Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 39 - Iblis.


__ADS_3

Seorang anak duduk bersandar di bawah pohon, di memandangi sebatang kayu yang di penuhi cairan berwarna merah dan berbau amis. Dia terlihat tersenyum, tapi di saat yang bersamaan, dia juga menateskan air mata.


Dari balik batang pohon, menampakkan seorang wanita yang tidak begitu jelas. Wanita itu tersenyum dan mengelus perlahan rambut anak itu, lalu seakan lenyap begitu saja tertiup angin.


...(----------------)...


Pangeran Arlo, seorang anak yang memiliki darah campuran dan lahir dari dunia kematian, sisi gelap dunia ini. Sekitar 120 tahun yang lalu, Pangeran Arlo dari Soul Of Dark telah di bawa pergi oleh seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya. Pria itu juga memiliki darah campuran karena menikah dengan seorang iblis, Raja Ordil.


Secara terpaksa, Arlo yang masih berusia lima tahun harus tinggal bersama dengan ayahnya di dunia manusia. Di di rawat sendiri oleh ibu tirinya yang selalu menyayanginya tidak peduli dia bukan putranya, Ratu Nita. Wanita yang di kenal dengan kecantikan dan kelembutan hatinya sebagai seorang Ratu.


Tahun pertama hidup Arlo tidaklah berbeda dari kebanyakan anak kecil. Dia bermain dan sedikit belajar di rumah bersama dengan ibunya. Dia juga mempunya seorang saudara tiri dari ibu tirinya, Yiury. Seperti pada umumnya, Arlo juga sangat menyayangi adiknya yang berusia 3 tahun di bawahnya, tapi itu cukup terasa berbeda di pikirannya karena mereka berdua seakan berbeda dunia.


Sampai saat terburuk tiba, rumor buruk mulai tersebar di kerajaan Voltara mengenai pangeran yang di bawa dari dunia kematian. Banyak para warga yang merasa cemas dan tidak sedikit yang menolak kehadirannya. Di sisi lain, keluarga bangsawan juga mulai berpikiran buruk kepada anak itu. di lihat dari manapun, tanduk kecil itu sudah membuat orang merasa merinding.


Suatu saat, Pangeran Arlo mulai di perlakukan berbeda dari yang lain, dia mulai tidak di pedulikan bahkan sampai di buli oleh para pangeran seumuran yang berkunjung ke kestil ayahnya.


“Hei, bukankah iblis tidak punya tempat di sini. Kenapa dia bisa menjadi seorang pangeran. Hahh?” segerombol pangeran seumurannya, mengeroyok dan melukai sebagian tubuhnya di ujung lorong kastil.


Sampai hari sudah gelap, ibunya mulai cemas dan mencari kemana-mana, menemukan putranya yang terbaring lemas di ujung lorong dengan penuh luka berdarah.


“Arlo! Bangun, Nak…” wanita itu membopong putranya, kembali ke kamar dan merawatnya di sana.


Dalam kondisi tidak sadar, Arlo terbaring lemas dengan luka berdarah di sekujur tubuhnya. Ibunya menangis tersedu-sedu meratapi putranya yang entah apa yang terjadi padanya. Saat Arlo mulai sadar, ibunya langsung menanyai apa yang sebenarnya terjadi. Dengan polosnya anak itu menjawab semua dengan jujur dan membuat ibunya semakin sedih.


“Kita bicarakan dengan ayahmu…” wanita itu tersenyum dan mengelus lembut rambut putranya.


“Tidak ibu, aku ingin pulang saja,”


“Tapi….”


Sewaktu-waktu, setiap kali Arlo keluar kastil setidaknya untuk bermain dan mencari teman, telinganya selalu saja mendengar bisikan-bisikan buruk tentangnya. Membuatnya berpikir mendalam dan muncul banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Semakin lama, orang-orang mulai menjahili dan menyakitinya, terutama anak-anak kota yang masih polos karena mendengar dan mengikuti kata-kata orang tuannya.


