Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Historical Book III


__ADS_3

Sebuah perang yang secara tiba-tiba menerjang kembali dunia iblis telah berkobar di lahan darah. Semua itu dipicu oleh keberadaan inti api yang disembunyikan oleh Arlo. Dengan caranya sendiri, Daniel memeras kehidupan kota dan membuat kekacauan disana sini sebagai usahanya untuk memberikan ancaman kepada para pemimpin, mengingat Arlo juga termasuk dalam keluarga kerajaan.


Tidak mungkin tidak bagi Daniel tanpa melancarkan rencana liciknya dan melangkah kedepan di atas lawan yang ia hadapi. Sebagai pangeran angkat, kedudukannya bahkan lebih tinggi dari Arlo sendiri dan membuat kekacauan disana sini. Semua itu juga tidak terlepas dari perintah ibunya sendiri, Ratu Alice yang memimpin kekuasaan Barat, Blood Of Desert.


Dikarenakan ancaman yang tidak dilirik sedikitpun, maka Daniel mengirimkan pesan langsung kepada ratu dan menyatakan perang untuk merebutkan inti api. Meski dengan perasaan terpaksa, ia menyetujui dan menentukan perang adil yang akan digancarkan, meski ia sendiri tidak yakin apa perang itu akan benar-benar bisa dikatakan adil.


...(----------------)...


Di sebuah hutan, seorang pria dengan rambut pirangnya berjalan santai menuju kesesuatu tempat, sampai di sebuah rumah besar dengan padang rumput yang mengelili halaman rumah tersebut. Saat ia baru saja menginjak rumput tersebut, ia langsung menghentikan langkahnya dengan mendapati seseorang yang berdiri tidak jauh di depannya.


“Yo, kau masih mengingatku? Inti Api? Atau bisa kukatakan, Leo…?” celetuk seorang pria yang muncul tiba-tiba dan menghadang dirinya.


“Jadi sekarang kau datang kemari untuk menangkapku lagi?” Leo menyahut dengan memasang wajah yang kesal.


“Tidak juga. Tuan Daniel menyuruhku untuk membunuhmu apa bila kau terlalu merepotkan untuk dibawa. Setelah kematianmu, akan ada anak kecil yang lahir dan itu akan lebih mudah untuk ditangkap, benarkan?” Vion tampak penuh rasa percaya diri.


“Tentu saja. Tapi bukankah kau harus mengulang dari awal lagi!”


Kobaran api menyambar begitu cepat kearah Vion dan meninggalkan bekas hitam dimana Vion sebelumnya berdiri. Pria itu melesat dengan pedang di tangannya dan menguhunus kearah Leo. Ia menebas-nebas dan mengambil kesempatan untuk menggores tubuh lawannya. Namun tidak sedikitpun serangannya dapat mengenai sasaran, sedangkan Leo sendiri terus berusaha sekuat tenaga melawannya.


Sampai di suatu kesempatan, Leo tertekan dan memaksanya untuk menahan langsung bilah pedang yang menebas dirinya dengan menyilangkan kedua lengannya.


“Jadi benar, pria itu yang melatih dirimu untuk mengendalikan api ini? sekarang kau tidak terbakar oleh apimu sendiri, kan?” celetuk Vion yang semakin menekan Leo dengan pedangnya.


Darah mengalir keluar dari lengan kiri Leo dan membasahi warna merah di jas putihnya, ia tampak meringis menahan rasa sakit di tubuhnya. Di sisi lain, senyuman tergores di bibir Vion sambil ia terus menekan pedangnya masuk kedalam lengan lawannya.


“Apa hanya sampai disini kemampuanmu…?”


Dengan memaksakan dirinya, darah semakin menyembur keluar saat Leo berusaha sekuat tenaga dan menghempaskan pedang lawannya. Dengan sedikit tertatih, Vion terdorong mundur dan langsung melompat menjauh saat mendapati kobaran api besar yang hendak menerjang dirinya. Tentu saja ia sudah terlambat karena saking besarnya, kobaran itu hampir membakar seluruh bagian kakinya dan meninggalkan bekas gosong di tubuhnya.


“Kau…!” dengan wajah yang begitu kesal, ia menerjang Leo dan balik menebasnya hingga menggores lubang di perut pria itu.

__ADS_1


“Akr…!” Leo tersungkur di tanah dengan menahan darah yang keluar dari dalam perutnya.


Vion melangkah mendekat sambil menyeret sabitnya dan mengangkat tinggi-tinggi di atas kepala.


“Kau itu sangat merepotkan! Cepatlah berakhir, dasar Anak Api!” sabit ditebas dan menancap tepat di samping Leo tergeletak, karena kobaran api lain melesat tepat di samping kepala Vion dan memaksa dirinya sendiri untuk menhindar.


Leo segera menyeret tubuhnya saat Vion lagi-lagi mengangkat sabitnya di depan wajahnya. Darah yang mengucur keluar dari kedua lengan dan perutnya perlahan berhenti disertai dengan lukanya yang tertutup. Dengan menunduk sambil menahan tubuhnya, Leo yang tertatih kembali mengangkat tubuhnya dan mengalihkan pandangannya pada Vion.


Namun saat sadar dia sudah di hantam dengan keras dan melesat hingga menabrak pintu Valay dan menghancurkan beberapa perabotan di dalam rumah. Dari kejauhan, Vion sudah menyusul dengan menyeret sabitnya hendak masuk kedalam. Leo melirik bilah pedang biru yang menggantung di dinding tidak jauh darinya, sontak ia menyahutnya dan melesat kearah pintu dengan menguhunus pedang tersebut.


“Tidak ada yang boleh masuk di luar ijin Tuan Arlo!” dengan keras ia menerjang tubuh pria di hadapannya dan tertahan dengan kuat oleh pedang Vion.


