Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Kisah Kecil - Dua Sosok


__ADS_3

Diusianya yang menginjak enam tahun, seorang Nona Elly ditunjuk langsung untuk menggantikan kursi kosong yang ditinggalkan ayahnya. Tidak ada seorangpun yang menolak keputusan tersebut, mengingat semua orang begitu menyayangi sang putri. Namun terkecuali kepada Nona Elly sendiri yang langsung enggan menerima keputusan tersebut dan membiarkan kursi kosong untuk sementara.


Ia menolak dan memilih untuk pergi ke wilayah barat, menghabiskan waktu belajar kesekolah bangsawan sebagaimana seorang putri kerajaan. Meskipun dibilang demikian, namun kali ini sikapnya mulai berubah perlahan-lahan. Dia tampak mulai nakal kepada anggota keluarganya dan membuat mereka semua tidak habis pikir dengan yang ia lakukan.


Selama beberapa bulan, meski ia juga anak yang baru pindah, semua orang selalu mendekati dan menghabiskan waktu dengannya. Anak yang unik sepertinya terlalu mencolok bagi mereka. Namun anehnya, berapa lamapun mereka menghabiskan waktu lakyaknya seorang teman, tidak ada seorang pun yang mengenal siapa, dimana, kenapa dan bagaimana mengenai dirinya. Tidak ada satupun informasi yang dengan senangnya ia bagikan.


Meskipun dalam satu kelas, baik itu para pangeran maupun para putri yang selalu mendekatinya, ada seseorang yang mulai menarik perhatian dirinya. seseorang itu tampak dijauhi oleh siapapun dan membuat semua orang merasa buruk akan kehadirannya. Selama beberapa waktu, ia hanya memperhatikan dan mengawasi.


Sampai disuatu kebetulan karena alasan tertentu, semua orang sudah pergi meninggalkan kelas dan tersisa hanya mereka berdua, disitulah awal mereka bertemu. Dari bangkunya yang ada di depan, dia melirik anak itu dan mulai bangun dari tempat duduknya. Selangkah demi selangkah tanpa keraguan ia berdiri di sampingnya duduk dan menyapa.


“Anu, apa benar ini Pangeran Arlo?” celetuknya sambil hendak menepuk pundak anak itu.


Dari balik tudung baju, anak itu mulai mengangkat dagunya yang sejak tadi asik membaca buku.


“Apa ada masalah?” sahut anak itu yang mulai menampakkan sesuatu dari balik tudung tersebut.


“Tidak, bukan begitu. Sepertinya kau cukup terkenal dengan kemampuanmu?” Elly hendak duduk di sebelah kirinya.


“Apa maksudmu? Aku permisi dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Anak itu bangun dari duduknya dan beranjak pergi tanpa mempedulikannya sedikitpun.


“Eh! Tu-tunggu...!” Elly tampaknya tidak sempat untuk mengejar.


Ia segera menuju kearah pintu, namun nyatanya malah tidak ada seorangpun dalam pandangannya. Dengan wajah yang cukup kesal, ada sedikit rasa penasaran yang meliput di hatinya.


Dihari berikutnya, kali ini ia tidak menunggu sebuah kebetualan yang dengan senang menipu dirinya. Dia menunggu anak itu bangun dari bangku duduknya dan mengejar di sebuah lorong. Sambutan dari percakapan yang ia peroleh malah semakin memukul dirinya, namun lagi-lagi ia semakin penasaran dengan keberadaannya yang misterius.


Selama beberapa hari, ia hanya menghabiskan waktu menunggu dan menunggu. Beberapa waktu, ia sempat mendengar fakta tentang dirinya. Anak yang dipenuhi dengan kesan yang buruk dari pandangan siapapun yang mendengar namanya. Meskipun begitu, ia tampak tidak peduli dengan menganggap semua itu hanya kebohongan semata dan rasa penasarannya semakin tajam bagaikan pedang yang setiap hari ia mainkan.


