Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 45 - Anak Sulung.


__ADS_3

Setelah pertempuran yang melelahkan di siang hari, secara kebetulan pangeran Michel bertemu dengan putri Bella di tepian danau. Terlihat dari kejauhan di sedang duduk dan melamun, menatap kosong ke arah danau. Dengan senang hati ia menghampiri gadis itu dan mengambil kesempatan untuk mendekatinya.


“Putri Bella… apa Anda sibuk sekarang?” celetuk pria pirang itu, berdiri tepat di belakang kursi di mana putri duduk.


“Aku rasa tidak,” ucapnya dengan masih termenung.


“Boleh saya duduk di sampingmu?”


“Boleh.”


Setiap jawaban dari pertanyaan pangeran Michel selalu di jawab dengan tatapan yang suram ke arah danau. Sedangkan pria itu masih tetap menatapnya dengan senyuman dan terus berusaha untuk berbicara dengan gadis di sebelahnya. Sampai pada akhirnya dia menanyakan sesuatu yang aneh pada pria di sampingnya dengan tatapannya yang tetap terlihat suram.


“Apa menurtumu wanita itu sangat lemah?” ucapnya, menoleh pada lawan bicarannya.


“Apa maksudnya? Nona sendiri bisa bertarung dengan pedang sebesar itu, saya sangat terkejut menjumpai wanita seperti Nona,” ucapnya sambil memasang senyuman palsu.


“Lalu kenapa? Kenapa mereka memiliki derajat yang lebih rendah di bandingkan laki-laki?” wajahnya semakin terlihat suram.


“Maaf, sepertinya saya tidak bisa memberi jawaban untuk itu. Apa karena sebegitu bencinya Nona kepada laki-laki, sampai kepikiran hal seperti itu?”


Kalimat itu mengakhiri pembicaraan mereka, sampai pria itu terpaksa pergi setelah melihat tatapan kosong karena jawaban yang dia berikan. Tetap termenung sampai hari menjelang gelap dan dia juga tetap duduk di sana sendirian. Para pelayan yang biasa berbicara dengannya sampai tidak berani sedikitpun mendekat, setelah salah seorang dari mereka di bentak secara tiba-tiba.


Kejadian itu untuk sementara tidak di laporkan kepada raja, ditambah lagi dia sedang repot dengan persiapan untuk pernikahan putrinya. Hanya beberapa orang yang bisa di katakan dekat dengan gadis itu yang di beri tahu. Sampai pesan itu terdengar di telinga Khira saat makan malam malam bersama dengan ke enam kawanan. Hanya Bela seorang yang terlihat cemas, tapi bukan kepada putri dan hanya menunduk sedih sambil makan.


“Apa sampai sekarang dia masih duduk di sana?” ucap Khira, dengan begitu lahapnya makan.

__ADS_1


“Benar Tuan, tapi tidak ada seorangpun dari kami yang berani mendekatinya. Mungkin setelah beberapa hari bersama nona, Tuan bisa berbicara dengannya,”


“Itu tidak mungkin, kalian yang sudah betahun-tahun merawatnya saja, tidak berani. Apa lagi saya?” nadanya yang terdengar tidak peduli.


Tiba-tiba Arlo tertawa keras dan membuat semua orang kebingungan. Sedangkan Khira sendiri masih terlihat berpura-pura sambil terus makan.


“Khira, tolong dengarkan mereka berdua, mungkin saja mereka benar-benar butuh bantuan,” celetuk Arlo, seusai puas tertawa.


“Memangnya say-“


“Ini perintah,”


“Baik.”


Karena ini perintah, akhirnya pria itu berangkat bersama dengan kedua wanita di depannya. Sampai di danau, rupannya gadis itu sudah tidak ada dan meninggalakan secarik kertas di atas kursi.


...(----------------)...


Di dalam sebuah ruangan gelap yang hanya di sinari langit mendung dan gerimis, samar-samar di balik kegelapan itu menampakkan seorang pria berdiri dan menatap luar jendela. Tidak jauh darinya berada, seorang gadis sedang duduk dengan tali yang mengikat tubuh hampir semua tubuhnya. Meronta-ronta untuk membebaskan diri, hanya berharap ada seseorang yang datang dan membebaskannya.


“Kenapa...? Kenapa Nona itu selalu sulit untuk di rayu. Tidak sama dengan gadis-gadis murahan yang lainnya.” Ucap si pria, berjalan perlahan mendekati gadis itu.


Wajahnya yang sesaat terlihat karena sambaran kilat di langit, menampakkan pria yang tidak asing dengan rambut pirangnya. Dia berdiri tepat di depan gadis itu dan berjongkok di depannya, mendongak dan manatap dengan senyuman yang tidak mengenakkan.


