
"Hehehe iya begitulah, Pak!" Andra pun terlihat salah tingkah, apalagi ada Zara yang terus memperhatikan mereka. Setelah itu Pak Roni berpamitan kepada Andra. "Baiklah, Pak! Kalau begitu Saya permisi, Istri Saya pasti sudah menunggu. Mari Pak! Mari Nyonya!" pamit Pak Roni sembari memberi hormat kepada Zara dengan menyebutnya Nyonya.
"Nyonya? Ih geli juga dipanggil Nyonya, hello Aku masih muda njiiir, masih 18 tahun. Dah lah resiko nikah sama Pak Andra. Eh sebenarnya siapa sih Pak Andra? Hmm musti tanya nih, ngapain juga pakai merahasiakannya dari istri sendiri." batin Zara sembari melihat wajah sang suami yang tampak senyum-senyum kepadanya. Zara pun menganggukkan kepalanya kepada Pak Roni sebagai bentuk penghormatan kepada rekan suaminya. Setelah Pak Roni pergi dari tempat itu, Andra pun segera duduk di samping istrinya.
"Hehehe, Sayang! Itu tadi temanku, iya ... biasalah mereka tuh suka bercanda dengan memanggilku seperti itu, Aku ini kan cuma seorang guru honorer, jadi nggak mungkinlah Aku menjadi leader perusahaan, mustahil sekali ya, kan?" ucap Andra yang mencoba menutupi rahasianya. Namun, rupanya Zara tidak percaya begitu saja.
"Kenapa sih bapak harus bohong? Kenapa Zara tidak boleh mengetahuinya? Pak Andra sebenarnya siapa?" Andra diberondong pertanyaan dari istrinya. Andra menatap wajah sang istri, hingga akhirnya seorang perawat memanggil nama Zara.
"Nyonya Rafandra Aditya."
__ADS_1
Spontan Zara menoleh dan langsung berdiri untuk segera masuk ke dalam ruangan Dokter. Sementara itu Andra tampak setia mendampingi istrinya untuk memeriksakan kandungannya.
Sementara Ibu-ibu yang sibuk membicarakan tentang Zara dan Andra tampak malu dan mereka diam, ternyata siswi sekolah yang sudah mereka bicarakan itu adalah istri dari seorang eksekutif muda kepercayaan Daddy Harun yang merupakan pengusaha kaya raya.
Zara dan Andra mulai masuk ke dalam ruangan Dokter kandungan, mereka berdua disambut oleh sang Dokter dengan senyuman.
"Selamat datang, Pak! Loh ini siswinya?" tanya sang Dokter saat melihat Zara yang masih memakai seragam sekolah, sementara Andra yang masih memakai seragam guru olahraga. Zara dan Andra saling menatap. Kemudian Andra berkata kepada Dokter itu. "Sebenarnya dia bukan saja murid Saya, Dok! Tapi ... dia adalah istri Saya." ungkap Andra yang seketika membuat sang Dokter membulatkan matanya.
"Ya ... bagi Saya nggak masalah kalau seorang guru menikahi muridnya, Itu sah-sah saja. Kalau sudah lulus. Hanya saja Istri bapak masih mengikuti kegiatan sekolah. Jadi, menurut saya mungkin sedikit mengganggu kegiatan belajar istri Bapak, maaf bukan saya mau ikut campur. Tapi sejauh ini kalian berdua pasangan yang serasi." seru Dokter yang bernama Dokter Karin itu.
__ADS_1
"Bener Dokter! Belajar Saya menjadi terganggu. Masa setiap hari Saya harus diajari pelajaran olahraga sih, Dok! Sampai Saya pegal ngangkang terus, Dok! Eh pak guru tambah kesenangan." pengakuan Zara membuat Andra menyikut lengan sang istri karena malu.
"Sssttt jangan bilang-bilang dong, Zara! Malu." ucapnya kepada sang istri.
Dokter Karin pun tampak tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Terlihat konyol tapi mengasyikkan. Kemudian Dokter Karin segera menanyakan keluhan yang dialami oleh Zara.
"Ya sudah! Saya bisa mengerti, karena bagaimanapun juga Pak Andra adalah guru olahraga, sudah tentu seorang guru mengajari muridnya berolahraga, apalagi istrinya, tapi saya sangat yakin jika olahraga yang diajarkan oleh Pak Andra itu sangat menyehatkan bagi Nyonya." ungkap sang dokter yang membuat Andra merasa dibela.
"Ohh ya sudah pasti itu, Dok! Saya selalu mengajarkan kepada istri Saya tentang teknik-teknik dan gaya berbagai macam olahraga, dan pastinya istri Saya sangat menyukainya, sampai-sampai sekarang dia harus cek kandungan, dikhawatirkan ada yang tumbuh di dalam rahim istri saya karena hasil dari olahraga kami setiap malam." sahut Andra yang seketika membuat sang dokter cengar-cengir dan Zara yang tampak menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Aduuhh gini amat punya suami mesum."
...BERSAMBUNG...