
“Arlo bagaimana harimu di sini?”
“Biasa saja, tidak ada yang sepesial, tapi..”
“kalau begitu kau akan dengan mudah menyelesaikannya”
“Memang bagaimana caranya?”
“Aku masih memikirkannya..”
...(----------------)...
Pagi ini Arlo bangun dan membuka matanya, menatap luar jendela bersamaan dengan cahaya matahari yang baru muncul. Rasanya ketenangan begitu memenuhi sekitar. Tapi ketenangan itu seketika memudar begitu saja saat terdengar seorang gadis yang berteriak-teriak di lantai bawah bersama seseorang. Mendengar itu Arlo segera turun dan memastikannya.
“Paman.. paman.. aku ingin minuman itu”
“Eh.. jangan ini bukan minuman untukmu, bukankah di sekolah di ajari tentang itu?”
“Tapi kan aku sudah cukup dewasa untuk meminumnya”
“sstt.. aku mendengar ada yang mendekat”
Arlo turun memastikan apa yang terjadi di lantai bawah. Belum saja sampai, ia sudah di tubruk badan mungil seorang gadis. Gadis itu sangat manis yang memakai switer panjang dan bando di kepalanya. Dia terkejut saatmenabrak pria yang baru turun tangga di depannya dan wajahnya memerah.
“Ah.. kakak aku sudah menunggumu sejak tadi. Kakak tidurnya lama sekali”
“Ee.. Pak Harto?” Arlo bertanya dengan wajah pasrahnya yang konyol.
“Ah.. maaf-maaf. Ini keponakanku namanya Rina, di kesini untuk beberapa hari bersama adikku, ayahnya. Dia kemari karena liburan sekolah, dan sampai di sini kemarin siang. Padahal kemarin aku menunggumu di rumah tapi kau tidak datang” terang pak Harto sambil menarik tangan keponakannya.
__ADS_1
“Okeh..” Arlo mengangkat tangannya sambil mengacungkan jempol. Tangan Arlo di raih oleh Rina dan di tarik keluar dari penginapan itu secara tiba-tiba.
“Ayo kakak, kita keliling desa dan temani aku bersama paman!”
“Tapi.. ehh!” Arlo sudah di tarik keluar dari penginapan dengan di ikuti Pak Harto di belakannya berjalan perlahan.
“Arlo, kemarin aku menemui atasanmu untuk meminta ijin libur satu hari ini. Aku akan menunjukkanmu pada ayahnya”
“Tapi kenapa ak-“ Arlo diseret oleh kedua orang itu menuju rumah pak Harto.
Sampai di rumah Arlo melihat pria yang duduk bersama dengan Eri sedang sarapan di meja makan. Eri tersenyum manis pada Arlo dan menawarinya untuk makan. Di sebelah Eri seorang pria yang hampir seumuran dengan pak Harto duduk dan makan bersamanya. Pria itu menatap Arlo dan tersenyum padanya.
“Oh.. ini dia, calon keponakan baruku, aku sudah menunggumu dari tadi nak. Eh.. mari, mari makan dulu. Eri tadi memasak dengan semangat sambil bernyanyi-nyanyi untukmu”
“Ehuk.. ehuk..” mendengar kata pamannya Eri tersedak makanannya sendiri karena terkejut.
“Eri.. kau ini kenapa?. Minum.. minum ini” Arlo menyuapi Eri minum untuk meredakan tersedaknya.
“kenapa malu Eri, kami semua kan sudah tau”
“Ee.. maaf, aku tidak tau apa yang terjadi di sini, jadi.. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kalian mengatakan hal-hal yang aneh seperti ini!” Arlo benar-benar terlihat kebingungan dan amarahnya membuat hening sekitar.
Keheningan itu pecah saat Paman Eri tertawa, itu pun malah di susul oleh Pak Harto yang juga ikut tertawa. Hal itu malah semakin membuat Arlo bingung dan kesal. Namun akhirnya kedua pria itu menjelaskan pada Arlo.