“Dengan menanyakan hal bodoh seperti itu, apa Nona pikir sesuatu akan berubah? Bila di tanyakan, dunia itu memang tidak adil.” lanjut pria itu, mendekat tepat di depan gadis itu.

__ADS_1


Rasa takut, jelas terlukis di wajahnya dengan air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir. Dengan mulut yang di bungkam dengan seutas kain, membuatnya hanya bisa membisu tak berkutik. Sedangkan pria itu malah semakin terlihat senangnya, dengan senyuman lebarnya yang semakin menggila.


“Nona! Biar saya bercerita sedikit. Hidup di kerajaan sebagai anak sulung, harusnya itu bagus, kan?. Di bangga-banggakan, menjadi seorang pangeran mahkota. Calon seorang raja! Tanpa harus bertarung dengan tantangan yang tidak jelas sepeti itu,” pria itu tertawa dengan lantangnnya, dan diam seketika.


“Tapi… hanya adik-adik konyol itu. Sial! Kenapa selalu saja? Selalu saja mereka yang dipilih oleh orang tua bodoh itu!” lanjutnya, tiba-tiba tersenyum memandang gadis yang ada di depannya.


Tangannya yang gatal, perlahan meraih dagu gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Senyuman yang sama di tujukan tepat di depan wajah dan hendak menempelkan bibirnya pada pipi gadis di depannya. Gadis itu memejamkan mata dan gemetar penuh ketakutan.


“Aha-ahahaha… kau ketakutan! Kau ketakutan! Tidak pernah aku melihat gadis angkuh yang ketakutan sepertimu. Jadi….” Perlahan, ikatan kain yang menutupi bibir gadis itu, di turunkan dan hampir terbuka sepenuhnya.


Tanpa tanda dan peringatan, pintu masuk ruangan yang terkunci rapat-rapat, di tebas dengan kuatnya oleh seseorang dari luar. Melesat langsung ke arah pria itu dengan pedang yang di todongkan tepat di depan wajahnya. Memaksanya mundur dan terpojok di sudut ruangan.


“Ohh, kau hampir saja terlambat, Pangeran Hendric…” ucap pria itu, mulai jelas penampakan wajah yang sebenarnya.


“Tutup mulutmu Pecundang! Orang sepertimu, tidak pantas untuk mengatakan apapun!” bentak pangeran Hendric dengan terus menodongkan pedang pada pria yang terbaring di bawahnya.


“Apa…? Bukannya dirimu sendiri yang pecundang? Dengan mengatakan hal seperti itu, memangnya apa dasarmu mengatakan itu!” pria pirang itu mendorong mundur paksa pria yang ada di atasnya dengan pedang yang terselip di pinggangnya.


Dalam kondisi yang sama, kedua pria itu terluka pada lengan kirinya masing-masing karena perlawanan itu. Tetap saja dengan senyumannya yang seram, pria pirang itu menodongkan pedangnya pada pria yang berdiri tidak jauh di depannya. Dengan nafas yang terengah-engah, pangeran Hendric tetap mempertahankan tubuhnya untuk berdiri.


“Lihat, gadis itu sudah semakin lemas karena kain itu menutupi lubang hidung dan mulutnya. Sedangkan kau sendiri masih kelelahan setelah pertarungan tadi, memangnya apa yang akan kau lakukan? Heh… kubilang berhenti menatapku seperti itu, dasar Suram!!” bentak pria pirang itu, melesat bersama pedangnya, berusaha menebas lawan yang ada di dapannya.


“Tutup mulutmu, Michel!!” pangeran Hendric melesat kearah yang sama dan berusaha menebas pria yang ada di depannya.


Karena terlalu kelelahan, pedangnya meleset begitu saja dan terlempar tidak jauh darinya. Sedangkan pangeran Michel mengambil kesempatan dengan menendang dadanya hingga terdorong jauh. Saat-saat pria itu terbaring lemas di lantai dengan pedang yang sudah melayang, tertuju ke padanya. Dengan senyumannya yang tidak berubah, pangeran Michel bersiap menusuk lawannya.

__ADS_1


“Mati sajalah!” pedang yang sama, melesat dari tangan kanannya, tepat mengarah pada pria yang terbaring di bawahnya.


Saat-saat pedang sudah melasat tepat di atas jantung pengaran Hendric dan memejamkan matanya, pedang dan pemiliknya terpental melesat mundur oleh kursi yang di lempar dari depan pintu masuk.


__ADS_2