Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 44 - Pemenang.


__ADS_3

Jam di tengah kota berbunyi dengan keras, menunjukkan angka 12 dalam romawi. Para pangeran besiap di arena nutuk pertarungan penentuan, sebagai sang pedang putih dan pedang hitam. Pertarungan pasti akan semakin mendebarkan dengan peraturan baru yang di berikan oleh raja sebagai tantangan tambahan.


“Di tengah lingkaran itu, kalian akan bertarung sampai ada yang keluar atau terluka karena goresan pedang. Sebagai seorang raja, aku tidak peduli dengan luka parah atau tidak. Anggap saja ini adalah perjuangan untuk pendapatkan putriku yang sangat berharga itu.” perjelas raja dengan nada sinis.


Kedua pangeran itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa melawan perintah, karena itu adalah bagian dari yang namanya sayembara.


Dalam kuda-kuda bersiap, kedua pangeran itu memengang kuat-kuat pedang di tangannya untuk mendapatkan sang putri. Melesat kearah yang sama, Hendric menahan tebasan keras dari depan, dan menghemaskannya mundur. Permainan pedang keduanya tidak terlalu terlihat meningkat dari pada sebelumnya.


Di bandingkan pangeran Michel yang sejak tadi terus menyerang terbuka dari depan, pangeran Hendric tidak terlihat berusaha untuk menyerang dan hanya fokus untuk bertahan. Dia tidak terlalu serius untuk pertarungan terakhir dan membuat wajah lawannya terlihat kesal, menyerang membabi buta dan berusaha terus menekan mundur lawannya.


“Seriuslah mayat hidup! Kalau tidak, kau akan mati!” bentak keras pangeran Michel tepat di depan lawannya.


“Aku tidak akan memaksa untuk menang, menangkan saja hadiahnya untuk dirimu sendiri. Tapi simpanlah baik-baik!” jawaban dengan tatapan serius.


Pangeran Hendric menghempas lagi lawannya hingga terdorong jauh, menatap tajam lawan tandingnya. Sedangkan pangeram Michle sudah terhenga-engah, meski dia terlihat masih bertenaga. Kedua pedang itu mulai terlihat kusam karena benturan keras antara keduannya. Tidak tau apa yang akan di rencanakan lawannya, pangeran Michel tetap waspada dan bertarung dengan serius.


“Di pertarungan awal memang aku yang kalah, tapi kali ini aku akan benar-benar memotong poni menjijikan yang menutupi matamu itu!” ucap keras pangeran Mickel dari kejauhan.


“Terserah, bertarunglah sesuka hatimu.” Jawab enteng, balik memasang kuda-kuda.


Mereka berdua melesat lagi dan saling berhadapan dengan pedangnya sebagai landasa. Tatapan tajam penuh rasa benci, terlukis di seluruh wajah pria pirang itu. Menatap tajam lawan yang ada di depannya, pangeran Michel mengambil kesempatan untuk menendang perut lawannya, hingga ia meringis kesakitan dan menahan perutnya yang sakit. Dengan kesempatan ini, Michel langsung menebaskan pedangnya tanpa ampun.


“Ini baru menyenangkan, haha…” ucapnya dengan senyuman yang menyeramkan.

__ADS_1


“Mungkin kau akan senang, tapi ini belum cukup!” lagi dan lagi, pangeran Hendric selalu bisa menahan balik serangan pangeran Michel tanpa kesulitan.


Mingkin karena amarahnya sudah memuncak, pangeran Michel langsung menyerang terbuka dan menebas-nebas seenaknya pada pria yang masih menahan rasa sakit di perutnya. Dengan keras, pria pirang itu menendang kaki lawannya hingga terjungkal dan menyodok dengan siku pada punggung lawannya. Memaksa untuk terjatuh dan keluar garis batas.


“Bertahanlah! Aku belum menepati janjiku.” Pangeran Michle menarik lagi tangan lawannya masuk kedalam lingkaran sebelum dia sempat keluar.


Menendangnya lagi dengan keras hingga sempoyongan, wajah puas itu mulai tergambar dari senyumannya. Sedangkan lawannya masih terus menahan rasa sakit dan setiap tebasan yang di berikan lawannya tanpa sekalipun memberikan serangan balik.


