Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 32 - Penuntun.


__ADS_3

Dalam pembicaraan serius mereka di ruang makan, terdengar lagi langkah kaki dua orang dari balik pintu masuk dan perlahan pintunya di buka oleh seseorang. Itu adalah Raja bersama putrinya yang penuh tawa, berjalan mendekat dengan tatapan bingung seakan berusaha menanyakan apa sebenarnya terjadi di sini.


“Yah.. ini adalah rapat yang kau bicarakan kemarin, kan? Apa kau lupa” celetuk Ratu menunduk.


“Astaga, kau tau saja”


“Kakak, siapa mereka berdua? Apa sepupu?” tanya polos gadis yang berdiri di samping Raja dan berjalan mendekati dua orang yang duduk berdampingan searah dengan Arlo dan Eri.


“Meraka? Aku tidak tau, tanyakan saja pada mereka sendiri”


“Emm maaf, saya Ferdian dan ini teman saya Shina. Kami berdua adalah pengawal khusus pangeran Arlo sebelumnya” Jelas Ferdi sedikit kikuk.


“Ohh..” Razil berjalan mendekati Arlo yang duduk menengahi Eri dan Ferdi dalam meja makan dan menatap gadis yang duduk di samping Arlo. Senyumannya terlihat seram dengan rencana aneh yang jelas tersembunyi di baliknya.


Raja berjalan mendekati Ratu dan duduk di sebelahnya melambai pada anak gadisnya yang tidak bisa diam untuk duduk disebelahnya. Gadis itu tidak segera datang dan malah memepetkan wajahnya di telinga Eri dan membisikkan sesuatu hingga membuat pipi Eri memerah. Namun pada akhirnya ia beranjak pergi dan duduk di sebelah ayahnya.


Kemudian makanan di sajikan pada semua yang telah datang termasuk kedua orang yang duduk bersebelahan dengan Arlo dan Eri yang terlihat sangat kikuk dan ketakutan, rasanya mereka berdua seperti berhadapan dengan makhluk buas yang kapan saja akan menyerang dengan mulutnya yang tajam. Arlo terkekeh melihat tingkah kedua orang itu dan menepuk keras pundak pria yang duduk di sampingnya.


“Hei.. aku yang bertanggung jawab, jadi tenanglah..”


“Ba-baik Tuan, terima kasih”


Makan malam yang benar-benar sunyi berakir dengan celetuk Ratu yang bilang akan mejelaskan tugas baru Arlo bersama orang yang ia pilih serta mempertanyakan mereka. Senyuman di bibir Arlo menandakan kepercayaan diri yang tinggi untuk menyelesaikan tugas ini meski sebenarnya ia tidak tau yang ia hadapi.


Pertama, pasukan kecil ini akan dikirim langsung dengan portal dan berpindah kedunia manusia yang terletak di dekat pantai Phalasick yang merupakan pulau yang terkenal dengan sebuutan Phalasick Island. Kemudian perjalanan akan di lanjutkan kearah selatan dan menyebrang laut luas entah dengan apa. Sampai dititik berikutnya, mereka akan di tuntun oleh orang tua yang berjaga di pulau terpencil di tengah samudra luas.


Selanjutnya mereka harus menemukan titik portal yang memindahkan mereka berdua sesuai petunjuk orang tua itu untuk berpindah langsung ketujuan dan menghancurkan energi yang telah merambat sebelum terlambat. Ada pesan khusus yang di berikan oleh orang tua itu sebelum mereka menemuinya, benda besar dan bulat berwarna merah harus di bawa sebagai upah atau tanda terima kasihnya.


“Benda apa? Apa tidak ada petunjuk?”


“Dia mengatakan hal aneh, katanya adalah ‘ Melingkari Titik merah dalam jarum yang berada di tengah genangan tanpa batas, tersenyum dengan mulut yang penuh darah dan rambut yang berkepala, menyerah dan menunduk dengan cinta tulus seorang kesatria yang gagah berani menjadi korban, di kembalikan pada seorang yang putus asa karena ingin kembali ketempat pulang’ itu kalimat aneh setelah ia bilang untuk memberikan sebuah benda berwarna merah dan lenyap di balik kabut” jelas Ratu mengusap wajahnya.


Arlo mengangguk-angguk seakan paham dengan yang telah di jelaskan meski kelihatannya tidak meyakinkan. Kemudian Eri dengan tatapan serius mengatakan bahwa kemungkinan itu pesan pada mereka yang berhubungan dengan benda merah yang di katakan. Seperti sebuah teka teki yang sangat mendalam untuk menjelaskan perjalanan mereka semua.