“Pergilah! Jangan ganggu kami! Dasar pangeran iblis, menjijikan!” bentak salah seorang anak dalam gerombolannya.

__ADS_1


“Ya! Pergilah! atau kau mati saja sana! Haha!” lanjut yang lain.


Mereka kembali melukai dan menyiksa Arlo, dia di lempari dan di pukuli hingga tubuhnya lebam dan berdarah. Luka luar sudah cukup untuk menggambarkan kesedihannya sampai saat ini. Tapi kini luka baru terbuka di dalam hatinya. Dihajar sampai habis, lalu ditinggal begitu saja dengan tubuh lemas dan penuh rasa sakit.


Keputusasaan mulai menguasai hati dan pikiran Arlo, perasaannya mulai campur aduk sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Membuat keputusan sendiri, bahwa tidak ada tempat untuk seorang darah campuran seperti dirinya, dan dia harus menemukan tempatnya sendiri.


Arlo tanpa sadar, bangun dari tempat ia terbaring. Sesuatu meluap-luap di sekitar tubuhnya dan disusul lirih, bisikan-bisikan lembut seseorang di belakannya.


“Tuan, mari kita puaskan.” bisikan itu perlahan terdengar jelas di telinga.


“Penggal.” sahut Arlo dalam kondisi yang masih tidak sadar.


Perlahan luka-luka di tubuhnya menguap dan sembuh tanpa bekas. Entah dari mana, seorang wanita cantik dengan rambut dan gaun berwarna merah, tersenyum tipis membisikkan sesuatu lagi di telinga Arlo. Tanpa sadar anak itu meneteskan air mata, air mata yang berbeda. Warnanya yang merah, mengkilap dan menetes ketanah.


Melukis sesuatu yang cukup dalam, dan melahirkan sebuah sabit besar melayang di depannya. Dia tersenyum tipis dan meraih sabit itu, pola sabit dengan dua mata pisau, sabit yang terlahir dari air mata darah dan rasa sakit yang menghitamkan hatinya. Sabit darah, yang memberinya nama pangeran darah.


“Mari kita penggal… Tuan….” Bisik si wanita dan meresap kedalam sabit Arlo, lenyap entah kemana.


...(----------------)...


“Apa semua itu benar!” bentak raja dengan tatapan kesal.


“Benar Yang Mulia, lima orang yang menjadi korban telah di temukan dengan kondisi kepala yang terpisah, mereka adalah tiga orang anak dan dua orang pria. Ditambah lagi yang lebih buruk, para warga memiliki dugaan pelakunya adalah putra Anda,” lanjut kesatria itu, wajahnya cemas dengan tubuh gemetar ketakutan.


“Cih!”


“Hentikan kasus ini! Pembunuhan sekeji itu, kita tidak bisa bertindak terlalu jauh untuk saat ini. Dari mana mereka mengatakan itu putraku?” wajah kesal Raja, kini berubah menjadi kawatir.


Di tempat lain, di dalam hutan. Seorang anak terdiam di depan tubuh seorang wanita dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya. Anak itu berdiri di depan sosok wanita yang sama dengan rambut dan gaun merah, yang menghiasi tubuhnya.


“Apa ini masih belum cukup? Tuan,” bisik wanita itu.


“Sampai lukaku sembuh, terus tutupi kasus ini,” Anak itu berbalik dan meninggalkan sisanya begitu saja.

__ADS_1


“Tentu saja, Tuan… Av.”


Selama itu, seperti yang kalian tau. Arlo terus membunuh para warga kota dan meninggalkan mayatnya dalam kondisi yang sama. Hal yang lebih buruk dan membebani pikiran raja adalah pelaku pembunuhan yang benar-benar tidak bisa di temukan. Dia sudah tidak bisa berpikir tenang setelah mendengar kabar yang lebih buruk dan membuat kepalanya seperti mau pecah.