Sampai disuatu ketika, ia sedang jalan-jalan seorang diri di tepian sungai. Tanpa sengaja, ia melihat Arlo yang sedang duduk di tepian sungai dan bersandar di sebuah pohon rindang. Raut wajahnya tampak sangat terkejut saat ia melihat sebuah sabit yang menancap di depannya. Tidak cuman itu, dari kejauhan tampak ia melihat air mata yang menetes membasahi pipi anak itu.


Entah apa yang sedang terjadi padanya, rasanya ada yang menyesak di dalam hati dan nafasnya semakin terasa berat. Pikirannya yang masih polos memaksa dirinya untuk mendekat dan menelan semua rasa penasaran yang mengiang di pikirannya. Namun semua itu hanya terlewat begitu saja dan ia berlari menjauh dengan meninggalkan air mata.


Entah ia begitu kesal atau tidak percaya, yang ia lihat secara langsung saat itu adalah benar seorang Blood Prisce yang dirumorkan. Permintaan terakhir ayahnya yang hanya ia anggap sebuah kiasan rupannya benar-benar terjadi. Ia harus menghentikan sang pembunuh berantai itu dan harus menjadi tugas yang ia emban.


Saat itulah sikapnya mulai berubah, dia semakin menjadi gadis yang buruk. Sifat anggun dan senyuman yang selalu tampak di wajahnya kini sudah jarang sekali terlihat oleh siapapun. Kini, tidak sedikit anak yang enggan bergaul dengannya. Meskipun dibilang kesayangan, tanah yang kering selama satu tahunpun akan tetap basah bila diguyur oleh hujan.

__ADS_1


Mula, saat itu pula semua senyuman, kesenangan, perhatian, harapan dan mungkin sedikit cinta, akan tercurah kepada sosok yang hanya asing baginya. Bukan niat yang diinginkan ayahnya, namun sebuah niat untuk menyelesaikan tugas yang ia emban.


Sering ia menyapa diam, tertawa dan bercanda sendirian, berharap kosong dan kecewa tanpa sedikitpun dipedulikan oleh Arlo. Arlo itu benar-benar anak yang sangat menyebalkan, itu yang ada di dalam pikirannya. Namun, Arlo sangat menarik, apa yang mungkin akan terjadi saat aku menemuinya, itulah yang ada di dalam hatinya. Anak kecil seusia enam tahun yang dikenal dengan sikap dewasanya, jatuh tunduk dengan keinginan hatinya sendiri.


Para keluarga kerajaan dibuat cemas olehnya karena beberapa tindakan yang sering melampaui seorang gadis kecil sepertinya. Sering ia pulang telat dengan membawa hasil yang sia-sia, terkadang tampak memar yang membekas di tubuhnya, bahkan sampai ia pernah pulang saat hari gelap dengan tubuh yang basah kuyup kedinginan dan hampir pingsan.


Namun, tidak ada usaha yang pernah sia-sia. Sedikit demi sedikit, Arlo mulai melirik dirinya dan percaya. Sampai sebuah kejadian yang mengejutkan, menusuk dirinya dari belakang. Kejadian itu sama persis di tempat sebuah pohon rindang yang tumbuh kokoh di tepian sungai. Elly membawa Arlo kesana dan mendengar semua kenyataan yang ada. Seorang monster dengan dua tanduk yang menjulang di dahinya, berdiri tepat di depannya dengan mengangkat tinggi-tinggi sabit dalam genggaman.


“Jadi, apa kau benar-benar ingin mati di tanganku?” Arlo menatap sinis setelah mengisahkan semua tentang dirinya.


“Tentu saja, silakan.”


Meski dengan begitu kencang Arlo menebasnya, sabit tumpul itu terpental oleh kulit halus seorang gadis. Dengan menangis tersedu-sedu, gadis itu menerjang dirinya dan jatuh menindihnya.


Persis seperti yang dikisahkan sang ayah, Nona Elly benar-benar jatuh cinta pada air mata Arlo.


