Pernikahan Rahasia Anak SMA 2

Pernikahan Rahasia Anak SMA 2
Pemanasan


__ADS_3

Velin menatap mata sang suami, ia berharap suaminya bisa mengerti keadaan dirinya yang masih takut untuk melakukan hubungan suami istri, karena adanya doktrin yang ia dapatkan dari teman-temannya jika kehilangan keperawanan itu rasanya sangat sakit hingga tidak bisa berjalan.


Kemudian Ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sang suami yang pastinya lebih tahu tentang hal semacam ini.


"Tolong katakan padaku, apa benar jika seorang gadis kehilangan keperawanan, maka dipastikan tidak akan bisa berjalan."


Seketika dokter Irwan tertawa mendengar penuturan dari istrinya, ia tidak menyangka jika Velin masih berpikiran seperti itu. Sangat teramat polos.


"Kok malah ketawa sih, Menyebalkan!" umpat Velin saat melihat suaminya yang justru tertawa mendengar curhatannya.


"Oke-oke maaf, hmm itu artinya kamu masih belum faham betul tentang hakikat sebuah hubungan antara suami istri, pantas saja kamu masih nggak berani untuk mempraktekkan nya, ternyata aku harus membuka matamu agar kamu tidak merasa takut untuk menghadapi malam pertama." Ungkap sang dokter sembari tersenyum.


"Lalu aku harus bagaimana? Jujur aku masih takut sekali, bayangin aja udah ngilu banget, lubang sekecil itu apa iya bisa muat dengan benda dengan ukuran diameter lima cm dan panjang sekitar 10 cm. Au ah ngeri ..." seru Velin sembari membayangkan benda sebesar itu masuk ke sana.


Kemudian dokter Irwan berusaha untuk menjelaskan kepada istrinya jika semua itu tidak seburuk yang Velin kira.


"Sini dengarkan aku! Semua itu tidak perlu kamu takutkan, semuanya ada prosesnya, dimulai dengan pemanasan terlebih dahulu, supaya tubuh mengeluarkan cairan sebagai pelumas agar tidak terasa sakit saat benda yang kamu maksud itu masuk ke dalam, ya untuk yang masih gadis sih memang harus melewati tahapan yang cukup menegangkan, tapi nggak sesakit yang kamu bayangkan, tetap terasa enak eh ... aduh nikmat ...eh salah apa ya terasa ya seperti itulah." Jelas sang dokter yang juga merasa gugup saat menjelaskan materi itu kepada istrinya, sementara dirinya sendiri juga tidak tahu sensasi rasa seperti apa yang terjadi saat hubungan suami istri itu terjadi.


Velin pun mulai penasaran dengan apa yang diucapkan oleh suaminya, Ia pun semakin tertarik dengan obrolan itu.

__ADS_1


"Pemanasan? Pemanasan seperti apa? Apa harus berjemur dulu di bawah terik matahari?" tanya Velin dengan lugunya.


"Ya nggak gitu dong, Velin! Pemanasan itu seperti em berciuman, menyentuh titik-titik tubuh yang bisa membangkitkan gairah, seperti dada, leher, perut, paha, intinya daerah-daerah yang mudah terangsang oleh sentuhan pasangan." Jelas sang dokter.


Rupanya dokter Irwan mempunyai murid yang benar-benar tidak tahu apa itu pemanasan sebelum bercinta, sang istri tampak mulai berpikir apa benar yang diucapkan oleh suaminya itu.


"Gimana cara mempraktekkan pemanasan itu? Apa kamu bisa mencontohkan nya?"


Pertanyaan Velin sejenak membuat dokter Irwan mulai berkeringat, bagaimana caranya agar istrinya bisa mengerti apa yang dimaksud dengan foreplay atau pemanasan. Kemudian sang dokter mulai mendekati istrinya dan berusaha untuk memberikan contoh pemanasan yang baik dan benar. Seketika Velin terkejut saat melihat suaminya yang mulai mendekatinya.


"Eh eh tunggu! Kamu mau apa, Mas?"


"Enggak ah kok sama aku sih?" protes Velin sembari menahan dada sang suami yang mulai mendekatinya.


"Kalau bukan sama kamu, masa iya sama tembok!" balas dokter Irwan yang membuat Velin tertawa.


"Iya iya sorry! Habis tegang banget nih," seru Velin sembari mengipasi tubuhnya dengan telapak tangannya yang Ia kibas-kibaskan.


"Nggak usah tegang, slow aja. Aku juga nggak akan bikin kamu tegang kok, biar kamu tahu pemanasan itu seperti apa, hmm!" seru dokter Irwan yang membujuk istrinya untuk tetap tenang dan rileks.

__ADS_1


Akhirnya, Velin pun berusaha untuk tenang saat sang suami mulai mendekati dirinya dan mulai mencium bibirnya. Mata gadis itu terpejam kala sang dokter untuk pertama kalinya kali mengecup bibir istrinya untuk pertama kali.


'Cup'


Mulai terasa desiran aneh yang terasa begitu mendebarkan, perasaan yang belum pernah Velin rasakan sebelumnya, awalnya Ia hanya diam merasakan kecupan demi kecupan dari sang suami, tapi lama-lama Velin berusaha untuk membalasnya dengan membuka sedikit mulutnya dan membiarkan sang suami semakin menjelajahi bibir mungil itu.


Pada akhirnya, ciuman itu berubah menjadi ciuman panas yang tak terelakkan lagi, dan keduanya yang sama-sama belum merasakan kontak fisik, merasa begitu tertarik untuk lebih dalam lagi melakukan pemanasan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter Irwan.


Velin selalu terpejam, rupanya sentuhan itu mulai membangunkan gairah mereka berdua, hingga tanpa sadar semua kancing kemeja Velin terlepas tanpa tersisa, entah siapa yang jadi guru dan siapa yang jadi murid. Rupanya keduanya sama-sama menghandle gerakan masing-masing hingga akhirnya semua kain yang menutupi tubuh mereka berserakan di atas lantai kamar tidur.


Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya, setelah pemanasan dirasa selesai, kini tiba saatnya sang dokter melakukan tugas utamanya yaitu menjadikan Velin sebagai istri seutuhnya.


"Kamu tahan! Tenang saja tidak akan terasa sakit, jika kamu tegang maka akan susah untuk masuk, ini sudah sangat basah, tinggal beberapa dorongan lagi kita akan berhasil." Bisik mesra sang dokter pada telinga istrinya.


"Jangan keras-keras, pelan-pelan saja plis!" rengek Velin saat benda itu bersiap menembus sesuatu yang disebut sebagai benteng keperawanan. Sang suami menyeringai, dan Ia pun bersiap untuk melesatkan benda itu tepat pada sasaran.


Hanya dengan dua kali dorongan, sang dokter berhasil membenamkan roketnya ke dalam sana, sementara Velin tampak menjambak rambut sang suami tatkala benda keras itu mulai terasa menyesakkan.


"Aahhhh ... sakit!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2