
Arlo akhirnya melepaskan pelukannya dan berdiri tepat di depan Eri. Mereka berdua terlihat sangat bahagia dengan pertemuan yang sudah lama ini, senyuman di bibir mereka berdua tidak bisa hilang sampai mereka kembali dari sana.
Dalam perjalanan kembali, Arlo masih memakai payungnya bersama dengan Eri dan berjalan di belakang Pak Harto dan Raka berjalan. Mereka berdua hanya diam dan berjalan saja di depan.
“Nona.. apa kau masih mengingat saat pertama kita bertemu"
“Yah.. kau adalah pangeran yang hebat”
“Sudah lama sekali, aku pikir aku tidak bisa menyelamatkan putri cantik dari kerajaan tua itu..”
“Kau ini, bukankah kerajaannya sudah runtuh sekarang?”
“Yah, tapi cinta kita tidak bisa runtuh seperti kerajaan itu”
Tidak terasa mereka harus berpisah karena hari mulai gelap dan Arlo tidak tahan dengan gelap. Arlo buru-buru pulang menuju penginpan dan meninggalkan Raka di belakangnya. Raka hanya tersenyum memandangi temannya itu. Arlo buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan segera tidur. Beberapa saat setelah ia bisa tertidur.
“Selamat anak muda.. rasanya aku bisa sedikit membantu?”
“Terserah, itu tadi hanya kebetulan..”
“Yah-yah terserah kau saja. Ibu turut bahagia dengan pertemuan kembali kalian”
Setelah beberapa saat tertidur, Arlo bangun di tengah malam dan merasakan sesuatu yang akan datang dari luar. Mengganggu ketenangan kota ini, tapi ia hanya terdiam dan kembali tidur untuk bekerja besok pagi.
...(----------------)...
“Baik tuan kami laksanakan!, ini akan sangat mudah”
“Ingat, tetaplah waspada!”
“Tentu”
“Apa orang tua itu tidak percaya pada kita ya?” tanya seorang pria yang berdiri di atas bukit kota Arlo tinggal bersama seorang wanita di tengah malam.
“Diamlah, ini adalah peringatan darinya. Ingat jangan pernah meremehkan peringatannya!”
__ADS_1
“Ya.. aku tau, hanya saja kau lihat desa ini kan?” jawab rewel pria itu.
“Tapi apa kau tidak merasakannya?!, dasar payah!" wanita itu memukul keras kepala pria pendek di sampingnya
...(----------------)...
Di dalam penginapan, seorang pria berlarian naik ke tangga dan langsung menuju kamar Arlo yang sedang bersantai.
“Arlo! Arlo.!. bahaya ada orang asing yang sedang mengacau di pasar!” Raka berlarian menuju kamar Arlo dan berteriak-teriak di pagi hari.
“Tidak, jangan sekarang aku sedang makan”
“Arlo ini serius..”
Setelah Raka menjelaskan secara detail bersamaan dengan sarapan Arlo yang selesai. Mereka berdua segera berangkat meninggalkan penginapan itu dan langsung menuju pasar yang di katakan Raka. Arlo dan Raka segera berlari menuju pasar dan melihat dua orang mengenakan jubah sedang mengacak-acak dagangan toko di pasar. Mereka berdua terlihat tidak asing bagi Arlo dan mereka juga langsung bisa mengenali Arlo.
“Oi oi.. kalian ini sakit ya?, kalau sakit maka ku antar di klinik sana” ujar Arlo yang baru datang.
Dua orang itu menoleh dari sumber suara, tatapannya begitu tajam dan mencekam. Mereka langsung meniggalkan toko itu dan perlahan berjalan mendekati Arlo.
Arlo menahan tendangannya dan segera mundur untuk menghindari tusukan dari tombak itu. Mereka berdua terus menyerang Arlo tanpa ampun dan Arlo hanya bisa melompat-lompat mundur untuk menghindar. Arlo berusaha menghindari kerusakan di pasar dan saat ada kesempatan, ia lari menuju hutan memancing keduanya ke dalam hutan. Sedangkan Raka hanya berlarian mengikuti Arlo dari belakang.
“Mau lari ke mana?”
“ikuti saja aku, maka ajalmu juga akan mengikutimu”
“cih, sombong sekali mati kau!” pedang dilempar dari belakang Arlo dan menancap tepat pada pohon yang menandakan bahwa mereka sampai di hutan.
“Dengan begini, aku bisa menunjukkan siapa diriku pada kalian”
Arlo melepas jubah yang setiap hari ia pakai itu, lalu tangannya mengambang seperti memanggil sesuatu. Muncullah sabit merah dengan larit hitam dan tali pendek yang menjalar dari dalam baju Arlo.
