Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 49 - Dataran Gersang.


__ADS_3

Dalam sebuah ruangan suram yang hanya di sinari cahaya bulan lewat jendela, seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu. Dia manangis di pelukan pria yang penuh luka berlumuran darah di tubuhnya dan baru sadar dari tidur singkatnya dengan memasang wajah bingung khasnya.


“No-Nona?” ucap pria itu dengan sedikit canggung.


“Tolong… tolong jangan pergi. Bila kau pergi, maka aku akan sendirian lagi. Lantas apa yang akan aku lakuakan bila sendirian lagi?”


Pria itu tersenyum dan perlahan mendekatkan wajahnya di sebelah telinga gadis itu. Membisikkan sesuatu yang membuatnya berhenti menangis dan wajahnya langsung memerah.


“Ya! Tentu… tentu saja, Pangeran.” Ucap gadis itu, menatap senang pada pria di depannya.


“Begitu? Terima kasih, Nona Bella….” Dia langsung menyambar bibir gadis di pelukannya dan memberi sebuah ciuman.


Secercah cahaya keluar dari dahi si pria dan menyala terang, menampakkan sebuah tanduk menjulang yang perlahan lenyap bersamaan dengan semua lukannya sembuh seketika.


Cahaya bulan menyinari sebuah akhir dari rasa sakit dan kesepian.


...(----------------)...


Arlo bersama kelima seluruh kawananya melesat, masuk dan menelusuri sepanjang hutan di malam hari yang gelap. Karena kondisi yang tidak menguntungkan, mereka terpaksa segera pergi untuk menuju Dangerous Crack tanpa persiapan apapun. Berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan pohon portal yang di tanam tidak jauh dari sini, sesuai dengan yang di katakan oleh Arlo.


Sampai di ujung pepohonan yang rimbun, cahaya bulan menampakkan padang rumput yang sangat luas di tumbuhi pohon besar di tengah-tengahnya.


“Arlo!” teriak Eri, menunjuk.


Jelas sekali, itu adalah pohon yang sama dengan yang di gunakan Arlo dan Eri sebelumnya. Tanpa pikir panjang lagi, mereka semua segera menuju pohon itu di bawah pimpinan Arlo. Berdiri melingkar tepat di bawah pohon dan memejamkan mata, berharap keberuntungan masih bisa berjalan bersamanya.


“Ini dia… Dangerous… Crack.”


Membuka mata dari silauan cahaya yang memindahkan mereka, berdiri di tempat yang sangat tidak asing bagi Arlo. Penampakkan tempat yang hanya sebuah lahan gersang sejauh mata memandang, di sertai awan mendung yang samar-samar menutupi cahaya bulan.


Dalam kondisi yang masih kelelahan, mereka segera berkumpul dan mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya, terutama Arlo yang harus malawan monster itu lagi. Memikirkan satu hal yang paling penting dalam perjalanan ini, teka-teki yang di katakan oleh pria tua itu.


“Jadi… masih belum ada yang kepikiran dengan artinya?” celetuk Arlo, hendak duduk.


“Dalam kondisi yang sangat sibuk seperti itu, saya sampai lupa dengannya. Saya mohon maaf,” ucap Khira dengan nada lembut.


“Yah,karena terlalu banyak pertarungan yang merepotkan, aku belum sempat memikirkannya. Maaf…” sahut Ferdi yang tersenyum dengan menggaruk kepalanya.


“Hah… aku sendiri malah lupa sebagian kelimatnya. Bagaimana denganmu, Nona?” Arlo menatap Eri penuh harap.


“Aku tidak tau maksud dari titik merah itu, tapi untuk jarum dalam genangan itu… mungkin maksudnya sebuah kayu yang mengapung di lautan?” jawab enteng, begitu saja.

__ADS_1


Arlo hanya menghela nafas, memikirkan kembali setiap isi dari teka-teki itu. Tapi sayangnya otaknya tetap saja tidak mengingatnya, sampai terdengar sebuah benturan besar tidak jauh dari keberadaan mereka. Menarik perhatian dan menoleh ke sumber suara, sekelebat seseorang melesat cepat sekali dengan sesuatu di tanganya, langsung menuju di mana ke enam orang itu duduk.


