Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jajak 16 - Pedang Sihir.


__ADS_3

Ferdi sudah tidak bisa bergerak untuk mendekati Sina. Setidaknya ia pikir untuk mati, ia bisa mati bersama dengan kekasihnya agar kematiannya tidak terlalu menyedihkan baginya. Sampai suatu saat terdengar langkah kaki seorang yang tidak stabil.


Langkahnya terdengar seperti orang yang sempoyongan dari dalam hutan yang gelap itu. Bayangannya mulai terlihat dan dapat di kenali. Pria itu memakai jubah hitam dan menyeret sesuatu di belakangnya sambil masih sempoyongan. Seorang pria yang berjalan keluar dari dalam hutan yang gelap dan menyeret sabit besarnya.


“Kenapa anda kemari?!, ini berbahaya Tuan, cepat kembali dan tunggu bantuan yang saya minta!!” teriak Ferdi, suaranya sudah terdengar lemah dan terlihat kesadarannya juga mulai menghilang.


“Kalian berdua ini, apa tidak bisa mendengarkan perintahku dulu?” senyuman Arlo dengan penuh keyakinan.


Wajah Ferdi berubah setelah mendengar perkataannya Arlo dan tersenyum padanya lalu ia sudah tidak sadarkan diri bersama Sina.


Arlo melangkah dan melompat menyerang pria itu dari belakang. Tapi serangannya dengan mudah di batalkan oleh pedangnya. Sabit Arlo di Tepis dengan mudah dan melesat bersamaan dengan tubuhnya, tapi masih bisa tertahan. Dia melesat tepat di depan pria itu dan monodongkan sabitnya di depan leher.


“Hei.. jangan menatapku begitu, saat ini kau terlihat sangat menyedihkan. Hahaha” pria itu melesat dan menyerang Arlo tanpa ampun sama seperti yang ia lakukan pada Ferdi. Tebasannya yang berupa pedang sedikit merepotkan bagi Arlo karena sabitnya terlalu besar untuk menahan serangan yang sangat cepat.


Arlo menjaga jarak agar bisa menghindari serangnnya yang begitu cepat dan lebih mudah untuk sebuah sabit bila jaraknya menengah. Sabitnya di lontarkan dari udara dan di tahan dengan kuat oleh pria itu. Meski sebenarnya sabitnya terasa sangat berat dan memaksa untuk menghindarinya.


Arlo menarik lagi sabitnya dan mendekat untuk menyarang secara langsung. Karena saking cepatnya pria itu, sebelum Arlo mendekat saja ia sudah dulu di tebas. Tebasannya cukup kuat untuk mendorong Arlo terseret mundur. Kedua senjata mereka kini sedang beradu dengan kekuatan yang tinggi.


“Hei.. kau ini bukannya masih muda?!, kenapa energimu begitu lemah dan tak bertenaga seperti ini?. Kau itu benar-benar membosankan!!”

__ADS_1


“Cih..”


Arlo mendorong sekuat tenaga dari tebasan pria itu dan hendak melompat mundur. Sesaat dia di udara, dia di tebas dengan kuat tepat pada perutnya dan ia terlontar jauh di pohon belakang yang menahannya. Dengan cepat luka itu pulih dan menyembuhkan semua sisa-sisa tebasan, itu membuat si pria lebih waspada karena dia tau kekuatan itu sedikit merepotkan.


Di mencoba menamati Arlo sedetil mungkin dari ujung tambut sampai sepatunya. Rasanya dia tidak menemukan apa yang ia cari. Arlo tersenyum dan maju setelah semua lukanya benar-benar pulih sempurna. Dia kembali menebas dengan sekuat tebaga dan melukai lengan kanan pria itu yang sedang membawa pedang.


“Darimana kau mendapatkan liontin langka itu? Ku kira itu jumlahnya hanya sedikit..”


“Linotin luka? Benar.. jumlahnya memang sedikit, karena itu lah di sebut langka. Tapi aku tidak memakainya”


Arlo kembali maju dan menebas pria itu lagi dengan sabitnya yang menyala terang berwarna merah. Tebasannya kini tidak mempan sama sekali dan begitu mudah di hempas oleh pria itu. Tubuhnya mulai bersinar dengan aura kuning di sekitarnya. Bersamaan dengan padangnya yang menyala terang, dia melesat dengan kuat melawan Arlo yang terpojok.


