
Saat Ferdi dan Sina berusaha berlari sekencang mungkin ka arah Arlo dengan mengikuti aliran sungai itu, seorang wanita yang saat itu melayang di udara tiba-tiba melirik sesaat pada mereka berdua. Sesaat kumudian, terlihat ia menjantikkan jarinya dan tanah tiba-tiba kembali berguncang dengan sangat kencang hingga mereka kehilangan keseimbangan.
Dari kejauhan, mereka melihat Arlo dan Eri di sana dengan terus berusaha sekuat tenaga untuk menyusul mereka.
“Ferdi! Aku sudah tidak kuat lagi… tubuhku sudah mati rasa,” ucap Sina di belakang, dengan nafas yang tidak karuan.
“Cepat! Naiklah!” Ferdi menyodorkan punggungnya untuk menggendong Sina dengan kondisinya seperti itu.
“Apa kau sudah gila!”
“Cepat! Kita tidak punya banyak waktu, sebelum Tuan Arlo-“
“Ferdi! Pikirkan dirimu, apa yang akan kau dapat dari semua ini!” dengan air mata yang mengalir, Sina menatap Ferdi penuh rasa kesal dan kecewa.
Saat itu juga, wajah Ferdi berubah drasti. Dia menatap balik Sina dengan sangat terkejut, tidak habis pikir dengan apa yang di katakan gadis itu. Dia mendekat dengan menepuk lembut rambut gadis itu dan tersenyum selama sesaat, lalu ia berlari dengan sekuat tenaga kembali menyusul Arlo dan Eri tanpa sepatah kata lagi. Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, Sina hanya bisa menatap pasrah dan bertekuk lutut di tanah.
Sampai saat Ferdi sudah dekat dengan Arlo dan Eri, pemandangan di sana mulai jelas. Tanah mulai terbelah di bawah kaki mereka berdua dan menjadi semakin lebar, menelan mereka berdua dengan begitu cepat. Ferdi berlari dengan putus asa ke arah mereka berdua sampai di bibir retakan itu, ia berhenti tepat di tepian dengan mengintip ke bawah.
“Tuan Arlo!” teriaknya begitu keras.
Saat itu juga, retakan itu kembali menutup dan menghantam tubuhnya hingga terlontar cukup jauh. Dia terbaring di tanah, sampai menyadari ada seseorang yang sedang menatap dan melayang tepat di atasnya.
“Mereka sudah tertelan, mungkin saja mereka tidak akan bisa keluar. Lalu... kau itu siapa, Ferdi…?” celetuk ratu dengan senyuman tipis di bibirnya, logam besi sepanjang tiang sudah melayang tepat di samping wanita itu, mengarah langsung pada Ferdi.
“Keluarkan mereka berdua!” Ferdi menggertak meski tau tubuhnya gemetar hebat, penuh ketakutan.
“Lalu, apa yang akan aku dapat dari itu…?”
Bersamaan dengan senyuman angkuhnya, ratu melesatkan logam besi itu langsung ke arah Ferdi. Saat itu sudah melayang tepat di depan wajahnya, logam itu berbelok dan menancap tepat di sampingnya berdiri setelah anak panah menghantamnya dengan keras. Seorang gadis berlari menyusul Ferdi di sana.
“Sina!?” Ferdi terlihat begitu terkejut.
“Kau ini, benar-banar Bodoh…!”
Sina berlari dengan terburu dan berdiri tepat di depan Ferdi. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar pria di depannya, namun ia mengurungkan niatnya. Gadis itu mengalihkan pandangan dan menatap tajam ratu di sana. Sedangkan ratu itu tersenyum tipis dan mengangkat salah satu tangannya di udara.
"Jadi, dia biang masalahnya?" celetuk gadis itu, mengalihkan pandangan.
"Eh? ohh... apa kau sangat marah?"
"Apakah itu pantas untuk di tanyakan?" Sina tetap memalingkan pandangannya.
"Baik-baik, maaf. Aku minta maaf..." Ferdi hanya tersenyum kecil dan berbalik pada sang ratu.
Wanita itu hanya terus menatap mereka dengan penuh keangkuhan.
“Kalian berdua! bukakah kalian sudah tidak punya tujuan hidup? Bagaimana kalau kalian mati saja…!”
__ADS_1
Bikan kalimatnya yang membuat mereka berdua semakin gentar, melainkan bola api seukuran luas lapangan, melayang tepat di atas wanita itu. Rasanya, tubuh mereka berdua begitu kaku dan tidak bisa di gerakkan. Dengan cepatnya, bola api itu melayang ke arah mereka bedua tanpa ada kesempatan untuk menghindar.
Saat itu juga, api lain tiba-tiba menyelimuti mereka berdua sebelum bola api itu sempat menyentuh mereka. Samar-samar, seorang pria dengan jubah penuh robekan, berdiri tepat di depan mereka dengan bersembunyi di balik tudungnya. Mereka berdua begitu terkejut, sampai sadar-sadar sudah berdiri di tempat yang berbeda.
“Ini...! Soul Of Dark!” ucap Sina yang terkejut setelah apinya lenyap.
“Kita diantar kembali… siapa pria itu?”
Di tempat sebelumnya, sang Ratu Alice memasang wajah kesal dengan menggertak giginya sendiri. Dia melirik secercah cahaya yang ada di tengah-tengah reruntuhan desa itu dan menatapnya dengan tajam. Selama sesaat, cahaya itu berubah perlahan dari merah gelap menjadi semakin terang dan berubah hijau keseluruhannya.
“Cih! Raizel…!” serunya kemudian pergi dari balik portal.
