Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 63 - Pertumpahan Darah.


__ADS_3

Arlo melepas api dari dalam Corenya dan mengaris dinding api yang menyelimuti Vion, membuatnya terkurung di dalam tanpa bisa melarikan diri. Dia melesat kecang dengan sabit yang membara. Sampai saat sudah melayang tepat di atas kepala, sabit itu terhempas mundur bersamaan dengan angin kencang yang memadamkan apinya. Sebuah kapak besar yang menghempas dari baliknya, lalu mememukul mundur Arlo.


Ia terdorong dan berhenti dengan menahan lengan kirinya yang berdarah, menatap tajam pada seorang dalang dari dibalik serangan ini.


“Cukup sampai di sini, Vion. Pertarungan belum di mulai, tapi kau sudah terpojok begitu?” celetuk Daniel yang berdiri tepat di depan Vion yang terengah-engah, sembari ia menyerap kembali kapak di tangannya.


“Maaf Tuan, tapi sepertinya Tuan Arlo memang sangatlah kuat, layaknya Anda.” Jawab Vion, ia lenyap begitu saja persis seperti sebelumnya.


“Nah! Arlo! Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Aku sudah sangat tidak sabar...!” Daniel melesat dengan kedua tangannya yang sudah menggenggam pedang masing-masing.


Ia menghempas udara dan melesat bersama kedua pedang di depan wajahnya. Arlo menahan balik serangan itu dan melompat mundur untuk menghindari ledakan di depan wajahnya. Tubuh sepesial milik Daniel benar-benar bisa di bilang sempurna, apapun yang ia inginkan bisa terwujud apabila ada energi yang cukup untuk membentuknya.


Kedua pedang itu kembali di tangan Daniel dengan terselimuti aura gelap di sekitarnya. Ia melesat lagi, membuka serangan langsung tepat di depan wajah Arlo. Ketiga senjata itu terbentur dengan hebatnya, membuat percikan api di sekitar. Kini mereka berdua sedang beradu dan saling menatap tajam penuh rasa benci.


“Bagaimana Arlo? Apa kau tertekan? Hahaha,”


“Memangnya siapa yang kau lawan saat ini, Daniel? Apa kau pikir hal konyol seperti ini bisa menghentikan ku!” Arlo mendorong sabitnya sekuat tenaga, menghempas mundur Daniel bersama kedua pedangnya di tanah.


Senyuman tipis tergores di bibir Daneil, tanda kepuasan. Kali ini Arlo akan benar-benar serius di banding yang sebelumnya, pikir pria itu.


Arlo memparbaiki posisinya sembari bersiap bersama sabit di tangan kirinya. Kabel ditarik sepanjang tangan dan sabitnya di lempar terang-terangan ke arah Daniel. Sampai terhempas, melayang tepat di depan wajah pria itu, ditendanglah ke kiri dan berbelok. Arlo tiba-tiba sudah berpindah ke sisi kanan Daniel dan kabel itu sudah menggaet lehernya.


Api menyala dari ujung tangan Arlo, mengalir dengan cepat ke ujungnya dan menjulur langsung ke arah Daniel. Sebelum sempat apinya sampai di leher sasaran, Arlo menarik kabelnya dan membuat mata sabitnya langsung mengarah di leher Daniel.


“Memangnya kau bisa membunuhku dengan cara yang sama, Arlo!” karena sebelunya Arlo memenggal kepala Daniel dengan cara yang sama, di tepi pantai Palasick.


Sebelum sepat kedua serangan yang bersamaan itu mengenainya, Daniel berbalik sembari menendang kabel yang sudah di selimuti api itu. Mendorongnya mundur bersamaan dengan Arlo yang sudah menggantikan posisinya.


“Apa itu sudah usaha yang terakhir, Arlo?”


“Berhentilah bicara dan angkat senjatamu!” sahut Arlo dengan nada kesalnya.


“Hmm….”


Daniel meleaatkan pedangnya langsung ke arah Arlo dan melayang tepat di depan wajahnya, sembari menggores senyuman tipis di bibir pria itu.


