Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 27 - Pertarungan Pusat.


__ADS_3

Arlo sampai di ujung jalan, terlihat di depannya sebuah rumah kecil yang sangat tua. Namun setelah mereka sampai di rumah itu, Khira malah pergi meninggalkan Arlo tanpa petunjuk. Arlo langsung saja masuk ke dalam rumah itu dan melihat-lihat.


Di dalam rumah itu banyak terdapat senjata dan armor perang untuk prajurit, dengan di tengahnya ada pintu kecil yang megarah ke ruang bawah tanah. Arlo melihat-lihat senjata yang ada di dalamnya dan mengambil sebuah pisau. Setelah beberapa saat ia di dalam rumah itu, Khera kembali menemui Arlo.


“Maaf Tuan, saya pergi meninggalkan anda tanpa petunjuk. Sebenarnya saya tadi ada urusan yang saya terlupa. Jadi apa ada yang anda tanyakan?” Khira menghampiri Arlo dari luar.


“Sebenarnya apa tujuanmu membawaku ke mari? Lalu kemana kita akan pergi? Dan terakir, kemana arah pintu itu dan apa yang ada di dalamnya?” tanya Arlo sejelas mungkin.


“Tujuan saya adalah menunjukkan arah persenjataan yang anda butuhkan, itu saja bila anda butuh. Lalu selesai persiapanmu, kita akan lansung menuju medan perang pusat untuk mengambil hak kekuasaan kita yang di rebut 20 tahun yang lalu. Kemudian, pintu ini mengarah kedalam ruang bawah tanah yang berisi buku sihir perang yang bisa di pelajari saat perang, dan di sana ada portal yang lansung menuju medan perang” jelas Khira pada Arlo.


Arlo mengangguk dan menunjukkan pisau yang dia ambil sebagai senjata pilihannya lalu mengajak Khera langsung menuju ruangan bawah. Di bawah, terlihat ruangan yang cukup luas dan di penuhi rak-rak buku tua. Dengan pengarahan Khira, Arlo mengambil buku yang sesuai dengan kekuatan sihirnya dan segera berangkat menuju medan tempur.


Masuk ke dalam portal, cahaya silau menutupi mata sampai beberapa saat mereka sampai di area luas yang di pepohonan rindang dan di depannya ada padang safana yang luas. Arlo menanyakan kearah mana pertempuran berada dan berencana untuk langsung membantu. Lalu Khira tertawa kecil pada Arlo.


“Sebenarnya Tuan, hari ini perangnya sudah selesai karena hari sudah gelap di wilayah sini, karna itu saya bisa menyusul anda dan membawa anda kemari. Lihat di belakang anda, ada perkemahan prajurit di sana, itu adalah tempat peristirahatan” jelas Khira dan melangkah menuju perkemahan di belakannya.


Arlo lalu menysulnya dan berjalan di belakangnya dan meraih bahunya.


“Ee.. Khira, saat sampai nanti jangan umumkan siapa yang kau bawa kemari meski itu perintah dari Ratu sekalipun. Selain itu, sejak dulu aku juga petarung sendiri, jadi kau mengerti kan..” Arlo memohon pada Khira.


“Baiklah..” jawab Khira tidak meyakinkan.


Sampai di perkemahan, Khira langsung menunjukkan tenda Arlo yang di dalam tidak ada siapapun seperti tenda yang lain. Lalu Arlo beristirahat di tenda itu selama beberapa saat, kemudian dia mendengar ramai-ramai di luar dan ada cahaya yang menerangi luar dalam gelap malam itu. Arlo keluar dan terlihat banyak prajuut yang berkumpul bersama dalam api unggun. Sebenarnya jumlah prajurit tidak terlalu besar seperti perang-perang besar yang biasa kita lihat, karena yang di serang juga adalah pasukan pelarian dari iblis yang jumlahnya juga tidak terlalu banyak dan membuat pemukiman di sana.


“Tuan apa anda mau minum?” Tanya Khira mendekati Arlo dari dalam tenda dan membawa secangkir minuman.


“Yak, terima kasih. Oh ya.. bagaimana di kastil sana bisa siang da di sini malah sedang gelap? Bukannya ini juga dalam sau hari?” tanya Arlo sambil menerima gelas yang di barika Khira.


