
Sabit melayang tepat di atas mereka berdua, dan berhenti tapat di leher gadis itu tanpa menggores luka sedikitpun. Perlahan, sabitnya kembali lenyap dan menghilang, sedangkan pemiliknya masih memejemkan mata dengan air mata yang keluar membasahi pipinya.
“Lho? Pangeran?” gadis itu memasang wajah bingung.
“Aku rasa aku tidak bisa, wanita itu melarangku,”
“Wanita?”
Arlo menatap seseorang yang terlihat tembus pandang, berdiri di dekat mereka berdua. Dia tersenyum hangat dan melambaikan tangannya.
“Anda sudah punya teman, sebaiknya Anda jaga baik-baik. Selamat tinggal, Tuan Av….” Perlahan wanita itu lenyap di tiup angin yang ada di sekitarnya.
Gadis yang menindih Arlo di atasnya, lemas dan terbaring di dada Arlo. Terdengar dia menangis tersedu-sedu, hingga membasahi baju Arlo. Sedangkan Arlo hanya terdiam memandangi langit cerah yang menengkan hati.
“Arlo…” masih menangis, tersedu-sedu.
“Hmm?”
“Aku mencintai, mu”
“Aku tidak tau... Nona….”
Sabit Arlo kembali muncul dan bersinar terang, sesuatu keluar dari gagannya dan menghubungkan diri ke tubuh Arlo dalam wujud kabel yang mengikat kekuatannya. Kini kekuatan sabit itu akan terikat dengan pemiliknya.
Entah bagaimana menjelaskan, sejak saat itu mereka berdua terus bersama. Gadis itu menceritakan semua hal tentang dirinya, semua hal yang ia tau, dan semua hal yang ia ingin tau, kepada Arlo. Sejak saat itu juga, Arlo mulai tersenyum tulus meski hanya kepada gadis itu.
“Pangeran, ayo kita makan sesuatu,” rengeknya.
“Arlo, apa kau menyukai hal ini,” godanya.
“Berhenti melakukan itu!” amarahnya.
“Ini sakit tau…” tangisnya.
“Apa aku boleh bermain pedang bersamamu, Arlo?” senyumannya.
Dan sampai yang terburuk,
“Arlo… tolong…” saat-saat terakhir yang mengiang terus di ingatan Arlo. Kematian gadis itu adalah kenangan terburuk sepanjang hidupnya.
Sampai, “haa!! Hosh… hosh…” Arlo terbangun di sebuah ruangan dengan nafas terengah-engah, di atas kasur. Menoleh ke sana-sini untuk melihat sekitar.
“Jadi semua itu adalah mimpi?” Arlo menahan kepalanya yang terasa berat.
Di dalam sebuah ruangan, Arlo duduk dengan selimut dan seseorang yang masih tidur nyenyak di sebelahnya. Setelah membuka selimutnya, Arlo langsung berteriak kencang. Terbaring manis di sebelahnya, Eri yang mulai membuka mata karena keributan yang Arlo buat.
“Hmm, selamat pagi, Arlo,” gadis itu menggosok matanya yang masih mengantuk.
“Yak-ya...!! Nona!” Arlo berteriak sekencang-kencangnya dan langsung turun dari kasur.
__ADS_1
...(----------------)...
Seorang gadis terbangun dari tidurnya di atas kursi dengan menyandarkan kepalanya di kasur yang ada di depannya. Saat dia bangun, dia menyadari bahwa seharusnya ada seseorang yang terbaring di depannya. Terdengar langkah kaki dari balik pintu ruangan dan mengetuk pintunya.
“Nona Bella, apa Anda sudah bangun?” suara terdengar seorang wanita.
Gadis itu langsung beridiri dan berlari ke arah pintu untuk membukanya. Wanita di depannya langsung terkejut dan menahan tawa di bibirnya, karena mata panda milik gadia yang ada di depannya, masih mengantuk terlihat sangat konyol.
“Cepat bersiap Nona, Raja sudah menunggu Anda untuk acara sayembara,” masih berusaha menahan tawa.
“Ibu, apa kau tau kemana pria semalam?”
“Dia pergi tanpa pamit? Tenang saja Nona, dia tadi berpesan untuk tidak mencarinya. Dia hanya keluar sebentar untuk mencari udara segar, katanya,” jawab Enteng wanita itu.
Gadis itu langsung menutup pintunya dan kembali duduk di kursinya. Melamun, menatap kasur di depannya sembari menyangga kepalanya.
“Udara segar? Konyol sekali!” gumamnya kesal.
“Apa dia pergi?” lanjutnya, menahan kepala yang terasa berat.
Di tempat lain,
Pagi ini terasa berbeda, cahaya matahari terasa lebih hangat saat bangun dan terdengar kicauan-kicauan burung di luar. Keberuntungan untuk pertama kali memihak kepada Arlo. Karena perjuangannya kemarin dalam membantu membunuh para iblis, hari ini mereka berenam mendapat hadiah terima kasih dari raja.
Di dalam sebuah ruang makan, dua orang pria sedang makan dengan lahapnya dalam satu meja panjang.
“Tuan Arlo, sejak kemarin saya tidak melihat Jendral, dimana dia?” celetuk Ferdi sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Di mana?”
“Aku dengar di kamar Tuan putri,”
“Apa!!”
“Sudah, selesai makan, kita susul yang lain di aula,”
“Ba-baik.”
