Pernikahan Rahasia Anak SMA 2

Pernikahan Rahasia Anak SMA 2
Ternyata ini rahasianya


__ADS_3

Mendengar sang istri merintih, agaknya dokter Irwan berhenti dan menatap kedua bola mata itu penuh damba, kemudian sang dokter mengusap lembut wajah sang istri sembari berkata, "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sakit, Sayang! Apa aku harus menghentikannya agar kamu tidak merasa sakit lagi? Meskipun sebenarnya ini akan terasa nikmat bila dilanjutkan, tapi aku tidak mau egois melihatmu sakit seperti ini."


Mendengar ucapan dari sang suami, Velin menggelengkan kepalanya dan melarang suaminya untuk menghentikan sesuatu yang sudah terlanjur masuk.


"Jangan! Kita sudah terlanjur, berhenti atau tidak rasanya tetap sama, terasa sangat sakit sesak, apakah ini yang dinamakan hilang keperawanan?" racau Velin sembari menatap wajah sang suami.


"Kalau begitu aku lepas saja, aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini ..."


"Tidak jangan!" titah Velin sembari menahan pantat suaminya dengan kedua tangannya. Sang dokter pun mengurungkan niatnya untuk mencabut sesuatu yang sudah terhunus sempurna itu.


"Lanjutkan saja! Mungkin akan terasa berbeda jika kamu menuntaskannya, bukankah ini sebuah hubungan untuk mempererat ikatan pernikahan kita, aku juga tidak mau menghindari kewajiban ku sebagai seorang istri, bagaimana pun juga aku akan tetap menjalankannya, teruskanlah! Aku akan mencoba menahannya."


"Kamu yakin?" tanya sang dokter sekali lagi.

__ADS_1


"Hmmm ...." Balas Velin sembari berusaha untuk menahan rasa pedih itu. Perlahan, sedikit demi sedikit sang suami bergerak pelan, gerakan yang didominasi dengan gerakan maju mundur itu mulai terasa berbeda, karena sang suami bergerak dengan begitu lembut.


Sakit yang awalnya menghantam dinding kewaanitaan Velin, berubah menjadi sesuatu yang sangat candu, semakin nikmat gerakan itu, Velin semakin ingin merasakan lebih.


"Teruskan! Lebih cepat, Sayang!" bisik Velin disela-sela kesibukan sang suami yang sedang bergerak lembut menyelami dasar lembah kenikmatan yang membuat keduanya lupa diri.


"Ahhh ... kamu tidak sakit lagi?"


Dokter Irwan tersenyum menyeringai, ternyata rasa sakit itu sudah hilang seiring gerakannya yang mirip slow motion, pelan tapi sangat menggairahkan. Akhirnya, bukan tangisan lagi yang terdengar dari bibir Velin, tapi desaahan-desaahan manja yang keluar di setiap Ia bernafas. Keduanya berpacu dengan waktu, seolah berlomba untuk mencapai sebuah rasa yang didambakan setiap insan saat bercinta yakni sebuah kepuasan.


Sekitar kurang lebih lima belas menit, sang dokter segera ingin menyudahi permainannya karena ia merasa telah mencapai puncaknya, pengalaman pertama yang membuat keduanya sama-sama bersemangat.


Dalam hitungan ke sepuluh, rupanya sang dokter telah menyemburkan cairan cintanya pada rahim sang istri, kemudian menyusul Velin yang mengikuti jejak suaminya, tubuhnya terlihat kejang, rupanya otot-otot kewaanitaan nya berdenyut hebat, menimbulkan sensasi rasa yang nikmat tiada tara, karena denyutan itu sungguh mendebarkan jiwa.

__ADS_1


Setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan, keduanya pun saling tertawa dan saling memeluk, akhirnya tunai sudah kewajiban mereka seusai akad pernikahan yang berlangsung sekitar tiga hari yang lalu.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya sang dokter kepada istrinya sembari dirinya masih berada di atas tubuh sang istri.


"Ternyata rasanya enak," balas Velin spontan sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Dokter Irwan pun tersenyum kemudian Ia membuka kedua tangan sang istri dan melihat wajah malu-malu Velin.


"Terima kasih banyak, Sayang! Kamu sudah menjadikan ku laki-laki yang sejati, ternyata Andra benar, jika kita memperlakukan istri kita dengan lembut, maka rasa sakit itu akan hilang berganti dengan sebuah kenikmatan yang layaknya pasangan suami istri dapatkan, dan aku sudah mendapatkannya." Seru sang suami dengan senyum kemenangannya.


"Harusnya aku yang berterima kasih, karena kamu aku bisa tahu ternyata malam pertama itu tidak seburuk yang aku kira, aku sangat suka. Pantas saja Zara tidak bisa lepas dari pelukan Pak Andra, ternyata ini rahasianya."


Keduanya pun saling tertawa bahagia, hingga akhirnya mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2