“Entahlah Tuan, itu mungkin juga menjadi salah satu rahasia dunia.. selain itu apa tadi anda hanya mengambil bilah pisau? Apa anda yakin bertempur dengan itu saja?”


“Ya.. itu akan kugunakan saat kondisi terdesak. Selain itu aku juga punya senjata bawaankan? Seharusnya kau tau tentang itu.. apa kau belum memiikinya?” Arlo mengangkat tangannya lalu dengan ajaib senjata sabit yang biasa dia gunakan muncul di tangannya.


Saat itu Khira hanya mengangguk kagum lalu mengatakan bahwa cara itu sudah di larang oleh pemimpin sebelumnya, jadi sudah tidak ada yang mencoba untuk melakukannya.


Arlo hanya tersenyum lalu menghilangkan kembali sabitnya dan meminum minumanya hingga habis.


“Baiklah Tuan.. aku rasa sudah hampir pagi, sebaiknya kita bersiap dan segera berangkat. Penyerbuan nanti akan sesuai dengan rencana pasukan masing-masing, lalu untuk Anda.. bisa menyerang di garis depan atau mendukung dari belakang sesuai keinginan dari Anda. Saya pergi sebentar” kemudian Khira meninggalkan Arlo sendiri di depan perapian itu.


Setelah beberapa saat, semua pasukan berkumpul dan bersiap berangkat dalam barisan masing-masing. Arlo hanya membuntuti sendirian di belakannya dan melihat sekitar, di sana terlihat banyak sekali pohon besar yang masih subur meski sudah tua.

__ADS_1


Tempat itu seperti di biarkan bertumbuh menjadi hutan lebat tanpa di urus. Lalu didepan mereka terdapat padang savana yang sangat luas, bahkan ujungnya tak terlihat saking luasnya.


“Tuan.. bagaimana? Apa anda akan maju di depan atau mendukung dari belakang?” khira menghampiri Arlo dan menepuk pundaknya.


“Aku akan bertarung sebagai prajurit biasa. Dan kau memimpin saja pasukanmu untuk bertempur di garis depan, aku akan mengikutimu..” jelas Arlo.


“Baiklah kalau begitu..


Semua pasukan siap!!” Teriak Khira pada seluruh pasukan yang ia pimpin.


“SIAP!!” Ujar seluruh pasukan.


Setelah itu, Khira menusukan pedangnya yang bersinar kedalam tanah dan membuat sedikit retakan di sana.


Padang savana yang sebelumnya terlihat sangat luas itu berubah menjadi pemukiman yang di selimuti oleh hutan lebat dengan banyak iblis mengerikan yang berkeliaran di dalamnya.


Tanpa menunggu lama, seluruh pasukan menyerbu dan menyerang desa itu dalam sekala yang besar. Seluruh penghuni desa itu maju membela desanya dan ikut berperang tanpa pengecualian.


Arlo maju di garis depan bersama dengan para prajurit dan tidak ada satupun mengenalinya. Tebasan demi tebasan megenai iblis menjijikan itu dan membunuhnya hingga tak tersisa.


“Tuan..! di sini kondisinya terdesak! Apa Anda bisa datang dan membantu!” teriak seseorang dari jauh.


Arlo buru-buru menghampirinya, terlihat beberapa orang terkepung oleh 7 iblis dengan ukuran yang tidak manusiawi dan membawa bilah kapak yang besar di tangannya.


“Jangan gentar! Itu hanya seorang pria lemah yang mengganggu saja, ayo kita habisi!” teriak salah satu iblis itu menghampiri Arlo.


Dia menebaskan kapaknya tepat pada Arlo dan hampid mengenai dadanya. Namun Arlo sempat menghidar dan memeberikan serangan balik pada iblis itu.


Dengan bantuan prajurit yang meminta bantuan Arlo tadi, iblis itu berhasil di habisi. Dari sekian banyak pasukan yang di bawa dalam pernyerbuan itu, hanya sebagian prajurit kuat yang bertahan hingga hari menjadi gelap.


Saat itu seluruh sisa pasukan yang masih bertahan di bawa mundur dan kembali ke perkemahan.


“Bagaimana Tuan Arlo? Apa anda baik-baik saja?” tanya seseorang yang berjala di samping Arlo dengan luka-luka kecil di lengannya.