“Awas!” teriak Ferdi melomat dan menjauh dengan di ikuti yang lainya menyebar.


Tempat mereka duduk sebelumnya benar-benar berubah drastis dengan samar-samar di balik debu, meninggalakan cekungan besar dan dalam di sana. Seseorang terlihat sedang berdiri dengan menggengam sesuatu di tanganya dari balik samar kegelapan itu. Arlo yang berdiri seorang diri karena terpecah tadi, menahan tubuhnya yang sudah kelelahan, ingatannya terasa pernah melihat gadis itu sebelumnya. Sama hal dengan lainnya, Eri dan yang lainnya juga terpecah satu sama lain karenanya.


Dari baik debu yang mulai lenyap, seorang gadis dengan tombak besar dalam genggamannya. Menatap tajam ke enam orang yang ada di sekelilingnya, sedang memperbaiki pandangan dan memasang posisi waspada.


“Siapa kalian…? dasar iblis!” ucap gadis itu dengan nada menghina.


Membuat keenam orang yang di sana tersentak, memasang wajah yang terkejut dengan kalimat gadis itu.


“Yah… sebenarnya kami datang de-“ kalimat Ferdi terpotong karena mata tombak yang sudah ada di depan wajahnya.


“Siapa yang mengijinkanmu berbicara? Bibir Murah!” jawab gadis itu dengan pandangan tajam ke arah Ferdi.


“Tolong tenanglah, kami datang un- akr.” Arlo terhempas karena tubuh Ferdi di tendang ke arahanya seperti sebuah boneka.


Mereka berdua terbaring lemas di tanah dengan meringis kesakitan berusaha bangun, tapi tentunya itu terlalu sulit dalam kondisinya saat ini. Eri dan Khira sudah bersiap untuk bertarung dengan gadis itu dengan pedang yang masing-masing sudah ada di tangannya, memasang kuda-kuda bersiap untuk bertarung.


Dengan kaku gadis itu memasang wajah angkunya, menoleh ke arah empat orang yang ada di sekelilingnya. Sedangkan Bela berlari menuju Arlo dan Ferdi yang terbaring lemas tidak jauh darinya, langsung di hempas dengan tendangan yang sangat cepat ke arahnya, kalah dalam satu serangan. Dengan terpaksa tentunya, ketiga orang sisanya bertarung dan mengeroyok gadis itu terang-terangan.


Samar-samar Arlo masih bisa melirik gadis itu di datangi seseorang dari kejauhan. Namun pada akhirnya, dia benar benar tidak sadarkan diri dan tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.


Sampai sebuah bisikkan lembut memanggil-manggil namanya.


“Arlo… Arlo?” suara seorang wanita yang sangat tidak asing baginya.


“Ibu…? Apa aku sudah mati…”


“Enak saja ngomong, seakan ibumu ini juga sudah mati menemuimu! Ngomong-ngomong, kau dihajar habis-habisan, ya?” suara itu terdengar cekikian, mengejek Arlo.


“Berhenti menggangguku, apa hanya itu tujuanmu?”


“Apa kau sudah berhasil tau maksud dari teka-teki itu? kami mendapat sedikit informasi, bahwa jarum yang ada di genangan itu maksudnya adalah pulau yang sangat panjang,”


“Hah?”


“Pikirkanlah sendiri….” Suara lembut itu lenyap perlahan, mengakhiri pembicaraan mereka.


Sadar-sadar Arlo terbaring kaku dan merasa nyeri di sekujur tubuhnya dengan sesuatu yang terasa mengikat tubuhnya. Perlahan dia membuka matanya dan melihat tubuhnya sedang di ikat dengan sangat kuat oleh akar menjalar. Menoleh kesisi kananya adalah sebuah dinding rumah yang terbuat dari kayu dengan samar-samar cahaya dari luar.

__ADS_1


“Sudah sadar?” celetuk seseorang.


