Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 53 - Pohon Keabadian.


__ADS_3

Seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang terurau, sedang duduk di kamarnya. Di dekat jendela dengan secarik kertas yang melayang tepat di sebelahnya duduk. Sebuah api kecil melayang tepat di garis draft pertama, lalu perlahan bergerak dan meninggalkan kata-kata di atasnya. Kata-kata yang panjang hingga selembar kartas penuh. Sampai tiba-tiba tanahnya bergetar dengan hebat, mengejutkan si wanita yang sedang duduk termenung.


Mengangkat wajahnya dan melihat sesuatu di luar jendela. Teriakan kencang orang-orang yang ketakutan ada di mana-mana, menghiasi langkah sang malapetaka. Dari kejauhan, akar-akar pepohonan yang sangat besar bergerak dengan sangat cepat mengarah pada pemukiman tempat ia tinggal.


Dalam sekejap mata, semuanya hanya tersisa sebuah hutan lebat yang di penuhi kegelapan sejauh mata memandang. Sampai secarik kertas yang sama, melayang-layang keluar dari hutan di tiup angin, dengan selarik kata di dalamnya.


“Tolong… cepatlah pulang, Pangeran Verles.”


...(----------------)...


Dengan cahaya dari Core Api yang melayang di depan mereka berdua, Arlo dan Eri akhirnya bisa menelusuri hutan itu lebih baik dari sebelumnya. Tidak bisa di percaya, Arlo sendiri sudah lupa dengan core itu dan tentunya kejadian sebelumnya hingga membuat Eri terlihat sangat kesal.


“Tolonglah Nona. Saya mohon maaf… Nona?” ucap Arlo menepukkan kedua tanganya di depan dada, memohon ke pada Eri yang berjalan di sebelahnya dengan wajah kesal.


“Ya-ya, berhenti melakukan hal konyol seperti itu! lihat jalannya,” sahut Eri dengan tetap memalingkan wajah.


Berjalan dalam ketenangan selama sesaat, tiba-tiba Core Apinya meredup dan kembali masuk ke dalam tubuh Arlo. Sotak Arlo sangat terkejut, ini adalah pertama kalinya dia melihat core sepanas itu meredup, bahkan berani kembali ketubuhnya tanpa perintah.


Sesaat kemudian, cahaya kecil yang sama, Yang sebelumnya di kira sebuah kunang-kunang, kembali muncul di hadapan mereka berdua. Cahaya kuning itu kali ini melayang-layang di depan mereka seakan hendak menunjukkan sesuatu.


“Apa itu? Arlo…” bisik Eri, penasaran.


“Entahlah… aku juga pertama kali melihatnya.” Sahut lembut Arlo, tidak memalingkan wajahnya dari cahaya itu.


Tiba-tiba cahaya itu bergerak mendekati Arlo dan menempel di wajahnya. Membuat kedua orang itu tersentak, terutama Arlo yang mengalaminya langsung. Entah kenapa, tapi dia bilang cahaya itu terasa sangat dingin, sedingin es. Sampai pada akhirnya cahaya itu beranjak dari wajah Arlo dan melayang pergi.


Sempat-sempatnya Arlo langsung berlari mengejar cahaya itu dengan di ikuti Eri yang menggaet jubah Arlo di belakang. Sampai mereka berdua berhenti di sebuah tempat, di ujung hutan-hutan lebat itu.


“I-ini….” Arlo yang terkejut, sampai-sampai gemetaran melihat sesuatu di depan, tidak jauh darinya.

__ADS_1


“Apa benar ini…?”


Sebuah pohon yang sangat besar, terlilit dengan kuat di antara pepohonan dan akar-akar yang sangat lebat. Berdiri kokoh tepat di balik tebing yang menghubungkan antara pulau kehidupan ini dengan pohon itu di tebing seberangnya.


“I-ini, kan… Pohon Keabadian!” ucap Arlo dengan tubuhnya yang masih gemetar.


“Tapi, di... di mana buahnya? Tidak satupun yang tumbuh….” Lanjutnya, berlari ke arah pohon itu.


Eri yang terkejut segera berlari mengikuti di belakangnya. Sedangkan Arlo hanya terus saja berlari tanpa peduli hal lainnya, tarmasuk para iblis yang berbaris rapi di depannya. Bangun dari tidur panjang, bersiap untuk melindungi pohon dari tangan Arlo.


“Minggir! Jangan halangi jalanku. Dasar Mayat Hidup!” bentak Arlo, menebas apapun yang menghalangi dengan sabit yang menyala-nyala.


“A-Arlo! Tu-tunggu….” Eri di belakang tidak sempat menyusul.


