
Hal lain terjadi di suatu tempat, Dokter Irwan yang sudah mendapatkan bimbingan dari sohibnya, hari itu juga ia akan segera mempraktekkan apa yang telah diketahuinya dari Andra, Dokter Irwan memang seorang Dokter, tapi dalam urusan ranjang Dokter Irwan tidak mempunyai pengalaman, meskipun sebenarnya Ia mengerti dan tahu bagaimana proses perkembangbiakan pada manusia.
Dokter Irwan dan Velin yang saat itu sudah tiba di rumah mereka, tampak sang dokter segera membawa istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Dan kebetulan sekali mereka berdua sudah tinggal di rumah sendiri, sehingga tidak ada yang bisa mengganggu aktivitas mereka.
Dokter Irwan rupanya sudah tidak sabar ingin segera membuktikan omongan Andra jika melakukan itu tidak perlu dengan tutorial, dan Ia ingin membuktikan jika dirinya bisa membahagiakan istrinya.
Sang Dokter menggandeng tangan Velin dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka, dengan malu-malu Dokter Irwan berkata, "Hmm Velin! Kamu tidak mandi dulu?" tanya Dokter Irwan basa-basi.
Velin menatap wajah suaminya sembari mengerutkan kening.
"Mandi? Hmm iya aku akan mandi." Balas Velin sembari mengambil handuk piyama untuk ia kenakan seusai dirinya menyelesaikan ritual mandi. Tapi, tiba-tiba saja sang suami menghadang langkah Velin untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Tentu saja Velin sangat terkejut saat sang suami secara tiba-tiba berdiri di depannya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Ada apa, Mas?" tanya Velin yang terkejut dengan sikap suaminya.
"Emm ... aku rasa, aku juga ingin mandi. Badanku terasa lengket dan hmm bau keringat." Seru sang Dokter sembari senyum-senyum.
Mendengar pengakuan dari sang suami, Velin pun mengalah agar suaminya pergi ke kamar mandi duluan.
__ADS_1
"Ya udah! Kamu duluan aja, aku tunggu di sini." Balas Velin sembari beranjak duduk di tempat tidur. Namun, rupanya sang dokter tidak membiarkan istrinya untuk pergi, dengan cepat Dokter Irwan menahan tangan sang istri dan memintanya untuk menemani dirinya mandi.
"Tunggu Velin!" seru sang dokter yang seketika membuat Velin terkejut bukan main dan Ia merasa suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Velin yang mulai takut dengan perubahan sikap suaminya. Velin merasa ada sesuatu yang berbeda dari dokter Irwan, pria itu terlihat mulai nakal dengan berani menahan tangan Velin.
"Temani aku mandi, yuk! Kita mandi bersama." seru sang dokter sembari tersenyum smirk.
"Ma-mandi? Sama kamu?"
Velin membelalakkan matanya dan Ia pun sudah berpikiran macam-macam. Sementara sang suami tampak berusaha untuk meyakinkan Velin jika tidak akan terjadi apa-apa.
Mendengar ucapan dari sang suami, sejenak Velin berpikir jika ucapan suaminya itu hanya tipuan nya saja untuk mencoba merayu Velin.
"Pak dokter nggak bohongin saya, kan?"
"Bohong? Enggak lah, memangnya aku mau apain kamu, kamu masih anak.kecil aku nggak tega, entar nangis lagi." celetuk sang dokter sembari tersenyum nakal.
Mendengar dibilang kecil oleh suaminya, Velin pun tak terima, ia pun berkata dengan menantang sang suami jika dirinya bukan anak kecil lagi.
__ADS_1
"Apa? Kamu bilang aku anak kecil? Enak aja." Protes Velin sembari menatap suaminya dengan kesal.
"Ya kalau bukan anak kecil, apa lagi dong? Buktinya kamu masih takut denganku, ya terpaksa aku harus bersabar menunggu sampai kamu berani." Sindir Dokter Irwan.
Velin tertunduk, sejujurnya bukan masalah umurnya yang masih kecil, tapi Velin takut berhubungan untuk pertama kali, Velin takut jika apa yang pernah ia dengar dari teman-temannya jika saat kevirginan hilang, maka rasanya sangat sakit, bahkan ada yang sampai tidak bisa berjalan.
"Velin! Kenapa kamu diam? Apa yang kamu pikirkan?" tanya dokter Irwan yang melihat wajah istrinya yang terlihat memikirkan sesuatu.
Velin terkesiap dan dirinya terlihat pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Enggak! Nggak apa-apa kok."
Dokter Irwan melihat ada sesuatu yang membuat istrinya terbebani, sang done pun mencoba untuk membantu istrinya untuk mengurangi beban pikirannya.
"Katakan pada suamimu ini? Apa yang kamu pikirkan?" tanya dokter Irwan sembari menatap wajah sang istri.
"Aku takut!" jawab Velin singkat.
"Takut? Apa yang kamu takutkan?" dokter Irwan mendesak agar istrinya bisa mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...