
Ini adalah dataran yang tidak pernah terjamah di bawah kaki iblis, tanah yang hanya di penuhi ke damaian dan ketenangan. Tempat ini tidak akan pernah di sentuh, bahkan sampai dunia akan berakhir. Tapi semua itu hanya omong kosongmu, kan? Seperti kenyataan yang bilang, kami semua akan di telan.
“Tuan, apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana mereka datang dan merusak semuanya…?”
“Apa yang akan kau lakukan untuk itu…?”
Kami terus menunggu siapapun yang datang dan mengulurkan tangan. Tapi tidak satupun yang kembali dengan membawa senyuman. Sampai kapan itu akan terjadi di sini, tempat apa ini sebenarnya?
...(----------------)...
Di tengah-tengan samudra yang sangat luas, sebuah tebing menjulang sejauh mata memandang dari ujung utara hingga ujung selatan. Sampai sebuah papan es yang membeku manabraknya bersama dengan dua orang asing yang berdiri kikuk di atasnya, menatap kagum tebing yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Apa ini tempatnya, Arlo?” ucap Eri, tak memalingkan pandanganya.
“Yah, memang ini pulau itu. Baiklah, kita mulai lagi.” Sahut Arlo dengan nada tinggi, mengangkat tanganya.
Bersamaan dengan tanganya yang terangkat, sama persis seperti sebelumnya, perlahan air yang menyangga papan beku itu terangkat dan mendorong mereka menuju puncak dari tebing itu. Pemandangan yang menyejukakan mata, bersamaan awan-awan gelap yang mulai menghilang, dengan cuaca cerah memenuhi sekitarnya.
“Ini lebih terlihat seperti pembatas antar dunia, kan Arlo?”
“Apa maksudmu, ini juga dunia manusia. Hanya saja terbebas dari tangan iblis selama ratusan tahun.” Perjelas Arlo, sahut nada serius. Mengakhiri pembicaraan mereka dengan wajah masam Eri.
Sampai mereka melayang tepat di depan mulut tebing dan melompat keluar dari papan. Sadar-sadar saat mereka sudah menginjakkan kakinya di pulau itu, lagi-lagi pemandangan yang luar biasa terjadi.
“Apa ini…!” teriak Arlo, matanya melotot melihat yang ada di depannya.
Tidak jauh dari mereka berdiri, dihadapan mereka berdua hanyalah pepohon hijau lebat dengan akar-akar besar nan liar yang memenuhi dataran ini. Dilihat dari luar, sepertinya cahaya tidak sedikitpun bisa masuk ke dalam pepohonan itu, terasa cukup menyeramkan.
“Baiklah Nona, tidak tau apa yang ada didalam sana. Tapi kita harus-“ Arlo belum menyelesaikan kalimatnya, terjungkal karena kelelahan.
“Arlo! Apa kau tidak baik-baik saja?” Eri berusaha menyangga lengan Arlo dari belakang.
“Pertanyaan bagus, tapi sepertinya aku benar-benar kehabisan tenaga untuk mengeluarkan sihir sebanyak itu, ehok-ehok.” Batuknya terdengar lebay, lalu dia sudah tidak sadarkan diri.
Eri yang terlihat sangat cemas, terpaksa menyeret tubuh lemas pria itu untuk bersandar di bawah pohon, membiarkannya untuk beristirahat sejenak. Memandangi yang ada di dalam pepohonan itu, sudah cukup untuk membuat bulu-kuduknya berdiri, merinding ketakutan. Pikiran Eri di penuhi khayalan-khayalan tidak jelas tentang makhluk seram yang tinggal di dalamnya.
“Kau ini kenapa?” ucap Arlo tiba-tiba, penasaran dengan wajah Eri yang terlihat aneh.
“Ti-tidak! Apa kau sudah baikan?” balas Eri mengalihkan pembicaraan.
“Aku rasa belum, kenapa aku bersandar di pohon?”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kau ingin tidur di pangkuanku?”
“Eh!”
