
Akhirnya Tina berusaha sendiri untuk bangun, dirinya pun mencoba meraih dinding untuk bisa berpegangan dan beranjak berdiri.
"Aduuh Kakiku, sialan! Apes banget sih hari ini, entar ya Zara, kamu akan menerima semuanya." umpat Tina sembari menahan rasa sakit pada area kaki dan pinggang nya.
Tina pergi dan menghampiri Anita yang sudah berada di luar, sementara itu Zara masih sibuk di dalam kamar mandi. Semua siswa yang sudah siap segera naik ke dalam bus. Sedangkan Zara yang hadir belakangan tampak sedikit berlari kecil menuju ke tempat dimana teman-temannya yang sedang naik ke dalam bus.
Andra tampak berdiri menunggu semua murid-muridnya untuk segera masuk sambil membawa absen, dari kejauhan Ia melihat Zara yang sedang berlari sendirian, biasanya Ia selalu bersama Anita kemana-mana.
"Zara! Tumben dia sendiri?" batin Andra.
Setelah Zara sampai, Ia pun sedikit ngos-ngosan karena dirinya berlari-lari kecil untuk sampai di parkiran bus rombongan sekolah.
"Kenapa kamu sendirian? Biasanya selalu bersama Anita?" tanya Andra sebelum Zara naik ke dalam bus.
"Enggak apa-apa, Anita udah naik duluan, jadi ya udah." Zara pun segera naik, setelah semua murid-muridnya lengkap dengan Zara datang belakangan. Akhirnya Andra pun segera naik ke dalam bus. Sementara itu Zara berjalan ke tempat duduknya semula di samping Anita, ternyata tempat duduknya sudah ditempati oleh Tina. Zara pun meminta Tina untuk segera pergi dari tempat yang sebelum Ia duduki.
"Eh ... kok kamu ada di situ? Pergi nggak! Itu tempat ku." seru Zara sembari menyuruh Tina untuk pergi dari tempat duduknya.
"Enak aja nyuruh orang pergi, salah sendiri kamu datang nya telat. ya udah resiko, duduk aja di belakang sana, tuh masih ada tempat kosong." tunjuk Tina pada bangku paling belakang sendiri.
"Eh Tina! Kamu jangan cari gara-gara ya sama Aku, dari tadi Aku tuh duduk di sini bersama Anita, gimana sih. Anita bilang sama tuh cewek. Kalau itu tempat dudukku, dia seharusnya di belakang bukan di sini."
Bukannya membela Zara, sahabatnya. Anita justru berdiri dan berkata kepada Zara. "Bus ini bukan milik nenek moyang mu, Zara! Jangan mentang-mentang kamu anaknya Pak Harun seenaknya saja menyuruh murid lain untuk pindah, dimana sih hati nurani mu, ngalah sedikit kenapa, bisa kan? Lagipula kamu sendiri yang datangnya telat. Jadi, jangan salahkan Tina jika dia duduk di sini, benar kata Tina, lebih baik kamu duduk di belakang." seketika Zara tak percaya jika Anita benar-benar sudah berubah.
__ADS_1
"Anita! Kamu menyuruh ku untuk duduk di belakang dan lebih membela si Tina ini daripada sahabat mu sendiri? Apa yang sedang terjadi padamu, Nit? Sejak tadi saat di kamar mandi, kamu juga bersikap sinis seperti itu, dan sekarang ...."
"Sudahlah Zara! Aku tidak mau lagi mendengarkan mu, lebih baik kamu pergi dari hadapan ku, Aku jadi malas melihatmu."
"Hah ... Aku nggak salah dengar nih? Kamu malas melihatku? Anita hello! Sadar-sadar yuk pasti kamu sedang ketempelan jin punya Tina, kan? Makanya kamu jadi aneh gini." sahut Zara yang tentunya Ia sangat tidak percaya. Mendengar Zara berkata tentang dirinya. Tina pun tak terima, Ia pun ikut menghadapi Zara dan memarahinya.
