
"Sekarang tidurlah!" titah Andra kepada istrinya. Namun, Zara terlihat masih ingin berbicara sesuatu kepada suaminya. Zara masih belum bisa meletakkan kepalanya pada bantal, Ia terlihat masih menatap wajah Andra yang hendak tidur.
"Ada apa? Kenapa tidak tidur?" Andra bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Emm boleh nggak Saya minta satu hal kamu, Sayang?" Zara terlihat memberanikan diri untuk mengatakan permohonannya yang entah dikabulkan atau tidak oleh suaminya.
"Apa sih yang enggak buat kamu, Katakan!" Andra mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh istrinya. Zara mulai memainkan ujung telunjuknya pada dada suaminya sembari mengatakan yang ingin menjadi permintaannya.
"Karena sebentar lagi Saya akan mengikuti home schooling, Saya ingin sekali saja masuk sekolah sebelum Saya benar-benar tidak masuk. Boleh ya? Sekali aja! Pak guru mau kan menuruti permintaan Saya, setelah itu Saya Janji deh nggak bakalan minta masuk sekolah lagi." ucapnya memelas, berharap suaminya mau mengizinkannya.
"Hmm ... baiklah! Tapi ingat! Kamu tidak boleh pecicilan, apalagi besok Aku tidak ada di sekolah, dan satu hal lagi, kamu jangan pulang terlalu siang. Aku akan menyuruh orang untuk mengawasimu." seru Andra.
"Apa, Sayang? Kamu menyuruh orang untuk mengawasi ku di sekolah? Hmm tapi bagaimana caranya?" tanya Zara penasaran.
"Itu soal gampang, Aku cuma tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Dengan begitu Aku masih bisa mengawasimu meskipun kamu tidak dalam pantauan ku."
__ADS_1
Zara pun terlihat senang, akhirnya Ia masih bisa bertemu dengan teman-temannya sebelum dirinya belajar di rumah.
"Makasih banget, Sayang! Saya janji nggak bakalan macam-macam kok, Saya cuma ingin bertemu dengan teman-teman untuk sekali saja, pasti nanti Saya sangat merindukan mereka." Zara memeluk suaminya sembari terus mengucapkan terima kasih.
"Asalkan kamu bahagia, Aku pasti akan mengabulkannya." Andra mencium kening Zara penuh mesra.
*
*
*
Andra melihat sang istri yang sedang membantunya untuk mengencangkan ikatan dasi dan merapikan bajunya. Andra tersenyum dan mengatakan sesuatu yang membuat Zara tersipu malu.
"Sekarang, muridku yang tomboi ini udah pinter memasang dasi, ya?" goda Andra sembari menarik pinggang Zara, sehingga tubuh mereka begitu dekat.
__ADS_1
"Pinter dong! Pasang dasi doang masa nggak bisa." jawabnya sambil terus merapikan pakaian suaminya.
"Oh ya ... hmm tapi ada satu yang nggak kamu bisa, dan pastinya kamu tidak akan pernah bisa memasangnya pada tubuh Suamimu ini." celetuk Andra menggoda istrinya.
"Hmm ... masa sih? Perasaan Saya nggak pernah gagal deh pasangin apa saja pada tubuh suamiku, selalu pas dan tidak meleset." jawaban Zara seketika membuat Andra tertawa kecil.
"Ya ya itu memang benar. Tapi, masih ada satu yang belum bisa Kamu lakukan."
Zara mengernyitkan dahinya dan mulai berpikir apa yang belum bisa Ia lakukan untuk suaminya.
"Hmm ... apa ya? Perasaan Saya selalu berhasil deh, Sayang? Bahkan tanpa melihat pun Saya bisa kok mengarahkannya dengan tepat, kan pintunya udah bolong, jadi gampang masuknya." jawaban Zara pun semakin membuat Andra gemas dan Ia pun spontan mencubit pipi Zara.
"Hmm ... kamu tuh bisa aja jawabannya."
"Awwwwww sakit tahu. Emang benar kan yang Aku bilang. Kalau udah bolong jadi gampang masuknya, emang apaan sih yang belum Aku bisa?" pekik Zara sembari bertanya dan mengusap pipinya.
__ADS_1
"Ada satu yang nggak akan pernah bisa kamu lakukan, kamu lihat ini apa?" seru Andra sembari menunjukkan sesuatu yang membuat Zara cengar-cengir.
...BERSAMBUNG...