Saat waktu berselang begitu saja, kasus itu juga perlahan sudah bisa di anggap selesai, meski pembunuhnya tetap belum bisa di ketahui, dengan dua puluh korban yang mati dengan cara yang sama. Para mata-mata kerajaan juga masih terus berusaha mencari jawaban, meski semua usahanya akan sia-sia.


Dua tahun berlalu Arlo tinggal di tanah kehidupan, perlahan hidupnya mulai berubah dan berbeda dari sebelumnya. Usiannya menginjak delapan tahun dan dia harus bersekolah untuk belajar banyak hal sebagai bangsawan seperti seorang pangeran dan putri pada umumnya.


Dengan tanduk di dahinya, itu akan menghalangi jalan dalam kehidupan. Dia memutuskan untuk menutupi dan menghapus kenangan buruknya, dengan berpakaian serba tertutup terutama tanduk itu.


“Kakak, apa aku bisa ikut kesekolah mu untuk sehari saja?” tanya adik tersayang Arlo, dengan memasang wajah memohon.


“Tidak, kau akan menarik perhatian dengan suaramu yang berisik itu. Dua tahun lagi kau akan sekolah, tunggu saja itu.” Arlo berbalik dengan menenteng tasnya, berjalan berangkat ke sekolah.


Sikapnya begitu dingin dengan siapa saja, dan itu membuatnya terputus hubungan dengan ayahnya. Mereka menjadi berjauhan dan terasa asing, seperti tidak saling mengenal satu sama lain.


Di sekolah, dia di kenal dengan anak yang jenius dan berprestasi. Nilai akademiknya jauh di atas rata-rata dan dia selalu berhasil di berbagai bidang, tapi sikap buruknya mencoret nama pantas seorang pangeran. Karena hal itu juga, orang-orang masih saja berpikiran buruk tentangnnya, mengingat dia adalah darah campuran dan kenyataan tidak akan pernah berubah.


Dia tidak pernah mempunyai seorang teman, jarang sekali namanya di panggil. Karena hanya, bisikan-bisikan yang sama persisi seperti dulu, yang masih terdengar lirih di telingannya. Para guru dan bangsawan lainnya masih sering membicarakan anak itu dari belakang dan merasa tidak nyaman dari kehadirannya. Tapi setidaknya dia selalu merasa cuek dan tidak peduli, dalam diam dan menunggu.


Lima tahun besekolah dalam ketenangan dan umurnya yang sudah menginjak 13 tahun, menjadi tanda sebentar lagi dia akan lulus dan masuk ke pelatihan kesatria. Tapi itu bukan tujuan Arlo, karena itu semua adalah bagian dari kewajiban seorang pangeran, dan dia harus menjalankannya demi apapun. Sampai keteangan itu berakhir karena seseorang.


Tiba-tiba ada murid pindahan baru ke sekolahnya, seorang putri cantik dari kerajaan Lianburg. Elly Tania Lian, seorang gadis yang ceria dan kaya dengan senyuman. Gadis itu sangat terkenal dan mempunyai banyak teman sebagai anak baru. Perlahan-lahan, ketenangan dan kesendirian Arlo juga mulai terusik dengan kehadirannya.


Suatu hari, saat jam sekolah berakhir dan Arlo berjalan melewati lorong kelas untuk pulang, gadis itu dengan lantang memanggil-manggil dirinya.


“Hei Pangeran! Tunggu!” teriak gadis itu pada Arlo, di sepanjang lorong kelas.


“Hei! Apa kau tidak dengar!” lanjutnya, berlari menghampiri Arlo dan dengan sengaja menubruknya.


Arlo menoleh berat, dengan tatapan sinis yang menyeramkan di bawah tudung yang menutupi kepalanya.


Next, Pengusik.

__ADS_1


__ADS_2