"Eh apa kamu bilang tadi? Dasar cewek kegatelan, ngaca dong ngaca. Kamu tuh yang ketempelan. Cewek munafik!" tentu saja Zara tidak terima dengan ucapan Tina, Ia pun segera menjambak rambut Tina dan menariknya kuat-kuat. Alhasil dalam bus itu terjadi keributan.
"Awwwwe rambutku! Brengsek kamu Zara!" pekik Tina sembari mengikuti arah jambakan Zara yang terus menarik rambut Tina yang keriting.
"Huuuhh ngga kapok-kapok nih cewek setan, akan Aku copot rambutmu dari kepalamu, biar botak sekalian rasain!"
"Eh eh eh ... stop stop! Ya ampun kalian berdua lagi-lagi berkelas. Sudah-sudah! Zara lepaskan dia!" Andra pun datang memisah kedua muridnya yang sedang berkelahi. Andra tampak melepaskan tangan Zara yang terus menarik rambut Tina. Andra memegang perut istrinya sembari melindungi Zara dari cakaran Tina. Hingga tak terasa cakaran Tina mengenai tepat pada wajah sang guru sehingga pipi Andra tampak berdarah.
"Pak Andra nggak apa-apa, kan? Ya ampun kasihan banget Bapak, ini semua gara-gara Zara. Coba saja kalau Zara tidak menjambak rambut Tina, pasti Tina tidak akan sampai mencakar wajah Bapak, huuu dasar pembuat onar." umpat Anita yang seketika membuat nya merasa dipermalukan di depan teman-temannya.
"Huuuhh!"
Terdengar suara ejekan dari teman-teman satu bus, Ia pun segera pergi ke kursi belakang untuk menenangkan dirinya, sementara itu Tina terlihat tersenyum jahat karena Zara berhasil dipermalukan. Zara duduk di kursi paling belakang dengan kesal dan juga malu, karena perbuatannya membuat suaminya terluka.
"Ihhhhh kesel! Apa aku sejahat itu, sehingga membuat suamiku terluka karena Aku!" umpat Zara pada dirinya sendiri. Melihat istrinya yang sedang duduk sendirian. Andra pun memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang bersama Zara. Tentu saja apa yang dilihat oleh Andra membuat Anita dan Tina membulatkan mata.
"Loh! Pak Andra kok duduk di belakang sama Zara sih!" Anita terlihat kesal dengan pemandangan itu.
__ADS_1
Sementara itu Andra mulai duduk di samping Zara yang saat itu sedang menatap pemandangan luar jendela.
"Sudah! Jangan bersedih!" ucap Andra yang memaksa Zara menoleh padanya, Zara melihat pipi Andra yang masih memerah dan sedikit mengeluarkan darah akibat tercakar kuku Tina yang runcing. Sejenak Zara merasa kasihan melihat suaminya. Ia pun meminta maaf kepada Andra tentang apa yang sudah terjadi.
"Saya minta maaf! Gara-gara Saya, bapak jadi ikut terluka." ucap Zara sembari menatap wajah sang suami.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka luar yang masih bisa diobati, selama kamu tidak melukai hati dan perasaanku, Aku tidak akan pernah protes dan marah, seorang laki-laki harus kuat dengan luka kecil seperti ini, bukankah mempunyai seorang istri tomboi dan suka berkelahi itu, suami harus lebih kuat tahan banting daripada istrinya?" mendengar ucapan dari Andra seketika Zara tersenyum sembari menundukkan wajahnya.
...BERSAMBUNG ...
*
*
*
...Mampir dulu yuk ke karya punya kak Teh Ijo yang berjudul KAU KHIANATI AKU KU NIKAHI KAKAKMU. Cuss kepoin segera 🏃🏃🏃...
Mouza yang ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya justru malah mendapatkan kejutan tak terduga dari Alan, kekasihnya.
Dengan mata telanjang, Mouza melihat dengan jelas saat Alan sedang bercumbu dengan wanita lain di siang hari, terlebih wanita itu adalah calon kakak iparnya sendiri.
__ADS_1