
Zara menatap dan tersenyum kepada suaminya, dia tak menyangka ternyata sang suami sangat menurut kepadanya, hanya diancam tidak boleh tidur bersama saja, Andra sudah kelabakan dan panik.
Sementara itu Anita yang masih berpura-pura pingsan, dirinya menunggu saat sang guru memberikan nafas buatan untuknya. Sedangkan Agus sudah siap sedia untuk menolong temannya yang sedang membutuhkan nafas buatan.
"Agus, cepat kamu segera beri nafas buatan untuk Anita." titah Andra.
"Baik, Pak!"
Agus pun segera mendekati Anita yang masih terpejam, Ia pun mulai membuka mulut Anita dan segera memonyongkan bibirnya. Anita merasa ada yang berbeda, Ia merasa bukan sang guru yang sedang memegangi dirinya, tangan Andra begitu lembut, tapi kenapa yang ini sangat kasar.
"Anjiiirrr! Tangan Pak Andra Kok kasar gini sih, terus kok bau mulut banget!" batin Anita saat merasakan aroma nafas Agus yang mulai mendekati wajahnya, dan aroma nya begitu khas bau petai.
Sementara Zara menahan rasa geli ingin tertawa melihat Anita yang akan mendapatkan donor nafas dari Agus. Karena merasa ada yang aneh, Anita pun segera membuka matanya dan seketika dia berteriak saat melihat bibir monyong Agus yang mendekati wajah nya.
"Huaaaaaaaa ... minggir monyong!" Anita langsung beranjak bangun dan segera mendorong tubuh Agus sehingga dia terjatuh lagi ke kolam renang.
__ADS_1
"Waduh! Agus kecemplung." Zara dan siswa yang lain melihat Agus kecebur kolam renang, Siswa cowok itu belum siap untuk masuk ke kolam renang, alhasil Agus sedikit kesusahan bernafas, meskipun ia sudah bisa berenang dengan baik, tapi jika dalam kondisi panik, Ia tidak bisa berenang dengan baik. Agus pun melambaikan tangan meminta pertolongan.
"To ... tolong!"
Zara melihat Agus yang kesusahan untuk naik ke permukaan, Ia pun meminta kepada Andra untuk segera menolongnya. "Tolong Agus, Pak! Agus kelelep tuh, kasihan Pak. Cepetan!" Zara tampak memaksa Andra untuk menolong temannya itu, karena dipastikan Agus tidak sedang berpura-pura, beda halnya dengan Anita yang sengaja mengerjai Andra.
"Udah nggak apa-apa, si Agus tuh pinter berenang, kamu nggak usah panik gitu. Nanti juga dia bisa naik sendiri." sergah Andra sembari melihat Agus. Tapi, Zara melihat nya berbeda. Agus benar-benar harus ditolong.
"Ya ampun, Pak! Orang udah mangap-mangap gitu kok dibiarin, ya udah kalo nggak mau nolongin, biar Saya yang nolongin dia, gimana sih." ucap Zara sembari hendak pergi untuk menolong temannya yang tercebur itu. Tapi, tiba-tiba saja Andra menahan tangan Zara dan melarang sang istri untuk menolongnya.
Setelah beberapa saat, Andra pun bisa membawa tubuh muridnya itu sampai ke bibir kolam renang. Semua teman-teman Zara membantu Agus untuk naik ke atas. Setelah itu Andra pun juga naik ke atas.
Agus rupanya terlalu banyak meminum air kolam, hingga perutnya terlihat sedikit membuncit. Andra segera menekan-nekan perut Agus agar sang murid mengeluarkan air yang terminum. Tapi, rupanya Agus hilang kesadaran, Ia rupanya benar-benar membutuhkan nafas buatan.
"Ya ampun kasihan banget Agus! Sepertinya Agus membutuhkan pertolongan nafas buatan." ucap Zara yang tak tega melihat sang teman yang terlihat mulai pucat.
__ADS_1
"Iya ... kamu benar, daripada Aku memberikan nafas buatan, lebih baik kita bawa dia ke ruang kesehatan." ucap Andra.
"Loh kok gitu sih, Pak! Tadi giliran Anita yang pingsan, bapak semangat sekali untuk memberikan nafas buatan, sekarang Agus yang pingsan, Bapak kok nolak sih." sindir Zara kepada suaminya.
"Kamu nggak bisa lihat, tuh bibir dower sekali, nggak bisa bayangin kalo Aku memberikan nafas buatan untuknya, iya kalau itu kamu, nggak pakai kendor." bisik Andra di telinga Zara.
Zara pun mempunyai rencana untuk mengerjai sang suami dengan memaksa Andra untuk memberikan nafas buatan untuk Agus.
"Hmm ... bapak nggak pingin, ya! Jika malam ini kita lembur?" spontan Andra mulai berpikir ucapan Zara yang menantang itu.
"Lembur? Ya mau dong!" jawabnya senang.
"Kalau begitu, Bapak tolongin Agus dulu, kasih dia nafas buatan. Nanti kita lembur, terserah bapak deh minta berapa ronde." bisik Zara yang membuat Andra antara senang dan juga sedih.
Seketika Andra menelan ludahnya susah payah, haruskah Ia memberikan pertolongan kepada Agus.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...