Terkejut Arlo segera menoleh sumber suara yang tepat ada di belakangnya, wajah yang sangat tidak asing baginya. Seorang pria dengan pakaian sederhana berwarna putih, duduk bersila mantap di sampingnya. Seketika mata Arlo terbukan lebar-lebar, terus menatap pria itu.


“Verles… Erdian… Di Raizel,” Arlo yang baru sadar langsung membuka matanya lebar-lebar, menatap ke arah pria seumurannya yang duduk dengan tenang, memejamkan matanya.


“Ohh… kau tau nama itu? itu sudah sangat lama tidak terdengar.” Ucap datar pria itu, perlahan membuka matanya.


Sebenarnya begini, Verles adalah seorang pangeran yang memiliki sifat mirip-miriplah dengan Arlo. Tapi mereka hidup di jaman yang berbeda sekitar ratusan tahun lalu. Adalah kerajaan yang sangat makmur dan terkenal, Kerajaan Berlesh yang runtuh sekitar 500 tahun yang lalu dengan keterangan yang sangat minimum.


Sampai sekarang, kerajaan itu hanya menjadi bagian sejarah di dalam buku. Tanpa tau bagaimana kenyataan yang sebenarnya dan hanya tertera karangan panulis saja. Paham, kan?.


Arlo langsung bangun dari tidurnya, ikatan kuat itu dengan mudah di potong oleh sabit besar yang sudah ada di tanganya. Melayang tidak jauh dari Verles dan berdiri menatapnya penuh kecurigaan.


“Duduklah, aku tidak akan memakanmu, Anak Muda.” Kalimat itu rasanya sangat menusuk meski nadanya terdengar datar.


Sadar-sadar kalau dia tau siapa sebenarnya Arlo itu.


“Jadi, apa tujuanmu kemari, Iblis?” ucapnya kembali menutup mata.


“Kenapa aku harus mengatakannya!” gertak Arlo.


“Karena mereka.” Pria itu menunjuk ke belakang Arlo.


Kelima orang yang sudah menggantung tak sadarkan dengan ikatan yang di sekujur tubuh mereka. Bersama seorang gadis yang sama dengan tombak di tangannya tersenyum lebar ke arahnya. Kesal menghela nafas, Arlo menyerah dan berjanji untuk bercerita setelah mereka semua di bebaskan. Tapi tantunya itu tidak di setujui, mereka akan di lepaskan setelah selesai penjelasannya, ucap pria itu.


“Baiklah, jadi begini….”


Beberapa saat dalam penjelasan, tiba-tiba lawan bicaranya tertawa keras di susul gadis yang berdiri bersama kelima orang tidak jauh, yang juga mendengarkan ceritannya. Membuatnya kebingungan dan berpikiran yang tidak-tidak.


“Hmm… berita dari mana? Tidak ada energi yang sedang aktif disini sejak tiga puluh tahun yang lalu,” ucap enteng gadis itu.


Di sinilah Arlo benar-benar tidak habis pikir, kalimat itu seakan menjadi akhir dari perjuangannya yang sia-sia ini. Wajahnya menampakkan kepala yang sedang berpikir keras.


“Lalu bagaimana dengan teka-teki yang berhubungan dengan ramalan itu? mereka bilang, seorang pria tua yang mengatakannya. Apa ya… aku lupa isinya. Sebuah titik merah dalam jarum… atau genangan….”


Verles langsung tersentak mendengar kalimat yang di katakan Arlo.


“Melingkari titik merah dalam jarum yang berada di tengah genangan tanpa batas, tersenyum dengan mulut penuh darah dan rambut yang berepala, menyerah dan menunduk dengan penuh cinta tulus seorang kesatria yang gagah berani menjadi korban, di kembalikan kepada seorang yang putus asa karena ingin kembali ke tempat pulang, kan?”


Mata Arlo semakin melebar ke arah pria itu, seakan tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar. Sedangkan pria itu kembali membuka matanya, balik menatap Arlo dengan tatapan serius.

__ADS_1


__ADS_2