Arlo melempar sabit itu dan menggores lengan pria yang cerewet itu, dan talinya memanjang sampai melingkar pada sebuah pohon.meninggalkan bercak darah di tubuhnya, darah itu menetes membasahi pohon yang di tancapi oleh sabitnya dan seketika pohonnya langsung layu mati.
“Ah.. 'C', bagaimana bisa secerewet ini ya?”
__ADS_1
Lalu Arlo menarik kembali sabitnya dan langsung melempar pada wanita itu, mendarat tepat di sebelahnya karena ia sempat menghindar.
“Sayang sekali, kau menghindari sabit ini”
Entah bagaimana tiba-tiba Arlo muncul di depan wanita itu, dengan sabitnya yang sudah dalam genggaman bersiap memenggal leher wanita itu. Sedangkan pria cerewet itu berdiri dalam diam tanpa bisa begerak sedikitpun.
“Dengar, aku bukan tandinganmu, maka berhati-hatilah dalam menerima tugasmu, juniormu itu akan mati setelah melihat seniornya mati terlebih dahulu..” Arlo membisik wanita itu dan memenggal kepalanya seketika.
Pria itu terlihat sangat terkejut melihat temannya mati dalam satu tebasan leher. Dengan putus asa ia berlari memegang pedangnya kuat-kuat menuju Arlo bersiap menusuk, tapi itu semua sia-sia.
“Hei sudahlah, dia sudah mati. Jadi apa kau mau menyusulnya?”
“Diam kau, dasa-"
Arlo menendangnya tepat di kepala dan melesat dengan tertahan oleh pohon di belakangnya. Arlo mendekati setiap jasat-jasat lawanya dan mengambil setiap liontin yang mereka pakai. Tapi salah satunya ternyata tidak memakai liotin apapun di lehenya.
“Aku rasa, pemimpin kalian itu terlalu bodoh untuk menugaskan kalian”
Arlo berjalan kembali ke kota dengan santai melewati hutan itu, terasa hawa mencekam tiba-tiba menusuk dari belakang. Membuat Arlo merinding saat merasakan hawa itu. Dari sisi kiri Arlo, seorang gadis yang sama persis dia lawan sebelumnya melesat dan mencoba menusuk dengan tombak lalu berbelok mengarah belakang. Arlo seketika melompat menghindari serangannya dan menjauh.
Arlo bersiap dengan memegang bilah pisaunya di tangan kanannya. Bersiap menyerang, dan gadis itu berdiri tepat di sebelah pohon yang telah terpotong oleh tombaknya.
“Oh.. aku kira kau mati dengan mudah seperti tadi. Jadi itu ya.. gunanya menghindar dari sabitku tadi, kalau begitu..”
Dalam kondisi ini, Arlo tidak dapat menyerang dengan senjata jarak pendek. Akhirnya Arlo mengeluarkan sabitnya lagi dan langsung dengan sangat cepat melesat tepat memotong lengan lawannya. Darah mengalir dimana-mana bersamaan dengan lengannya yang tergeletak terpotong rapi, tapi lengannya kembali tumbuh dan kembali utuh seperti tidak terluka sama sekali.
“Kau itu benar-benar sombong sebagai pria yang masih muda, tapi sayang sekali ini adalah peringatan terakhirmu..”
“Aku tidak bisa merasakan darahnya lagi” Arlo berpikir tajam menatap seluruh tubuh lawannya.
Gadis itu berjalan mendekat, menyeret tombak besarnya dan menatap tajam musuh di depannya. Bersiap menusuk dengan sekuat tenaga pada Arlo.
“Di mana keangkuhanmu tadi?. Apa kau takut dengan musuh yang kemampuan di bawahmu?, oh iya, kau tadi hanya mengarang cerita saja ya.. hihi..”
Arlo bersiaga di tempat ia berdiri, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Bersamaan dengan itu, lawannya terus berjalan semakin dekat dan melesat tepat di depannya. Arlo menahan setiap serangannya sebisa mungkin terus menghindar sambil melompat mundur. Tebasan tombaknya tepat mengenai Arlo yang sedang terpojok di bawah tebing menjulang.
__ADS_1
Dia maju melesat tepat di depan Arlo, dengan cepat Arlo menghindar tepat melayang di atas gadis itu dan menendangnnya kebawah. Kesempatan emas untuk membalas, Arlo menusuk punggungnya dengan cepat hingga tembus pada punggunya menusuk bagian dadanya.