Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 34 - Kami.


__ADS_3

Arlo kembali ke kastil bersama dengan Eri melewati hutan-hutan dan sampai di kota yang ramai. Dari kejauhan seseorang bersandar memejamkan matan dan tiba-tiba tersenyum sesaat sebelum membuka matanya. Dia menoleh ke samping dengan dua orang yang sudah berdiri di depanya memasang ekspresi tanya.


“Tuan, selamat datang kembali. Mari ku antar bersama, Nona juga..” dengan senyuman yang tidak terelakan, Khira membungkuk hormat pada dua orang itu.


“Siapa yang memerintahmu?”


“Tentu saja Ratu. Mari, mereka semua sudah menunggu di ruang makan seperti biasa untuk sarapan. Tapi mungkin Anda sudah sarapan..?”


"Yah terserah saja" Arlo berjalan duluan dengan menggandeng tangan Eri di sampingnya.


Mereka bertiga berjalan kembali ke kastil bersama dan langsung menuju ruang makan untuk membicarakan lanjut tentang perjalanan ini dan segera membereskannya. Sampai di depan pintu Arlo terkejut dengan yang sudah berkumpul disana, Raja Dan Ratu duduk di tempatnya seperti biasa, seorang gadis dengan Mata hijau cerah duduk di samping adiknya dan menatapnya dengan senyuman. Ferdi dan Sina tiba-tiba berlari menghadap di depannya dan membungkuk hormat menyampaikan seseuatu.


“Tuan Arlo!” dengan tegas keduanya menghadap pria itu.


“Ya..?”


“Kami berdua merasa sangat terhormat bisa di perbolehkan untuk ikut bertarung bersama Tuan dalam perjalanan ini meski nyawa kami jadi taruhan. Selain itu kami dengan sungguh memohon bimbingan..” Ucap Ferdi dengan sungguh.


“Baguslah, semoga kalian selamat dan kembali bersamaku setelah selesai”


“Ya!”


"(Astaga, apa kalian berdua bisa tidak terlalu kaku dengan menjawab 'Ya


terus-terusan..)" batin Arlo menghela nafas.


Makan malam di lanjutkan dengan semua tamu yang hadir, Raja dan Ratu, Ferdi dan Sina, Khira, dan bela yang duduk bersama dengan Razil. Arlo menatap gadis itu penuh kecurigaan meski di balas dengan senyuman dan melanjutkan makannya sampai selesai. Dalam pikiran Arlo di penuhi dengan kalimat tanya, Kenapa Khira dan gadis ini ikut kemari. Di tambah, gadis ini selalu senyum-senyum saat memandangnya, bikin takut saja.


“Baik pertama, kita akan melaksanakan ritualnya lalu kembali kesini. Hanya aku dan Ayah yang boleh ikut untuk ritual ini dan yang lai di mohon untuk tetap duduk di sini”

__ADS_1


“Baik!”


Arlo dan Eri di bawa pergi oleh Ratu dan Raja ke sesuatu tempat bersama dengan orang asing bertudung yang mengikuti di belakang. Sedangkan yang lain menunggu dan melanjukan makan di ruangan itu dan mebicarakan Tuan Arlo di belakang.


“Sepertinya Tuan Arlo curiga padamu” ujar Ferdi menatap Bela yang sedang asik makan.


“Bagus, Jendral kan bisa menjelaskannya.. hmm?” gadis itu menatap sumber suara dengan tatapan serius.


“Hah.. baiklah, kita tunggu mereka kembali dan Tuan Arlo bertanya..” Khira menghela nafas mendengar kalimat itu.


Arlo bersama dengan ke lima orang yang bersamanya menuntun ke tempat asing yang ada agak jauh dengan lokasi kasti dan sampai si sebuah pondok yang sama persis dengan pondok yang membawanya pergi ke pertempuran tidak jelas kemarin. Mereka masuk ke dalam dan hanya mereka berdua saja yang boleh masuk tanpa kecuali, sedangkan Raja dan Ratu menunggu di luar.


Di dalam sudah ada tiga orang bertudung lain yang sudah menunggu dengan sabar. Kemudian mereka berbaris dan berdiri mengelilingi Arlo dan Eri yang ada di tengahnya dengan sebuah meja kecil yang di pindahkan dan gelas yang ada di atasnya berisi air putih. Ke empat orang yang mengelilinginya membaca mantra dalam buku yang mereka pegang dan lama kelamaan air itu berubah warna menjadi merah darah.


