
Arlo yang terbakar oleh amarah, membakar seluruh isi kekuatannya dan meledak hebat. Rambutnya yang acak-acakan menutupi matanya dan melangkah perlahan mendekati iblis itu. Api dari core yang dia simpan perlahan memberinya kekuatan dan membakar semua tubuhnya, membara hebat. Sabit di tangan kanannya semakin membara dengan api yang membakar sepanjang jalur yang ia lewati seperti aliran lava.
“Ohh? Sepertinya ada yang kepanasan.” Iblis itu tersenyum, dan berjalan mendekati Arlo.
Arlo tetap terdiam menunduk dan terus melangkah kearah kemanapun iblis itu berada. Sedangakan iblis itu juga mengarah kepada Arlo. Dalam jarak yang sudah dalam jangkauan, Arlo menghempas angin dengan sabitnya yang membara dan di tahan dengan tombak dalam sekali hempas.
Arlo kembali menyerangnya dengan kondisi yang tiba-tiba semakin lemas, memikirkan nasipnya berikutnya. Sedangkan iblis itu melesat di hadapannya, dan dengan kuat menendangnya hingga melesat ke belakang. Kobaran api di tubuh dan senjatanya perlahan menguap dan lenyap. Iblis itu dengan senang hati berdiri tepat di sebelah ia terbaring dan menancapkan tombaknya tepat di dada.
Tombaknya menusuk dan menembus kedalam tubuh Arlo tanpa hambatan. Darah yang mengalir di setiap tubuhnya menggores senyuman kepuasan di bibir iblis itu dan membuatnya semakin menggila. iblis itu terus menusukkan tombaknya pada Arlo semakin dalam tanpa jeda saking senangnya, sedangkan Arlo hanya tetap terdiam tanpa berusaha apapun.
Inilah akhirnya. Tetap saja sama, seorang yang paling aku harapkan akan selalu pergi meski bagaimanapun usahaku. Apa memang ini takdir sebagai seorang iblis yang salah jalan?. Apa memang seharusnya aku ini memang mengerikan sama persis seperti pria ini?, batin Arlo dengan pertanyaan yang mengiang di kepalanya, sambil terus menerima semua tusukan di tubuhnya.
“Wah, memang gadis itu sangat bekerja. Ayolah, apa akan menjadi kenangan yang sama? Pelayanmu yang setia akan sangat kecewa loo. Siapa namanya ya?
Ohh aku ingat, Leonardo, kan? Hihi...”
Benar, sepertinya dia akan kecewa. Apa akan terus begini? Apa aku tidak akan mati saja? Benar-banar merepotkan. Khehh!, batin Arlo dan dia mulai membuka matanya.
Tusukan terakhir setelah penampakan tubuh Arlo yang berlumuran darah di mana-mana, perlahan tombak yang menusuk tubuhnya terbakar bersamaan dengan tubuhnya yang mulai pulih. Dia menendang dengan sekuat-kuatnya seseorang yang ada di depannya, hingga melesat cukup jauh.
“Arlo akan tetap menjadi Arlo. Khehh... sial! kalimat itu memang menyebalkan!” gumam Arlo dengan senyuman tipis meluap-kan semua yang telah terjadi.
“Arlo!!” teriak seseorang dari belakang dan melesat ke arahnya, memukul keras kepalanya.
Perlahan Arlo menoleh, terkejut dengan apa yang dia lihat. Seseorang yang seharusnya membuat kesedihan baru setelah ini, rupannya dia malah tersenyum lebar di sampingnya.
“No-Nona!" Arlo menoleh seorang gadis berdiri tepat di sampingnya.
“Hmm? untunglah... aku masih sempat.” Perlahan gadis itu menarik pedang yang ia tusukkan secara sengaja pada Arlo dan lukannya perlahan sembuh.
“Ba-bagaimana bis-“ Arlo mulai menyadari apa sebenarnya yang terjadi, darahnya yang abadi kini juga mengalir di tubuh Eri.
Dari kejauhan, seseorang melesat dengan wajah kesal, menerjang Eri dan tertahan oleh sabit Arlo. Wajahnya terlihat semakin buruk, menatap Arlo dengan penuh cemas dan rasa benci yang dalam.
