Pernikahan Rahasia Anak SMA 2

Pernikahan Rahasia Anak SMA 2
Nanggung


__ADS_3

Andra pun mulai melihat rekaman CCTV yang sudah diakses lewat laptop miliknya, sementara itu Zara tampak menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami sembari satu tangannya memegang perseneling sang suami.


Sejenak Andra menatap wajah sang istri dan Zara pun membulatkan matanya sembari berkata, "Apa?"


"Jangan macam-macam! Katanya udah perih, masih pegang-pegang." ucap Andra memperingatkan Zara untuk tidak menggoda Adik kecilnya yang sedang tidur nyenyak.


"Pegang doang! Nggak bakalan macam-macam kok." balas Zara sembari tersenyum.


Andra pun mencium kening istrinya dan kembali melanjutkan melihat ke layar laptop untuk mengetahui biang keladi yang menyebabkan Zara berada di dalam kamar mandi.


Keduanya tampak serius saat memperhatikan rekaman CCTV itu, hingga akhirnya Zara dikejutkan dengan dua orang temannya yang sudah berbuat itu kepadanya.


"Loh! Itu kan Tina dan Anita? Jadi, mereka berdua yang sudah mengerjai ku!" ucap Zara dengan wajah kesalnya.


"Kurang ajar! Berani-beraninya mereka mengerjai ku, awas saja nanti kalau ketemu, bakal Aku balas kalian, hhh bikin gemes."


Zara tampak begitu marah hingga Ia tak sadar jika tangannya mencengkram erat milik suaminya. Spontan Andra berteriak saat tangan Zara merremas dengan erat keperkasaannya.


"Arrrggghhhhh ... Zara!"


Spontan Zara melepaskan tangannya dari perseneling itu, saat suaminya tengah berteriak kesakitan.


"Waduh! Maaf pak! Reflek nggak sengaja, habisnya kesel banget tuh sama mereka berdua." ucap Zara sembari meminta maaf kepada suaminya karena dirinya tanpa sengaja mencengkeram erat milik suaminya.


"Aduh kira-kira dong! Untung nggak putus, awww." pekik Andra sambil melihat burung emprit nya yang tampak memerah itu.

__ADS_1


"Iya iya maafin Zara, Pak! Sini biar Zara pijitin, takutnya keseleo." Zara mencoba merayu suaminya dan meraih perseneling itu lagi.


"Hati-hati! Yang lembut dong kalo mijit, kamu pikir nggak sakit apa?"


"Iya iya Saya kan udah minta maaf." Zara berkata sembari mengelus-elus benda itu, sementara Andra masih memikirkan hukuman apa yang akan Ia berikan kepada Tina dan Anita.


"Sepertinya Aku harus memberikan hukuman kepada mereka berdua, aku akan memanggil orang tua mereka untuk datang ke sekolah, supaya mereka tahu bagaimana kekakuan anak-anak mereka."


Mendengar ucapan dari sang suami, Zara pun memohon kepada suaminya untuk tidak mengeluarkan mereka berdua, Ia ingin membalas kedua temannya itu dengan caranya sendiri.


"Jangan keluarkan mereka dulu, Pak! Saya ingin membalas perbuatan mereka dulu, terlalu enak jika mereka keluar begitu saja, mereka harus merasakan apa yang pernah saya rasakan yaitu tidur di dalam kamar mandi, dan saya pastikan mereka berdua akan kapok sudah mengerjai Zara." seru Zara sambil terus mengelus poni milik Andra.


"Kamu yakin bisa mengerjai mereka?"


"Yakin dong Pak! Bapak kayak nggak kenal Zara saja, sudah berapa kali tuh si Tina Saya kerjain, eh dia nggak kapok juga. Apalagi sekarang dia udah berani berbuat seperti ini sama saya, mentang-mentang sekarang ada yang membantunya, Anita itu. Dikiranya Saya nggak bisa balas, hmm tunggu saja tanggal mainnya, Zara akan membuat dua gadis itu nangis-nangis." ucapnya dengan serius.


"Iya dong, Pak! Nggak ada yang bisa membuat Zara menangis, apalagi mereka, cuihh ... mereka itu nggak ada tandingannya dengan Zara, mereka pasti kalah." seru Zara dengan bangganya.


"Benarkah? Kamu yakin sekali?" Andra semakin mendekatkan dirinya kepada sang istri dengan tangan Zara yang masih berada di bawah sana, mengelusnya hingga akhirnya Zara merasa benda itu mulai kaku dan keras.


"Sialan! Cepet banget berdirinya njiiir! Gila nih guru ada nggak bosen-bosennya." batin Zara sembari menelan ludahnya kasar.


"Ya iyalah, Pak! Nggak ada yang bisa membuat Zara menangis, Bapak tahu Zara ngga pernah nangis gara-gara mereka."


"Iya Aku tahu! Itu artinya cuma Aku yang bisa membuat mu menangis, benar bukan?"

__ADS_1


"Maksud bapak! Siapa juga yang nangis, enggak Kok." bantah Zara sembari mendorong tubuh suaminya yang mulai mendekati dirinya.


"Kamu lupa, hanya Aku yang mampu membuat mu menangis dalam pelukanku, di malam pertama kita, kamu menangis dan Aku melihat air mata itu membasahi wajah cantik mu, Aku sangat bahagia akhirnya hanya Aku yang bisa membuat seorang Zara yang tahan banting akhirnya menyerah juga."


"Gimana nggak nyerah, Pak Andra udah bikin saya cenut-cenut, mau lanjut pasti sakit, ya nangis lah saya, nggak dilanjutkan, nanggung! Saya juga penasaran bagaimana rasanya." ungkap Zara sembari malu-malu.


Andra pun tak menunggu lama, entah kenapa pria itu begitu menggebu-gebu saat bersama istrinya, selalu ingin berdekatan dengan Zara.


Di saat mereka sedang asyik bercumbu untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar mereka.


Andra terpaksa berhenti dan mendongak kan kepalanya sembari berkata, "Siapa?"


"Maaf, Tuan! Di luar ada Nyonya Dahlia dan Nyonya Hasnah sedang ingin bertemu dengan Non Zara."


Seketika Andra dan Zara saling menatap, spontan Andra pun mencabut colokan itu dari tempatnya, keduanya tampak panik dan kocar-kacir karena kedatangan Mama Dahlia dan Mommy Hasna.


"Aduh! Kenapa Mama datang nggak ngabarin dulu, mana lagi enak-enaknya lagi." gerutu Andra sembari memakai pakaiannya kembali.


Seketika Zara tertawa kecil melihat tingkah konyol sang suami. Tentu saja Andra mengerutkan keningnya saat melihat sang istri yang tampak sedang menertawakan nya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Pak Andra lucu banget!" balas Zara sembari merapikan rambutnya.


"Lucu-lucu, nanggung banget nih, dikit lagi keluar, eh lemes deh!" jawabnya sembari berjalan keluar kamar untuk menemui sang Mama.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2