
Dengan segerombol iblis yang sudah mengering drastis, Daniel mengambil kembali tubuh dengan empat tangannya. Masing-masing sepasang membawa pedang dan tombak yang sama persis seperti sebelumnya. Dia menatap Arlo dan melirik gadis yang ada dalam pelukannya, pedang emas itu sudah tersembunyi kembali dari balik tubuh Eri karena dia sendiri telah pingsan.
Pertarungan ini hanya menyisakan penyesalan dalam diri Arlo, sebelum sadar semua orang di bawah perintahnya sudah terbaring tak bernyawa di sana. Sedangkan Ferdi dan Sina masih entah ada di mana kerena sebelumnya mereka berada di bawah pimpinan Eri. Ditambah lagi, sepertinya Daniel mulai serius dengan mengambil wujudnya seperti itu.
“Arlo! Jangan hanya duduk dan merenung saja!” dua tombak sudah mengarah pada mereka berdua.
Arlo terpakasa melompat, menjauh dengan menggendong Eri di pangkuannya. Mereka melayang selama sesaat dengan Danel yang berasaha terus mengejar, namun ia tertahan oleh sabit Arlo. Untuk saat ini, Liya yang bertarung sementara Arlo pergi untuk membaringkan Eri. Ditanyalah Arlo kepada gadis itu, apa yang sebenarnya terjadi dan membuatnya pingsan.
“Hanya hal yang sama dengan kontrak yang kau buat sebelumnya…” Eri menjawab lemas dengan senyuman kecil di bibirnya.
“Pergilah, Arlo. Aku akan baik-baik saja….” Lanjut Eri, mengangkat tubuhnya untuk duduk.
Tentunya Arlo mengangguk dan sesegera mungkin untuk pergi. Dengan sabit di luar jangakuannya, Liya sendiri belum tentu akan menang meski dia tidak akan mati. Tapat saat Arlo sampai di sana, Daniel sudah menggenggam balik sabit itu di tangan kirinya yang menggantikan sebuah pedang sebelumnya. Sedangkan Arlo sudah tidak dapat merasakan keberadaan Liya di manapun.
Dia tercengang seakan tidak percaya, bagaiman bisa Liya sendiri di kelahkan atas hak kepemilikan sabit itu. sedangkan Daniel yang sedang sibuk menyerap iblis-iblis lain di sekitarnya, mulai menyadari keberadaan Arlo. Ia berbalik dan memasang senyuman lebar ke arah Arlo sebelum sesaat kemudian, dia sudah melancarkan serangannya.
“Bagaimana kau bisa menggenggam sabit itu? di mana Liya!” ucap Arlo. Ia berusaha menahan pedang yang hendak memenggal kepalanya dengan sebuah belati kecil.
“Kau cerewet sekali!” Daniel menebas tubuh Arlo dan merobeknya dengan sabit Arlo sendiri.
Daniel terpaksa mundur karena api yang tiba-tiba menyelimuti tubuh Arlo. Perasaan kesal tergambar dari wajahnya yang menatap tajam. Arlo berbalik dan meraih belatinya bersamaan dengan api yang menyelimuti belati itu. Dia melesat dengan cepat melepaskan api dari dalam belati itu seperti sebuah panah.
Dengan sabit Arlo sendiri, Daniel menepis api itu dan balik menyerang. Mereka saling beradu dengan pedang di tangan kanan Daniel. Tepat saat keduanya saling berhadapan, api yang menyelimuti belatinya memanjang, menyerupai sebuah pedang. Sabit yang ada di tangan Daniel hendak diraih oleh Arlo, namun Daniel dengan cepat menyadarinya dan balas mendorongnya mundur.
__ADS_1
Arlo yang tertatih kebelakang, langsung di tusuk dengan pedang Daniel dan memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Tidak berhenti dari situ, dia menendang kepala Arlo hingga terjengkal kebelakang. Arlo yang terbaring di tanah masih berusaha untuk melegakan nafasnya, hendak di tusuk lagi dari atas. Sontak ia berguling untuk menghidari serangan Daniel.
Darah yang baru saja masuk kedalam tubuhnya, sudah kembali menyembur keluar dengan sabit yang lagi dan lagi membabat tubuhnya.
“Hahaha! Kau senakin lemah saja Arlo…! Bagaimana ini? Apa kau akan berakhir sekarang…? Arlo yang abadi…”
“Memangnya atas dasar apa kau mengatakan itu….” sahut Arlo dengan mengangkat tuubuhnya perlahan.
Dia menggenggam kuat belati di tanganya dan sedikit demi sedikit api mulai kembali menjalar di tubuhnya. Sedangkan Daniel malah terlihat semakin senang dengan senyuman yang lebar, menatap balik kearah Arlo.
“Kita mulai lagi…?”
“Lajutkan saja….”
Daniel menghempaskan tombaknya bersama dengan sabit yang membelok di belakang. Perlahan tapi pasti, Arlo berlari ke arahnya dengan belati di depan wajah. Saat tombaknya berhasil membentur belati Arlo, tombak itu berbelok kearah sabit dan mementalkan keduanya. Hal itu mengganggu pandangan Daniel dari depan.
