Pernikahan Rahasia Anak SMA 2

Pernikahan Rahasia Anak SMA 2
marah


__ADS_3

Keduanya pun sarapan pagi dengan saling diam, hanya lirik-lirik satu sama lainnya. Namun, sebenarnya dalam hati Andra, Ia begitu senang melihat istrinya yang mulai masuk ke dalam perangkap nya.


"Hmm ini belum seberapa Zara! Sebentar lagi kamu akan berusaha untuk merayu suamimu ini dengan mati-matian, kita tunggu! Seberapa kuat nanti kamu menghadapi tantangan dariku, anak badung!" batin Andra sembari melahap sarapan paginya.


Karena Zara merasa tidak nyaman dengan suasana yang saling diam, Ia pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih dulu.


"Saya berangkat duluan!" pamitnya sembari mencium tangan sang suami.


"Kamu nggak bareng? Aku berangkat naik motor." tawar Andra sembari menatap wajah Zara yang tampak salah tingkah.


"Nggak usah terima kasih, Pak! Saya berangkat sama Pak sopir aja, naik motor pegel, nungging mulu, lagipula nanti anak-anak semakin curiga melihat kita berangkat bareng." balasnya.


"Halah pakai pegel segala, orang biasanya juga nungging mulu tiap malam." jawaban Andra seketika membuat Zara memutar bola matanya.


"Hiii sumpah ya! Lama-lama Aku bisa ikut mesum ketularan nih guru." batin Zara yang kemudian berlalu meninggalkan Andra.


Andra menatap kepergian istrinya, gadis yang selalu menguncir rambutnya itu keluar dan masuk ke dalam mobil yang digunakan untuk antar jemput saat Zara sekolah.


"Zara Zara! Dasar keras kepala, tapi lucu juga." Andra tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


Akhirnya mobil yang mengantarkan Zara ke sekolah berangkat juga, untuk sesaat Zara masih kepikiran tentang sikap Andra yang berubah dingin.


"Pak guru satu itu memang aneh, dikit-dikit marah, dikit-dikit baikan, padahal Aku kan cuma bercanda doang, gitu aja dimasukkan ke hati sih, dasar guru baperan. Tapi, nggak lucu juga kalau dia marah terus, huuuuh kenapa sih Aku kepikiran terus tuh guru BP. Harusnya hari ini tuh semangat-semangatnya untuk membalas Tina dan Anita, hmm kok malah jadi melow gini sih, gini amat sih punya suami." gumam Zara sembari memperhatikan arah jendela.


Seketika Ia dikejutkan dengan seseorang diseberang sana yang sedang bersama seorang gadis di dalam mobil, mobil itu terbuka kaca bagian depan, sehingga terlihat penumpang nya yang terdiri dari seorang pria dewasa dengan seorang gadis SMA yang Zara kenal, yang tak lain adalah Velin. Velin berada satu mobil dengan Dokter Irwan.


"Loh! Itukan kayak Velin dan dokter Irwan? Kok mereka bisa jalan bareng, ya? Beneran nggak sih itu, mereka?" batin Zara sembari terus memperhatikan mereka berdua. Dan benar saja setelah Zara melihat dari dekat, Ia benar-benar melihat teman satu kelasnya sedang bersama seorang dokter yang tak lain adalah dokter Irwan, teman Andra juga.

__ADS_1


"Mereka terlihat akrab banget deh! Hmm jangan-jangan ini karena ulah suamiku yang sudah menjodohkan Dokter Irwan dan Velin." ucap Zara sembari terus memperhatikan mereka berdua yang saling bercanda.


"Tapi nggak apa-apa lah mereka berdua ada hubungan, mereka cocok juga, Velin anaknya baik kok, hmm kadang Pak Andra tuh pinter juga jodohin orang lain, ah jadi tambah suka kagum Aku, hmm tapi ... sikapnya ituloh, manja banget sih! Di bilangin gitu aja marah. Sebel!" umpatnya sambil menepuk-nepuk pahanya. Hingga akhirnya sang sopir tiba-tiba mengehentikan mobilnya.


"Loh! Kenapa Pak?" tanya Zara yang melihat Pak Kosim, sang sopir yang tengah kebingungan karena mobilnya tiba-tiba macet.


