Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 50 - Berpisah.


__ADS_3

Dalam sebuah dataran yang luas, seorang pria berdiri menatap cakrawala yang ada di ujung lautan. Di mana matahari yang tersembunyi di balik awan, mulai menampakkan diri dengan cahayanya yang hanya samar-samar. Dengan bagian tubuhnya yang tidak lengkap, pria itu tersenyum lalu melompat melesatkan diri ke jurang yang ada di depannya dan lenyap begitu saja.


Seketika, dataran itu bergetar seperti ada sebuah gempa, mematahkan tebing dan tenggelam ke dalam lautan. Secercah cahaya merah yang tertanam di balik tebing itu, bersinar sesaat dan tertutup kembali daru balik pepohonan yang rindang. Meninggalkan segerumbul rumput dan pepohonan lebat yang menghalangi cahayanya.


...(----------------)...


Dalam sebuah rumah kayu yang cukup basar, Arlo terpaksa di sekap dan diintrogasi oleh penghuninya. Wajahnya yang sangat tidak asing, membuatnya terkejut dan semakin tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan. Pria itu membuka matanya lagi dan melirik ke arah gadis yang berdiri bersama ke lima orang yang menggantung tak sadarkan diri di sampingnya.


“Trisia, bebaskan mereka,”


“Tapi… baik.” Dengan terpaksa, gadis itu dengan kasar memotong setiap tali yang menggantung mereka. Sadar karena terbentur di lantai, mereka bangun dengan menyangga kepalanya yang sakit.


Arlo langsung melesat ke arah mereka dan satu-satunya yang paling penting.


“Nona, apa kau baik-baik saja?” ucap Arlo dengan wajah cemas, dengan erat memegang pundak gadis itu.


“Aku tak masalah.” Jawabnya dengan senyuman manis.


Ke empat pasang mata yang melirik ke arah mereka, terlihat tidak terlalu senang dengan pemandangan yang tidak mengenakkan. Tiba-tiba gadis itu mendekat dan menatap tajam ke arah mereka semua.


“Bibir Murah! Bawa pergi ke empat temanmu untuk pindah ke ruangan sebelah. Aku ingin bicara dengan pria ini,” selesai kalimatnya, gadis itu melirik ke arah Arlo.


“Bisa tidak kau berhenti memanggilnya begitu! Memangnya siapa kau memanggil seenaknya!” bentak Sina, bangun dari duduknya dan menatap tajam pada gadis itu.


“Kenapa? Ada masalah?” jawab enteng gadis itu, tidak peduli.


“Ya, sudah-sudah. Ayo Sina, kita turuti kalimatnya. Tidak tau hal buruk apa yang akan dia laukan lagi, kan…” bisik Ferdi tepat di samping telinga Sina dengan menggenggam pundaknya dan mendorongnya keluar dari belakangnya.


Dengan memasang wajah cemas, Eri melirik lagi ke arah Arlo dan di balas senyuman untuk menenangkan hatinya. Tidak tau apa yang akan di lakukan mereka di sana.


“Tenang saja Nona, aku akan baik-baik saja.” Senyuman hangat Arlo berharap menenangkan gadis itu.


Dengan penuh keterpaksaan, mereka berlima kembali meninggalkan Arlo dan duduk melingkar di ruangan sebelah. Selama beberapa saat, Ferdi yang penasaran berusaha untuk menguping. Tapi tiba-tiba tembok kayunya berhetar dan berbunyi sangat keras dari dalam tepat di sebelah telingnya menempel, tanda gadis itu menyadarinya.


"Berhentilah melakukan hal konyol, Ferdi...." Ucap Bela, terasa menusuk.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, gadis itu keluar terlebih dahulu dengan memasang wajah masam dan menunduk. Terasa berat, ia menoleh ka arah mereka berlima dengan tatapan sinisnya.


“Tidak ada yang gratis bila untuk menginap di sini,” ucapnya hendak berbalik badan.