__ADS_1


Kemudian Ratu mengatakan bahwa dalam kondisi ini, semakin jauh jarak antara dia dengan Arlo maka tingkat komunikasi akan sangat rendah dan bahkan mungkin mereka tidak dapat berkomunikasi setelah dapat sampai di Dangerous Crack dan membantu dalam pertempuran.


Arlo mengangguk paham dan bangun dari tempat duduknya, hendak menanyakan sesuatu. Dia mengangkat tanganya dan munculah sabit merah yang biasa ia gunakan dalam bertarung dengan aura gelap yang menyelimutinya. Semua orang muda di sana terkejut dan terkagum-kagum dengan yang ia lihat.


“Bagaimana dengan ini? Aku dengar kakek telah melarang penggunaan senjata ini, tapi aku tau ada sesuatu yang bagus setelah menyimpan banyak sisa kehidupan di dalamnya” Arlo menatap serius wanita yang duduk di depannya.


“Yak, kau itu memang selalu begitu. Berapa banyak jiwa yang kau kumpulkan, setidaknya kau butuh sekitar seribu jiwa manusia tau?” Ratu tertawa kecil, meremehkan.


“Karena itulah aku menanyakannya, ini mungkin sudah lebih dari seribu sejak 120 tahun yang lalu, kan? Tidak ada yang tau bahwa aku sudah pernah sampai di Dangerous Crack dan mendapat banyak jiwa manusia yang kehilangan arah di sana”


“Arlo!” gertak Raja bangun dari tempat duduknya.


“Apa?”


“Kau membunuh manusia?!” Raja terlihat sangat kesal dengan hal itu, alisnya berkedut dengan kedua matanya yang menatap tajam pria di hadapannya.


“Hah? Tentu saja tidak..” jawab santai Arlo sedikit merendahkan.


Kemudian Arlo menatap sekitarnya dan menceritakan perjalanannya di Dangerous Crack. Kenyataannya bahwa banyak rakyat jelata yang melarikan diri kesana dari pada harus membayar pajak paksa dari para Raja lemah yang tidak bisa berbuat apapun atas rakyatnya sendiri. Sekitar 5 tahun yang lalu, Arlo mendengar berita sebuah kerajaan yang runtuh karena rakyatnya sendiri yang tidak terima dengan penguasanya, seluruh kastil di bakar dan masyarakat memberontak berusaha mendapatkan haknya atas ugah-unggah seseorang yang tidak bertanggung jawab.


Tapi sayangnya pemimpin baru mereka sama saja dan bahkan lebih buruk dari sebelumnya hingga memaksa mereka untuk peindah dan hidup di tempat yang tidak bisa di bilang sebagai tempat makhluk hidup. Tempat kumuh yang tanahnya di penuhi oleh darah kering berwarna hitam dan pohon tidak menghasilkan daun tapi masih berbuah dari getahnya.


Lebih dari 500 penduduk berpindah karena mereka tidak dapat membayar pajak dan melarikan diri dari kerajaan. Sampai mereka di sebuah daerah yang berdekatan dengan wilayah retakan itu dan tinggal di sana selama beberapa bulan. Arlo sampai di sana saat mereka sudah mulai terbisa dengan hidup di sana. Hidup yang tidak layak merupakan hal bisa bagi mereka, tapi sepertinya kali ini akan berbeda.


Arlo mampir di sana untuk menanyakan banyak hal tentang ini. Meski dia sendiri telah bilang sedemikian bahwa tidak jauh dari sini adalah bahaya yang bisa saja merenggut semua kehidupan yang tersisa di sini, tapi mereka beralasan bahwa itu adalah cara mereka untuk menyembunyikan diri agar tidak di kejar-kejar oleh pajak yang tidak masuk akal. Arlo menghela nafasnya dan meninggalkan desa itu setelah dua hari menginap di sana.


Secara kebetulan atau apalah, setengah hari setelah Arlo meninggalkan desa itu. Terdengar langsung kabar bahwa seluruh desa itu di bantai habis oleh iblis yang datang dalam jumlah yang cukup untuk menelan semua daging segar di sana. Arlo segera kembali untuk memastikan dan berharap setidaknya 5 atau lebih orang dapat selamat atau sejenisnya.


