Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Historical Book V


__ADS_3

Sosok pria berjalan mendekati Vion dari belakang dan menepuk lembut pundaknya. Seketika aura putih yang menyelimuti tubuhnya padam tak tersisa. Dia langsung membalikkan badannya dan mendapati Daniel sedang berdiri di belakang dan tersenyum kearahnya. Melangakah perlahan, Daniel berdiri di samping pria itu dan menatap Arlo di kejauhan yang berdiri dengan memasang amarah di wajahnya.


“Kerja bagus, Vion. Tapi cukup disini, permainan sudah berakhir sekarang.” Celetuk Daniel tanpa mengalihkan pandangannya.


“Apa maksud Anda?”


“Kita tidak bisa mendapat, kan kembali inti api saat ini. Mereka sudah terhubung dengan kontrak dan seluruh kekuatan anak itu dalam genggaman Arlo. Kita harus membunuhnya untuk menunggu kelahiran berikutnya.”


“Itu menjelaskan kenapa kedua matanya menyala. Sepertinya kali ini kita memang kurang beruntung. Saya menunggu perintah, Tuan Daniel!”


Vion memasang kuda-kuda bersiap dengan sabitnya, aura putih itu kembali menguap menyelimuti dirinya. Dia melesat dengan meninggalkan bekas cekungan di tempat pijakkannya dan melayang di samping Arlo. Benturan keras antara satu sama lain tidak terhindarkan, meledak keras titik di mana kedua sabit itu saling tindih.


Kecepatan Vion meningkat jauh lebih tinggi, namun ketepatan Arlo jauh lebih unggul sehingga tidak ada sedikitpun serangan yang mengenai dirinya. Percikan api menyembur di udara dengan diiringi suara benturan senjata mereka berdua.


Di sisi lain, Daniel melangkah mendekati tubuh di mana Leo berada dan menghunuskan logam besi di tangan kirinya. Belum ia sampai di menyentuh tubuh pria itu, sebilah pedang biru sudah menusuk tanah tepat di depannya dan menghentikan langkahnya. Dia melirik kedua pria yang sedang bertarung sengit di udara. Tanpa peduli, ia mencabut pedang itu dan melanjutkan langkahnya.


Tanah meledak keras di depannya dan meninggalkan percikan debu di udara. Saat pandangannya mulai terlihat, tampak Arlo menindih pedang yang ada dalam genggaman dan mematahkan sebilah logam yang ada di belakangnya.


“Jangan sedikitpun tangan kotormu menyentuh anak ini!” seru Arlo dengan menatap Daniel penuh rasa benci.


“Oh. Sebenarnya aku tidak ingin menyentuhnya, aku hanya akan membunuhnya saja!” sahut Daniel dengan menghempaskan Arlo dari hadapannya.


Namun itu tidak sedikitpun membuat Arlo berkutik, bahkan tanah tempat pijakan mereka berdua sampai meninggalkan bekas cekung dan retak. Senyuman tipis seperti biasa langsung tergores di bibi Daniel. Tidak sampai disitu, dari kejauhan Vion menerjang mereka berdua dan menghantam sabit Arlo hingga mereka berdua terhemas jauh. Dengan membiarkan Daniel menyelesaikan semuanya, Vion bertarung menghadapi Arlo.


“Heh. Anak ini akan tetap mati di tanganku, Pengeran Arlo!” dengan cepat Daniel hendak menusukkan pedangnya saat tidak ada lagi yang menghalangi jalan.


Darah mengucur dengan diiringi garis senyuman di bibir Daniel. Mendapati sosok pria yang terbaring di bawahnya dengan sekuat tenaga menahan bibir pedang yang hendak menusuk dadanya dengan kedua telapak tangannya yang robek berlumuran darah.


“Bagus-bagus, ini akan semakin seru!” Daniel menarik kembali pedangnya dan melemparkannya di depan Leo saat ia baru mengangkat tubuhnya.


Dengan sedikit tertatih, kesadaran Leo mulai pulih. Dia menyeret pedang itu dalam gengaman tangannya dan menyelimutinya dengan kobaran api. Dalam sekali hempas, tempat di mana sebelumnya Daniel berdiri berkobar oleh api.