“Baik, setelah tuan kami di kembalikan, kami akan segera pergi,” sahut Khira sembari bangun dari duduknya.


“Tuan kalian tidak akan di kembalikan setelah tugasnya selesai, camkan itu!” gadis itu berjalan keluar dari ruangan.


Menghela nafas, Khira berjalan mendekati pintu dan hendak membuka pintunya. Tapi sebelum dapat memegang gagannya saja, pintu sudah di buka dari dalam dengan Arlo yang tersenyum ke arahnya.


“Kau benar-benar tidak sabar, ya,” celetuk Arlo, tersenyum ke arah Khira.


“Ma-Maaf Tuan Arlo. Hanya saja, saya merasa kawatir.”


Arlo menepuk pundak pria itu, berjalan ke arah yang lainnya dengan tatapan yang serius. Wajah-wajah yang sedang duduk tenang di bawahnya, semua memasang tampang bertanya kepada pria itu.


“Sebelumnya, aku minta maaf untuk kalian semua. Tapi untuk kali ini saja, kali ini saja, ya... Aku akan pergi sendiri,” ucap Arlo, mengejutkan semuanya.


“Tapi…” ucap Eri dengan memasang wajah cemasnya, tapi di tahan oleh tangan Arlo yang di angkat menghadang, memberi isyarat.


“Maaf, tapi ini lebih baik untuk mematahkan teka-teki itu. Sebenarnya juga bukan teka-teki, itu juga adalah ramalan. Ada kalimat yang menyertakan ‘seorang kesatria yang gagah berani mengorbankan diri, kan?” Arlo perlahan melirik ke arah Khira tanpa sepengetahuan siapapun di sana.


Mereka tidak berani melawan, karena ini juga bagian dari perintah langsung. Sedangkan Eri yang hanya diam, terlihat berpikir dengan tetap memasang wajah cemas. Sesaat kemudian, Verles berjalan keluar dari pintu sebelah dan mendekati ke arah Khira berada. Mengulurkan sesuatu yang ada di genggamannya, berupa kantong kecil yang terbuat dari kulit.


“Untuk saat ini, jaga dan lindungi dirimu sendiri. Nona dengan mata hijau itu akan sangat senang bila kau melakukannya dengan benar, ini juga permohonan dari tuanmu itu,” Verles menoleh ke arah Arlo yang hanya menunduk sedih.


“Baik, akan saya usahakan sepenuh hati sebagai kesatria. Heh!” mata Khira terbuka lebar, terkejut menyadari sesuatu.


Perlahan-lahan, Arlo menjelaskan kejadian yang sebenarnya dengan sedikit di bantu oleh Verles. Percaya atau tidaknya, Verles menjelaskan bahwa memang benar tidak ada energi apapun yang sedang aktif di pulau, terutama retakan itu. Tapi mereka semua masih ngotot sampai pada akhirnya Arlo yang membenarkan itu.


“Tapi bagaimana dengan koloni iblis-iblis yang berdatangan itu?”


“Belum jelas, tapi setidaknya kita segera mendapatkan permata itu. Sebelum hal buruk yang tersimpan di sini meluap dan menjuru di mana-mana.” Perjelas Verles, hendak pergi dari sana.


Arlo berjalan mendekati mereka berempat dan menatapnya dengan tatapan penuh cemas dan rasa bersalah. Lalu dengan berat dia mengulurkan tanganya kepada Eri, karena matahari sudah terbit dan ini waktunya berangkat. Bagaimanapun, mereka berdua akan di antar langsung oleh Trisia untuk pergi ke pulau itu.

__ADS_1


“Sudah waktunya, ayo berangkat.” Pertegas Trisia, berdiri di depan pintu dengan menggenggam kuat-kuat tombaknya.


...(----------------)...