Namun kenyataan, saat sampai di sana hanya terasa perasaan mencekam penuh kesedihan yang menyelimuti sisa kehancuran. Tangisan anak kecil dan wanita-wanita yang terbunuh di sana mengingang di kepala Arlo dan membuatnya penuh rasa bersalah. Dalam anggapan terpaksa, dia menghisap seluruh jiwa yang tersisa ke dalam sabitnya untuk menghapus rasa bersalahnya meski sebenarnya malah membuat ia merasakan penderitaan mereka semua.


“Jadi anggapanmu mereka akan selamat setelah terbebas dari sabit itu?!” triak Raja pada pria di depannya.


“Bukankah kau tau sendiri, setelah kematian seharusnya mereka di bebaskan dan terlahir kembali setelah di timbang?

__ADS_1


Arlo! Angkat dan goreskan ujungnya ke dalam tubuhmu dan kita lihat apakah kau benar atau tidak” Ratu menatap serius pria di depannya.


“Cih”


Arlo menggoreskan ujung sabitnya ke lengan kanannya dan darah mengalir di sepanjang mata sabitnya. Bersinar terang menghapus semua aura gelap yang menyelimutinya, sabit itu perlahan merubah warnanya yang sebelumnya adalah merah darah kini berubah menjadi hijau yang di lariti oleh warna hitam dengan rantai yang terputus dengan ujungnya seperti terbakar. Senyuman tipis di bibir Arlo bersamaan dengan tatapan sinis pada ayahnya semakin membuat Raja geram.


“Baik.. kalian berdua bisa kembali, kalau kalian tidak ingin ikut dalam tugas berat ini, kalian bisa mengatakannya karena aku tidak akan memaksa kalian. Sudah, aku dan Nona akan pergi untuk makan malam di tempat lain, mari Nona” Arlo mengulurkan tangannya pada gadis yang masih duduk di depannya.


“Arlo! Bukankah sama saja kau sudah membunuh kehidupan di sana dengan tidak menyelamatkan mereka? Di tambah perasan polosmu yang tidak bertanggung jawab itu semakin membuat mereka menderita, aku benarkan?” Raja menghentikan langkah Arlo di depan pintu.


“Ya, semua itu memang benar. Aku memang tidak dapat mencegah atau menyelamatkan 500 nyawa yang tinggal di sana. Tapi aku sudah menanyakan hal yang jelas pada mereka semua dan jawabannya adalah ‘kami pergi dan tinggal di sini untuk menghindari pemimpin dan para raja yang tidak bertanggung jawab pada mulutnya. Meski kami mati dan tidak tenang, itu lebih baik dari pada harus menjadi bidak koruptor itu..”


“Arlo!”


Tanpa peduli Arlo membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu dengan terus menggandeng tangan Eri di belakangnya. Mereka berjalan keluar meninggalkan kastil itu ke sesuatu tempat yang dekat dengan hutan di malam hari. Mereka berdua duduk di sana dan memakan sesuatu di tangan masing-masing.


“Aku rasa Ibu memang benar, apa Raja memang selalu begitu Arlo?”


“Tetap! Tidak pernah berubah. Itu sudah menjadi hal biasa bagiku dan Ratu. Semua orang tidak tau kenyataan ini, tapi dia adalah orang yang di penuhi oleh nafsu dan rasa iri pada orang lain tanpa kecuali”


“Sayang sekali.. malam ini apa kita akan tidur di sini?”


“Tidak, kita bisa menginapkan? Di sana ada penginapan yang jarang di jamah”


“Aku rasa lebih baik tetap di sini, bukankah kau sudah terbiasa seperti ini?”


“Yah terserah Nona..”


Mereka berdua duduk bersandar di bawah pohon besar yang rindang dengan menatap langit malam yang cerah dan bintang bertaburan menerang langit malam. Terlelap bersama hingga pagi menjelang dan matahari membangunkan karena silauannya. Eri menggoyangkan tubuh pria yang lelap di sampingnya berharap ia bangun.


“Emhh.. sudah pagi Nona.. maaf aku terlelap lebih cepat” Arlo meregangkan badan.


“Mau sarapan di mana ini?”

__ADS_1


“Sudah Lapar? Tenang saja, aku mengenal orang tua yang tinggal di dekat sini dan selalu memasak makanan untu ku dulu” senyuman Arlo terlihat seperti berusaha menahan sesuatu yang menyedihkan di masa lalu.


__ADS_2