Di saat itu juga, wujud iblisnya perlahan berubah menjadi seorang manusia dan ke empat tangannya sudah menghilang.
"Kenapa? apa kau akan menyerah?" ujar Arlo, sembari menghempaskan pria itu mundur.
"Seorang Tuan Arlo memang sangatlah hebat, ya?. Tapi lihat, ini pasti akan menyenangkan." Pria itu mengangkat core di tangannya, tersenyum puas meski tangannya perlahan luluh karena panasnya.
__ADS_1
Rupannya tanpa sadar, saat pria itu mendekati Arlo dan Eri, dia meresap ke dalam tubuh Arlo dan perlahan menarik keluar core dari tubuhnya. Karena itulah tubuhnya berubah ke wujud setengah manusia.
"Memangnya apa yang kau bisa dengan core sepanas itu? apa kau ingin menguap," Arlo tersenyum tipis dan menarik kembali sabitnya.
"Mungkin pertarungan ini akan sia-sia, karena aku melawa sok-sok yang abadi seperti kalian berdua. Tapi! dengan meledakkan se-isi kota, pasti gelombang berikutnya akan mudah, haha..." pria itu mengangkat core di tangnnya dan perlahan meresap kedalam tubuhnya.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua segera melesat menuju pria itu, berusaha merebut kembali core di dalam tubuh lawannya. Arlo melempar sabitnya bersamaan dengan Eri yang sudah berlari di depannya. Pedang emas itu bersinar terang setelah sekian lama Arlo tidak melihatnya.
Sabitnya berputar dan berbelok langsung ke arah Eri, dengan satu hentakan, gadis itu melompat melalui ujung sabit itu dan membuka serangan ke arah lawannya. Sedangkan Arlo melesat di sebelahnya dan menarik sabitnya keluar lingkup, membelokkan kabelnya dan mengikat pria itu.
Entah karena meleset atau apa, pedang Eri malah secara tidak sengaja memotong kabel Arlo dan membuat lawannya melepaskan diri. Mereka terpaksa mengulang strategi meski waktu mereka tidak banyak.
"Dasar Bodoh! waktu kalian sudah habis, hahaha... core ini akan meledak dan mengancurkan seisi kota." Teriakan yang sangat lantang, menatap Arlo dengan senyuman yang menyebalkan.
Core di tubuhnya perlahan mulai bereaksi dan menguap. Sama persis seperti Arlo sebelumnya, tubuh pria itu terbakar hebat, membara penuh kekuatan. Tanah yang menyanggga tibuhnya perlahan berlubang semakin dalam, seperti sedang di cairkan. Cahaya sudah keluar dari tubuhnya, bersiap meledak kapanpun sesuai keinginan.
"Teman kalian, akan mati. MATI Loo! hahaha!" pria itu terlihat sangat puas, tapi tanpa sadar Arlo sudah beridiri di belakangnnya.
"Core ini sudah cukup membakar tubuhmu, aku ambil kembali ya?" Arlo tersenyum dan tangannya meresap masuk kedalam punggung pria itu, menarik kembali sesuatu yang berwarna merah dari dalam tubuhnya.
Seketika pria itu meledak dalam lingkup yang besar, hingga membuat sisa ledakan berlubang yang dalam. Arlo masih sempat menjauh, tapi yang lainnya cukup terdampak dari ledakan itu dan membuat kota berantakan.
"Kerja bagus, Tuan, Nona..." seorang pria tembus pandang dengan rambut pirang, tersenyum hangat kepada mereka berdua, dan lenyap di tiup angin.
...(----------------)...
Perlahan Khira membuka matanya, di sebuah ruangan yang asing dengan hanya di sinari cahaya bulan yang menembus jendela lebar di sisi kanannya terbaring. Perlahan ia mengangkat tubuhnya yang dipenuhi perban, berusaha untuk bangun. Dia menoleh ke sisi kirinya, seorang gadis sedang tertidur di atas kursi dengan meletakkan kepalanya di atas kasur tempat Khira terbaring.
“Bukankah ini adalah putri yang di teriak-i seorang pria dalam pertempuran tadi?
Ohh! Tuan Arlo!” gumam Khira berusaha mengingat kejadian sebelumnya tanpa bisa menyadari apapun.