Samar-samar cahaya matahari dari timur, menuntun jalan Arlo dengan kedua gadis yang bersamanya. Dengan di pimpin oleh Trisia di depan, mereka berjalan terus lurus ke arah barat sampai di sebuah tebing yang memisahkan dataran dengan lautan yang ada di sana. Berhenti tepat di tepi tebing itu dan menatap cakrawala yang ada di ujung samudra.


“Meski tidak terlihat saat ini, tapi di sana akan ada sebuah pulau yang memanjang ke arah utara tidak jauh dari sini. Kau bisa menyebrang lurus saja, dan sampai di sana,” perjelas Trisia dengan menunjuk ke arah lautan, memasang tatapan serius ke arah mereka berdua.


“Apa ada cara untuk menyebrang? Kelihatannya sangat mustahil,” ucap Eri, balas menatapnya.


“Tanyakan pada pria di sebelahmu, seharunya dia bisa menggunakan sihir, kan?” ucap gadis itu dengan nada yang menyebalkan.


“Hah… aku tidak bisa, setiap kali ku gunakan, selalu meledak dan hancur berkeping-keping.” Jawab Arlo menghela nafas.


Gadis itu tersenyum sombong dan melangkah tepat ke arah tebing dan keluar darinya. Secara umum, seharunya dia terjatuh tanpa pijakan di kakinya, tapi nyatanya dia malah melayang-layang tepat di atas awang-awang tepian tebing itu. Sontak tentu saja mereka berdua langsung terkejut melihatnya dan membuat gadis itu tertawa lepas.


“Dengar Tuan Arlo, masalahmu itu hanya tenaga saja. Sihir yang kau keluarkan langsung dari energi di dalam tubuhmu memang sangat sedikit karena tenagamu itu sangat minim. Tapi untuk lautan sebesar ini, apa perlu untuk mengeluarkan setetes air. Genggam lautan ini dan jadikan pijakan, Anak Muda.” Ledek gadis itu, berajak pergi meninggalkan merek berdua.


Arlo hanya menghela nafas dan mendekat ke arah jurang, tapi sepertinya dia juga takut ketinggian. Kepalanya langsung terasa berputar-putar saat melihat kebawah tebing itu, sampai Eri menepuk punggungnya.


“Dasar payah, kau ini apa bagusnya?” ucap Eri, dengan nada pasrah.


“Maaf-maaf, ini mungkin memang sedikit merepotkan…”


“Karena itu cepatlah belajar, Anak Payah!” suara lantang datang dari belakang, menampakkan Trisia yang sudah memegang sesuatu di tangan dan memakannya seorang.


Lagi-lagi Arlo hanya bisa menghela nafas. Sabar-sabar, dia memang bukan tandingan, batin Arlo mengelus dadanya. Dia mendekat lagi ke arah tebing dan menatap lautan, mengangkat tangannya sedada seakan mengendalikan air lautnya. Benar saja, airnya terangkat seperti ombak dan menuju ke arah Arlo sesuai yang dia lakukan.


“Kan, mudah? Jangan lama-lama. Nanti mereka menunggu loo, hahaha.” Tawa gadis itu, tanganya menghempas udara.


Seketika air yang ada di bagian atas membeku karena angin yang melewatinya. Membentuk seperti sebuah papan yang lebar sebagai pijakan. Sudah, tanpa pikir panjang lagi, Arlo berjalan dan menaiki papan beku itu dengan Eri yang memegangi jubahnya. Segera melesat ke lautan lepas.


“Kau beberapa hari ini sedikit berubah, Nona. Apa ada yang masalah yang menggangu pikiranmu?” celetuk Arlo dalam perjalanan.


“Apa menurutmu begitu? Aku hanya sedikit bingung dengan siapa sebenarnya diriku ini. Terkadang aku ceria, tapi terkadang juga sedikit murung dan tidak banyak bicara. Apa pendapatmu?”

__ADS_1


“Entahlah, mungkin karena memang kita terlalu sibuk. Atau mungkin memang kau sendiri yang bingung, Nona.”


"Tapi... menjadi diri sendiri itu terkadang memang terasa sulit."


__ADS_2