"Aduh! Nggak tahu nih Non Zara! Tiba-tiba saja mesinnya macet, Saya lihat dulu ya, Non!"


"Aduhhh lama nggak, Pak! Kalau lama biar Saya naik taksi saja." Zara berkata sembari melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit.


"Nggak tahu juga, Non! Biar Saya periksa dulu." Pak Kosim pun turun dari mobil dan membuka kap mobil, Sementara Zara kian panik karena jam waktu terus berjalan.


"Aduhhh lama banget Pak Kosim, lebih baik Aku naik taksi aja deh! Daripada terlambat, entar dihadang lagi sama pak suami sendiri, masuk BP lagi dah, pasti ujung-ujungnya minta cium tuh, dah lah Aku kan lagi gondok sama dia."


Zara tampak keluar dari mobil dan berkata kepada Pak Kosim, "Pak Kosim, lebih baik Saya naik taksi aja, Pak! Nggak apa-apa kok. Daripada nanti telat, biar mobilnya Pak Kosim bawa ke bengkel saja."


"Udah nggak apa-apa, santai saja Pak! Saya tahu itu bukan kesalahan Pak Kosim." ujar Zara sembari tersenyum.


"Aduh Non Zara mah memang dari dulu baik bener, biar kata orang Non itu pecicilan, suka berantem, tapi sebenarnya Non Zara orangnya tulus banget, pantas saja Tuan Andra sangat mencintai Non Zara, dia mah selalu cerita sama Saya, kalau Non Zara itu gadis yang unik dan lucu, beda gitu dari gadis yang lainnya." ungkap Pak Kosim yang membuat Zara tersenyum malu.


"Dia bilang gitu?"


"Iya, Non! Beneran."


Seketika wajah Zara berubah menjadi berseri-seri saat mendengar pengakuan dari pak Kosim. Di saat yang bersamaan, Andra melihat seperti mobil sang istri yang sedang berhenti di pinggir jalan.


"Kayaknya itu mobilnya Zara."

__ADS_1


Andra mengurangi kecepatan motornya dan berhenti di samping mobil Zara yang sedang mogok, Andra melepaskan helm nya dan melihat Zara yang sedang berdiri di pinggir jalan.


"Mobilnya kenapa?" tanya Andra sembari menghampiri Pak Kosim.


"Eh Tuan! Ini Tuan nggak tahu kenapa, tiba-tiba mesinnya macet." jawab Pak Kosim sembari menunjuk ke arah mesin mobil.


"Hmm ya sudah! Biar Saya panggilkan jasa bengkel untuk membawa mobil ini, biar Zara bareng sama Saya saja." ucap Andra sembari menelpon bengkel pusat.


Setelah Andra menelpon bengkel, Ia pun segera mengajak istrinya untuk pergi bersamanya.


"Ayo kita berangkat! Hari sudah siang." Andra tampak memakai helmnya kembali dan memberikan helm untuk Zara. Sementara itu Zara tampak masih tegang menghadapi suaminya yang terlihat serius hari ini.


Zara pun mengikuti perintah sang suami dan Ia pun segera memakai helmnya. Kemudian Zara naik ke atas dengan memberikan jarak antara dirinya dan Andra.


"Pegangan!" titah Andra kepada istrinya.


"Hah!!! Pegangan?" Zara tampak membulatkan matanya.


"Iya pegangan, kamu mau terjatuh dari atas motor, nanti Aku lagi yang disalahin, padahal kamu yang tidak mau berpegangan, apa susahnya sih, tinggal nurut aja."


Mendengar kata-kata itu seolah Zara tersindir, karena tidak membukakan pintu untuk Andra. Zara pun perlahan melingkarkan tangannya pada pinggang Andra, tentu saja posisi mereka sekarang begitu dekat, tubuh Zara yang menempel sempurna pada punggungnya, membuat Andra senyum-senyum dibalik kaca helm yang Ia pakai.


Setelah itu Andra segera tancap gas dan langsung melajukan motornya ke Jalan raya. Ditengah perjalanan, Zara memberanikan diri untuk berbicara dengan sang suami sembari kedua tangannya tetap melingkar pada pinggang Andra.


"Pak Andra masih marah, ya?"


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2