Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 65 - Api Hitam.


__ADS_3

Darah menyembur di udara bersamaan dengan lengan kanan Daniel yang sudah terpotong begitu rapi. Saat sabit Arlo yang menyala dan melayang di udara, di tendanglah sabit itu langsung mengarahkan ujungnya kepada Daniel. Sedangkan Daniel hanya bisa bertahan dengan satu pedang yang tersisa di lengan kirinya sebelum sabit itu sempat menusuk tubuhnya.


“Seperti biasa kau sangat hebat di awal-awal, tapi…” ucapnya sambil memandang remeh pria yang sudah terengah-engah di depannya.


“Kau itu terlalu cepat kelelahan Arlo, heh!” dengan begitu mudahnya Daniel menghempas balik sabit itu.


Sabitnya melayang dan menancap tepat di depan Arlo yang sudah bertekuk lutut dengan nafasnya terengah-engah. Satu-satunya kelemahan Arlo adalah kondisi tubuhnya yang sangat rentan dan mudah kelelahan. Kapasitas energinya sangat terbatas untuk seorang pria dengan tubuh remaja sepertinya.


“Bagaimana ini…? Apa harus kubunuh sekarang saja, ya? Ayolah Arlo, bukankah itu tubuh yang sama saat kau mengamuk di Leander Land? Dan kenapa sekarang kau malah tersungkur begitu, hah!” Daniel melesat kearahnya dan tanpa beban menendang kepala Arlo hingga ia terlempar jauh.


Arlo mengangkat tubuhnya yang tetatih sembari menyangga dadanya yang terasa sesak. Saat itu juga dia mengangkat wajahnya, sudah ada tombak yang melayang begitu cepat kearahnya.


“Tidak ada waktu untuk istirahat, kan? Arlo…!”


Karena sudah tidak ada waktu untuk menghindar, tepat kepala Arlo hancur di ujung tombak itu. Mendorong tubuhnya jatuh terkapar di tanah dengan darah yang membanjir di sekitarnya. Dengan senangnya Daniel tertawa lepas penuh rasa puas. Bersamaan dengan itu, tubuh Arlo mulai kembali pulih sepenuhnya.


“Kita mulai lagi?” celetuk Daniel dengan menyeret gada besar di tangan kirinya dan memukulkannya langsung ke arah Arlo.


Sempatnya ia menahan gada itu dengan sabit di kedua tanganya. Meski saat ini dia juga meringis kesakitan karena jari-jarinya yang sudah hancur tertindih oleh gada itu, menyisakan kedua telapak tangannya untuk bertahan.


“Hahaha! Bagaimana? Apa kau merasakannya, Arlo….” Wajah kepuasan benar-benar terluki melalui senyuman Daniel.


“Ka-kau pikir… ini akan segera berakhir…? Darah yang mengalir di dadamu akan membayar rasa sakit di tubuhku…!” Arlo mendorong demgan kuat dan melontarkan gadanya.


Tepat saat gada itu melayang di udara, Arlo menendangnya balik ke arah Daniel dengan sabit yang menyusul di belakangnya. Tubuh Daniel dengan mudahnya menghindari kedua serangan itu, bahkan dia meraih kembali gada besar itu hanya dengan satu tangan kirinya.

__ADS_1


“Apa kau sudah tidak punya trik lagi untuk membunuhku dalam sekali serang?” celetuknya, merendahkan.


“Memangnya apa yang sedang aku lalukan. Heh!” Arlo menarik kembali kabel sabitnya dan membelokkan arah sabit itu.


Tepat saat gadanya melesat di depan, tentunya Daniel akan mengambilnya kembali dan menghindari sabit Arlo. Namun karena sabitnya hanya di hindari, sabit itu dapat di tarik kembali dari belakang Daniel dan menyerangnya secara langsung. Dia berbalik dan berusaha menahan benturan kerasnya dengan gada sudah yang berubah seketika menjadi sebuah pedang.


Bersamaan dengan itu, sabitnya terpental di udara dan kebelnya membentang tepat di udara. Kesempatan itu diambil olehnya dengan memotong kabel yang menghubungkan Arlo. Kabelnya terpotong dan sabitnya terpental semakin jauh di udara, sedangkan sisa potongan itu lenyap begitu saja seperti asap.


“Dengan begini, apa yang akan kau lakuakan, Ar-“


“Nona Liya…!” darah keluar tiba-tiba dari kedua mata Arlo.