“Ini, inilah bayaran untuk seseorang yang mampu, tapi sayangnnya dia tidak pernah untuk berusaha! Hahaha….” Untuk terakhir kalinya, pria pirang itu menendang wajah lawannya dan menebas rambut yang menutupi mata kanannya sampai mengores pipnya.


“Milikku….”


Karena sudah sangat kelelahan dan tidak kuat lagi menyangga tubuhnya sendiri, pangeran Hendric jatuh dan terbaring lemas di depan lawannya. Saat-saat terakhir pria itu di susul sorakan para warga yang menonton, pada sang pemenang tentunya.


“Sudah di pastikan, Pangeran Liberth Michel Endinburg-lah yang pantas sebagai seorang pendaping putriku.” Teriak raja selantang-lantangnya, kepada seluruhnya yang mendengar.


“Selamat Pangeran, semoga hidupmu bahagia bersama Nona,” ucap pria itu, melirik dengan sebelah matanya.


“Apa maksudnya ini?” lawan bicaranya menatap tajam.


“Bila Anda menanyakan goresan luka ini, maka saya akan menjawab sebagai seorang pecundang. Hidup di kerajaan sebagai seorang yang sangat di banggakan. Tapi tidak pernah sekalipun meresa jatuh cinta, sepertimu. Sampai seorang gadis yang menampakkan wajahnya di depan kastil.


…Mungkin bisa di bilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi kami sulit untuk bertemu. Sampai ada satu kesempatan, kami bertemu dan saling memandang. Dan itu menjadi pertama dan terakhir kami bertemu, saat raja yang melamarnya datang dan hendak membunuhku. Kami bertarung dan meninggalkan bekas luka di mata kanan ini, sebagai tanda kekalahanku. Heh… karena itu aku tidak akan merusak hubungan orang lain, itu sama saja merusak harga diri termasuk diriku sendiri,”

__ADS_1


“Terserah! Carilah keberuntunganmu sendiri dan dapatkan kebahagiaan, dari pada hanya memikirkan cerita konyol seperti itu. Dasar mayat hidup.” Pangeran Michel berbalik dan meninggalkan pangeran Hendric begitu saja.


“Yah… itu mungkin benar juga.”


...(----------------)...


Malam hari, mereka semua berpesta atas kemenangan Pangeran Michel dan perencanaan untuk pertunangannya besok malam. Untuk saat ini mereka sumua makan besar dan menari-nari dalam keadaan mabuk seperti bangsawan pada umumnya. Di tambah suhu dingin di luar karena hujan, sangat cocok dengan minuman hangat itu. Terkecuali untuk Hendric, jelas saja dia tidak menyukai hal seperti itu dan lebih suka minuman hangat lainnya dan bersandar di pojok ruangan.


“Selamat malam, Pangeran,” celetuk seseorang yang berjalan kearahnya.


“Selamat malam, Tuan Arlo.” Hendric hanya tetap menunduk, memandangi minuman di tangannya.


Arlo berdiri di tepat di sampingnya hanya terus memandangnya dengan wajah penuh penasaran. Menyenggol lengannya dan membuyarkan lamunan pria itu dan tersenyum kepadanya.


“Apa tidak masalah dengan ini?” ucap Arlo, setelah pria yang berdiri di sampingnya mau menatapnya.


“Bukankah itu yang benar? Tapi aku tidak merasa nyaman seperti biasanya,” pria itu kembali menunduk dan meminum tehnya.


“Apa maksudmu, kau sudah sering mengalami hal ini?”


“Tentu saja, aku sering mengalami hal ini dan membuatku merasa bosan. Tapi entah kenapa kali ini…,” kalimatnya terhenti karena Arlo menyenggol kembali lengannya.


“Kau ini gila atau apa, berhenti berpikir dan lakukan saja.

__ADS_1


Dan lagi, jangan lakukan hal yang kau benci. Karena itu bagian yang membuatmu tidak bahagia, dah...” Pertegas Arlo.


Arlo hanya tersenyum dan pergi meningggalkannya, sedangkan pria itu tetap menunduk dan memikirkan hal yang sama. Sampai secara kebetulan saat kilat menyambar, pangeran tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Menggores wajah cemas dan firasat buruk di wajahnya.


__ADS_2