Dengan terus melompat-lompat menghindari serangan yang dilancarkan Leo, Daniel tertawa riang penuh rasa kepuasan.

__ADS_1


“Bagus-bagus! Teruskan, Anak Muda!”


Dengan menjelujur, sebilah pedang besar terbentuk dalam genggaman Daniel dan meledak bersamaan dengan kobaran api yang mengarah padanya. Tidak hanya di situ, tanpa memberikan kesempatan kepada lawannya, Leo menerjang pedang Daniel dan mendorongnya jauh kebelakang. Diluar dugaannya, anak kecil yang selalu ia permainkan saat ini sudah tumbuh menyerupai monster dengan kedua tanduk gelap yang menjulang di sepanjang rambut panjangnya.


Dalam kondisi saling tindih, Daniel menghempaskan anak itu dengan mudah. Tanpa memberikan waktu berhenti, tubuh Daniel sudah melesat di samping Leo yang melayang di udara. Dengan keras ia menebasnya dan pedangnya tertahan langsung pada pundak Leo seakan pedang itu tidak mempan.


Tubuhnya berkobar api merah yang menyala-nyala, Leo membalas dan menebas pedang itu hingga terpotong rapi di depan wajah Daniel. Sontak ia segera mundur sebelum api itu juga memotong dirinya. Senyuman tipis lagi-lagi terukir di bibirnya saat menyadari wujud Leo yang mulai berubah.


“Satu Core sudah membuat dirinya bagaikan monster, apa yang terjadi bila ltu ada tiga, ya?”


Tangan gatal Daniel meraih meja dengan tiga inti core yang melayang di atasnya. Tipe tubuh Daniel yang dapat menyerap apapun entitas energi, tampak mulai membengkak karena menyerap ketiga inti core. Dia terus menyerap sampai batas yang ia perkirakan dan berhenti dengan tubuhnya yang kembali normal.


“Rasanya tubuhku sampai akan me- hmp! Ark!”


Tubuh Daniel kembali membengkak hingga berbentuk seperti sebuah balon dan melayang di udara. Dari kejauhan, Vion menatap cemas dan berteriak memanggil tuannya. Tidak berselang lama, balon tubuh Daniel meledakkan kekuatan besar dan melahirkan wujud barunya yang sempurna.


“Hah… rasanya segar sekali. Baiklah, apa gunanya keempat tangan seperti ini, ya?”


Dengan menggertak giginya kesal, Leo melesat kearah lawannya dan menghantam Daniel dengan begitu keras. Namun hanya bagaikan ranting yang menyenggolnya, pedang itu terhenti begitu saja dengan tombak yang ada di tangan kiri Daniel.


“Jadi seperti ini rasanya kekuatan core. Tidak kusangka akan semengerikan ini, kan?”


Dihempas keras tubuh Leo jauh di tanah hingga membekas cekungan yang dalam. Meringis kesakitan, ia melirik sosok Daniel yang berjalan perlahan mendekatinya. Tombak melesat langsung mengarah kepala Leo dengan kencang. Ia hanya bisa menahan dengan satu pedangnya saat serangan bertubi dilcancarkan.


Namun tidak hanya sebatas itu, kedua pedang Daniel yang sudah saling tindih dengannya dapat terpukul mundur oleh panas dari pedangnya. Dengan mengandalkan kecepatan miliknya, Daniel cukup tertekan karena hanya dapat menahan serangan yang terus-terusan menghantam dirinya.


“Lihatlah, lihatlah! Kobaran api itu tidak kunjung padam!” seru Daniel bersamaan ia menghempaskan tubuh Leo tepat di depannya.


Sadar saat ujung tombak sudah menghunus tepat di depan lehernya, Leo segera meledakkan kobaran api di depannya dan melompat mundur saat Daniel melepaskan dirinya karena terkejut. Kobaran api yang meledak di depan Daniel hanya membekas hitam tanpa sedikitpun rasa sakit yang di gambarkan dari wajahnya.


Tanpa menunggu lagi, ia melesat kearah Leo di kejauhan dan menghantamnya lagi dengan pedangnya. Leo terlontar jauh dan lagi-lagi Daniel menghantamnya terus-terusan saat dimana ia terlontar. Tubuhnya tidak terluka sedikitpun karena api yang melindungi tubuhnya, hanya saja ia tampak kehabisan tenaga karena terus-terusan menghantam tanah.


