Pernikahan Rahasia Anak SMA 2

Pernikahan Rahasia Anak SMA 2
Ujian


__ADS_3

Setelah drama mencukur itu selesai, kini Andra dan Zara sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Andra yang sibuk memeriksa dokumen penting dari kantor, sementara Zara sibuk menuntaskan tugas sekolahnya, meskipun perutnya semakin besar, Zara tak pantang menyerah untuk menuntut ilmu, karena saat dirinya harus belajar untuk melaksanakan ujian akhir Nasional yang dilaksanakan mulai hari ini. Meskipun dirinya home schooling di rumah, nyatanya Zara tetap disiplin mengikuti ujian tepat waktu dengan diawasi oleh salah satu guru sekolahnya yang datang ke rumah.


Keduanya terlihat serius, mungkin biasanya mereka berdua terlihat mesum dan gokil, tidak kali ini, jika waktunya serius mereka juga serius, waktunya santai mereka pun juga akan santai. Sehingga pekerjaan keduanya tidak akan saling terganggu.


Hingga akhirnya, seorang pelayan datang mengetuk pintu, Zara pun mencoba untuk beranjak berdiri sembari berpegangan pada meja belajarnya, karena perutnya yang semakin besar mulai susah untuk Zara bergerak bebas. Sementara Andra yang tahu itu, dirinya segera menghentikan sang istri, dan Ia yang akan membuka pintu.


"Kamu disitu saja, biar Aku yang buka pintunya." titah Andra pada istrinya. Zara pun kembali duduk. Sementara Andra berjalan membuka pintu. Saat Andra membuka pintu, Ia mendapati sang pelayan sedang berdiri sambil membawa sesuatu.


"Permisi Tuan, ini ada undangan untuk Tuan dan Non Zara." seru sang pelayan sembari memberikan undangan pernikahan itu.


"Apa ini? Undangan." Andra melihat undangan berwarna gold itu dan tertera namanya dengan sang istri.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan!"

__ADS_1


Setelah memberikan undangan pernikahan tersebut kepada majikannya, sang pelayan pun langsung pergi meninggalkan kamar Andra, Andra pun membuka undangan tersebut dan dirinya membaca sebuah nama teman baiknya yang akan menikah Minggu depan.


"Waaahhhh ... Dokter Irwan rupanya gercep juga." ucap Andra sembari tersenyum membaca surat undangan dari sang Dokter.


"Ada apa, Sayang?" tanya Zara penasaran melihat sang suami yang sedang senang.


"Kamu tahu, Dokter Irwan dan Velin akan menikah Minggu depan, setelah ujian Nasional selesai." balas Andra menerangkan.


"Oh ya! Hmm ternyata dokter Irwan mengikuti jejak kamu juga. Tapi bedanya mereka menikah setelah ujian Nasional, kalau aku belum ujian Nasional udah diberi ujian punya suami model gini." celetuk Zara yang membuat Andra ingin sekali mencium istrinya.


"Ihhh apa sih!" Zara berkata sembari membenarkan posisi duduknya.


"Kamu merasa menikah denganku karena terpaksa dan menjadi ujian? Jika seperti itu kenapa anak kita hadir dalam perutmu, dia ada karena kedua orang tuanya saling mencintai, Aku bersyukur pernikahan itu secepatnya dilakukan, jika tidak kamu bisa saja melanjutkan hubunganmu dengan Kelvin, iya kan!"


Seketika Zara tertawa mendengar penuturan dari sang suami, ternyata apa yang diucapkan tidak dimengerti oleh suaminya.

__ADS_1


"Kok kamu malah ketawa sih. Aku ini serius." sahut Andra dengan wajah kesalnya. Melihat Andra yang sedang merajuk. Zara pun segera merayu suaminya dengan melingkarkan tangannya pada leher sang suami.


"Ternyata kondisi kehamilanku saat ini bukan Aku yang sensitif, tapi kamu." seru Zara sembari memainkan ujung hidung sang suami dengan hidungnya.


"Apa maksudmu? Tadi katanya Aku ini adalah ujian mu sebelum ujian sekolah sebenarnya, yang benar dong!" sahut Andra.


"Bukan itu maksudku, Sayang! Ujian sebenarnya adalah saat kamu selalu saja membuatku tidak bisa lari, tidak bisa nolak, tidak bisa berkata tidak bisa, pokoknya kamu tuh selalu membuatku menyerah, pasrah, nggak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya gede kan nih perut." ucap Zara yang membuat Andra tersenyum. Ternyata dirinya salah persepsi.


"Ohh jadi seperti itu, iya gimana lagi dong, namanya juga sudah halal, mubazir lah kalau nggak digarap, apalagi kamu nantang mulu, ya udah tak jebol sebelum waktunya, padahal rencanaku Aku nggak mau melakukannya, Kamu tuh tingkahnya kayak cowok, pasti perang mulu, kalaupun terpaksa harus melakukannya, aku rencana melakukannya setelah kamu lulus sekolah. Tapi, kenyataannya Aku nggak bisa, tahulah si Joni ku selalu semangat kalau kamu mendekat." ungkap Andra dengan tersenyum smirk.


"Heleh pantesan, modus aja pak guru ini."


Keduanya pun saling tertawa, suasana bahagia itupun terpancar dari wajah masing-masing.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2