Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 13 - Bayangan Api.


__ADS_3

Arlo bersama dengan Paman Eri berada di toko sorang pedagang yang memperkerjakan Arlo. Tetapi ada sebuah masalah yang mengganggu mereka dan tentu saja pada Arlo yang sangat sensitif. Sebuah cahaya terang menyorot dari kepala seekor banteng yang selalu di pajang di toko itu dan diturunkan oleh mereka berdua.


“Cahaya apa ini..?”


“Apa kau mengatakan sesuatu Arlo?” tanya paman Eri memasang wajah curiga, sambil ia mengembalikan tongkat pada tempatnya.


“Tidak” wajah Arlo tampak menyembunyikan sesuatu.


Sesaat setelah itu, tiba-tiba cahaya berwarna biru bersinar terang dari dalam kepala banteng itu. Terlihat sesuatu yang mirip permata transparan berada di dalam kepala banteng itu dan membuat Arlo penasaran. Cahayanya semakin terang dan menyilaukan mereka berdua, tapi Arlo tetap memeaksa untuk melihatnya dengan lebih dekat.


Arlo mencoba mengambilnya dengan membelah kepala banteng itu tanpa peduli apa yang akan terjadi. Ia mengambil pisau di dekatnya dan mulai mendekatkan pisau itu.


Namun, ketika pisau itu menyentuh permukaan kepala. Pisaunya langsung tembus seperti masuk ke dalam air. Tanpa pikir panjang Arlo langsung saja mengambil permata itu dengan tangan kosong. Dalam genggaman Arlo, silauannya mulai berkurang dan berubah menjadi aura gelap yang menyelimuti di sekitarnya.


“Arlo, apa yang kau lakukan?” paman Eri mendekat semakin kebingungan.


“Ti.. tidak apa-apa hanya...” Arlo bingung menjawab apa karena hanya ia yang bisa melihat kenyataan itu.


Lalu permata itu keluar sendiri dari genggaman Arlo dan melayang di depan kedua orang itu. Permata itu meledak menjadi sebuah bayangan hitam yang menempel pada dinding di dekat toko kecil itu dan memenuhi semua ruangan. Setelah beberapa saat mengalami pudar yang berulang kali, akhirnya bayangan itu membentuk sebuah wanita yang melayang di udara berwarna hitam dan bermata biru.

__ADS_1


“Terima kasih sudah membebaskan ku dari belenggu itu tuan. Aku akan terbebas untuk selamanya. Dan setidaknya sebelum aku pergi, sebagai tanda terima kasihku apa yang kau inginkan” suara itu berasal dari bayangan di dekat Arlo.


“Kau ini siapa?” tanya Arlo, curiga.


“Hei Arlo dari mana bayangan itu berasal” paman Eri ikut bertanya.


“sebentar Paman, nanti ku jelaskan setelah ini. Jadi siapa kau, dan kenapa kau ada di dalam sana?”


“Aku Liurac, aku seorang putri bangsawan yang pernah berjaya sekitar 200 tahun yang lalu. Aku di bunuh oleh bangsawan yang ingin menikahiku dengan paksa. Tapi karena aku menolak, aku di bawa paksa olehnya ke kandang sapi dan membunuhku dengan sadis di sana.


Tidak ada yang menemukan tubuhku selama lebih dari 2 tahun. Jiwaku berada di sana merasa penuh dengan kebencian dan juga kesepian. Sampai suatu saat, seorang peternak dengan sengaja menendang sapinya karena merasa kesal dan aku melindunginya.


Jiwaku menyatu dengannya dan sampai saat ini, aku masih bersamanya. Aku di jual ke mana-mana karena banyak kepercayaan dengan sihirku”


“Sihir merupakan sebuah keajaiban dunia dan sihir juga yang menuntun jiwa seperti diriku untuk pergi ke sesuatu tempat. Aku pernah melihatnya, jadi kau bisa percaya penuh padaku”


“Baiklah Arlo ini sudah semakin membingungkan!, jadi apa yang sebenarnya terjadi?” paman Eri sudah tidak sabar.