Dalam sebuah kesempatan, Leo berhasil menahan serangan Daniel dengan sedikit memutar dirinya saat sebelum jatuh dan ia berhadapan dengan lawan dan menahan getaran api yang meledak di depannya. Saat itu ia pikir dapat sekali lagi membalikkan serangannya dengan menahannya langsung, namun itu malah membuat dirinya sendiri terpukul dan kehilangan keseimbangannya sendiri hingga ia terlontar di udara karena ledakan tersebut.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” Daniel melompat di udara dan menyusul dirinya.


Kerasnya pukulan yang lagi-lagi menghantamnya, ia jatuh di tanah dengan posisi terbaring lemas. Saat ia hendak bangun mengangkat dirinya, Daniel sudah dulu menahan langkahnya dan mencekik lehernya dengan kuat.


“Cukup sampai disini, Nak. Jelas sekali kau tidak pantas untuk memiliki kekuatan ini.”


Dengan keras Daniel menekan lengan kanannya dalam leher Leo dan membuat kedua matanya melotot kesakitan. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh Daniel untuk melawan. Namun dengan diiringi tawa Daniel, kedua lengannya tidak dapat sampai karena kesadarannya yang mulai lenyap.


Saat ia sudah sampai di titik jurang, tiba-tiba sosok itu lenyap dengan diikuti nafasnya yang kembali pulih sepenuhnya. Perlahan kesadarannya mulai kembali, sontak ia bangun dan mendapati dua orang pria saling tinding tidak jauh darinya berada. Tidak berlangsung lama, salah satu di antara mereka diterjang sosok lain dari kejauhan dan berhenti begitu saja dengan kabel yang menahan sebuah sabit dalam gengaman pria itu.


“Tuan Daniel, sepertinya Anda sangat menikmati ini? Saya cukup terkejut dengan wujud yang sedang ada di hadapan saya adalah Anda.” Celetuk Vion yang mendukung kedua pedang Daniel dari samping dimana sabinya tertahan oleh kabel yang melayang di sisi kanan Arlo.


“Menurutmu begitu?” Daniel tertawa kecil menanggapi kalimat pelayannya.


“Apa kalian sudah selesai!” gertak Arlo di antara mereka berdua.


Suara keras menghantam kedua pedang Daniel hingga patah begitu rapi dan tergeletak di tanah, menggores raut terkejut di ketiga pria itu. Tampak sosok pria dari kejauhan dengan nafas yang terengah-engah sedang menggenggam kuat pedang di kedua tangannya. Kobaran api menjalar di seluruh tubuh seutuhnya.


Dalam kesempatan itu, Arlo menebas tubuh Daniel dan berhasil dengan rapi memotong kedua lengan kirinya dengan rapi. Sontak Daniel segara menarik tombak kirinya saat Arlo hendak melancarkan serangannya lagi. Namun Leo sudah dulu menerjang dirinya dan berhasil membelah tangan kiri atas dimana tangan itu sedang menahan sabit Arlo.


Tanpa halangan apapun di depan mata, Arlo menerjang dan hendak memisahkan kepala Daniel dari tubuhnya. Namun lagi-lagi hal lain menghalangi dirinya. Sabit Vion retak dan hendak hancur saat ia berusaha menahan serangan Arlo. Dari balik itu semua, Leo di belakang hendak membabat punggung Daniel sebelum sempat ada yang menghalangi lagi.


Meski semua sudah terlihat mudah, kenyataan berbalik arah saat tepat di depan wajahnya Leo melihat bagaimana ketiga tangan Daniel yang sudah tumbuh dengan begitu cepat dan menahan serangan dengan ketiga pasang senjata yang sama. Sontak wajah kedua pria yang menentangnya langsung terkejut dan menjaga jarak dengannya.


“Vion!” seru Daniel dengan nada yang kesal.


“Ya, Tuan?” dengan lembut Vion menyahut.


“Cepat akhiri semua ini dan bunuh anak itu!”


“Laksanakan.”


...~ Monster ~...

__ADS_1


__ADS_2