
Akhirnya, setelah keluar dari ruangan Dokter Irwan, Andra segera membawa istrinya untuk memeriksakan kandungan Zara ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Tentu saja keduanya menjadi perhatian beberapa orang yang ikut mengantri, karena Zara saat itu masih mengenakan seragam abu putih.
Zara melihat orang-orang memperhatikannya dan sesekali saling berbisik, entah apa yang mereka ucapkan. Yang jelas, pasti mereka berbicara tentang hal yang tidak baik.
"Eh lihat tuh! Masa anak masih SMA datang ke dokter kandungan sih? Mana sama laki-laki."
"Eh iya bener, pasti tuh anak udah bunting, kelihatan banget kan kayak lemes gitu."
"Ya ampun malu-maluin banget nggak, sih? Masa sekolah udah hamil sih."
"Itulah anak jaman sekarang, pergaulan mereka terlalu bebas, makanya sekarang banyak yang masih sekolah udah pada bunting. Kasihan sekali orang tua mereka. Udah menyekolahkan mahal-mahal. Eh nggak tahunya anaknya pada pacaran dan hamil di luar nikah, ih amit-amit."
__ADS_1
"Hmm betul banget, dia nggak malu gitu pakai seragam sekolah datang ke dokter kandungan. Ya ampun semoga saja anak-anak kita nggak kayak tuh cewek ya, Bu!"
"Eh ... bukannya anak Ibu sudah putus sekolah, ya? Karena ketahuan hamil lima bulan?"
Seketika salah satu wanita itu diam tak bergeming, saat temannya menyindir dirinya. Zara pun merasa jika kedua wanita itu sedang membicarakannya. Zara berusaha untuk tetap tenang dan bersabar, tidak mungkin dirinya mendamprat Ibu-ibu, karena mereka termasuk orang tua. Jika yang melakukan hal itu adalah teman-temannya, maka Zara tidak akan kasih kendor, Zara pasti akan memberikan kejutan untuk mereka.
Sedangkan Andra tetap mendampingi istrinya, Ia tidak perduli tentang omongan orang-orang disekelilingnya, Ia tetap memberikan yang terbaik untuk Zara, mengingat saat ini Zara sangat membutuhkan dukungan dari suaminya.
"Kamu yang sabar, ya? Tidak usah dengerin mereka, Aku akan selalu bersamamu." ucapnya sembari tersenyum kepada Zara.
"Selamat siang Pak Andra! Waaahhhh nggak nyangka sekali Saya bisa bertemu dengan Bapak di sini?" seru seorang pria yang diketahui bernama Roni.
__ADS_1
"Siang juga Pak Roni! Senang bisa bertemu dengan Anda di sini." balas Andra sembari menjabat tangan Pak Roni yang ternyata itu adalah salah satu kolega bisnis Andra.
"Waaahhhh kebetulan sekali ya kita berjumpa di sini, ngomong-ngomong kenapa Pak Andra bisa berada di sini? Ini tempat periksa kandungan, Pak? Siapa yang sedang hamil?" tanya Pak Roni penasaran. Karena biasanya mereka bertemu di rapat-rapat penting perusahaan.
"Emm Saya sedang ...!" Andra tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia bingung harus berkata apa. Hingga akhirnya Pak Roni mengatakan sesuatu hal yang membuat orang-orang di sekitar menjadi terkejut dan melongo. Karena Ia melihat Zara yang sedang duduk di samping Andra, karena menurut berita yang beredar, Andra telah menikah dengan seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA. Dan Pak Roni melihat dari seragam sekolah yang Zara kenakan.
"Ah ... saya tahu, pasti istri Anda sedang hamil, bukan? Waaahhhh selamat ya Pak Andra! Pasti berita ini sangat membahagiakan bagi keluarga Anda, dan Saya sangat yakin sekali, jika Pak Andra adalah leader yang sangat bertanggung jawab. Dengan istri saja sangat perhatian apalagi dengan perusahaan. Saya sangat yakin Pak Harun tidak salah pilih menjadikan Anda sebagai orang kepercayaannya sekaligus sebagai menantunya."
Apa yang dikatakan oleh Pak Roni, seketika membuat Zara mengernyitkan dahinya. Kenapa Pak Roni berkata jika suaminya adalah orang kepercayaan sang Daddy.
"Pak Andra orang kepercayaan Daddy? Jadi, siapa sebenarnya suamiku ini?" batin Zara bertanya-tanya.
__ADS_1
Sementara itu Ibu-ibu yang sudah membicarakan tentang Zara, seketika diam tak bersuara. Ternyata yang mereka bicarakan adalah istri orang hebat dan rupanya siswi itu sudah menikah.
...BERSAMBUNG...