Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 56 - Kami Datang.


__ADS_3

Arlo terlempar sangat jauh ke dalam hutan karena sebuah ledakan yang tiba-tiba saja terjadi tanpa alasan jelas. Luka-luka lebam di tubuhnya perlahan mulai pulih bersamaan dengannya yang mulai bangun dan melihat keadaan sekitar. Tepat tidak jauh darinya berdiri, sesuatu yang bulat berinar dengan warna merah yang menyelimutinya.


Dia tergeletak tepat di tengah-tengah bekas ledakan terjadi dan sedikit terkubur oleh tanah dan bebatuan.


“Itu!! bukankah… permatanya!” karena menyadari sesuatu, Arlo segera berlari ke arahnya secepat mungkin.


Tidak sesuai harapan, sesuatu yang bersinar itu perlahan dirambati dan terselimuti seluruhnya sampai tak tersisa oleh akar-akar lebat yang berasal dari dalam hutan. Sadar-sadar, Arlo berhenti di depannya karena yang ia lihat saat ini hanyalah hijaunya akar-akar dan batang pepohonan.


“Tunggu...! Aku akan mengambilnya! Jadi jangan mengganggu, Dasar Parasit!” gertak Arlo, sebisa mungkin membelah begitu banyak pepohonan yang menghalanginya.


Karena hal itulah, perlahan akar-akar dan batang-batang pohonnya mulai mencair dan berubah bentuk menjadi monster yang tidak bisa di bunuh dengan sabitnya.


Terus saja Arlo menebas, meski jelas ini tidak ada habisnya. Namun itu semua terasa sia-sia, semakin banyak yang ditebas maka semakin banyak pula yang akan hidup dan meneyerang tubuhnya. Sedangkan tubuhan rambat itu terus saja tumbuh dan tetap menghalangi permatanya.


Sampai lagi-lagi, permata itu memancarkan cahayanya yang berkelip. Sesaat kemudian, lagi-lagi tempat di mana permata itu meledak dengan sangat kencang, sekencang-kencangnya. Arlo sendiri terlempar jauh dengan tubuhnya penuh luka lebam dan berdarah, terbaring tepat di dekat Eri yang duduk dengan nafas tidak teratur.


“Apa itu permata yang kita cari Arlo? Apa itu yang dilingkari? Oleh banyak tanaman liar…”


“Jelas sekali, ini benar-benar sangat merepotkan. Tapi….” Arlo mengangkat tubuhnya yang genetaran bersamaan dengan luka-lukanya yang mulai pulih.


“Tapi, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan tugas ini, Nona….”


...(----------------)...


Sadar-sadar Ferdi membuka matanya yang terasa berat untuk bangun dari tidurnya. Sontak karena teringat sesuatu, ia langsung mengankat tubuhnya bangun dan menatap sekitarnya.


“Hah! dimana ini? Sina! Bagaimana dengan Sina?” ucapnya dengan nada terburu-buru.


“Dia baik-baik saja….” Ucap sesorang yang terbaring di sampingnya, menoleh malas.


Mereka berdua sadar tanpa menemukan seorang pun yang ada di sekitarnya, tau-tau kondisi tubuhnya cukup sakit untuk di gerakkan, kecuali pada Trisia. Dia bangun begitu saja tanpa merasakan apapun yang ada di dalam tubuhnya, seakan memang tidak pernah terjadi apapun. Dengan susah payah Ferdi mengangkat tubuhnya bangun, sampai dia di bantu oleh Trisia.


“Jangan paksakan dirimu dengan luka separah itu. Ditambah lagi, tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kita berdua saat bersama Fury tadi…” ucap Trisia sembari mendorong perlahan punggung Ferdi yang terasa lemas.


“Terima kasih… bagaimana dengan Sina?” Ferdi menatap penuh harap.


“Sudah kubilang dia baik-baik saja, kan!” sahut Trisia dengan nada kesal dan memalingkan wajahnya.


“Aku hanya bertanya, kenapa kau marah sampai sebegitunya?”

__ADS_1


“Diamlah! Dasar Bibir Murah….”


Trisia bangun dari duduknya dan berbalik memunggungi Ferdi dengan perasaan kesal. Entah apa yang terjadi padanya, sampai-sampai melakukan hal yang konyol seperti itu. Sedangkan Ferdi hanya menatap dengan memasang wajah bingung. Sesaat kemudian, keempat orang lainnya berjalan mendekati mereka dengan memasang wajah cemas.