Berselang lama, hubungan mereka begitu dekat. Rasa sakit yang ada di dalam diri Arlo hilang tanpa bekas, sosok sebenarnya anak yang bernama Arlo mulai menampakkan diri yang sebenarnya.


Harapan yang mungkin terkabul itu hanya tampak sesaat dalam kedipan mata. Usia pubertas seorang gadis terjadi antara dua belas dan empat belas tahun. Saat suianya menginjak eman belas tahun, seorang nona putri seharusnya belajar memerintah dan menghafal semua tugas yang akan diemban. Nyatanya, semua hanya berlawanan semata. Gadis bijaksana itu sudah tidak ada, dan kini digantikan oleh seorang kesatria kerajaan Lianburg yang terkenal dengan ketangguhannya bersama seorang monster yang selalu mendampinginya.


Elly pergi meninggalkan kekuasaannya sebagai penerus kerajaan dan menghabiskan waktu di kerajaan asing bersama pria yang selalu bersamanya. Lambat laun ada yang tidak dapat disadari siapapun, bahkan dirinya sendiri. Hubungannya dengan seorang iblis yang terlalu dekat memberikan pengaruh buruk.


Tentu saja itu membuat Arlo terkejut setengah mati, bahkan ia sampai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Semua diakhiri sebuah pesan dari ibunya yang mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan sisa daya hidupnya dan menyimpannya dalam sejumlah kehidupan lain. Sampai saat waktunya, dia bisa kembali selayaknya seorang manusia, meski kemungkinan itu juga sangatlah kecil.


Sisa kekuatan hidup Elly tertinggal di halaman belakang kastil yang berdekatan dengan perbukitan. Dengan menurut pesan ratu Alyla, ditanamlah sebuah pohon beringin kecil dengan lima titik bunga yang mirip dengan bunga matahari dari dunia iblis. Selama delapan puluh tahun lebih, Arlo menunggu sampai sebuah kejutan yang membuatnya semakin penasaran.


...(----------------)...


Pagi hari yang cerah dalam hutan, dua orang pria yang tampak kusut berjalan menyusuri sebuah reruntuhan tua dengan raut linglung. Langkah demi langkah mereka tampak mengambil sisa-sisa yang ada di sana. Sampai sesuatu mengejutkan mereka berdua, secara tiba-tiba mereka berdua mendengar sebuah tangisan bayi tidak jauh dari mereka berada.


“Kakak, apa kau mendengarnya? Seperti ada seorang bayi yang menangis,” celetuk salah satu pria yang lebih muda sambil menepuk pundak kakaknya.


“Benar Yury, aku juga mendengarnya. Sepertinya suara itu berasal dari sana.” Sang kakak menunjuk kearah sebuah pohon di kejauhan.


Perlahan dengan penuh keraguan, mereka sampai dengan menghadap sebuah pohon besar yang tampak sangat tua dengan dedaunan yang mulai berguguran. Di bawah pohon itu terdapat sebuah tanaman yang mirip seperti bunga matahari, namun kelima bunga yang mengelilinya tampak sudah layu dan hampir mati.

__ADS_1


“Tempat apa ini? Apa ini sebuah taman sebelumnya?” pria yang lebih muda itu penasaran dengan menahan dagunya.


Sedangkan kakaknya berjalan mengitari semua tempat untuk menemukan sumber suara yang sejak tadi mengusiknya. Sampai akhirnya ia mendapati seorang bayi yang manangis dari balik pohon tersebut dengan gaun putih yang terlarit merah. Entah kenapa, saat mereka berhasil menemukan dan mendekati bayi tersebut, ia berhenti menangis dan seakan menatap balik pada mereka.


“Yury! Cepat kemarilah! Ada bayi di sini!” Serunya yang tampak ketakutan.


“Benar. Lihat, Kak! Apa dia bayi perempuan? Rambutnya panjang sekali, padahal dia seorang bayi.”


