Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 21 - Soul Of Dark.


__ADS_3

Eri dan Arlo sampai di pohon itu dan mereka berpindah mengunakan pohon portal itu. Cahaya yang bersinar begitu silau, menutupi semua yang bisa dilihat oleh mata. Sampai di sana Eri masih memejamkan matanya karena silauan yang sebelumnya. Mereka berdua berdiri tepat di bawah sebuah pohon yang sama saat mereka hendak berpindah, kemudian secara perlahan-lahan pohon itu memudar dan lenyap dari pandangan.


“Baiklah Nona, buka matamu. Selamat datang di Jiwa Gelap” Ujar Arlo melepaskan tangan Eri.


“Kita sudah sampai?” Eri membuka mata dan terkejut dengan dunia baru yang ia lihat.


Mereka sampai di sebuah tanah tandus dengan pepohonan disekitar yang berwarna merah dan oranye seperti warna api. Di bawah kakinya hanya terasa tanah yang terasa sedikit hangat dan keras untuk di pijak. Agak jauh didepan mereka terlihat gerbang yang lumayan besar berwarna coklat dengan aura gelap hitam dan putih. Itu adalah pusat masuk kedalam kota, sedangkan mereka berdua harus menuju kastil untuk menemui kedua orang tuanya.


“Jadi ini sisi lain dunia? Soul Of Dark” Eri berjalan mendekat gerbang itu.


“Nona, tolong jangan jauh-jauh dariku ya.. sampai kita bisa menemui ibu, kau tidak bisa bertindak bebas disini” Arlo mendekat dan meraih tangan Eri.


“Baiklah, sekarang kau harus memimpin jalan untuk masuk ke dalam kota” Eri pergi ke belakang Arlo dan mendorongnya mendekati gerbang masuk.


“Baiklah Nona, jangan mendorongku seperti itu!” Arlo berhenti dan memegang tangan Eri lalu menariknya untuk pergi ke gerbang.


...(----------------)...


Seorang wanita yang duduk di singgasana kerajaannya dan di temani pria yang berdiri di sebelahnya. Wanita itu hanya diam dan memejamkan matanya tanpa bergerak sedikitpun, semua staf kerajaan juga hanya diam di tempat menunggu perintah selanjutnya. Setelah beberapa saat dalam ketenangan itu, akhirnya si wanita mulai membuka matanya dan angkat bicara pada pria di sebelahnya.


“Ayah apa kau merasakan aura ini?, sepertinya aku kenal dengan aura ini” seorang wanita yang duduk di singgasana dengan tanduk merah kecil di kepalanya dan ekor merah kecilnya yang hanya terlihat ujungnya.


“Aku rasa ini memang dia, dia cepat sekali sampai?”


Di tengah pembicaraan keduanya, tiba-tiba salah seorang prajuritnya berlarian masuk kedalam ruang singgasana dan memberikan sebuah laporan. Sang prajurit terlihat terhengah-hengah karena berlarian dan belum sempat bicara sebelum nafasnya kembali teratur.


“Yang Mulia Ratu.. ada laporan dari penjaga gerbang bahwa ada seorang pria berpakaian layaknya manusia dan membawa seorang gadis manusia” Laporan dari si prajurit.


“Biarkan saja, sebentar lagi ia akan laporan sendiri nanti. Kita tunggu saja, selain itu tolong berikan pengunguman untuk warga agar besok berkumpul di balai kota” jelas Ratu yang duduk di singgasnanya.


“Baik Ratu!” pria itu segera pergi dan memberikan pengunguman di kota.


Pria itu kembali angkat bicara pada sang Ratu dan menanyakan satu pertanyaan berat padanya, tapi lawan bicaranya hanya tersenyum dan enggan menjawab pertanyaan itu.


...(----------------)...


Di kota sebuah kota ramai di Soul Of Dark, kegiatan sehari-hari masyarakat sudah menjadi hal biasa untuk di pandang, orang yang sendang berdagan layaknya manusia, orang yang berlalu lalang bercakap dengan santai di jalan tidak berbeda dengan hal yang di lakukan manusia pada umumnya. Arlo yang selesai laporan pada penjaga gerbang kembali menghampiri teman seperjalanannya dan mengajaknya masuk ke dalam.