“Yah bisa di bilang ini cukup merepotkan. Kau sendiri yang terluka malah menanyakan orang yang terlihat sehat-sehat saja..” jawab Arlo dengan santai menatap pria itu.


“Haha ini hanya luka kecil Tuan, tidak masalah..”


“Anu.. apa setelah sampai kita bisa langsung makan atau beristirahat Khira?” tanya Arlo penuh harapan.

__ADS_1


“Tentu saja, setiap kembali kami selalu di beri bekal dari ratu untuk makan malam. Selain itu.. jumlah pasukan hari ini cukup banyak yang berkurang gara-gara iblis raksasa tadi..


Tuan, apa anda besok bisa bergerak bersama saya untuk menyerang kartu As mereka?”


“Bagaimana ya.. aku rasa bisa saja, tapi jangan teralu berharap. Aku bukan orang hebat seperti yang kau pikirkan”


Mereka sampai di perkemahan dengan selamat dan segera menyembuhkan luka masing-masing. Benar saja apa yang di katakan Khira, setelah beberapa saat mereka beristirahat ada beberapa orang yang keluar dari portal dan memebawa bahan makanan dan segera saja mereka memasaknya.


Arlo segera membantu berharap segera selesai dan makan lalu beristirahat duluan mengingat saat di kelelahan dia akan cepat menua dan melemah.


“Khira! Ayo makan kita sudah selesai memasak..” teriak Arlo di depan salah satu meja yang di penuhi makanan.


“Baik!” Khira berlari menghampiri Arlo dan mereka berdua makan bersama.


“Sejak kapan kalian menyerbu wilayah ini? Lalu apa tempat ini memang tidak ter-urus..?” Tanya Arlo setelah menelan makannya.


“Ini masih di lakukan selama 5 hari yang lalu. Kami malakukan kesalahan sebagai prajurit. Sebagai pengintai wilayah sendiri malah tidak mengetahui kenyataan yang terjadi di masa lalu..


Lalu.. wilayah ini di biarkan tidak ter-urus karena beberapa alasan” Khira tersenyum pada Arlo.


Arlo hanya mengangguk dan tidak berusaha menanyakan lebih tentang itu lagi hingga selesai makan. Malam seperti biasa, beberapa orang membuat api ungun dan berkumpul bersama untuk istirahat.


Arlo pergi ketendanya untuk tidur dan menghindari keramaian. Tapi sebelum ia sampai di tendanya untuk istirahat, seorang gadis dengan setelan armor lengkap yang menutupi seluruh tubuhnya menghadang Arlo di depan tendanya.


“Tuan.. Apa anda bisa mengenalkan diri Anda, sepertinya anda baru di sini. Lalu dengan santainya anda berbicara pada Jendral” dengan tegas gadis itu berbicara pada Arlo.


“Jendral? Aku hanya prajurit bisa kenalan panglima itu, aku mau istirahat jadi kalau ada yang ingin kau bicarakan, bicarakan besok saja. Tolong Minggirlah” Arlo masuk ke dalam tendanya dan gadis itu tidak bisa menghentikannya.


Setelah beberapa saat, Arlo sudah tertidur pulas di dalam tendanya. Tapi gadis itu masih duduk di depan tenda menunggu jawaban Arlo sampai ia tertidur.


“Hei Bela.. kau sedang apa di sini!?” seorang pria berdiri di depan gadis itu tanpa ia sadari.


“Ha? Siapa itu..?Tuan..?” Gadis itu terkejut dan segera berdiri dan menghadap.


“Ma.. maaf saya sedang menunggu seseorang di sini” dengan gugup gadis itu menjawap pria di depannya.


“Siapa yang kau tunggu? Apa lagi kau berdiri di depan tanda Tuan Arlo..” jawab pria itu mengusap wajahnya, kecewa.


“Jendral..? Siapa sebenarnya yang ada di dalam? dia bilang dia hanya prajurit biasa, ditambah dia tidak pernah menunjukkan siapa dirinya di sini, dan tiba-tiba dia dengan santainya berbicara dengan Anda"

__ADS_1


“Dia putra Ratu yang di suruh untuk membantu penyerbuan ini, namanya adalah Arlo. Saat ini di sedang beristirahat, kembalillah ke tendamu dan jangan mengganggunya!” Pria itu pergi meninggalkan gadis itu sendirian.


“Baik Tuan Khira!”


__ADS_2