Semakin mereka memperhatikan, bayi tersebut tampak semakin aneh bagi mereka. Panampakan yang memang layaknya seorang bayi pada umunya, namun matanya yang tampak kuning sangat jarang di temukan saat ini. Sedangkan terdapat sesuatu seperti darah yang menempel di dahinya.


“Kak, apa kau mau mengadopsinya? Bukankah dia sangat kasian? Kak ipar pasti tidak akan keberatan.” Ucap sang adik dengan langsung menggendong bayi tersebut dan menyodorkan pada kakaknya.


“Yah, gimana? Keuangan kita, kan sangat minim. Kau tau sendiri, kan? Untuk makan saja kita harus begitu keras berusaha, bahkan sampai menyusuri tempat seperti ini.” Terasa berat, tangan sang kakak tidak dapat meraih bayi tersebut.


“Tidak apa, kan? Mungkin saja dia bisa membawa keberuntungan. Yah? setidaknya dia akan menjadi gadis yang manis.”


Dengan terpaksa pria itu akhirnya menerima gadis tersebut dan mulai merawatnya. Mereka pergi dan meninggalkan sesuatu yang penting tanpa bersama dengan bayi tersebut.


Bersama dengan istri tercintanya, ia merawat bayi tersebut hingga menginjak anak-anak. Dengan nama barunya, Erre Flassa. Dia adalah gadis yang sangat berlawanan dengan sifat yang dimiliki sang kesatria Elly. Dia benar-benar hanya menjadi anak gadis biasa pada umumnya. Dia lemah, penakut, proteksi diri, agak pemalu, setia, cengeng dan sedikit jutek.


Persis yang dikatakan dengan sang adik, anak itu benar-benar membawa keberuntungan padanya. Pria itu yang terlahir dengan nama Harto, dengan tujuan dan arti sebuah harta dari orang tua mereka. Sampai akhirnya harta itu di sampaikan dengan keajaiban yang datang kepadanya melalui seorang anak. Anak adalah harta keberuntungan.


Hidup selama tujuh belas tahun, benar-benar tidak ada yang sepesial dari hidupnya. Ditambah atas kematian sang ibu lima tahun yang lalu, bersamaan dengan terkutuknya penginapan milik pak Harto sendiri. Mungkin sampai kehadiran sosok yang seharusnya sangat sepesial baginya, namun karena sudah puluhan tahun, semua ingatan itu dengan mudahnya terhapus.


Permata kuning yang kebetulan mereka temukan di musium membawa seluruh ingatan dan jiwa sejati Nona Elly, yang tertinggal di pohon tua itu. Hingga akhirnya, Arlo dapat kembali memangku sang penyelamatnya.


Sepanjang perjalana keabadian, terkesan sebuah hal yang luar biasa baginya. Bagaikan hidup yang lama dan melihat masa depan, dia sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dua gadis sepesial dan tiga pria yang setia melayaninya.


Sampai semua berakhir dengan begitu kejam. Kenangan itu hanya tersisa sebuah reruntuhan desa yang menjadi rata dengan tanah. Tepat di depan wajahnya, ia melihat tubuh Arlo dan tubuhnya sendiri berlumuran dengan darah, dan tertusuk oleh sepasang tombak berpedang.


...(----------------)...


“Arlo!” seorang gadis tersadar di sebuah tempat gelap yang sempit.


Sosok samar dengan sepasang tanduk emas, taring, sayap gelap di punggungnya, dan ekor tajam yang melilit kaki kirinya sendiri. Wajahnya yang sayu menampakkan kondisi yang sangat lemas. Sekuat tenaga ia menggerakkan tubuhnya yang terikat kencang mengambang oleh rantai di kedua tangan-kakinya. Air mata yang menetes penuh penderitaan, merintih memohon pertolongan.

__ADS_1


“Ak-Arlo... cepat... cepatlah datang... selamatkan... aku.”


...~ Dua sosok Harta yang berupa Emas ~...


__ADS_2