“Sudah baikan?” suara yang lembut terdengar tepat di sebelah Khira.
“Ohh! Nona! Aku rasa sudah, aku akan- akhh!” darah mengalir di lengan kirinya dan perlahan keluar dari perban.
“Jangan paksakan dirimu, ini sudah menjadi tugasku,” perlahan gadis itu bangun dan pergi mengambil gulungan perban di atas meja dekatnya.
Perlahan gadis itu membuka perban dan membersihkan setiap darah yang keluar. Sepertinya Khira sedikit merasa tidak enak dengan pelayanan yang tiba-tiba seperti ini tanpa penjelasan yang jelas. Dia masih terus berusaha untuk mengingat seluruh kejadian sebelumnya dan merasa kawatir pada Arlo, hanya Arlo. Wajahnya terlihat jelas bahwa dia sedang berfikir keras.
__ADS_1
“Tenang saja, mereka sedang istirahat di ruangannya. Selain itu, aku berterima kasih padamu Tuan,” Putri masih memasangkan perban di tangan Khira dengan pipinya sedikit merah meski wajahnya tetap datar.
“Terima kasih? Memangnya apa yang aku lakukan padamu?” Khira menjawab dengan nada polos, seakan benar-banar tidak berniat menyelamatkan gadis itu.
“Aku tau dan biarkan saja semua terjadi. Intinya, saya berhutang nyawa padamu, Tuan.” Kalimat berakir dengan perbannya yang selesai dan di ikat dengan sangat kuat, membuat Khira meringis ke sakitan.
Mereka terdiam sesaat, tiba-tiba rasanya begitu canggung setelah mendengar kalimat gadis itu. Khira menyeletuk sebuah kalimat yang membuat gadis itu menarik alisnya.
“Anu... Nona hanya memegang pedang sebesar itu dengan satu tangan, Apa itu memang sangat ringan seperti yang terlihat?” celetuk Khira tidak berani mengangkat wajahnya.
“Itu karena aku sudah terbiasa sejak dulu dan-“ kalimat gadis itu berhenti karena seseorang mengetuk pintu dari luar.
“Nona Bella, permintaan Anda sudah siap. Apa Anda masih bangun? Permisi saya masuk lo,” perlahan pintu di buka oleh seorang wanita yang sama, yang mengantarkan baju pada gadis itu.
Sesuatu di atas nampan di letakkan di atas meja, di dekat pintu masuk dan wanita itu kembali keluar tanpa sepatah katapun, dan kembali menutup pintunya. Gadis itu pergi mengambil sesuatu yang tergeletak di atas nampan yang di bawa wanita itu.
“Apa yang kau minta saat seperti ini?” celetuk Khira menatap gadis yang berjalan kembali duduk di depannya.
“Peduli amat, aku suka makan saat tengah malam. Ini adalah kebiasaanku,”
“Kau bercanda? Kau berbohong, kan?” Khira cekikian menatap gadis itu yang tetap terdiam.
“Tentu saja aku berbohong, makan sendiri di tengah malam itu jelas di larang bagi seorang bangsawan. Buka mulutmu, aku tau kau belum makan seharian,” gadis itu menodongkan sesuap di atas sendok.
“Lho? Ini akan semakin merepotkamu. Tidak perlu, aku baik-baik saja Nona,”
“Buka mulutmu,” gadis itu tetap memaksa dengan wajahnya berubah serius.
“Baik-baik, aku akan makan, tapi biarkan aku makan sendiri,”
“Lukamu akan semakin buruk jika kau terlalu banyak bergerak. Cepat buka mulutmu!”
Dengan terpaksa, akhirnya Khira mengalah dan membuka mulutnya untuk di suapi oleh orang asing di depannya. Tidak tau sebenarnya bagaimana yang terjadi pada tuannya dan merasa cemas itu sudah wujud dari kesetiaan.
"Anu... Nona-"
"Panggil Bella saja!" pertegas gadis itu, dengan sendok siap di depan mulut Khira.
"Apa kau tau di mana pedangku?'' pria itu menunduk, menggaruk kepalanya tanpa sadar.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya pedangmu patah,"
"Apa!! haduh... apa Tuan akan marah, ya?"