Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Historical Book II


__ADS_3

Ditengah pemibicaraan ringan, raut wajah Arlo berubah seketika saat raja mengatakan sesuatu kepadanya. Terkejut bercampur perasaan kesal memenuhi pikiran Arlo saat itu, sontak ia menatap tajam lawan bicaranya.


“Jadi maksudmu aku harus menyerah begitu saja! Selain itu dengan membiarkan kekuatan besar itu dalam genggaman monster sepertinya, apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada dunia!” Arlo tampak masuk dalam puncak amarahnya dan berdiri di depan kursi sambil tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan.


Ketiga orang lain di sekitarnya tampak terkejut dan menatapnya balik kepadanya, sampai akhirnya ratu yang menyahut kalimatnya.


“Kami tidak pernah bermaksud seperti itu, Arlo. Inti core tidak dapat digunakan secara sepenuhnya sampai mereka benar-benar terkumpul sepenuhnya. Sampai saat ini, Pangeran Daniel masih mampu mengumpulkan tiga inti saja. Dengan begini, kita bisa menghapus keberadaan core terakhir agar ia tidak dapat menemukannya. Selain itu, tanpa harus mengorbankan banyak nyawa dalam perang ini dan menyerahkan anak itu kepadanya merupakan pilihan terbaik.” Jelas ratu setenang mungkin.


“Kau pikir aku akan menyetujuinya! Aku akan membunuh Daniel sekali lagi dan untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada kontrak apapun yang akan terputus dari ku, camkan itu.” Arlo hendak berbalik dan pergi, namun langkahnya terhenti oleh kalimat ratu kepadanya.


“Arlo, apa kau yakin dengan keputusanmu? Apa bila orang-orang mengetahuinya, mereka akan menyalahkan dirimu atas kekacauan dan bahkan kematian yang akan terjadi. Apa kau berani menanggunya?”


“Dimanapun aku berada, orang-orang selalu berpikir buruk kepadaku. Untuk kali ini, biarkan mereka melihat apa yang sebenarnya mereka harapkan dari keburukanku.” Tutup Arlo beranjak pergi dari sana dengan membanting pintu keluar.


“Memangnya ibu macam apa yang akan berpikir buruk kepada putranya sediri. Hanya saja, Arlo. Karena aku sudah melihat semua yang akan terjadi setelah ini, aku hanya berusaha meperingatkanmu saja, Anak Muda.” gumam ratu dalam pikirannya.


...(----------------)...


Di dalam kamar yang tidak terlalu besar, Arlo berdiri di samping jendela sambil menatap keluar. Cahaya surya yang muncul dari ujung timur tampak mulai menyinari pepohonan hutan yang mengelilingi seluruh rumah yang ia tinggali. Tidak berselang lama, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu masuk dari luar sembari memanggil namanya.


“Permisi, maaf Tuan Arlo. Apa hari ini Anda tidak keluar?” seletuk sosok pria pirang yang sangat tidak asing.


“Tidak, Leo. Bisakah kau pergi kekota, Leo? Aku menginginkan sesuatu untuk dimakan malam ini,”


“Tentu saja, Tuan. Saya permisi dulu.” Leo berbalik dan hendak meninggalkannya dalam ruangan tersebut.


"Tunggu! Satu pesan lagi. Setelah ini aku akan pergi kesesuatu tempat, jadi jaga Valay ini dan jangan pergi kemanapun. Ini perintah."


"Sesuai yang Anda inginkan, Tuan." Leo menunduk dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Arlo tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pintu dimana Leo pergi. Dengan menghela nafas, ia memanjat jendela dan melompat keluar dari rumah tersebut, pergi melesat kesesuatu tempat.


“Maafkan aku, Anak Muda. Semua akan berakhir dalam perang ini.”

__ADS_1


Arlo melesat di antara pepohonan di hutan dan secepat mungkin menuju kesesuatu tempat.


Dalam diam diri, malam sebelumnya saat sehari setelah perundingan yang gagal. Raja datang dengan seorang kesatria bersamanya dan membawa Arlo pergi ke kastil untuk membicarakan penyerangan saat para iblis luar wilayah datang dan melakukan penyerbuan.


Dikarenakan Arlo yang menolak untuk langsung menyerahkan Leo, dengan terpaksa ia harus memimpin perang yang akan dilakukan saat ini juga. Dia meninggalkan kediaman tanpa sepengetahuan apapun dari Leo.


Sampailah ia di sebuah tempat yang sudah di janjikan dan lusinan barisan para kesatria di bawah pipimpinan raja di garis depan dan menghadap kesebuah hutan yang kosong. Dengan lantang pria itu meneriaki pasukannya sebelum saat sebuah portal akan dibuka. Dari barisannya, Arlo memimpin sebagai wakil dari ayahnya.


Portal yang menghubungkan antar wilayah tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Segerombol pasukan asing muncul dengan begitu cepat dan menerjang mereka semua. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, semua tiba-tiba sudah menghunus dan saling membunuh.


Dalam barisan paling belakang, anak panah diluncurkan dan menerjang banyak pasukan musuh yang terus berdatangan. Di bawah pimpinan Arlo, seorang jendral menghadap dan menongsong maju pasukannya langsung ke garis depan. Sampai akhirnya ia bertemu dengan para pemimpin musuh yang baru datang dengan beberapa orang yang mengikuti di belakangnya.


Arlo sendiri berusaha sekuat tenaga untuk meunggu waktu yang tepat sampai musuh terpojok dengan menahan serangan yang muncul dan melindungi banyak prajurit maupun kesatria dengan sabitnya. Namun para pasukan musuh rasanya seperti tidak ada habisnya berdatangan dan memaksanya mundur.