Salah satu dari mereka mendekati meja dan mengambil gelas yang ada di atas meja, menyuruh Arlo meminumnya sebagian dan kemudian memintanya untuk meneteskan darah pada gelas itu. Sungguh mengejutkan, luka Arlo kebali pulih kecuali darah yang menetes pada air itu tanpa kembali ke tubuhnya, merubah airnya menjadi hijau gelap.


Gelas itu di ulurkan pada Eri yang berdiri di samping Arlo untuk di minum sampai habis. Gadis itu meminunnya sampai benar-benar habis dan seketika setelahnya, tubuh Eri bersinar bersamaan dengan warna matanya yang menyilaukan berwarna kuning.


“Baik Tuan dan Nona, ritualnya selesai. Masalah luka yang ada di tubuh Anda akan berbekas untuk selamanya meski sebenarnya sudah pulih. Maaf atas segala kelancangan dan perintah wajib kami. Semoga Anda berdua bisa hidup bahagia” ujar pria bertudung yang berdiri di depan mereka berdua.


“Kami juga berterima kasih untuk bantuannya..” balas Arlo kemudian ia berbalik, meninggalkan senyuman tipis di bibir pria bertudung itu.


Mereka kembali ke kasti bersama dan melanjutkan pembicaraan yang tiada akhirnya ini hingga benar-benar selesai. Sesuai yang di katakan oleh Ferdi, ternyata Arlo benar menanyakan keberadaan gadis yang duduk dengan Razil dan Arlo selalu ngotot seperti biasa.


“Tuan.. dia sendiri yang meminta dengan alasan aneh. Kami memohon untuk memberi kesempatan ke padanya Tuan” ujar Khira mengakiri keluahan Arlo.


“Hah.. baiklah gadis muda. Sekarang apa yang kau harapkan dari perjalanan ini?” Arlo menatap tajam lawan bicaranya berharab jawabannya menarik.


“Aku berharap seseorang akan menyelamatkan saya dari kebodohan saya Tuan”

__ADS_1


“Bodoh..” gumam Arlo.


"Lagian.. Khira, aku rasa aku juga tidak mengajakmu?" lanjut Arlo menatap sinis pria yang ada di sampingnya, membuat Khira tundik gemetaran.


“Sudah-sudah, aku sudah menjelaskan semua yang di perlukan pada mereka semua. Sekarang yang perlu di tunggu adalah perintah darimu dan pengambilan kekuasaan” potong Ratu.


Arlo bangun dari duduk dan menatap tajam semua orang yang ada di sekilingnya, senyuman paksa memulai sebuah kalimat yang panjang.


“Ohh.. baiklah, Ferdian Laurends, Bela Lesina dan Shina Trisia. Atas nama Pangeran, ku cabut tugas dan wewenangmu sebagai kesatria atau pasukan Kelompok dan keanggotaan Guild. Dengan ini tugas baru kalian adalah sebagai pengawal perjalanan dalam tugas besar, Lindungilah seorang wanita terhormat Nona Erre Flassa.


Lalu, Khira Daniel. Nama besar seorang Panglima, akan aku cabut. Kau akan menjadi pengawal setiaku, Arelo Voltar dan selama di perjalanan hanya perintah Ku dan Nona yang hanya di terima dan di patuhi apapun resikonya..” Arlo kambali duduk melipat tangan dengan pipinya sedikit merah.


“Baik!”


“Hei, apa itu tidak berlebihan? Seperti bukan Arlo saja, hihi..” bisik Eri mepet di telinga Arlo.


“Kau benar, Arlo memang bukanlah seseorang yang seperti ini..”


Senyum Ratu menoleh pada Raja berharap dia angkat bicara. Raja mengangguk paham atas tatapan itu dan berdiri dari duduknya angkat bicara, menatap seseorang yang duduk bersebelahan dengan Eri.


“Pangeran Arlo, perjalanan ini adalah tugas yang terakhirmu sebagai seorang pangeran. Apa yang akan engkau lakukan setelah perjalanan ini sukses di laksanakan?”


“Aku dengar hanya ada dua pilihan, memimpin seluruh wilayah dan hidup dengan kenikmatan yang ada atau terbang bebas memutus semua ikatan. Pilihan yang pertama memang bagus dan sangat di wajibkan, tapi aku akan terbang bebas dan meninggalkan tugas ini pada Adik kecilku atas kekuasaan Raja Ordilo”


“Begitu? kau yakin dengan jawabanmu?”


“Tentu saja..”


“Baiklah, perjalanan akan di laksanakan saat wilayah manusia menjelang pagi. Bisa di katakan pasukanmu akan terbang nanti malam dan saat itu tiba, kalian akan berkumpul di depan kastil dalam pimpinanku..”

__ADS_1


“Baik!”


“Baik..”


__ADS_2