“Kalian sudah sadar? Apa kau baik-baik saja, Ferdi?” celetuk Bela dengan senyuman manisnya.


“Aku baik-baik saja, hanya terasa sedikit lelah.…” Ferdi juga membalas dengan senyuman.


Lalu ia melirik kearah mereka semua dan menatap seseorang yang bersembunyi di balik tubuh Bela, sambil melirik-lirik dirinya.


“Anu… Sina? Apa kau baik-baik saja?” Ferdi menatap penuh harap.


“Aku baik-baik saja!” gadis itu semakin bersembunyi di balik tubuh Bela, meski sebenarnya Bela lebih rendah dari tinggi tubuhnya.


“Baguslah kalau begitu, sebenarnya anu… aku minta maaf dengan yang ku ucapkan sebelumnya. Sebenarnya aku juga tidak bermaksud buruk, hanya saja kau sendiri tidak pernah bertingkah seperti ini…” Ferdi hanya menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


“Aku juga… aku juga minta maaf. Aku sangat merepotkan, sebelumnya aku juga di tegur habis-habisan oleh Jendral… saya mohon maaf….”


Kedua orang itu tetap saja terlihat canggung dan tidak berani saling menatap. Khira dan Bela terlihat cengingisan dengan tingkah mereka berdua, lalu Bela menarik tangan Sina dan mendekati Ferdi yang masih duduk di tanah. Sampai mereka mulai saling menatap tepat di depan wajah masing-masing dan tersenyum malu-malu.


Sedangkan Trisia yang berdiri tidak jauh darinya, hanya menatap dengan pipinya yang memerah dan sedikit perasaan sedih yang terlukis di wajahnya. Tapi kemudian itu terhapus begitu saja saat Verles datang menghampiri dan memukul kepalanya.


“Kau itu anak yang nakal, Calissto…” Verles tersenyum hangat ke arah putrinya.


“Ya… aku memang anak nakal, aku juga mmohon pengampunan… Ayah.” Gadis itu tersenyum dengan air mata yang mengalir dan pipinya tanpa sadar.


Lalu Verles pergi dan memanggil mereka semua, ini adalah kondisi yang buruk untuk beristirahat.


“Baiklah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di pulau itu. kita akan segera kesana dan menyusul Tuan Arlo, semoga saja dia baik-baik saja,”


“Tapi kondisi Ferdi masih buruk, bagaimana Tuan?”


“Apa tidak ada yang bisa menggunakan sihir penyembuhan?” ucap Verles heran.


Benar saja, semua orang di sana hanya menggeleng kepala tanpa menjawab sepatah katapun. Sedangkan Verles hanya bisa menghela nafas pasrah. Ini akan lama, bertahanlah… anak muda, batinnya cemas.


Dengan terpaksa, Khira menggendong Ferdi di punggungnya melesat ke arah barat masuk semain dalam kehutan dengan mengikuti Verles yang ada di depan. Sampai mereka berheti di suatu tempat dan Verles mencabut sebuah tanaman di sana, lalu memberikannya kepada Ferdi.


“Ini, makanlah. Ini akan megnhangatkan tubuhmu dan memulihkan energimu secara perlahan.” Ia mengulurkan sebuah akar yang sudah di kupas bersih dari tanah dan kulitnya.

__ADS_1


Tanpa beban, Ferdi meraih dan memakannya sesuai perintah, tapi setelah masuk kedalam mulut, dia memuntahkannya kembali sehingga Verles menjadi marah dan menyuruhnya memakannya lagi. Orang lain di sekitarnya hanya tertawa cekikian melihat tingkah kedua orang itu, terkecuali pada Khira yang hanya melamun dan menatap pulau yang ada di seberang.


Sampai akhirnya perban di tangannya di lepas dan di ganti dengan robekan kain lainnya dan sedikit ramuan tradisional untuk memulihkan luka di lengan kirinya. Sampai akhirnya mereka beristirahat sejanak dan tidak memalingkan pandangannya dari pulau itu.


“Ayo kita segera menyusul mereka berdua, kondisinya pasti akan memburuk saat ini….” Verles menatap harap.


