Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 62 - Gelombang ketiga.


__ADS_3

Di tengah malam yang tenang itu, tiba-tiba tanah berguncang selama sesaat. Membangunkan orang-orang yang tidur dengan nyanaknya, disusul suara seseorang yang berteriak dengan kencangnya.


“Rampas semuanya…!”


Saat suara itu berakhir, suasana seketika berubah derastis. Suhu di sekitar juga meningkat, menjadi sangat panas persis saat siang hari. Gemuruh suara segerombolan iblis berdatangan dari sisi timur di susul tawa yang begitu mengerikan, mengantar khancuran di mana ia berada.


Selama beberapa saat, malam itu hanya di penuhi jeritan wanita dan anak-anak. Semua di bunuh tanpa tersisa, behkan bangunan yang berdiri telah di robohkan serata dengan tanah. Di mana-mana hanya tersisa darah berceceran, memenuhi aroma amis di udara.


“Dengan begini… hahaha… Arlo, apa yang akan kau lakukan setelah ini…?”


Seorang pria berdiri, menginggung cahaya matahari yang baru terbit dengan darah yang melumuri sebagian tubuhnya. Menginjak seorang mayat pria tua dengan gadis kecil di pelukannya.


...(----------------)...


Tepat saat Arlo bersama kelima orang temannya berpindah, silau cahaya selama sesaat mengganggu pandangannya. Sampai cahaya itu sudah lenyap, pemandangan mengerikan menggantikannya. Tepat di mana ia berdiri, di sekitarnya hanya ada sebuah rerurntuhan bagnunan yang sudah benar-benar rata dengan tanah.


Aroma amis menyengat, memenuhi udara sekitar. Arlo melangkah ke sesuatu tempat setelah hidungnya berhasil menyesuakan diri. Selama sesaat, suasana hanya di penuhi kesunyian dengan di selingi isak tangisan Eri yang tak kunjung berhenti.


“Berhentilah mengangis, Nona. Kau akan membuat mereka juga bersedih,” ucap Arlo dengan nada berat.


Eri tidak menanggapi dan hanya terus mengusap air mata yang keluar begitu saja dengan tanganya.


“Selamat datang kembali, Pangeran Arlo…” celetuk seseorang tidak jauh dari mereka berada.


“Kau senang sekarang! Kau senang sekarang, Daniel!” bentak Arlo, menunduk dengan air mata yang menetes.


“Huh, kau ternyata juga cengeng, ya. Tenang saja, kali ini adalah yang terakhir. Bila kau tidak mati kali ini, berarti aku yang akan mati,” ucap Daniel dengan percaya diri.


“Memangnya siapa yang peduli, kau itu sudah pasti akan mati di tanganku!”

__ADS_1


“Buktikanlah….”


Tangan pria itu terangkat disusul segerombolan besar iblis melompat keluar dari baliknya dan menyerang terang-terangan. Kali ini, sudah tidak ada kata bermain. Sabitnya membara panas dengan core api yang sudah merasuk kedalam tubuhnya. Golden Sword menyala terang di tangan Eri, bersiap untuk memenggal kepala iblis menjijikan itu.


Pertarungan besar diawali dengan kobaran api yang menghanguskan gerombolan iblis itu. Tidaklah sebatas itu, iblis kelas atas sudah berbaris rapi di belakang Daniel, menunggu perintah darinya. Sedangkan di depannya, sudah berlarian membabi buta. Hempasan Arlo cukup untuk menahan mereka dalam lingkup tertentu, dan sisanya lolos bertarung di belakang.


“Tuan Arlo! Kenapa Anda melawan yang tidak selevel dengan Anda. Kemarilah, pemanasan dengan Saya.” Celetuk seseorang di balik jubahnya.


Tanpa tanda apapun, Arlo melesat ke sumbers suaranya dengan sabitnya yang membara. Menghenpas udara dan membakarnya habis. Pria berjubah itu melompat mundur dan menarik sabit dari balik jubahnya. Suara besi terbentur dengan sangat keras di ikut dengan kobaran api di depannya.


“Anda benar-benar orang yang sangat beruntung, ya? Setidaknya, Tuan Daniel akan tersenyum untuk pertarungan saya, hahaha” celetuk pria itu membuka jubahnya.


Seoraang pria dengan goresan luka di sepanjang mata kanan hingga dagunya, tersenyum lebar ke arah Arlo. Dia melompat dan menghenpaskan sabitnya dengan ringan, mendorong Arlo mundur selama sesaat.


“Kau mungkin senang saat ini, Vion. Tapi kali ini akan jauh berbeda!”


Arlo melesat bersama dengan Core yang melayang di sebelah pundaknya, dengan api yang membara core itu menyemburkan tiga titik api dan membuat dinding yang membara di belakang Vion, membuatnya tidak bisa bergerak kemanapun.