...(----------------)...
Di tempat para pasukan Arlo yang terpaksa di tinggalkan, mereka semua hanya duduk-duduk santai di dalam dan di teras rumah kayu itu, sembari mendengarkan cerita dari Verles. Sampai pada akhirnya Trisia kembali dengan senyum-senyum sendiri di jalan dan berhenti karena melihat mereka semua.
“Kenapa kalian semua malah santai-santai di sini? Bukannya sudah ku bilang tidak ada yang gratis bila tinggal di sini,” ucap gadis itu dengan nada sombongnya.
“Baik-baik... sekarang kau mau kami apa?” jawab Ferdi, terdengar malas.
“Trisia, apa maksudmu mengatakan itu?” Verles yang terlihat kecewa.
“Tapi mereka numpang, kan? Bagaimanpun…” matanya melebar melihat wajah Verles yang semakin tidak senang.
“Kalian berempat apa pernah berburu? Trisia, bawa mereka untuk berburu. Bila belum bisa, ajari saja,” dengan raut wajah yang tidak berubah, pria itu bangun dan kembali masuk ke dalam ruangan.
“Ba-baik,” perasaan sedih tergambar dari wajah yang terlihat murung.
Merubah raut wajahnya kesal, dia menggenggam kuat tombaknya dan tiba-tiba menancapkannya di depan kaki Khira yang duduk menggantung di teras. Dia menatap mereka berempat dengan pandangan serius dan di balas wajah bingung oleh ke empat-empatnya.
“Kalian dengar, kan? Ikuti aku untuk berburu, cepat!” ucap gadis itu, berbalik dan berjalan mendahului mereka.
Berjalan di sepanjang tanah yang gersang ini, semua orang akan berpikiran. Apa yang akan di buru? Bila hanya tanah gersang tanpa kehidupan yang ada sepanjang mata memandang. sedangkan gadis itu hanya berjalan tergesa-gersa di depan mereka semua.
“Hei, Sina. Apa menurutmu dia sedikit aneh? Lihatlah tingkahnya pada pria itu,” celetuk Bela, berbisik ke arah gadis di sampingnya.
“Entahlah, aku tidak tau. Bagaimana dengan kalian?” Sina balik menanyai dua pria di belakangnya
“Hmm?” jawab keduannya dengan muka bodoh.
“Lupakan saja....”
Sampai mereka berhenti di sebuah aliran sungai luas yang sangat deras, deras sekali. Menampakkan pemandangan yang sangat berlawanan di balik sungai itu. Karena di depan adalah pepohonan lebat yang sangat subur nan hijau. Sebaliknya, tanah yang mereka injak saat ini adalah tanah gersang tanpa kehidupan.
“Baik-baik, apa maksudnya ini!” ucap Ferdi dengan nada kesal.
“Itu beda wilayah, ada empat wilayah kekuasaan di pulau ini tanah yang kalian injak ini adalah Black Desert, lalu dataran hijau di depan sana adalah Last Land, lalu di seberang dari Last Land adalah Soul Realm, jangan sampai kita masuk kesana. Dan yang sedang kalian cari adalah Dangerous Crack atau retakan berbahaya itu ada di sisi selatan, itu adalah wilayah terluas di pulau ini.” Perjelas gadis itu, melompat ke arah sungai.
Mereka semua hanya mendengarkan saja dalam diam, mengingat mulutnya itu sangat tajam dan tak terkalahkan. Sampai gadis itu di seberang, dia berteriak dengan lantang memerintah mereka untuk menyebrang, tentunya dengan melompat.
__ADS_1
“Apa kalian berdua bisa?” tanya Bela menatap Ferdi dan Sina yang sudah terlihat gemetaran.
“Tentu saja!” jawab keduanya dengan lantang, dengan senyuman yang di paksa.
“Baiklah.” Kedua orang di depannya melesat begitu saja dan sampai dengan mudah.
