
"Iya iya Aku pulang! Hah ... bilang aja kalo kamu mau berduaan dengan istrimu, eh ingat ya! Jangan ganggu istrimu dulu, biarkan badannya fit kembali." seru dokter Irwan memperingatkan temannya itu, Dokter Irwan tahu betul bagaimana sifat dan karakter Andra yang notabenenya memiliki jiwa kelelakian yang menggebu-gebu.
"Iya Aku tahu, tapi aku nggak bisa janji. Kalau itu terlalu menggoda ya gimana lagi." balas Andra sambil garuk-garuk kepala.
"Eh ... kamu tuh nggak kasihan sama istrimu, dia udah dibius sama teman-temannya, kamu embat juga, tunggu besok kalo udah fit lagi." cecar dokter Irwan kepada Andra.
"Aduh itupun kalau Aku bisa."
"Ya harus bisa, usahakan tidur di kamar lain, biar nggak terganggu."
"Tidur di kamar lain? Ya mana bisa nyenyak, Aku kalau tidur nggak pegang tangan istriku, nggak bisa tidur, beneran!" protes Andra yang membuat dokter Irwan menyerah.
"Ahh terserah kamu deh! Tapi ingat harus bisa mengendalikan diri, libur sehari dua hari kan nggak apa-apa, masa harus setiap hari juga." ucap sang dokter sembari bersiap untuk keluar dari rumah Andra.
"Yaah bisa juga sih libur, tapi bayar hutangnya dobel, hehehe."
Seketika dokter Irwan mengerutkan keningnya saat mendengar pengakuan Andra.
"Dobel?"
"Ya ... dobel. Hari ini kita libur, tapi besoknya dobel ronde, hehehe biar impas." Andra tampak tertawa melihat ekspresi wajah sang dokter.
"Kamu kenapa melongo gitu, dokter!"
"Gila kamu ya! Kuat banget loh si Zara! Ah dari dulu punya teman agak somplak seperti ini, bikin kepala pusing." ujar sang dokter yang tentu saja membuat Andra semakin tertawa.
"Dokter-dokter! Kamu aja yang belum merasakan pengantin baru kayak Aku, entar ya kalo kamu udah tahu rasanya, nggak bakalan mau pisah sama istri, apalagi punya istri yang masih kinyis-kinyis seperti Zara, mana setiap malam nggak pernah pakai pelindung lagi, ah gerah setiap malam, pinginnya ngandang mulu."
__ADS_1
Seketika Dokter Irwan mengacak rambutnya sendiri mendengar pengakuan sang sahabat yang membuat nya menelan ludahnya sendiri.
"Dah lah, Aku pulang! Dengerin kamu ngomong kupingku gatal, mana bilang nggak pakai pelindung lagi, keenakan kamu nya."
"Ya itulah, Zara! Jika Aku yang meminta dia pasti akan mengabulkan nya, padahal dia seolah-olah nggak mau menuruti, ditolak mentah-mentah, sampai kita berdua ribut soal dalaaman, eh pas Aku tidur bareng kok pintunya udah terbuka aja, ah auto masuk dong!" ungkap Andra sembari tersenyum kepada Dokter Irwan yang sudah bersemu merah.
"Sialan kamu, Ndra! Iming-iming melulu." sahut sang dokter sembari keluar dari rumah Andra, dan Andra pun terlihat mengantarkan sang dokter sampai di depan rumah.
Sementara itu di dalam kamar, Zara rupanya sudah mandi dan Ia pun langsung masuk ke dalam selimut, berharap Andra tidak mengetahui jika dirinya sudah siuman. Ia pun berpura-pura masih memejamkan matanya.
"Ceklek!"
Terdengar pintu terbuka, Andra mulai masuk ke dalam kamar dan melihat Zara yang masih memejamkan matanya, sejenak Andra melihat ada yang ganjal dengan sang istri. Ia pun mendekati Zara dan mencoba memanggil nama istrinya.
"Zara! Zara!"
Namun, tetap tidak ada jawaban, seolah-olah Zara memang masih belum sadar dari pingsannya. Andra pun memperhatikan kondisi sang istri yang terlihat sudah mengganti pakaiannya.