...(----------------)...


Khira terdorong mundur dengan kedua kapak yang menghenpas dari kedua sisinya. Secara bersamaan, Bela menghempaskan pedangnya ke arah kedua iblis itu dan balik mendoronya mundur. Khira menarik kembali pedang besar itu, bersiap untuk memberikan serangan balik. Ia menyeret pedang besarnya dan menghempas langsung pada kedua iblis di depan Bela.

__ADS_1


Namun pedangnya digores dan di belokkan langsung oleh seorang pria yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Nanda melayang bersama pedang kecilnya dan menggores luka di salah lengan Khira sebelum ia bisa menyadarinya, darah sudah mengalir begitu saja. Sedangkan di belakang, Bela berlari sekencang mungkin dan memberikan serangan balik secara acak.


Terang-terangan, ia menebas pedang Nanda dan membuatnya terpukul mundur di susul salah satu wanita itu terluka parah di kedua lengannya. Darah bercucuran di tanah dengan luka dalam di kedua lengan wanita itu.


“Jendral! Tarik kembali pedangmu dan serang langsung bersamaku!”


“Baik!”


Pedang besar itu kembali mengecil bersamaan dengan Khira yang sudah melesat, beriringan dengan Bela. Mereka menyerang langsung ke arah Nanda yang bersama seorang wanita dengan penuh luka di sampingnya. Pedang keduanya mendorong Nanda mundur seorang dan meninggalakan wanita itu. Sampai akhirnya wanita itu terpojok dan tertusuk pedang Bela secara langsung di dadanya.


Kembaran wanita yang satu sudah berdiri gemetar kerenanya. Khira melesat ke arahnya dengan diikuti Bela di belakang, ia menghempas kapak wanita itu dan mendorongnya mundur. Bersama dengan Bela, wanita itu terbunuh di tangan Khira secara langsung.


“Khira! Ku peringatkan sebelum kau melangkah terlalu jauh!”


“Apa yang ingin kau katakan…?”


“Khira…!”


Bersama keempat orang di balakangnya, Nanda melesat ke arah du orang yang sudah membunuh kedua temannya. Mereka memasang serangan langsung dengan kedua anak panah yang melesat ke arah dua orang itu. Sedangkan keduanya mendukung Nanda dari belakang dengan belati di masing-masing tangannya.


Saat sampai Khira menahan serangan langsung dari Nanda dengan pedang besarnya, Bela di tebas langsung oleh kedua iblis di balakang. Menggores luka berdarah di perut gadis itu dan mengalir kemana-mana. Gadis itu sudah lemas gemetar di belakang dengan memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


“Awas kakimu, Khira!” Nanda sudah tapat di depan Khira.


Ia mendapat kesempatan dan menebas kaki kiri Khira dan mematahkan langsung dengan pedangnnya. Sedangkan di belakang, Bela masih harus bertahan dengan kedua orang yang memojokkannya.


Kaki kiri Khira sudah tidak bisa menahan tubuh besarnya bersama dengan pedang di tanganya. Dengan sekuat tenaga, ia berbalik dan menarik kedua pedangnya yang kembali pada dua orang di belakangnya. Dalam satu hempasan, keduanya terluka parah karena gerakan Khira yang sangat cepat. Satu tusukan terakhir untuk keduanya, menggores darah yang mengalir di tanah, membuat Nanda semakin melotot kesal.


“Tidak ada ampun untukmu kali ini, Nanda!” teriak Khira dengan kerasnya.


"Khira…!”


Dengan tertatih, Khira berlari kearah lawannya dan mereka saling benturan satu sama lain dengan senjatanya masing-masing. Sampai salah seorang teman Nanda menyerang langsung dengan anak panahnya dan memecah keduanya. Dalam salah kesempatannya, Nanda melesat dan hendak


menghunuskan pedangnya ke arah Khira.


Sampai pedang itu sudah melayang tepat di depannya, seseorang melesat sampai akhirnya pedang itu menusuk tepat di perutnya hingga tembus. Darah muncrat tepat di depan wajah Khira yang terkejut hebatnya.