Giliran mereka berdua, firasat buruk mulai terlintas di pikiran keduanya. Menghentikan langkah dan mundur lagi, pasangan itu ternyata punya masalah yang sama rupanya.
“Apa kau akan melompat sekarang?” ucap Sina, menoleh pada pria di sampingnya yang mundur perlahan-lahan mengambil persiapan.
“Yah!” pria itu langsung berlari, melesat ke arah sungai.
Di melopat dengan sekuat tenaga untuk sampai di seberang sungai. Tubuhnya yang melayang di udara perlahan mulai jatuh di luar jalur. Lopatan itu rupannya terlalu lemah untuk sempat sampai di seberang. Sampai seseorang menerjang tubuhnya dari belakang sebelum sempat terjebur ke dalam air, tidak tau apa yang akan terjadi bila sampai terjebur dalam aliran sederas itu.
Tubuh mereka berdua berhenti karena menabrak sebuah pohon yang ada di depannya. Sampai seseorang yang menerjangnya tadi mulai menampakkan diri bersama suaranya yang lantang.
“Bodoh! Kau pikir apa yang bisa kau lakukan tanpa diriku!” suara seorang gadis yang beranjak memeluk Ferdi dari belakang.
“Hah! aku baik-baik saja, ja-“
“Memangnya itu yang pantas kau katakan!”
...(----------------)...
Karena kondisi Arlo yang sudah membaik, akhirnya mereka berdua bangun dan melanjutkan perjalanan, untuk masuk ke dalam hutan lebat itu tentunya. Di dalam benar-benar sangat gelap seperti dugaan sebelumnya, benar-benar tidak ada cahaya yang bisa masuk ke dalam meski matahari mulai menyinari dengan terangnya.
Suasanya mulai mencekam saat pandangan mereka berdua mulai memburuk, saat masuk semakin dalam ke hutan itu. Eri yang sangat ketakutan, menggenggam kuat-kuat lengan kanan Arlo yang berjalan di sampingnya, ia berjalan dengan meraba dan merasakan sekitarnya. Imajinasi buruk mulai mengisi kepala gadis itu tanpa sadar mengganggu Arlo.
“Berhentilah mengatakan hal konyol seperti itu, Nona. Apa sih, yang sebenarnya mengganggumu? ini aman-aman saja…” ucap Arlo menghela nafas dalam kegelapan.
“Tapi saat ini kita benar-benar berjalan tanpa bisa melihat, kan? Bagaimana kalau kau salah sentuh dan menyentuh sesuatu yang mengerikan!” bentak Eri, semakin menggila.
“Tenang saja! Tanganku akan tumbuh lagi bila terpotong,” jelas Arlo sedikit cekikian.
Sampai tiba-tiba Arlo berhenti dan melihat secercah cahaya kecil yang ada di depannya. Terlihat seperti kunang-kunang yang sedang hinggap di ranting pohon, tepat di depan mereka berdua. Tapi cahaya itu tiba-tiba padam begitu saja dan tidak meinggalkan apapun setelahnya.
“Apa benar itu kunang-kunang, Arlo?”
“Aku juga tidak tau, mungkin bila sedikit di buka!” Arlo melapaskan tebasan dari sabinya, mengarah ke atas dan membuat lubang besar di atas mereka.
“Hah! kenapa tidak kau lakukan sejak tadi!” teriak Eri menarik tangan Arlo.
__ADS_1
Tapi sepertinya itu cukup buruk untuk di lakukan. Sesaat kemudian, sisa tanaman yang di tebas Arlo terdengar seperti bergerak-gerak, sedangkan lubang besar itu kembali tertutup dengan rapat seperti semula, tak habis pikir hal ini akan terjadi pada mereka.
Tanpa tau apa yang terjadi, mereka berdua tiba-tiba terkena serangan langsung tepat dari semua sisi serangan. Sedangkan saat ini tidak ada sedikitpun cahaya untuk bisa melihat apa yang terjadi di sekitar mereka, hanya suara-suara rumput yang di injak yang memenuhi sekitar mereka sebagai petunjuk.