah utara dengan keenam senjata di tangan masing-masing, membuka jalan yang terhalang oleh akar-akar besar di tengah jalan. Sesaat kemudian, tanah berguncang dengan kencang di susul ledakan yang berdebu mengepul di ujung utara.


“Apa itu Tuan Arlo!”


“Pasti! Kita sudah dekat.”


Langkah demi langkah sampai mereka berenam berhasil menatap di mana Eri yang menebas para tanaman rimbun itu dengan pednag yang menyala terbakar hebat. Dengan tatapan benci dan kesal, ia menebas dan membabi buta hingga tidak ada waktu bagi tanaman itu untuk menyerang atau bahkan untuk pulih kembali.


“Tanaman sialan!”


Ledakan yang sama terjadi tepat dari dalam pedang emas itu, seketika menghancurkan apapun yang di laluinya. Di dalam sana, seorang pria sedang bersusah payah meraih permata merah yang terbenam tepat di depan jari-jari tangannya. Namun karena tubuhnya yang dililit, sedikit saja ia tidak dapat untuk menyentuhnya.


“Nona!” teriak seseorang dari kejauhan.


“Apa!!” Eri menoleh dengan tatapan yang mengerikan, sembari terus menghempaskan pedangnya.


“Tenanglah Nona, Tuan Arlo pasti akan baik-baik saja…”


“Aku tau! Karena itu… aku akan membuka jalan untuknya keluar!”

__ADS_1


Satu hempasan besar meledakkan lubang yang menelan tubuh Arlo dan semuanya mulai terlihat. Arlo melayang di udara besama dengan permata merah yang tepat di depannya. Sabit yang tiba-tiba muncul begitu saja di depannya, di tendang dengan kaki kirinya. Melesat dan menghatam permata itu hingga terhempas keluar.


“Dapat!”


Air meluap dari bawah tubuh Arlo dan menjadi pijakannya untuk melesat ke arah permata itu. Jari tangan kirinya yang sudah berhasil menyentuh tepat di permukaan permata besar itu, lenyap seketika tanpa meninggalkan bekas, seakan terhisap. Teringat dengan masalah sebelumnya, Arlo menelan permata itu dengan sihir airnya, membentuk bola yang sepenuhnya berhasil menelan permata itu.


“Hah!” Arlo tersentak karena permatanya terlepas begitu saja dan jatuh.


Segerombolan orang menghapirinya dengan nafas yang tidak teratur, mereka menatap tajam ke arah Arlo dengan tatapan kagum. Sedangkan Arlo meringis kesakitan dengan lebam dan luka ringan yang memenuhi tubuhnya.


“Apa semerepotkan ini? Pangeran Verles…” Arlo melirik seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya, dengan senyuman tipis.


“Yah…”


“Kau ini memang bisa diharapkan, ya…”


Selama mereka berbicara, permatanya kembali di telan ke dalam tanah besama tanaman yang sama hingga sepenuhnya tak terlihat. Karena itu Arlo langsung mengehela nafas dan memasang raut wajah malas.


“Di ulang-ulang seperti ini… aku benar-benar meresa bosan sekali…”


“Arlo…!”


“Kau ini benar-benar...! membuat orang kawatir saja….”


Eri menubruk Arlo dan memeluknya erat-erat, membuatnya terpaksa melepaskan lengannya yang terasa sakit.


“Baik-baik… aku akan berhati-hati, jadi tolong lepaskan Nona. Arkh…!” Arlo semakin mengerang karena pelukannya semakin erat.


Sampai akhirnya Eri melepaskan pelukannya dan mundur perlahan dengan wajahnya yang sangat merah padam.


“Aa… Nona Eri? Apa Anda baik-baik saja?” celetuk Ferdi sedikit menahan tawa.


“Berhenti mengganggu wanita!” Calissto menyahut.


“Baik-baik… istirahatnya sampai di sini dulu, kita bereskan yang penting ini… jadi, apa tencanamu, Anak Muda?” Verles menoleh ke arah Arlo yang sudah menggenggam kuat-kuat sabit di tanganya.