Raja mendengar kesaksian putrinya tentang pertarungan kemarin dan memberikan sedikit bantuan kepada Arlo dan kawanannya. Mereka di perbolehkan tinggal untuk beberapa hari di kastil sampai mereka akan melanjutkan perjalanan. Dan hari ini adalah permulaan untuk kejuaraan sayembara para pangeran.
Acara di langsungkan di aula kastil yang terletak di sebelah utara kastil, atau bagian belakang kastil. Meriahnya sampai terdengar menggema di seluruh kota. Karena beberapa alasan, Arlo dan Ferdi ketinggalan sarapan dan makan sediri. Mereka berdua di tinggal duluan oleh para gadis untuk menonton pertandingan para pangeran.
Di perjalanan, mereka kagum dengan sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh berdekatan dengan danau, mereka berdua berhenti dan memandangi sekitar. Tidak jauh dari mereka berdiri, secara kebetulan terlihat seorang pria yang tidak asing sedang berdiri di bawah pohon di tepi danau, tampak melamunkan sesuatu.
Mereka berdua langsung berlari menghampiri pria yang ada di sana.
“Jendral!”
Pria itu berbalik dengan wajah malas dan menampakkan banyak perban di tubuhnya yang penuh darah keluar di sekitarnya.
__ADS_1
“Anak ini, istirahatlah! Kondisimu akan memburuk bila kau terus berdiri kedinginan disini.” Jelas Arlo mendekat dan menepuk kepalanya yang di perban.
Pria itu hanya menunduk, tanpa bisa menjawab apapun.
“Anu… Tuan Arlo. Sebenarnya, pedang saya patah,” jelas Khira ragu-ragu.
“Aku sudah tau, aku yang memungutnya,”
“Istirahatlah Jendral, lukamu semakin parah,"
“Tidak, bila aku tetap di kamar Nona. Entah apa yang di pikirkan para pangeran kepadaku,”
“Begitu? Baiklah Ferdi, ayo kita pergi,"
Arlo berbalik dan meninggalkan Khira sendirian tetap berdiri di sana seorang diri. Meski merasa tidak tega, dengan terpaksa Ferdi mengikuti perintah Arlo. Suara keramaian yang tidak asing bagi mereka berdua terdengar keras, saat mereka baru sampai di kursi penonton.
“Oi!! Ferdi cepatlah, sudah akan di mulai!” teriak Bela, dari kejauhan dengan melambaikan tangannya yang berisi makanan.
“Dasar gadis itu, bukannya dia wakilnya Khira?” gumam Arlo tersenyum tipis.
“Itu sudah sifatnya Tuan, tidak akan ada yang berubah,” jawab Ferdi berlari menghampiri ketiga gadis itu.
“Benar, tidak ada yang akan berubah.” Arlo berjalan menyusul dari belakang.
Pertandingan di mulai dengan pembukaan raja dan di sambut meriah para warga kota kerajaan yang hadir di sana. Para pangeran yang tampan berdiri dengan gagah berhadapan, bersiap dengan tantangan yang akan di berikan oleh raja.
“Hei, apa kau sudah siap untuk kalah?” celetuk Michel, menatap meredahkan.
“Tentu, aku juga tidak berniat untuk menang. Nikmat saja,” jawab enteng, membuat kesal lawan bicaranya.
“Bisa-bisanya bilang begitu! Kenapa? Apa kau tidak tertarik?” lanjut Michel dengan nada kesal.
“Pertama, aku datang di sini karena di paksa oleh ayahku. Dia bilang aku harus menikah atau apalah. Yang kedua, aku tidak terlalu suka mengganggu hubungan orang lain. Dan yang terakhir, aku lebih suka sendirian karena aku masih terlalu muda,” jelasnya, panjang lebar.
“Terlalu muda? Memang berapa usiamu?”
“Aku ini masih 24.” Jawaban yang membuat kepala lawan bicaranya pusing.
Pembicaraan mereka berakhir dengan Michel yang berpikir keras. 24 tahun dia bilang terlalu muda? Orang gila macam apa ini?. Dalam pikirannya.
“Para pangeran akan langsung duel pedang sebagai pembukaan, tentunya untuk melihat seberapa besar kemampuan. Selanjutnya mereka akan mencari dan membuat sesuatu dari dalam hutan untuk di berikan kepada putriku, dan tentunya yang terbaik akan menang. Dan yang terakhir, mereka akan kembali berduel sebagai pertandingan utama,” jelas lantang dari raja yang duduk sendirian di kursianya.
“Apa ada yang ingin di tanyakan pangeran?” lanjutnya, menatap kedua pria yang berdiri jauh darinya.
Mereka mendongak, petanda tidak ada yang ingin di tanyakan dan pertandinganpun di mulai. Kedua pedang mereka yang berwarna kebalikan, berbenturan dengan keras. Keduanya terlihat sangat keren di mata para gadis.
Sampai tiba-tiba raja tersentak di tempat duduknya karena kabar yang di bawa oleh pelayannya.
“Bagaimana bisa! Sudah ku bilang untuk membawanya kemari, apa kau tidak membujuknya?” nada tinggi karena sangat kesal, keluar begitu saja dari mulut raja.
__ADS_1
“Ma-maaf Yang Mulia, saya akan mencarinya sekarang,” wanita itu gemetar ketakutan.
Dia segera beranjak pergi untuk mencari tuan putri yang tiba-tiba mengilang dari kamarnya. Raja langsung memanggil beberapa kesatria dan prajurit untuk berkeliling dan mencari gadis itu di manapun, pokoknya sampai ketemu hari ini juga.