Mereka berdua berjalan berdampingan dan melihat sekeliling. Eri hanya terdiam tidak mengatakan sepatah katapun pada Arlo dan hanya melihat sekitarnya yang di penuhi oleh iblis yang sama dengan Arlo. Dengan tanduk, kuku, cakar dan taring yang tajam, rasanya sedikit tidak naman untuk di pandang.

__ADS_1


“Arlo, apa kita bisa pergi ke sesuatu tempat untuk setidaknya beristirahat sebentar?”


“Tentu, tapi di sini juga tidak selalu gratis..”


Arlo bersiul dengan kencang dan dari kejauhan, seekor ular datang atas panggilan Arlo. Sampai ular itu menghadap tuannya dan membuka mulutnya di dalam mulut ular itu terdapat sebuah kristal kecil dan di ambilah olrh Arlo. Seketika di tangan Arlo, kriatal itu berubah menjadi beberapa uang koin di tangannya.


“Bagaimana, apa ini cukup?” tanya Arlo mengulurkan tangannya yang berisi uang koin yang di bawa oleh ular tadi.


“Kau menggunakan sihir yang licik untuk membeli sesuatu disini?. Apa di sini hal seperti itu sudah biasa?” tanya Eri penuh kecurigaan.


“Tidak Nona, ini adalah sebagian tabunganku yang kutinggal di sini sebelum aku pergi mengelilingi dunia” jawab Arlo dengan wajah yang begitu


Serius bercampur sedikit takut menatap Eri.


“Hihi kau takut sekali padaku Arlo. Aku senang sudah ada persiapan untuk hidup disini, meskipun ini tidak sengaja” Eri mengambil sebagian dan pergi menuju pedagang di sana.


“Ya setidaknya kau masih bisa tersenyum di tempat yang agak seram ini” ujar Arlo, lalu ia pergi menuntun Eri menuju pasar yang ramai.


Di sana banyak barang aneh yang di lihat oleh Eri. Banyak benda yang menurutnya terlihat berbeda di bandingkan di duniannya. barang itu sebenarnya bukan barang yam memang mudah di temukan di duniannya Eri, melainkan barang sihir yang sudah di ubah seperti liontin dan beberapa barang lainnya.


“Arlo, apa ada makanan disini?” tanya Eri menggaruk kepalanya.


“Wah kau masih lapar ya, setelah makan di hutan dan buah yang ku petik tadi?”


“Tidak ada yang berbeda. Semua makanan disini sama dengan yang ada di rumahmu, di sini juga ada roti kesukaanmu, Jadi jangan kawatir”


“Baiklah, kalau begitu ayo kita beli sesuatu untuk ibumu” Eri menarik Arlo menuju sebuah toko makanan kecil di ujung jalan. Dia membiarkan Eri pergi mencarinya sendiri, sedangkan ia hanya menunggu di luar.


Secara kebetulan Arlo melihat seseorang yang tidak asing baginya. Di sana berdiri seseorang yang sedang bersandar di tiang toko, membaca secarik kertas di tangannya sambil memakan sesuatu. Arlo mendekat dan menyepanya dengan keras, sampai ia terlihat terkejut dengan suara itu.


“Hei.. anak muda! Seleramu tetap sama ya?” sapa Arlo pada pria itu.


“Anda siap.. Tuan Arlo! Sejak kapan anda disini? Astaga lama tidak berjumpa Tuan?” Pria itu menjawab dengan gugup melihat Arlo.


“Yah sudah lama sejak aku pergi” jawab Arlo.


Dari kejauhan seorang gadis memanggilnya dan akhirnya ia harus pergi meninggalkan Arlo.