“Kita nikmati ini… senior Raizel….” ucap Arlo, melirik pria dengan jubah putih dan pedang besar di pundaknya.

__ADS_1


Mereka berdua melesat memebuka jalan yang lebar. Dengan pedang besarnya, Verles menebas es yang di lalui oleh pedangnya hingga semuanya membeku seketika. Sedangkan Arlo dijalanya, menghepas api yang membara dengan sabit di tangan kirinya dan Core api yang melayang di sampingnya.


Meski kombinasinya tidak cocok, mereka berdua berhasil membuka jalan yang begitu lebarnya hingga tidak ada satupun yang kini bisa menghentikan keduanya. Hempasan besar melesat dengan sangat cepat, menggancurkan sasaran titik di mana permata itu berada hingga membuat lubang besar yang memebekas.


Permata itu kembali terlempar di udara, sabit di hempas dari bawah dan menghantamnya semakin ke udara.


“Sekarang bagaimana!” teriak Verles dari belakang Arlo.


“Bagaimana kalau dengan es yang dingin?”


Verles menghempaskan pedangnya ke arah permatanya dan seketika saat bersentuhan langsung, keduanya langsung tenggelam di dalam es yang benar-benar putih sampai sesuatu yang ada di dalamnya tidak terlihat sedikitpun. Selama sesaat permatanya melayang di udara dengan kondisi membeku dengan pedang Verles yang berhasil menancap di dalamnya.


“Apakah ini bekerja…?”


Sama persis seperti sebelumnya yang di lakukan Arlo, sihir es dari Verles juga tidak memengaruhinya sedikitpun, permatanya kembali jatuh kedalam tanah dan tertelan didalamnya.


“Sekarang apa?” Verles menoleh ke arah Arlo yang tiba-tiba menatap tajam ke arah depan.


“Itu…” ia menunjuk seseorang dari balik pohon.


“No-Nona Leira!”


Samar seorang wanita berdiri tepat di bawah pohon hutan dengan sebagian tubuhnya yang agak tersembunyi, menatap kosong ke arah mereka berdua. Verles tersentak, kedua bola matanya terbuka lebar-lebar dengan yang ia lihat saat ini.


“Nona… apa Anda masih hidup…?” ucap Verles dengan nada yang putus asa.


Dengan tertatih, ia berjalan perlahan-lahan mendekati wanita itu. Sampai ia berdiri tepat di depannya, ia berusaha meraih tubuh yang hanya terlihat samar-samar. Ia berhasil meraih pundak wanita itu dan menyentuhnya selama sesaat, lalu tanganya tembus begitu saja seakan tidak ada orang di baliknya.


“Lho…! No-Nona? Apa kau…?”


“Anda kembali? Tuan Verles…” ucap wanita itu dengan raut wajah yang tidak berubah.


...(----------------)...


Ditengah pertarungan yang rumit, tiba-tiba sesuatu terjadi di antara Arlo dan Verles di garis depan. Penampakan dari kejauhan, Verles berjalan tertatih-tatih ke arah sosok yang tersembunyi dari balik pohon. Kelima oran di belakangnya segera menghapiri Arlo dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai mereka berdua bisa melihat sendiri kebenarannya. Di bawah pohon itu, Verles mengerang ke sakitan dengan perut yang sudah berlubang penuh dengan darah. Sedangkan disampingnya, adalah sosok wanita yang sama dengan tangannya yang berlumuran darah. Perlahan, wanita itu berjalan menghapiri letak di mana permatanya berada dan meneteskan darah di tangan, pada tanaman yang menyelimuti permatanya.

__ADS_1


Seketika, permatanya langsung keluar dan menembus apapun yang ada di hadapannya. Melayang di udara dan berhenti tepat di tangannya, sampai ia membawanya kembali kepada Verles. Dia menodongkannya tepat di depan wajah pria yang sedang menahan luka di perutnya.


“Kau harus membayarnya….”


__ADS_2