Darah mengembur tepat di depan wajah Arlo yang tersungkur di tanah. Dia berbalik dan menatap ke arah Daniel, sedangkan Daniel berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya di sertai dengan lengan kiri bawahnya yang mulai lenyap kembali kedalam tubuhnya.
“Kenapa kau menyembunyikan tanganmu…?” celetuk Arlo sembari mengangkat tubuhnya.
“Kenapa kau peduli, apa masih karena ini….” Sahut Daniel dengan menodongkan kabel sabit di tanganya.
Bersamaan dengan itu, Daniel melirik kesisi kanan-kirinya seakan mencari-cari sesuatu. Namun sepertinya dia tidak menemukan sesuatu yang ia cari. Akhirnya dia mengambil kembali wujud normalnya dengan satu pedang dan tetap menggenggam sabit Arlo.
__ADS_1
“Daniel! kalau kau hanya sekedar untuk bersenang-senang kenapa kau tidak menikmati pertarungan ini dan mengembalikan sabitku. Apa kau takut kalah dengan ku?” bujuk licik Arlo.
“Siapa yang peduli Arlo, tapi memang benar. Aku takut dengan senjata utamamu ini. Meskipun begitu, aku akan tetap membunuhmu, Arlo…!” sahut Daniel dengan pedangnya.
“Senjata utama? Arkh!” mereka kembali beradu satu sama lain.
Tatapan yang berlawanan terlihat saat sepasang mata mereka bertemu. Sedangkan Arlo hanya terus mencuri-curi pandang untuk mengambil kembali sabitnya. Daniel yang sejak tadi hanya terus tersenyum, balik mendorong ke arah Arlo sekuat tenaga dengan pedang di tangan kanannya. Sedangkan sabitnya masih tergeletak di tampat yang sama sebelumnya.
Arlo terdorong mundur terus-terusan, sedangkan belatinya mulai retak karena tekanan hebat. Usahanya untuk membalikkan keadaan, namun dia malah semakin terpojok dan bertekuk lutut di tanah. Sampai saat belatinya sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, Arlo melepaskan tekanan itu dan dia berbalik. Tubuhnya yang berdiri di samping Daniel, berusaha untuk menusuk punggungnya lagi.
Belati itu sudah melayang tepat di atas kepala Daniel. Namun saat itu juga, Arlo langsung di tandang dengan sekuat tenaga hingga ia terlempar sangat jauh. Dengan belatinya yang sudah tidak dalam genggaman, dia bersuaha untuk mengendalikan tubuhnya di udara namun ia gagal lagi. Sampai akhirnya dia menghantam jatuh di suatu tempat dan terbaring lemas di sana.
Tempat di mana Arlo terbaring setelah menerima tendangan itu, sebelumnya adalah sebuah sungai yang terakhir kali ia lihat saat senja hari setelah pergi kepasar, mengingatkan ia dengan masa lalunya di sini. Airnya yang sangat jernih dulu, kini hanya menyisakan darah yang mengalir di sepanjang sungai itu.
Arlo mengangkat tubuhnya dan menatap sungai itu. Tanpa sadar ia meneteskan air mata hingga termenung selama beberapa saat, sampai Daniel datang menyusulnya.
Sabit yang sama melesat dengan di selimuti aura gelap di sekitarnya, menghantam tepat di mana sebelumnya Arlo terbaring, disusul Daniel di depan dengan pedangnya. Mereka saling beradu dan Arlo hanya bisa bertahan dengan belati kecil miliknya dalam posisi di bawah. Dalam kesempatan itu, Daniel menghempaskan sabit di tanganya dan merobek tubuh Arlo, lalu ia di tendang hingga terjengkal mundur.
Darah yang menyembur kemana-mena mulai kembali ketempat semula, sedangkan Arlo berusaha mengangkat tubuhnya yang di tindih oleh Daniel. karena sabit yang melayang tepat di atas kepalanya, Arlo hanya fokus dengan itu dan menahannya dengan belati. Pedang menusuk tepat di dada Arlo hingga ia memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
“Wah-wah, apa kau sudah kelelahan Arlo…? Hehh… bangunlah Arlo….” Bisik Daniel dengan senyuman lebar di bibirnya.
Arlo hanya bisa meringis kesakitan dengan tubuhnya yang penuh lika berdarah. Dia terus memaksakan untuk bangun, namun tenaganya tidak cukup untuk bisa mengangkat tubuhnya sendiri. Sedangkan dengan riangnya Daniel menusuk-nusuk tubuh Arlo dengan kedua pedangnya di setiap sisi. Rasa sakit itu semakin membuat Arlo lemas dan pandangannya semakin buram.
__ADS_1
Dia sudah tidak dapat melihat apapun di sekitarnya, hanya kegelapan pekat yang menjadi bayang-bayang di kepalanya. Sampai terdengar suara kecil di telingannya.
“Apa kau sudah menyerah, Pangeran…?”