Sontak Daniel langsung terkejut dan menoleh dimana ia mengehmpas sabit itu. Sabitnya melayang dan berputar dengan begitu cepat ke arahnya, dengan samar-samar seorang wanita dengan gaun merah berjalan perahan mendekatinya. Tepat saat sabitnya sudah melayang di depan wajahnya, sabit itu terhenti secara sengaja oleh wanita itu.


Bayangan itu hanya samar-samar seperti seorang roh yang berjalan ke arahnya. Raut wajahnya tidak berubah dengan hanya menatap Daniel dengan wajah yang di penuhi amarah.


“Lakaukan sesukamu, ini akan berakhir dengan lebih cepat dari biasanya….” Ucap Arlo, percaya diri.


Dia menarik belati yang tersembunyi dari balik jubahnya dan bersiap untuk menyerang Daniel bersama wanita itu. Samar-samar sabitnya seakan melayang di udara dan melesat ke arah Daniel. Sedangkan dari belakang, Arlo bersiap untuk menyerang dengan belati kecil di tangan kanannya.


Bersamaan dengan itu, tanah tiba-tiba berguncang selama sesaat di susul teriakan seorang wanita dari kejauhan. Menarik perhantian mereka berdua,Terutama Arlo yang mengenali suara itu. Tidak jauh darinya, samar-samar api hitam melingkar dan melesat ke arahnya dengan begitu cepat. Nemun belum sampai api itu mengenai mereka berdua, apinya sudah di hempas oleh Liya dengan Sabit Arlo.


“Apa itu tadi?” celetuk Arlo mengamati sumber serangan.


“Ini api milik Nona Ely. Kemungkinan dia yang melepaskannya….” Ucap Liya sejelas mungkin di depan Arlo.

__ADS_1


Selama beberapa saat, mereka bertiga hanya memelingkan pandangannya dari pertarungan dan terus menatap sumber serangan. Tiba-tiba Daniel melesat begitu saja dengan dua orang iblis yang sudah mengering di kedua tangannya. Tentunya Arlo juga membuntuti pria itu bersamanya, mereka berhenti di sebuah reruntuhan yang di penuhi dengan darah di sekitarnya.


“Nona!”


Arlo melesat kearah seorang gadis yang sudah tersungkur di tangan dengan pedang emasnya yang terbakar oleh api hitam yang menyelimutinya. Dia membalikan tubuh Eri yang terbaring lemas di depannya, tidak ada darah atau luka yang tergores di tubuhnya. Namun ada sebuah luka bakar yang tertinggal di kedua tangan gadis itu.


“Arlo… hah…” Eri mengangkat tubuhnya dan bangun dalam pengkuan Arlo.


“Apa kau baik-baik saja, Nona? Apa yang sebenarnya terjadi!”


“Aku baik-baik saja. Hah! iblis itu? dimana dia!” Eri menoleh kesana-kemari, mencari sesuatu.


“Apa maksudmu, tidak ada siapapun di sini. Atau jangan-jangan….” Arlo mulai menyadari sesuaatu di sekitarnya.


Dua orang pria terbaring lemas dengan tubuh yang penuh darah. Tidak jauh darinya berada, seorang gadis yang sangat tidak asing juga terbaring luka berdarah dengan dua orang pria yang juga sudah tak sadarkan diri di sana.


Khira dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, Nanda yang berlumuran darah di sampingnya. Bela yang terbaring lemas dengan lubang di perut dan dua orang yang terbaring di belakangnya.


Dan yang lebih parah, darah melumuri reruntuhan dari sisa-sisa pertarungan Eri.


“Harusnya aku menyadari hal ini sebelumnya, mereka pergi terlalu cepat…” Arlo menunduk sedih penuh penyesalan.


“Arlo…!” seorang pria melesat dengan dua buah tombak yang sudah mendahulinya.


Tepat kedua tombak itu berhenti dengan sabit yang sama dan menghalangi jalannya. Daniel sudah memasang senyuman lebar dengan aura gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Dengan keempat tangan yang memegang dua pedang dan dua tombak yang sama seperti sebelumnya, dia berdiri dengan menatap rendah ke arah Arlo.

__ADS_1


“Apa kau sudah akan bermain serius, Daniel…?”


“Kenapa tidak, permainan sudah di akhiri oleh gadis itu. Maka giliran kita untuk mengakhiri permainan ini juga, kan….”


__ADS_2