“Bela…!”

__ADS_1


Tepat di depan mata Khira, Bela tertusuk pedang di perutnya hingga tembus punggung. Seketika, pedangnya di tarik kembali dan Nanda kembali mundur.


Khira segera menangkap tubuh lemas gadis itu di pelukannya. Air mata terus saja menetes sejak saat itu, membasahi pipi Khira yang di penuhi kesedihan bercampur rasa kesal. Dia berteriak sekencangnya memanggil nama gadis itu, berusaha membangunkannya.


“Bela! Bangunlah...! Bela!”


“Jendral… aku… aku baik-baik saja… akhh…” gadis itu lagi-lagi memuntahkan dara dari dalam mulutnya.


“Bela!”


"Jangan kalah... lindungi Tuan Arlo dan Nona Eri... Akh!" gadis itu sudah tidak sadarkan diri.


"Bela? Bela...!"


Ini mungkin untuk terakhir kalinya, Khira bangun dengan penuh keputus asaan. Dia membaringkan tubuh tak bernyawa gadis itu dan berbalik dengan tertatih, ia menatap tajam kearah lawannya.


“Ini akan menjadi terakhir kalinya kau tersenyum, Nanda!”


Dia menarik tepat pedang Bela yang tergeletak di sebelahnya sembari menyeret pedang besar di tangan kirinya. Berjalan perlahan mendekati Nanda yang hanya senyum-senyum penuh kepuasan. Tanpa di sadari, darah keluar begitu saja dari sebagian tubuh dan wajahnya, bersamaan dengan tubuh Khira yang mlerah seperti bekas terbakar.


“Hoh! Kau menggunakan sihir seperti ini juga? Tak kusangka kau lebih jauh dari sebelumnya. hokhh!” Oceh Nanda sembari menutup mulutnya yang muntah darah.


Khira hanya berjalan menunduk suram sembari menyeret pedang besar di tangan kirinya sedangkan pedang di tangan kananya sudah membara di penuhi aura gelap di sekitarnya. Tubuhnya semakin mlerah dan berdenyut-denyut, sedemikian dengan Nanda yang terlihat semakin pucat di ikuti darahnya yang terus keluar.


Para bawahan Nanda melesat dengan senjatanya, menebas langsung ke arah Khira dan membuat luka yang lebar di sebagian tubuhnya. Entah kenapa, tapi Khira sama sekali tidak menghindari serangan itu, seakan serangnnya tidak ada artinya. Dia terus saja melangkah dengan tubuhnya yang di penuhi luka berdarah. Sampai berhenti tepat di depan Nanda dan menatap tajam penuh rasa benci.


“Kali ini… kau sudah tidak punya jalan lari… kau akan membayarnya, Nanda!”


...(----------------)...


Tempat di mana Khira dan Bela bertarung, Ferdi yang sejak tadi bersama Eri tidak tau apapun. Sampai tiba-tiba Sina berlarian ke arah mereka berdua dengan membawa kabar.


“Nona! Jendral butuh batuan! Dia diserang oleh dua belas orang elit dan hanya bersama dengan Bela di sana!” jelas Sina dengan tergesa-gesa.


“Baiklah! Kau tetap di sini bersama dengan Ferdi. Tahan iblis itu dan jangan sampai ada yang tersisa,”


“Baik!”


Saat di mana Eri berlarian ke tempat di mana Khira berada, saat itu juga ia melihat hal yang mengerikan. Melihat dengan kedua matanya, Khira sudah di tusuk dengan pedang tepat di dadanya hingga tebus dan tubuh lemasnya terangkat di udara oleh seorang pria dengan di dampingi beberapa iblis di belakangn. Sedangkan tidak jauh dari Khira berada, ia melihat Bela yang sudah terbaring penuh darah, di belakang Khira berada.

__ADS_1


“Ini… adalah akhir yang bagus, kan? Khira….” Pria itu jatuh bersama Khira di sebelahnya, mereka berdua terbaring tak sadarkan diri.


__ADS_2