“Maaf Tuan, tugas memanggil..” pria itu berlari menuju sumber suara dan lenyap dalam kerumunan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Eri keluar dari dlam toko tanpa membawa apapun. Dia hanya cengingisan dan mendekati Arlo. Sudah jelas bahwa ia tidak tau apa selera wanita itu dan tidak yakin apa bisa segera di berikan. Pada akhirnya mereka berdua menyarah dan pergi meninggalkan toko untuk segera mencari tujuannya.


Mereka keluar dari toko dan melihat ada keramaian di perempatan jalan. Saat itu Eri mengajak Arlo untuk ikut melihat kesana, tapi Arlo menolak karena tidak mau mencari perhatian, selain itu Arlo juga tau penyebab kerumunan itu terjadi. Karena sudah tidak ada alasan untuk tetap di sana, mereka berdua memutuskan untuk langsung menemui orang tua Arlo.


Mereka berdua hanya berjalan mengelilingi kota tanpa bisa menemukan kastil karena Arlo juga sudah lupa letak kastilnya. Lalu Arlo pergi menemui beberapa orang yang sedang berkumpul dan bercanda, menanyakan pada salah seorang pria yang duduk berbincang dengan temannya di pinggir jalan.


“Pak!, boleh tanya jalan menuju kastil?” tanya Arlo menatap salah seorang yang duduk di sana.


“Oh kau tinggal jalan saja ke.. kau?!” Pria itu berhenti dan melihat Arlo dengan seksama lalu..


“Lalu kemana Tuan” Tanya Arlo.


“Bukan kah kau Arlo?, pangeran Arlo?!” orang di sekitar langsung berkerumunan mengitari Arlo dan membiarkan Eri sendiri.


Arlo bingun menanggapi masyarkat yang riuh itu sampai ia lupa dengan Eri. Di sisi lain Eri hanya tersenyum di luar sisi kerumunan Arlo. Meraka semua berdesakan hanya untuk menemui pangerannya yang sudah hilang begitu lama tanpa kabar.


Setelah beberapa saatdi luar kerumunan itu, Ada dua pria asing dan bertingkah anrh yang menghampiri Eri. Eri hanya diam dan membiarkan mereka berdua saja.


“Wah lihat.. Ada manusia yang sedang sendirian di sini. Ayo kita ajak main” ujar seorang pria dengan ikat di kepalanya.


“Dia juga sangat cantik. Hai Nona, kau kesini dengan siapa? Tidak mungkin kau sendiri kan?” seorang pria mengitari tubuh Eri.


“Ha.. hai” jawab Eri melambaikan tangan sedikit takut.


“Bagaimana kalau kita ajak keliling sebentar? Dia kan masih baru di sini jadi kita kenalkan pada teman-teman”


“Tidak perlu, aku sudah keliling di sini bersama temanku” Eri sedikit takut dan waspada.


Saat itu Eri di paksa oleh kedua orang asing itu. Tangannya diseret oleh kedua orang itu dan di bawa pergi. Arlo masih belum menyadari kalau Eri sudah di bawa pergi oleh orang asing tanpa sepengetahuannya. Setelah bebrapa saat akhirnya kerumunan itu bubar juga. Arlo berjalan menuju toko dan membeli minuman di sana.


“Pak!, minum biasa satu” Arlo memesan minum pada penjual itu.


Arlo menuggu di depan toko itu selama beberapa saat dalam diam. Kemudia si penjual memanggilnya karena pesanannya siap.


“Ini tuan, selamat menikmati”


Arlo membayarnya dan berterima kasih, lalu ia duduk di bangku dan memikirkan sesuatu.


“Kok rasanya ada yang kurang ya?” Arlo meminum satu teguk dan meletakkannya di bangku.

__ADS_1


Perasaan Arlo tidak enak dengan kota ini. Dia berpikiran yang macam-macam. Lalu ia melihat ada dua orang yang berjalan di depannya.


“Perasaan Apa ini? Di mana Non- cih.. berapa saat aku pergi? Sudah ada orang yang berani menggagu!” wajah Arlo terlihat benar-benar marah. Saat itu juga ia menggigit tangannya dan berusaha melacak keberadaan Eri. Dengan cepat ia berlari ke ke sesuatu tempat dan meniggalkan minumannya.


__ADS_2