Para iblis yang menghalangi jalan, di tebas dengan mudahnya oleh Arlo tanpa kesulitan. Sedangkan Eri di belakang cukup ke repotan karena iblis itu di luar kemampuannya sendiri. Di lihat dari manapun, sebenarnya Arlo sediri tau kalau seharusnya bukan mereka yang menjaga pohon ini. Karena dulu tidak semudah ini untuk di hadapi, dan itu jelas saja terasa berbeda.


Sampai semua iblis yang menghalangi di tebas habis, Arlo berhenti tepat di bawah pohon itu dan memandangnya dengan penuh rasa ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi di sini. Pohon ini tidak seharunya ada di sini, karena seharusnya tertanam di ujung utara dunia manusia.


“Arlo! Lihatlah ini!” teriak Eri dari kejauhan sambil menahan serangan para iblis di sekitarnya.


Sontak Arlo langsung menoleh dan melihat sesuatu yang di tunjukan oleh Eri. Akar-akar yang terhubung dengan pepohonan lebat itu berkedut-kedut dengan cepat bersamaan cahaya yang memancar keluar.


“Nona! Apa kau bisa melawan mereka sendiri…?” sahut Arlo bersiap.


“Aku baik-baik saja!” sahut Eri dari kejauhan.


Sesuai jawabannya, Arlo menebaskan sabitnya ke arah akar-akar itu dan memotong mereka. Sama persis seperti sebelumnya, mereka mancair dan merubah wujudnya menjadi monster-monster mayat hidup yang bergeliat ke arah Arlo. Segera saja Arlo mengeluarkan Core Api dari dalam tubuhnya dan di hempaskan ke arah mereka semua, terbakar habis tak tersisa di balik kobaran api yang sangat besar.


Sesaat Arlo menyadari sesuatu di balik kobaran api itu, seseorang berdiri agak tersembunyi di balik pohon keabadian dan menatapnya dengan tatapan kosong. Ia langsung berlari menghampirinya, sadar-sadar dari balik api sosok itu sudah tidak ada dan meninggalkan secarik kertas yang tergeletak di bawah pohon.

__ADS_1


“Apa ini? Ini kertas yang aneh… ‘tertanda untuk Pangeran…’ Hah!” Arlo sangat terkejut dengan kata-kata yang tertulis di atas kertas itu hingga kedua matanya terbuka lebar-lebar.


Intinya, di dalam secarik kertas itu banyak tertulis kata-kata yang berhubungan dengan pulau ini semasa dulu. Dengan seorang tokoh yang sangat tidak asing baginya, tertulis di atas kertas itu.


Keta-kata di dalamnya menceritakan kejadian sebelum pulau ini mejadi tempat yang menyedihkan seperti ini. 90 tahun yang lalu, tepatnya tidak lama setelah Arlo memperoleh ke abadiannya, pulau ini di huni oleh banyak manusia dengan bahagia sampai sebuah kejadian buruk menghapusnya dalam satu malam.


Kalian baca sendiri pesan terakhirnya,


Tertanda untuk Pangeran,


Ini mungkin catatan terakhirku, tentunya karena aku sudah kehabisan kertas.


Satu minggu setelah kau pergi, entah dari mana para iblis datang dan merusak semuanya.


Tapi para warga berhasil bertahan dan menyelamatakan desa, senangnya.


Saat itu juga ada seseorang yang juga datang mengulurkan bantuan, entah dari mana dirinya karena dia tidak pernah bilang dan lalu pergi begitu saja.


Setelah dua tahun kau pergi, sesuatu yang buruk kembali terjadi.


Saat itu, di ujung utara terlihat menyala-nyala dan bereaksi terhadap sekitarnya.


Entah apa itu, tapi mereka terus bergerak menyebar, hari demi hari.


Ini adalah dataran yang tidak pernah terjamah di bawah kaki iblis, tanah yang hanya di penuhi ke damaian dan ketenangan.


Tempat ini tidak akan pernah di sentuh, bahkan sampai dunia ini berakhir.


Tapi semua itu hanya omong kosongmu, kan? Seperti kenyataan yang bilang, kami akan di telan.

__ADS_1


Mereka terus tumbuh merajalela, membuat semua tertutup dan terhapus hingga meninggalkan kenangan di pulau ini. Kami di sini semakin tertekan dengan kondisinya, sama seperti yang kau katakan dulu. Pulau kehidupan ini akan ditelan habis oleh kekuatannya sendiri, sampai dunia berakhir.


Tolong cepat pulanglah, Pangeran Verles.


__ADS_2