Setelah itu, si pria mulai melemah dan tersungkur di tanah, tubuhnya mulai mengering seperti ada yang menyerapnya. Sedangkan pedangnya masih terus menyala begitu terang memancarkan warna kuning emas.


“Wah kasihan sekali, sampai pemilik senjatanya sendiri di hisap sampai kering. Apa kau tidak tau resiko senjata sihir pak tua?” ujar Arlo meledek pria itu.


“Benar!, tapi kau juga salah!” tubuh pria itu kembali pulih seperti semula dan terlihat penuh energi. Ia bangun dan menodongkan pedangnya lagi mengarah pada Arlo. Arlo terkejut ada makhluk seperti itu.Dia baru sadar dengan petir yang terus menyambar di sekitarnya. Energinya berasal dari alam yang ia serap kemudian di gunakan pada senjata sihirnya.


“Jadi.. bisa kita lanjutkan?” pria itu mengumpulkan energi cerah berwarna kuning di ujung pedangnya dan mengincar Arlo. Cahaya itu melesat seperti laser dan hampir mengenai Arlo, karena Arlo sempat menghindar. Tapi bersamaan dengan saat ia menghindar, pria itu sudah melesat di dekatnya dan menebasnya lagi hingga terpental jauh.

__ADS_1


Arlo sudah mulai terpojok karena kekuatannya jauh melampauinya dan cukup sulit untuk melawan senjata sihir yang begitu kuat. Ditambah lagi kondisi tubuhnya sudah semakin melemah.


“Bila begini terus, ini tidak akan berakhir dengan mudah. Aku harus menggunakannya!”


Arlo mengumpulkan sesuatu seperti cahaya biru lagi di tangannya dan meledak seketika setelah percobaan pertamanya. Lagi-lagi ia harus menghindari serangan Pria itu karena posisinya di ketahui. Lalu ia bersembunyi lagi dan mencoba sihirnya lagi, tekanannya terlihat semakin besar memusat pada titik tengah dan membetuk sebuah bulatan air, tapi lagi-lagi Arlo gagal karena takanannya terlalu besar. Rasanya benar-benar sulit untuk menggunakan sihir elemental, tidak ada yang namanya refleks dari lahir, batin Arlo.


Sampai percobaan ketiga, Cahaya itu kembali berubah menjadi air yang menggelembung di tangannya. Cairan itu terus membesar dan membesar sampai ia merasa terlalu berat. Cairan itu membesar terus tanpa terkendali di tangan Arlo. Arlo kembali menghadapi musuhnya dan berharap sihirnya dapat bekerja. Karena dia sendiri tidak bisa mengendalikannya, pada akhirnya hanya terus membesar di atas tangannya..


“Hei!, hentikan!! itu akan meledak!. Jangan kau tambah membesarkannya. Hei!!” Pria itu sedikit kawatir dengan sesuatu di tangan Arlo. Ukuran air itu sudah sebesar tubuh Arlo sendiri dan mengarahkannya pada pria itu.


Airnya di lempar dan tepat pada sasaran. Gelembung itu melayang kearah si pria dan langsung mengenaianya. Tubuh si pria itu masuk kedalam gelmbung dan terebak di dalamnya. Di dalam, ia tidak bisa bergerak sedangkan airnya bergejolak luar biasa dan terus membesar, terangkat ke udara dan meledak di udara.


Bopp.. crhatt..!! bola air itu meledak bersamaan dengan hancurnya tubuh pria itu. Airnya jatuh berwarna merah karena bercampur dengan darah.


Rasanya begitu lega sudah dapat menyelesaiakan satu masalah lagi dengan senjata baru. Setelah itu Arlo tersungkur di tanah dan beristirahat sebentar di sana. Setelah beberapa saat ia beristirahat dan mengamati kondisi temannya, kellihatannya mereka berdua benar-benar kalah telak.


Dari dalam hutan terdengar langkah yang begitu cepat menuju ke arah Arlo dan kedua temannya. Tiba-tiba di sebelah Arlo ada dua orang pria asing yang memberinya salam.


“Maaf, Tuan Arlo.. kami terlambat..”

__ADS_1


__ADS_2