Mereka semua mengangguk dan berlari mengikuti pria dengan jubah putihnya di depan, melesat ke arah barat dan menuju ke sebuah tebing yang sama yang di lewati Arlo sebelumnya. Sampai di depan tebing itu, keempat orang di belakang mulai berpikir bagaimana cara untuk menyeberang dan menanyakannya secara langsung kepada Verles, tapi Verles hanya tersenyum kecil.


Ia mengangkat tangannya dan keluarlah sebilah es yang padat dan mengepul asap dingin di sekitanya. Kemudian ia melemparkannya kelaut dan tentunya sebilah es itu langusugn terjebur ke dalam lautan, namun sesaat kemudian hal luar biasa terjadi. Sebilah es itu mengunap dan membekukan sebuah jalur panjang yang menghubungkan tebing itu dengan es yang ada di laut.


Ia melompat dan meluncur lewat bongkahan es itu dan berhenti di bawah, lalu melambaikkan tangannya kepada kelima orang yang ada di atas.


“Apa dia benar-banar sudah tua?” bisik Ferdi pada Khira yang ada di depannya.


“Mungkin saja dia juga sama dengan Tuan Arlo…” balas Khira yang kemudian menyusulnya.


Mereka semua turun dan berdiri tepat di atas bongkahan es itu, sampai Trisia menghempas udara dan mendorong bongkahan es yang mereka pijak. Berlayar ke arah barat untuk sampai di pulau itu. Tidak lama kemudian, mereka sampai di balik kabut tebal yang menghalangi pandangan mereka. Sampai tiba-tiba bongkahan es itu menabrak sesuatu yang ada di depannya.


Sontak Verles dan Trisia sendiri terkejut bukan main, di hadapannya adalah sebuah tebing yang menjulang tingginya. Ia mengangkat perlahan tangan kanannya dan secara bersamaan, lempengan es yang menjadi pijakan itu terangkat oleh es di bawannya sampai mereka sejajar dengan tibing itu.


Namun tetap saja, dilihat dari wajahnya saja sudah jelas. Verles dan Trisia sendiri tidak percaya dengan yang baru saja mereka lihat. Ditambah lagi, pepohonan lebat nan suram yang ada di depannya semakin membuat mereka berdua tidak percaya.


“Sebenarnya… apa yang terjadi, selama aku pergi…?” gumam Verles tidak memalingkan wajahnya dari hutan itu.


Sedangkan keempat orang di sekitarnya menatap persis dengan Arlo dan Eri sebeumnya. Keempat pasang mata itu berkaca-kaca dan tidak memalingkan pandangannya dan hutan yang luar biasa itu.


“Lalu… sebenarnya tempat apa ini?” giliran Ferdi yang malah bertanya.


**Sedikit Referensi :


Bila ada yang belum tau, sebenarnya usia tokoh di sini sudah bisa di bilang tua. Tapi karena mereka juga bukan manusia biasa dan mereka juga bukan manusia. Mungkin ini akan sedikit membantu.


Seperti di kisah awal, Arlo mengatakan bahwa usianya sudah 123 tahun. Namun tubuhnya masih terlihat muda seusia remaja, antara 17-20 tahun. Sedangkan pasangannya, Eri telah berusia 19 tahun.


Lalu ke empat iblis yang melayaninya, jelas telah hidup cukup lama. Ferdi dan Sina sendiri masing masing telah berusia 53 dan 48 tahun. Lalu Bela sendiri telah berusia 62 tahun, mereka bertiga memiliki rentan usia yang sama dengan Arlo dan Eri, yaitu 17-20 tahun. Sedangkan Khira telah berusia 86 tahun, rentan usia manusianya adalah 25-30 tahun.


Yang terrakhir adalah Verles dan Trisia, sebenarnya keduanya adalah ayah dan putrinya, perbedaan usia mereka sangatlah jauh. Verles sendiri telah berusia 595 tahun sedangkan putrinya sendiri adalah 378 tahun, dengan rentan usia manusianya sama dengan Arlo, 17-20. Satu-satunya penyebabnya karena Verles telah memakan buah keabadian, sedangkan Trisia karena menjadi keturunannya, sekian.


Sekali lagi Author ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada para pembaca yang sudah setia mendukung dan juga meninggalkan jejak di sini. Semua itu sangatlah berati bagi Author**. ^~^

__ADS_1


__ADS_2