“Oh, rupanya kau sudah belajar bertarung, ya? Seingatku dulu, kau hanya seorang anak kecil yang selalu menangis setiap malam di kurunganmu. Aku sampai merasa kasihan kepadamu.” Celetuk Vion dengan senyumannya yang terkesan merendahkan.


“Cih! Vion…!” dengan sekuat tenaganya, Leo mendorong pedang biru yang menyala-nyala ditangannya.


“Heh….” Senyuman tergores di bibir Vion.


Saat itu juga, lima sosok iblis muncul, berdiri di balik jubah dan langsung menerjang kearah Leo dengan senjatanya masing-masing. Sontak dengan terpaksa ia segera melompat mundur dan berusaha menghindari serangan apapun yang menerjang dirinya.


Tidak berselang lama dalam posisi itu, satu tombak besar dengan diapit empat anak panah di sampingnya menerjang dirinya. Sontak ia segera menarik dirinya mundur guna menghindarinya, namun lagi-lagi seseorang menghantam dirinya dengan sangat keras di luar kesadarannya. Punggung gagang sabit Vion tinding dengan pundak Leo dan membuatnya terhempas sangat jauh hingga menerjang pepohonan di hutan dan merobohkannya.


“Heh, bawa tubuhnya. Tuan Daniel pasti akan bersuka cita dengan berita ini.”


Dalam pandangannya yang sudah mulai kabur, Leo berusaha sekuat tenaga menyeret dirinya untuk bangun. Namun semua usahanya hanya sia-sia, pandangannya semakin suram dan kesadarannya mulai menghilang. Tubuhnya yang lemas dibawa Vion pergi masuk kedalam hutan dan lenyap dari balik pepohonan.


...(----------------)...


Dengan melesat bagaikan kilat, sosok samar pria dengan pakaian serba hitam menerjang pepohonan di hutan dan menghempas apapun yang menghalangi langkahnya. Sampai ia berhenti di sebuah tempat dan menampakkan sosok pria yang tidak asing. Dengan wajah yang penuh rasa kesal, Arlo melangkah dengan tergesa-gesa dan membanting pintu masuk Valay.


“Leo…! Leo! Apa kau ada dirumah! Leo! aku memanggilmu, Anak Muda! Apa kau dengar! Leo!” dengan keras Arlo memanggil-manggil nama itu sambil mengelilingi seluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


Menyadari tidak ada hasil apapun dengan apa yang ia lakukan, dia melangkah keluar dengan menyeret sabitnya dari dalam rumah. Raut wajahnya bagaikan monster marah yang bersiap menghancurkan dunia, Arlo menatap tajam, melirik kesana-kemari.


“Sepertinya Anda benar-benar berhasil menyulut kobaran api, ya? Tuan Arlo.” Celetuk seorang wanita cantik dengan gaun merahnya, berjalan dari belakang Arlo berdiri.


“Liya! Apa kau bisa melacak mereka lagi!”


“Maaf, Tuan. Sepertinya mereka tidak meninggalkan apapun untuk bisa saya digunakan.”


Sosok Liya sudah muncul disana sini dengan menatap sekitar dan mendapati sebilah pedang permata biru yang tergeletak di samping pepohonan tumbang dan hancur. Dia meraihnya dan kembali menghilang kehadapan Arlo dengan mengulurkan sebilah pedang tersebut.


“Sepertinya Tuan Leo sudah dibawa paksa oleh mereka, Tuan. Mengingat rencana Anda yang sudah hancur berantakan, sekarang apa yang akan Anda lakukan?”


“Tentu saja kita selamatkan anak itu dulu! Raja akan menahan monster itu sampai aku kembali.”


“Baiklah. Sesuai kehendak Anda, Tuan Arlo.” Liya lenyap lagi dari balik bayangan Arlo.


Saat ia hendak melangkah pergi tanpa tau tujuan, langkahnya terhenti oleh seseorang yang menceletuk sesuatu, tidak jauh darinya berada. Saat Arlo menoleh, ia mendapati sosok wanita tidak asing dengan set perang ketat berharna hitam melangkah mendekatinya dengan menyeret sabit merah di tangan kirinya.


“Jadi aku sudah terlambat, ya? Aduh, Arlo. Kau itu memang tidak bisa diandalkan, ya?” goda sosok wanita itu.


“Apa maksud kalimatmu itu, ibu. Aku tidak punya waktu untuk meladeni permainanmu itu!” dengan wajah kesal yang sama, Arlo menyahut sambil memalingkan pandangannya dari ratu.


“Permainan? Oh, aku rasa itu juga akan bagus, Anak Muda. Jadi, apa kau akan pergi menyelamatkan anak kecil itu?”


Tanpa memberikan jawaban apapun, Arlo melanjutkan langkahnya begitu saja tanpa mendengarkan kalimat ibunya.


“Apa kau tau dimana ia berada, Arlo?”


“Tentu saja tidak! Akan aku cari kemanapun, bahkan hingga uharus ke ujung dunia ini!”


“Itu tidak perlu. Ada sebuah portal yang muncul secara tiba-tiba beberapa waktu yang lalu di-“ kalimat ratu belum selesai namun Arlo sudah melesat di udara dengan meninggalkan bekas ledakan besar di tempat sebelumnya ia berdiri.

__ADS_1


“Dasar anak itu, sebenarnya apa yang diajarkan Nita waktu ia kecil? Sekarang, apa pangeran tampan itu masih bermain di sana. Pasti ayah sangat kerepotan dengannya. Hihi…” wanita itu lenyap bagaikan kabut dan menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.


...~ Rencana Licik ~...


__ADS_2