Disisi pimpinan raja Ordil, tanpa sengaja ia bertemu dengan sosok yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Seorang pria berjalan mendekatinya, melewati persenjataan yang saling beradu dengan memasang senyuman khasnya.


“Yo! Raja, serahkan core api kepadaku. Maka akan kutarik kembali seluruh pasukan Barat seperti yang aku janjikan.” Celetuknya dengan menatap raja dari kejauhan.


“Jadi kau yang bernama Daniel. Tentu tidak akan aku serahkan, Anda Muda! keluarkan saja semua yang kau punya!” sahut raja dari kejauhan.


Dia menatap kearah pria yang berdiri di hadapanya dan mengajaknya untuk berduel. Tanpa mengoceh apapun, sontak raja langsung menerjang kearahnya dengan pedang yang ada di tangannya.


“Dengar Yang Mulia, perang ini hanya akan sampai core api berada di tanganku. Jadi sampai saat itu tiba, mari kita menikmati pertarungan ini.”


Tombak menebas langsung kearah pria dengan set baju besi dengan pedang merah yang menyala-nyala bagaikan api yang membara. Keduanya saling tindih dan meninggalkan bekas benturan yang menghempas jauh di udara. Para prajurit dan pasukan kesatria sedikit terpengaruh karena benturan keras yang menepis udara di sekitar mereka.


“Oh, kau lumayan juga, Anak Muda,” celetuk raja dengan senyuman tipis di bibirnya.


“Apa Anda sedang meremehkan saya, Yang Mulia?”


Mereka saling mendorong mundur dan membuat jarak antara satu sama lain. Dengan ini, Daniel memanfaatkan senjata jarak menengahnya dan melempar salah satu tombakkan sebagai uji coba, anggapnya. Tapi tentu saja itu bagai mainan saja bagi raja, ia membabat tombak itu berusaha untuk memotongnya menjadi dua. Namun tentu saja usahanya gagal mengingat itu bukanlah tombak yang biasa ia mainkan di medan perang lainnya.


“Cih! Anak yang menjengkel, kan!”

__ADS_1


Ia jatuh di tanah dan menatap tajam sosok lawannya yang sudah melesat dengan dua bilah pedang besar di kedua tangannya. Dia menghantam pedang raja hingga ia terpental jauh di tanah. Sedangkan pedang Daniel menancap dalam di sampingnya terbaring.


Dengan langkah yang mantap, Daniel mendekat dan mengeluarkan bilah pedang lain di tangan kanannya dan menodongkan tepat di depan leher lawannya.


“Bangunlah, permainan belum bisa di akhiri sekarang, kan?” Daniel menarik kembali bilah pedangnya dan bersiap untuk ronde selanjutnya.


“Kau benar-banar menikmati pria tua ini, ya?” raja menyeret pedangnya lagi dan melesat dengan kencang kearahnya.


Tepat saat keduanya sudah hendak saling menghantam, tiba-tiba Daniel diterjang oleh sesuatu dari depan secara langsung hingga ia terhempas sangat jauh dari tempat awalnya. Sosok seseorang berjalan mendekat dengan menyeret kabel yang memanjang sampai di mana Daniel berada.


“Kenapa kau masih juga hidup, Daniel.” Ucap sosok tersebut.


“Kau? Pangeran Arlo, benar? Dulu saya tidak mengenali Anda, Pangeran.” sahut Daniel dengan nada yang terkesan merendahkan.


“Raja, pimpinlah pasukan. Akan aku ambil alih disini, pedangmu tidak akam mampu mematahkan kukunya.” Ucap Arlo tanpa memalingkan pandangan.


“Cih! Baiklah.” Dengan perasaan yang agak kesal, raja pergi memimpin pasukannya dan meninggal Arlo bersama amarahnya.


Tanpa basa-basi apapun, ia langsung melesat dengan kabel yang melilit tubuhnya dan menyusul sabit merah yang menancap di samping Daniel berada. Daniel dengan senang hati meladeni apa yang akan dilakukan oleh lawan barunya. Kedua bilah pedang yang sama mulai merambat keluar dari kedua lengannya sebelum Arlo sampai menghantamnya.


Angin lagi-lagi menghempas dengan kencang di udara saat keduanya sudah saling tinding satu sama lain. Tatapan kesal Arlo berbanding terbalik dengan senyuman yang pasang oleh Daniel. Perlahan aura gelap mulai merambat di sekujur bagian sabit Arlo dan mulai membuat kedua pendang Daniel retak.


Pecah pedang itu berkeping-keping sedangkan pemiliknya terhempas di udara dan jatuh dengan keras. Arlo berjalan mendekat dengan menyeret sabitnya bersama kabel yang masih melilit tubuhnya dengan memasang wajah yang begitu kesal.


“Apa hanya ini permainan yang ingin kau mainkan denganku, Daniel?!” gertak Arlo di depan Daniel yang terbaring di sampingnya.


“Hoh? Tentu saja tidak, Pangeran. Untuk Pangeran Arlo yang Terhormat, permainan seperti itu tidak akan seru bagi saya,”


“Apa maksudmu!”


“Tidak ada. Hanya saja, mungkin Vion sudah menyelesaikan tugasnya dan membawa pergi anak itu.” sahut Daniel dengan memasang wajah yang penuh rasa percaya diri.


Sontak Arlo tersentak setelah mendengar kalimat Daniel. Angin lembut menepis rambut lebat Daniel dan menghapus sosok pria yang berdiri di depannya. Senyuman tipis yang sama tergores di bibir pria itu sambil mengangkat tubuhnya berdiri.

__ADS_1


...~ Permainan Hiburan ~...


__ADS_2