
Akhirnya, setelah Andra dan Zara keluar dari ruangan Dokter kandungan. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Betapa senangnya pasangan ini saat tahu jika Zara mengandung anak kembar. Zara pun segera menghubungi Mommy Hasna dan Daddy Harun, tak lupa Mama Dahlia pun ikut mereka kabari. Berita itu merupakan anugerah paling indah bagi keduanya.
"Besok kamu tidak usah ikut lomba lari, kamu istirahat saja di rumah, biar Aku cari siswa yang lain saja, Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan istriku." seru Andra yang melarang Zara untuk mengikuti lomba lari yang akan diadakan dua hari lagi.
"Tapi Pak! Mana bisa bapak mendapatkan pengganti Saya secepat itu, pertandingannya dua hari lagi loh, Pak? Terus bagaimana dengan predikat sekolah kita?"
Andra menghela nafasnya dan terpaksa sekolah akan mundur dari perlombaan itu. "Kita nggak punya pilihan lain, kita akan mundur."
"Mundur? Jangan dong, Pak! Bapak udah susah payah melatih saya supaya larinya cepat, masa kita mundur seperti itu sih, apa hanya gara-gara saya sedang hamil?" Zara sebenarnya masih sangat ingin mengikuti pertandingan itu. Tapi, Andra ternyata melarangnya karena Ia khawatir terhadap kondisi sang istri yang sedang hamil muda.
"Kamu tahu, Aku sangat khawatir dengan keadaanmu, Zara! Kamu sedang hamil anak kita, Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Andra tetap memaksa untuk tidak mengizinkan Zara untuk mengikuti lomba lari itu.
"Tapi, Pak! Zara yakin sekali Zara nggak akan kenapa-kenapa, Bapak bisa percaya deh. Zara pasti kuat." Zara terus meyakinkan kepada suaminya untuk mengikut lomba tersebut.
"Pokonya Aku nggak mau kamu ikut, sudah titik! Sekarang kita tidur, sudah malam!" Andra pun mengajak Zara untuk berbaring dan beristirahat. Zara tidur menyamping sembari memperhatikan lampu meja yang masih menyala, sedangkan Andra tidur sembari memeluk Zara dari belakang. Zara terlihat tak bisa tidur, Ia sedih tidak bisa mengikuti lomba lari itu, padahal sebenarnya dalam hatinya Ia sangat yakin Ia akan memenangkan sebagai juara dan akan membawa harum nama sekolah sang Daddy.
Sementara itu, Andra yang terbiasa sebelum tidur, Ia harus berolahraga dulu sebelumnya, jikalau tidak, Ia pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena kondisi Zara yang sedang hamil, Andra tidak berani mendekati istrinya, Ia khawatir jika bayi yang ada dalam kandungan Zara akan mendapatkan goncangan akibat gerakan olahraganya, meskipun kata dokter tidak apa-apa dengan kondisi rahim Zara yang sehat. Tapi, Andra takut sendiri. Karena ia menyadari jika gerakan olahraganya terlalu semangat. Ia khawatir jika kedua bayinya akan merasa pusing dengan ulah Ayahnya.
Andra hanya tampak bergerak-gerak kecil di belakang tubuh istrinya, sementara Itu Zara pun mengerti maksud dari gerakan sang suami yang terlihat mendesak-desak tubuhnya. Zara pun mempunyai ide cemerlang untuk merayu suaminya agar dirinya di izinkan untuk tetap mengikuti lomba lari itu. Dengan cepat Zara membalikkan badannya dan menatap wajah sang suami yang sedang pura-pura tidur, tapi sebenarnya yang dibawah belum tidur.
Zara tersenyum melihat wajah sang guru yang sedang menahan sesuatu yang tidak ingin Ia tunjukkan kepada Zara.
"Pak!" panggil Zara sembari mengusap lembut wajah sang suami. Andra pun segera membuka kedua matanya dan menatap wajah sang istri yang terlihat begitu cantik di malam ini.
__ADS_1
"Hmm ... ada apa?" jawab Andra dengan suara seraknya.
"Bapak kok nggak tidur?" tanya Zara yang mulai menggoda.
"Nih baru mau tidur, kamu bangunin lagi!" jawabnya.
"Bapak bohong! Bapak belum tidur, kan? Nih Dede nya belum tenang," ucap Zara sembari tertawa kecil, seketika Andra melototkan matanya dan ikut menyengir.
"Hehehe, kok tahu!"
"Tahu dong, hello Pak Andra ini nggak akan pernah bisa tidur sebelum Dede bawahnya tidur, hmm iya kan, sudah hafal pak muridmu ini." celetuk Zara sembari mencubit hidung Andra.
"Terus! Aku harus gimana, apa Aku harus ke kamar mandi aja, ya?" sahut Andra.
"Caranya?" Andra tampak melototkan matanya.
"Seperti biasa Women on Top." balas Zara sembari tersenyum menggoda.
"Hah ... serius? Nggak apa-apa?" Andra pun terkejut, antara senang dan khawatir.
"Ya nggak apa-apa dong, Pak guruku Sayang! Kandungan Saya ini kuat nggak bakalan terguncang bayi kita, jadi pak Andra nggak usah cemas. Gimana? Mau nggak?" tawar Zara sembari mulai membuka kancing bajunya. Tentu saja mata laki-laki normal seperti Andra sangat suka melihat pemandangan itu.
"Ya mau dong!"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Andra pun segera membenamkan kepalanya pada dada sang istri. Namun, Zara mengajukan sebuah syarat kepada suaminya.
"Eh eh ... tapi ada syaratnya."
Andra mendongak dan menatap wajah sang istri yang mulai serius.
"Apa?"
"Hmmm ... izinkan Saya mengikuti lomba lari itu,"
Spontan Andra menggelengkan kepalanya dan Ia tetap tidak setuju.
"Bapak nggak mau, ya sudah! Mulai hari ini sampai tiga bulan berikutnya kita libur olahraga, Saya mau istirahat."
Mendengar ucapan dari istrinya, Andra pun segera berkata, "Eh ... jangan dong, Sayang! Masa tiga bulan sih, nanti bisa karatan. Oke deh! Kamu tuh memang pandai sekali merayu, dah lah daripada harus libur tiga bulan."
Akhirnya Zara barhasil merayu suaminya untuk tetap mengikuti lomba lari itu. Zara pun menepati janjinya, Ia pun memberikan servis spesial kepada sang suami untuk malam ini.
"Hmm makasih ya, Pak Andra Sayang! Bapak memang the best awww!" rintih Zara ketika mereka bermain olahraga bersama.
"Kamu memang murid ku yang paling nakal!" balas Andra sembari memegang kedua pinggul sang istri.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1