Andra kembali duduk di samping Zara dan Pria itu tampak membelai lembut rambut sang istri.
"Aduuh katanya mandi, kok malah di mari sih pak guru, pakai elus-elus segala lagi, eh eh kok hidung ku gatal sih, pingin bersin nih!" batin Zara saat dirinya merasa jika hidungnya terasa sangat gatal, sementara itu Andra bersiap untuk mengecup sekilas bibir istrinya. Pria itu mulai menundukkan wajahnya dan mulai mendekati bibir ranum itu. Tapi rupanya Zara sudah tidak kuat lagi ingin segera bersin. Dan tiba-tiba saja Andra dibuat terkejut setengah mati saat Zara bersin dikala dirinya hampir menyentuh bibir itu.
"Haciuuuuuuu!"
Seketika Andra terpental dan dirinya berguling di atas tempat tidur, sedangkan Zara terlihat mengusap-usap hidungnya yang masih terasa gatal.
"Ma-maaf, Saya nggak sengaja, Pak! Bapak sih deket-deket segala, tahu kan hidung saya tuh sangat peka dengan aroma-aroma orang yang belum mandi, tadi katanya mandi, kok malah di sini." mendengar Zara berkata seperti itu, Andra pun langsung membalasnya sembari mendekati istrinya.
__ADS_1
"Jadi, dari tadi kamu sudah sadar? Kok tahu kalau Aku mau mandi?"
Seketika Zara tertawa kecil dan mengangguk.
"Hehehe ... iya, pak!" jawabnya dengan cengengesan.
"Sudah kubilang jangan panggil Aku bapak, Aku bukan bapakmu, Aku Suamimu."
"Aduuh nggak biasa, Pak! Tolonglah jangan paksa Saya untuk memanggil yang lainnya dong, beneran deh, Pak Andra sayang! Saya tuh nggak bisa, gimana sih." balas Zara.
"Lah itu, bisa panggil sayang, tinggal dihilangkan Pak nya aja kan bisa." protes Andra yang ingin sekali jika Zara memanggilnya dengan Sayang.
"Udahlah, susah Pak! Lidah saya ini cuma hafal dengan menyebut Pak Andra saja, lagipula masa sebutan nama aja dipermasalahkan, yang penting kan Saya udah buat bapak menjadi suami yang sempurna." jawab Zara sembari menahan rasa malunya.
Andra tertawa dan tentunya Ia pun semakin gemas dengan ulah sang istri, Ia pun dengan cepat menangkap tubuh Zara dan mulai mencumbunya.
"Kamu tuh ya selalu saja membuat ku pingin gigit Kamu aja, nggemesin!" disaat Andra siap untuk mendaratkan ciumannya pada bibir sang istri, spontan Zara menutup bibir sang suami dengan telapak tangannya.
"Stop-stop! Tadi Zara sempat dengar kalau bapak menganggap saya kucing kecil yang lucu, diiihhh apaan sih!"
"Memangnya kenapa?"
"Ya nggak bisa dong, Pak! Masa saya di samain dengan kucing sih, lebih lucu dan lebih comel Saya dong daripada si kucing, gimana sih nggak terima lah digituin!"
Andra tersenyum melihat ekspresi wajah Zara yang semakin membuatnya ingin sekali menggigit bibir Zara.
"Terus! Kamu maunya disebut apa? Tikus, kelinci, ular, kadal, apa cicak yang lucu. Tentu saja mereka nggak ada lucu-lucu nya, kamu tuh ibarat meong yang selalu ingin minta dielus lagi saat aku ... emmm!" Andra tidak melanjutkan kata-katanya karena dirinya langsung mempraktekkan apa yang ia maksud. Langsung ke pusat inti dan menerkam nya.
__ADS_1
"Ahhh jangan digigit dong! Bapak nakal banget sih, tahu aja kalau Saya nggak pakai pelindung." pekik Zara saat dirinya merasakan sesuatu yang terasa begitu candu, entah apa yang sedang Andra lakukan padanya.
...BERSAMBUNG...