Dari balik cahaya itu, seorang pria dengan didampingi gadis di sebelahnya, tersenyum tipis menatap cahaya senja yang perlahan menghilang di sisi barat.
“Dengan begini tugasmu selesai, kan?”
“Kita pergi…?” celetuk pria itu.
“Baik, Ayah….”
Sampai saat itu juga, rumput tumbuh perlahan-lahan memenuhi seluruh tempat. Disusul pepohonan yang mulai mendominasi dan merubahnya menjadi hutan yang begitu lebat bersamaan dengan malam berbintang yang begitu indah.
...(----------------)...
Di sebuah hutan lebat yang tenang dalam kegelapan malam, cahaya keluar di bawah tanah dan menerangi sekitarnya. Samar-samar sesuatu terlihat menguap dari dalam tanah dan membentuk sesuatu di sana. Terlihat dua sosok orang yang berjalan berdampingan. Seorang pria dan gadis yang berjalan berdampingan itu, tersembunyi dari baik jubah dan berjalan diselingi pepohonan hutan.
“Bukankah kau belum menyelesaikan perjalananmu?”
“Sebenarnya begitu, tapi kupikir Nona akan lebih baik menenangkan diri setelah semua ini,” pria itu menelangkupkan tudungnya, menutup tanduk yang menjulang di dahinya.
“Baiklah, sudah di putuskan. Kita selesaikan perlajanan ini?”
“Baik… ngomong-ngomong, bagaimana dengan mereka berdua?”
“Diantar pulang, tenang saja. Kau selalu cemas seperti itu, Arlo…”
Mereka berdua lenyap dari balik pepohonan dan menghilang tanpa jejak. Dengan cahaya rembulan yang menyinari sebuah jalan, tidak akan ada ujung untuk sebuah dunia yang tak terbatas. Sampai saat semuanya menghilang tanpa sisa, langkah berhenti dan berulang.
...(----------------)...
Di pagi hari yang begitu cerah, matahari menerangi hutan lebat yang di penuhi oleh kehiduapan. Burung-burung berkicau dengan diiringi angin yang bertiup kencang di sana. Seorang pria sedang tertidur pulas dengan bersandar di bawah pohon dan mulut yang terbuka, menutup sebagian tubuhnya dengan jubah gelap. Sampai ia terbangun dan menyadarkan dirinya, mengangkat perlahan tubuhnya dan menatap seseorang yang berjalan perlahan kearahnya.
“Selamat pagi, Arlo…” seletuk seorang gadis dengan rambut panjang yang terselip di pundaknya, menggores senyuman hangat di bibir Arlo.
“Selamat pagi, sarapan apa hari ini, Nona?” celetuk Arlo dengan menyeret tubuhnya mendekat.
“Tidak ada apapun, mungkin buah bisa. Ini, air yang aku bawa tadi,” Eri mengulurkan secangkir gelas yang terbuat dri kayu.
__ADS_1
“Terima kasih, kalau begitu kita cari sarapan terlebih dahulu?”
“Baik…”
Arlo meregangkan tubuhnya dan beranjak dari tempatnya duduk dan berdiri dengan tegap, mengulurkan tangannya pada Eri. Mereka berdua beranjak pergi dan masuk semakin dalam di hutan.
“Nona, apa kau sudah lelah untuk ini?” celetuk Arlo dengan menutupkan tudung pada Eri.
“Apa kau punya sesuatu untuk di katakan?”
“Ya, sebenarnya... Nona!" Arlo menatap tajam gadis di sampingnya dengan wajh yang seram.
"Ya...! berhenti memasang wajah seperti itu, Arlo!?
"Ini sudah cukup lama, sudah banyak yang pernah kita lihat. Apa kau tidak ingin untuk pulang?”
“Pulang? kemana?”
“Rumah, kemana lagi?” Arlo mengehentikanlangkahnya.
Eri terlihat terkejut saat Arlo mendekatkan wajah tepat di depannya. Tepat di samping telingannya, Arlo membisikkan sesuatu yang lembut padanya.
“Nona, apa kau tau?
… Aku sudah menunggumu selama seratus tahun,
… kini, mari kita pulang,
… bersama,
… kesisi gelap, dari dunia ini.”
Saat itu juga, cahaya cerah matahari menyilaukan pandangan. Mereka berdua tiba-tiba lenyap dari pandangan.
...~ Sekian ~...
**Sebelumnnya, Author mohon maaf banget karena up yang begitu lama, sampai Author sendiri juga udah bosan nunggu. Maaf Banget Ya ^_^
Dan juga, terima kasih sekali buat yang sudah mendukung kisah ini. Ini adalah novel pertama Author, meski awalnya juga cuman coba-coba. Terima kasih buat semua dukungannya.
Untuk saat ini, Perjalanan Keabadian masih belum tamat, ya. Masih ada beberapa Episode gantung dan janji Author yang sebelumnya. Ada tokoh yang sangat memengaruhi Pangeran Arlo dipertarungan akhir dan belum dijelaskan.
Selain itu, ada sedikit pesan yang ditinggalkan oleh Panglima Perang Jendral Khira Daniel, sebagai berikut** ;
"Diawal impian sang Protagonis, hal buruk akan terjadi. Perintah yang di jalankan secara tidak benar dan menyeleweng dari peraturan. Bawahan yang licik akan menghianati tuan mudanya. Kematian sudah menunggu di depan mata, sekian.
Oh ya, Terima kasih untuk yang sudah setia membaca novel online ini, semoga kejayaan dan kesetiaan selalu menyelimuti kalian."
__ADS_1