...(----------------)...


Khira menghempas pedanganya dengan sekuat tenaga dan menghapus satu baris iblis di garis depan. Di belakangnya Sina melontarkan anak panah dengan mendukungnya dari belakang, panahnya membara dan membakar sebagian iblis. Sedangkan Ferdi dan Bela bertarung terpisah dibawah pimpinan Eri besama pedang emasnya.


Jumlah iblis yang berdatangan sudah tidak bisa di katakan jumlahnya lagi, dan mereka turus saja datang. Di tambah dengan Arlo yang bertarung dengan yang lain, mereka leluasa masuk dan menyerang. Ferdi di depan menahan serangan musuh yang berdatangan meski lengan kirinya belum sembuh sepenuhnya dan di dukung Eri di belakang bersama Bela.


“Ohh, jadi mereka yang merupakan bawahan sang Legenda itu? tidak ku sangka mereka lebih lemah dari yang ku perkirakan,” celetuk seseorang di depan.


“Yah, mau bagaimana lagi. Apa hebatnya Iblis di Soul Of Dark, Tunggu! Apa mereka juga iblis, hahaha…” suara tawa beberapa Iblis yang tidak jauh dari mereka berada.


Dua belas orang berjalan medekat dengan senjatanya masing-masing dan tersenyum lebar penuh percaya diri, menatap rendah mereka berlima. Khira segera mengalihkan pandangannya dan menatap kedua belas orang di depannya. Sang Jendral hanya tersenyum tipis tanpa memberi tanggapan.

__ADS_1


“Lama tidak berjumpa, Jendral Khira!” celetuk salah satu pria diantara mereka.


“Apa? Kau rindu dengan ku? Nanda.” Sahut Khira tidak memalingkan pandanganya.


Kedua belas orang itu melesat sedemikan rupa, menyerang langsung ke arah Khira dengan senjatanya masing-masing. Sedangkan Khira yang berdiri di sana, menginjakkan kaki dan menghenpas udara, aura gelap yang membakar kedua tangannya perlahan menghilang di susul asap putih yang menyelimuti dirinya.


Pedang perak yang biasanya di tangan Khira berubah dan membesar sedemikian rupa. Pedang itu menangkis semua serangan yang ada dengan mudah, membuat mereka terkejut dan menghentikan seranganya. Sebuah tombak yang begitu cepatnya, menghepas ke arahnya dan hampir memotong tangan kanan Khira.


“Kau masih sama seperti dulu, ini akan berakhir dengan cepat!”


Pria itu melesat dengan tombak besar di tanganya di ikuti dua orang wanita dengan kapak kembar di tangan masing-masing. Ia menusuk langsung ke pedang besar Khira dan menekannya mundur, sedangkan kedua wanita itu menyerang langsug dari samping khira secara bersamaan. Namun sarangannya gagal karena kedua anak panah yang di lontarkan oleh Sina.


“Kau beruntung sekali, Khira. Bagaimana dengan ini!” pria itu menebaskan tombaknya dan menyenggol langsung ujungnya yang menyangga di tanah.


Secara otomatis, perisai yang di buatnya terbuka. Membuka jalan untuk bisa menusuk langsung ke arah Khira secara terbuka.


“Nah! Begini, kan lebih mudah.” Ia langsung menusukkan tombaknya sesaat setelah pedang besar itu terlempar ke udara.


Tombaknya melayang tepat di depan dada Khira dan terjenti oleh sebuah pedang lain, dengan hempasan udara di sekitarnya. Mendorong pria itu mundur dan menjaga jarak antara mereka. Berkali-kali, Khira sudah hampir menuju ajalnya dan berkali-kali seorang teman menyelamatkan nyawanya.


Khira mundur dan menahan dadanya dengan mengendalikan nafas secara teratur. Disusul seorang gadis berdiri di depannya dan menahan serang langsung yang mengarah ke padanya tanpa sadar. Ia sedikit terdorong mundur dengan lengan kirinya yang sedikit tergores dan meneteskan darah.


“Jendral! Mundulah sebentar! Aku dan Sina akan mengurus mereka!” teriak Bela yang berdiri tepat di depannya.


Khira menarik kembali pedang yang tertancap tepat di sampingnya dan berjalan mendekati Bela. Ia berdiri berdampingan dengan gadis itu dan menoleh ke arahnya dengan senyuman tipis.


“Memangnya Jendral apa yang meninggalkan bawahannya di garis depan.”


Mereka menatap tajam kearah tiga orang iblis yang berdampingan dan ke sembilan orang lainnya yang berdiri dan menunggu.

__ADS_1


“Yah, ini pasti akan seru.”


__ADS_2