Arlo menjelaskan semuanya pada Paman Eri dan bayangan itu semakin lama juga semakin pudar dan akan menghilang. Cahaya dari mata bayangan itu malah semakin terang dan hendak melesat ke udara.

__ADS_1


“Dengar tuan, kekuatanku untuk tetap bertahan di sini sudah tidak bisa lebih lama lagi, jadi katakan apa yang ingin kau minta sebagai tanda terima kasihku?”


“Karena kau berkata tentang sihir. Maka berikan aku sedikit pengetahuan sihirmu padaku!. Aku sudah hidup cukup lama, tapi aku tidak pernah melihat apa itu sihir”


“Baiklah, semoga kau merasa puas dan tidak menyesal” muncul secara tiba-tiba sebuah cahaya putih dari dalam bayangan itu dan melayang menuju kepala Arlo dan meresap kedalamnya. Saat itu juga terlihat seperti ada cahaya yang menerangi kedua tangan Arlo berwarna biru. Cahaya biru itu semakin terang dan meledak dengan kuat dan membuat Arlo pingsan seketika.


Paman Eri terlihat sangat kebingunan dan tidak bisa berpikir jernih. Di tambah lagi saat ini tiba-tiba Arlo terbaring lemah di hadapannya tanpa ada alasan. Akhirnya ia membawa Arlo keluar dan pergi ke sesuatu tempat. Paman Eri segera membawanya ke penginapannya untuk di rawat.


Dia memanggil Pak Harto dan memintanya untuk memanggil dokter atau semacamnya.Atasan Arlo juga ikut ke sana karena merasa kawatir. Ia merasa kecelakaan Arlo adalah salahnya, meski paman Eri sudah menjelaskan semua yang ia tau. Arlo hanya di rawat oleh dokter bisa yang merawat luka dalam yang ringan, meski pingsan tidak bisa di sebut luka. Dengan sabar mereka berdua menunggu diaknosis dari dokter yang sedang merawat Arlo.


“Tubuhnya hanya terkejut dengan suatu gelombang yang belum pernah di rasakan. Maka tubuhnya menjadi lemah. Kemungkinan nanti malam atau besok dia akan sadar” ujar dokter itu, sambil mengangkat kompres dan menggantinya yang baru. Tiba-tiba masuklah seorang gadis yang terburu-buru dengan wajah yang begitu cemas dan berdiri di samping pak Harto. Di rangkul lah gadis itu seperti anaknya sendiri.


Dokter itu pamit undur diri dan meminta untuk memberikan pasiennya cukup makan agar ia cepat pulih, selain itu ia juga meminta untuk memanggilnya lagi saat sudah sadar penuh.


Saat pagi, semua berkumpul untuk menemani Arlo yang belum juga sadar dari pingsannya. Tubuhnya terlihat semakin lemah meski sebenarnya ia hanya pingsan. Semua orang merasa kawatir dengan dengan orang yang akan hidup lebih lama dari mereka. Terutama pada Eri.


Eri yang sejak kemarin hanya menangis tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan di marahi oleh ayahnya. Pagi itu, dokter yang kemarin di panggil lagi oleh paman Eri, untuk memeriksa kondisi Arlo karena saking kawatirnya.


“Lalu bagaimana dok, apa ada perkembangan dari kemarin?” tanya pak Harto.

__ADS_1


“Aku tidak memastikan, tapi sebentar lagi ia akan sadar. Dan ingat, setelah ia sadar, segera suruh untuk makan. Karena kebutuhan makannya sangat tinggi untuk saat ini, karena itu ia terlihat lemas” sambil berkata, dokter itu berdiri dan membereskan barangnya lalu pamit untuk yang kedua kalinya.


Mereka semua mengangguk paham dan mempersilakan dokter untuk undur diri, sedangkan Eri maaih duduk di samping Arlo berbaring penuh harapan.


__ADS_2