“Dengar nak aku Yuri, karena Eri tadi memanggilku paman maka kau tau sendiri aku pamannya Eri dan aku ayahnya Rina, selain itu aku juga adik dari Ayahnya Eri. Lalu, kami datang kemari atas panggilan kakak, dia sudah menyuruh kami datang sejak 2 bulan lalu. Dia bilang ada anak yang ingin di lamarnya tapi masih belum tau siapa. Dia bilang datangnya dari mimpi atau entahlah” di samping itu, Eri mengulurkan piring yang berisi makanan di depan Arlo dan meletakkannya di atas meja, menyuruhnya makan.
“Sebelumnya aku tidak percaya, lalu.. beberapa hari yang lalu dia bilang kedatangan seorang pria yang persis dia lihat di mimpinya dan takdir pun terus berjalan. Lalu aku mulai percaya dan datang kemari, aku sampai di sini tepat kemarin siang. Dari penjelasanku tadi, ada yang ingin kau tanyakan?” lanjut Paman Eri.
“Lalu siapa pria yang di mimpikan pak Harto?” Arlo bertanya setelah menelan makanannya.
__ADS_1
“Bukan kah sudah jelas. Itu kau nak..”
“Oh.., apa!” Wajah Arlo yang awalnya tenang-tenang saja saat makan berubah menjadi tegang.
Wajah Eri juga tiba-tiba berubah merah dan ia pergi meninggalkan meja makan sambil mendorong ayahnya keluar rumah. Di luar terdengar jelas seorang wanita yang marah-marah tidak jelas, sedngkan yang di dalam malah senyum-senyum sendiri.
“Dengar Arlo, di benar-benar mirip seorang ibu ya? Hihi..” celetuk Pak Yuri sambil cekikian.
Karena terpaksa Arlo sudah tidak peduli dengan apa yang dia dengar dan membiarkan semua terjadi begitu saja. Mereka semua menghabiskan hari bersama dan bersenang-senang di rumah Pak Harto. Arlo hanya menikmati hari itu dengan makan dan beberapa pertanyaan tentang Paman Eri dan selain itu dia juga bermain dengan gadis kecil putrinya Paman Eri yang imut itu bersama Eri. Di sana selama 1 hari penuh sampaihari menjadi gelap, saat itu Arlo sudah hendak keluar dan berpamitan. Tapi adik kecilya Eri itu menahannya dan menanyakan hal aneh pada Arlo.
“Eh.. kakak mau kemana?”
“Ee.. hari mulai gelap, kakak harus pulang, besok kakak harus bekerja”
“bukankah kakak bisa tinggal di sini, kakak kan bisa tidur bersama kak Eri” dengan wajah polos tak bersalah Rina menunjuk pada Eri.
Lagi-lagi wajah Eri merah dan lebih merah dari sebelumnya “Paman lihat putrimu ini, tolong ajari cara sopan santun pada tamu”
“Hei Rena.. ini sudah gelap kau harus segera tidur” bisik Paman Eri sambil menarik tangan putrinya menjauh. Kemudian Arlo mendekati Pak Harto yang sedang berdiri tepat di depan pintu.
“Baiklah pak Harto, aku akan kembali ke penginapan, terima kasih untuk pestanya hari ini. Nona Eri aku pulang dulu, selamat malam”
“Selamat Malam” mereka berdua tersenyum hangat dan mengangguk pada Arlo saat ia keluar.
Arlo berjalan dipinggir jalan sendirian tubuhnya lemah dan semakin membungkuk, rambut putihnya mulai menyelimuti kepala.
“Lagi-lagi ke maleman. Aku harus segera pulang”
Sampai di penginapan, Arlo masih hendak masuk kedalam terasnya. Tapi dari kejauhan sebuah panah menancap di tiang penyangga teras penginapan. Kemudian Arlo mencabutnya dan melihatnya secara jelas, panah itu tertancap dengan sebuah secarik kertas yang di ikat dengan tali yang berwarna merah. Arlo mulai membaca surat itu dengan perlahan dan mulai memikirnya sesaat.
__ADS_1
“Tunggu anak muda, ini masih awal saja jadi kau jangan terlalu sombong dan percaya diri. Pasukanku akan datang lusa dan menyerang desa yang kau lindungi itu”
Kemudian ia mulai menguap dan membuang surat itu dan meninggalkannya. Surat itu lenyap seketika saat mengenai tanah bersamaan dengan panahnya yang memudar.